
Pada Sabtu pagi itu, aku melawan kemalasanku untuk bangun tidur. Rencanaku tidak akan berhasil kalau tidak melakukan sesuatu dengan berat badanku ini. Setelah memakai celana panjang, kaus, dan sepatu kets, aku keluar kamar.
Lingkungan tempat tinggalku cukup nyaman untuk melakukan joging. Aku bahkan melihat ada beberapa orang yang melakukan hal yang sama. Seseorang melintas dengan sepeda, aku jadi ingat dengan niatku untuk membelinya. Apa aku pakai saja tabunganku?
Namun mengingat rencanaku, aku segera mengurung niatku itu. Tidak punya kendaraan justru hal yang lebih baik. Segalanya akan berjalan lebih lancar jika aku memanfaatkan tawaran Tante Ruth. Ah, benar juga. Oke, pertama, aku harus selesaikan olahragaku ini.
“Woow!” seruku melihat ramainya taman yang dimaksud oleh ibu pada hari Minggu lalu itu.
Ada banyak pedagang juga pengamen yang tampil, tetapi aku tidak melihat mereka saling sikut. Orang-orang berolahraga padahal matahari sudah terasa menyengat di kulit. Apa aku kira-kira akan dapat banyak uang di tempat ini?
“Boleh, boleh, silakan,” ucap penjaja makanan ketika aku meminta izinnya untuk mengamen di dekat barang dagangannya.
“Terima kasih banyak, Pak,” ucapku senang.
Aku bersiap-siap dengan mengeluarkan biola dari kotaknya, lalu menjadikan benda itu sebagai tempat menaruh uang. Aku membuka dengan lagu pemanasan untuk melenturkan jemariku. Orang-orang mulai berdatangan padahal aku belum mulai bermain serius.
Namun aku mengangguk serta tersenyum kepada mereka semua. Tanpa aku sangka, satu per satu melempar uangnya ke dalam kotak biolaku. Aku semakin bersemangat untuk memainkan lagu demi lagu penuh semangat, yang sesekali aku selingi dengan lagu sendu.
Syukurlah, tempat ini jauh dari kampus. Aku tidak yakin ada mahasiswa yang mengenal aku yang akan mengunjungi tempat ini. Lagi pula, aku sudah memakai topi khasku, jadi tidak akan mudah bagi siapa pun untuk mengenali aku.
“Aduuhh,” keluhku melihat air yang turun dari langit lewat jendela kamarku. “Mengapa hujannya tidak nanti malam saja?”
Hari kedua berniat untuk olahraga, malah turun hujan. Aku belum gila. Kalau aku joging di bawah guyuran air hujan, bisa-bisa aku jatuh sakit. Orang miskin tidak boleh sakit, aku harus bekerja dan belajar setiap hari. Satu hari penghasilan dari mengajar bisa dipakai untuk beli lima kaus murah.
Yang paling merugikan, satu hari penghasilan mengamen, aku bisa dapat nyaris satu juta rupiah. Bila aku sakit, aku akan kehilangan pendapatan terbesarku itu. Pantas saja tempat itu menjadi favorit bagi para pedagang dan pengamen seperti aku. Uniknya, pengamen lain juga tidak sirik dengan mengusir aku dari tempat itu. Luar biasa.
Kalau bukan karena aku harus kuliah, aku lebih baik mengamen di sana setiap hari. Ah, tidak. Aku lupa pada satu hal. Aku datang pada hari Sabtu dan Minggu, wajar saja taman itu ramai. Belum tentu kondisi yang sama terjadi pada hari kerja dan sekolah.
“Pagi, Amarilis,” sapa Theo di dekat gerbang kampus.
“Ada apa kamu berdiri di sini?” tanyaku, berpura-pura tidak menyukai sikapnya itu.
“Menjaga lo supaya tidak diganggu mereka. Kenapa lo bertanya terus, sih?” katanya sambil berjalan di sisiku.
__ADS_1
“Masalahnya, sudah dua minggu lebih mereka tidak mengganggu aku lagi. Mengapa kamu masih melakukan ini?” tanyaku lagi.
“Kebiasaan. Jalan sendiri jadi terasa aneh sejak jalan ke kampus bareng lo,” akunya.
“Kampus kita hanya beberapa langkah dari tempat parkir sepeda motormu,” kataku sarkas. Aduh, bodoh. Hati-hati memilih kata, Amarilis.
Namun dia hanya tersenyum, menenangkan hatiku. Sepertinya dia tidak menyadari aku sesaat tadi bukanlah Amarilis. Aku harus berhati-hati, jangan sampai keceplosan lagi. Yang paling berbahaya adalah Chika, Rahma, dan Nisa. Mereka tahu benar cara bicaraku.
Perkuliahan berjalan dengan lancar, walau aku masih duduk di barisan paling belakang. Sudah tidak ada lagi yang mengaku-ngaku duit atau dompetnya hilang. Jadi, aku anggap perkara itu selesai. Chika dan kedua temannya juga jarang terlihat. Hanya satu kali pernah berpapasan denganku di koridor.
Mereka bersikap layaknya kami tidak saling mengenal. Hal yang sangat aku hargai. Lebih baik kami tidak pernah punya urusan apa pun lagi. Hanya Theo yang mau menyapa dan berjalan di sisiku saat kami bertemu. Aku tidak risi melihat tatapan iri pada mahasiswi terhadapku.
“Mengapa lo makannya sedikit banget?” tanyanya, melihat ke arah piringku. “Biasanya lo minta tambah satu piring lagi.”
“Aku tidak mungkin minta tambah terus. Aku pikir kamu hanya mentraktir aku satu kali. Kalau aku makan banyak melulu, itu namanya kemaruk. Aku masih tahu diri,” jawabku, berhati-hati.
Sebenarnya, aku sudah berkomitmen untuk serius diet. Aku tidak bisa hanya berolahraga setiap pagi, jika asupan makanan tidak aku kendalikan juga. Memang belum ada perubahan, namanya juga baru mulai beberapa hari. Namun aku tidak akan menyerah sebelum mencapai berat badan ideal.
“Ini warung sederhana, bukan restoran mahal. Uang pegangan bulanan gue masih bisa traktir lo makan selama satu bulan penuh,” katanya dengan santai.
“Lo benar-benar berubah, ya?” Dia mengamati aku dengan saksama. “Gue kaget lo bisa lancar berbahasa Inggris dan tidak kesulitan mengajar adik gue. Lo les di mana selama satu tahun ini?”
Oh. Syukurlah. Aku sempat bingung mau menjawab apa atas pertanyaannya itu, tetapi dia memberi jalan keluar yang tidak aku duga-duga. Langsung saja aku iyakan tentang les khusus selama satu tahun menganggur. Jadi, aku bisa lulus ujian seleksi masuk universitas negeri dan mengajar privat.
Aku tutup mulut ketika dia bertanya mengenai nama tempat les atau guruku. Lebih sedikit dia tahu mengenai aku, lebih baik. Aku tidak mau keceplosan sehingga dia tahu aku bukanlah Amarilis. Aku tidak tahu sedekat apa hubungan mereka sebelumnya, jadi aku harus berhati-hati.
“Hai, Amarilis. Ayo, masuk. Matt sudah menunggu di perpustakaan,” sapa Tante Ruth yang kembali masuk ke ruang di mana dia biasanya berada.
“Hai, Tante. Terima kasih,” balasku dengan sopan.
Matt mencoba mengerjai aku saat kami belajar tanpa adanya Theo lagi. Terima kasih kepada adikku, aku tahu trik lama itu. Dia menyambut aku di ruang belajar dengan berdiri, lalu mempersilakan aku duduk. Curiga dengan sikap manisnya, aku duduk di tempatnya semula. Benar saja, dia tidak mau duduk di tempatku. Maka aku memeriksa bagian sofa itu yang ternyata diolesi cat.
Pada hari berikutnya, dia memasukkan cecak ke ranselku. Aku baru mengetahuinya saat aku sampai di kamar sewaku. Itu adalah hewan paling menjijikkan yang tidak berani aku sentuh. Matt berengsek itu pasti aku balas, lebih dari yang aku lakukan kepada Hercules.
__ADS_1
Untung saja hewan itu hanya mainan, tetapi warna dan bentuknya mirip dengan cecak asli. Aku tahu benda itu palsu saat dia tidak juga bergerak keluar dari tasku. Matt pasti akan mati di tanganku. Namun aku harus bermain cantik, jangan sampai kehilangan pekerjaan.
“Kamu tidak pulang ke rumah pada Hari Natal dan Tahun Baru?” tanya Tante Ruth yang heran aku menjawab bisa untuk mengajar anaknya menghadapi ujian akhir semester.
“Ng, tidak, Tante,” jawabku segan.
“Oh, aku mengerti. Kamu pasti lebih memilih membayar uang kuliah daripada beli tiket pulang, ya?” ucapnya prihatin. “Begini saja, aku belikan tiket pulang pergi, ya? Kamu pasti rindu dengan—”
“Aduh, jangan, Tante. Tidak perlu. Saya lebih baik belajar menyiapkan diri ikut ujian semester.” Aku segera menolak kebaikannya itu.
“Benar juga. Theo bilang kalian akan ujian pada akhir bulan Desember. Kamu yakin tidak mau pulang sebentar menemui keluargamu?” tanyanya lagi.
“Tidak, Tante. Lewat telepon saja sudah cukup. Mama juga akan marah kalau saya boros,” ucapku, mencari-cari alasan.
“Baiklah, kalau begitu. Aku akan menambah uang lembur karena kamu bersedia mengajar pada hari liburmu.” Dia segera bicara melihat aku membuka mulut. “Jangan menolak. Itu hadiah Natal dariku.”
Bagaimana aku bisa beruntung begini? Walau hidupku tidak mudah, pusing memikirkan sisa uang kuliah yang belum terkumpul, selalu saja ada keajaiban yang memberi aku sedikit kelegaan. Uang tambahan darinya tidak aku gunakan, melainkan aku simpan dengan baik.
Aku sudah membayar uang kuliah untuk semester genap, maka harus secepatnya mengumpulkan uang untuk semester gasal pada pertengahan tahun depan. Waktu berjalan cepat sekali. Sayang, uang tidak bisa didapat secepat itu.
“Nah, ini kado untuk kamu!” seru Tante Ruth yang mengambil satu-satunya kotak besar yang ada di bawah pohon Natal mereka.
“Mengapa saya dapat hadiah, Tante?” ucapku segan. Aku baru datang, langsung diberikan kado.
“Kami semua sudah membuka bingkisan kami pagi tadi, giliran kamu. Ayo, cepat buka!” desak wanita baik hati itu, tidak sabar.
Aku menoleh ke arah Theo dan Matt. Mereka hanya bersikap acuh tak acuh di belakang mama mereka. Aku menuju bufet terdekat, meletakkan kotak besar itu di atasnya, lalu membukanya. Aku menarik napas terkejut melihat isinya. Sebuah gaun berwarna ungu lembut, sepasang sepatu, dan tas tangan sama-sama berwarna putih. Ini bukan merek biasa, tetapi mahal dan terkenal.
“Tante, ini—” kataku, merasa tidak enak.
“Kalau gaun atau sepatu itu ukurannya kurang pas, beri tahu aku. Nanti aku ganti dengan ukuranmu,” kata wanita itu dengan lembut. Aku terharu menerima kebaikannya itu.
Walau ujian akhir semester sudah usai, aku diminta datang ke rumah mereka. Bukan untuk mengajar, melainkan makan siang bersama pada hari pertama tahun yang baru. Matt sangat senang, karena nilai ujiannya nyaris sempurna. Aku ikut bahagia bersamanya.
__ADS_1
Aku datang pada hari Selasa minggu berikutnya untuk melihat pengumuman nilai akademikku. Itu adalah hari terakhir semua nilai harus ditampilkan. Jadi, aku tidak datang sebelum semua nilai itu siap dikerjakan oleh semua dosen yang mengajar kami.
“Ini tidak mungkin,” kata seseorang dari arah belakangku dengan nada terkejut. “Yang dahulu selalu mendapat nilai sesempurna ini hanya Kat.”