Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
30|Backstreet Saja


__ADS_3

Aku mengambil tisu untuk mengeringkan bibir dan daguku, lalu membersihkan air yang membasahi bagian depan kemeja dan celanaku. Kesempatan itu aku gunakan untuk memikirkan jawabanku atas pertanyaannya yang tiba-tiba tersebut.


“Ah, iya. Gue lupa. Mana mungkin ada cowok yang mau sama cewek gendut dan jelek,” katanya, menusuk jantungku. Menjengkelkan sekali. Mirip dengan kakaknya.


“Heh. Pikir dulu sebelum bicara. Jelek-jelek begini, pasti ada cowok yang diam-diam menyukai aku,” protesku, tidak terima dihina begitu.


Kalau saja dia tahu aku dan kakaknya sedang menjalin hubungan diam-diam, dia pasti tidak percaya. Bukan hanya dia, semua orang juga tidak akan bisa menerima kenyataan itu. Theo yang berasal dari keluarga terpandang dan tampan itu mana mungkin tertarik dengan cewek gendut dan jelek.


Belum lagi kalau mamanya sampai tahu. Aku tidak yakin Tante Ruth akan tetap bersikap manis dan baik kepadaku, jika dia tahu aku dan putranya berpacaran. Aku bukanlah calon menantu yang ideal di mata mereka. Penampilan fisikku memprihatinkan, apalagi status sosialku.


Dia menatap aku sejenak. “Kakak ada penyakit mental, ya? Satu waktu, Kakak baiknya minta ampun, sopan, manis, dan sabar. Di waktu lain, Kakak bicara lantang begini.” Dia mengusap-usap dagunya. “Apa jangan-jangan, Kakak berkepribadian ganda?”


“Ini namanya seorang guru. Harus tahu kapan saat yang tepat untuk tegas dan sabar, apalagi punya murid seperti kamu,” jawabku dengan mulus.


Itu adalah alasan yang paling tepat yang bisa aku pikirkan dalam waktu singkat. Terbukti, dia tertawa geli mendengarnya. Aku berhasil mengusir kecurigaannya terhadap sikapku yang berubah-ubah itu. Theo sudah tahu siapa aku, jadi aku tidak perlu lagi berpura-pura menjadi Amarilis. Memang lebih nyaman dan bebas bila menjadi diri sendiri.


“Cepat selesaikan tugasmu. Waktu belajar kita hampir habis.” Aku melirik jam tanganku.


“Gue sudah selesai.” Dia duduk di sisiku, lalu memberikan tugasnya untuk kuperiksa.


Setelah memeriksanya, aku memberi tahu dia mana letak kesalahannya pada beberapa jawaban yang kurang tepat. Ketika dia mengulang menyelesaikan soal yang sama dengan kasus yang berbeda dan tidak lagi melakukan kesalahan, barulah aku puas.


“Ada cewek yang gue suka,” katanya, mengejutkan aku. Dia terlihat serius, jadi aku menahan diri untuk tidak menegur dia yang suka tiba-tiba mengubah topik. “Sama seperti Theo, dia sudah punya calon suami, dijodohkan orang tuanya. Jadi, dia menolak cinta gue.”


“Lalu apa rencana kamu selanjutnya?” tanyaku setelah dia hanya diam saja.


“Coba lagi, dong. Masa baru satu kali ditolak langsung menyerah.” Dia bicara dengan rasa penuh percaya diri. “Kalau perlu kami backstreet sampai gue berhasil meluluhkan hati orang tuanya.”


Kakak dan adik sama saja. Sepertinya mereka suka sekali dengan tantangan yang tidak penting. Namun dia lebih waras dari kakaknya. Setidaknya, perempuan yang dia incar sederajat dengannya. Kedua orang tua mereka tidak akan rugi apa pun jika keduanya bersatu.


Aku dan Theo sama sekali tidak ada harapan. Apa yang bisa aku berikan kepada mereka jika menikah nanti? Tidak ada. Aku bukan orang terpandang, artis atau model pun tidak. Kalau pun aku seorang selebriti, aku harus bebas dari skandal agar bisa masuk keluarga mereka.

__ADS_1


Namun aku mengagumi ketekunan Matt, tidak menyerah walau pernah ditolak. Aku mana mau merendahkan diri begitu. Kalau ada yang menolak, aku lebih baik cari yang lain. Seperti tidak ada orang lain yang lebih keren saja. Jelek-jelek begini, aku masih punya harga diri.


“Gue tidak bisa makan siang bersama lo selama tiga hari ke depan, jadi, awas, jangan macam-macam. Hindari Richo dan laki-laki mana pun. Lo hanya boleh makan dengan teman perempuan lo,” kata Theo saat aku mengembalikan helmnya.


“Apa kamu tidak bosan mengatakan itu setiap hari Senin?” tanyaku heran.


“Lebih baik bosan daripada lihat lo selingkuh,” ucapnya dengan arogan.


“Heh. Aku bukan perempuan seperti itu! Otakmu ini memang enggak ada positifnya, ya. Semua yang kamu pikirkan tentang aku selalu buruknya saja,” protesku kesal.


“Lo merundung orang selama kita SMU, apa itu belum cukup untuk memikirkan hal yang buruk saja tentang lo?” Dia mengangkat dagunya, menantang aku.


Aku tidak bisa menjawab, karena dia benar. Aku merapatkan bibirku tidak bisa meresponsi kalimat menjengkelkannya itu. Maka aku membalikkan badan dan masuk ke rumah dengan kesal. Sudah tahu aku orang jahat, lalu untuk apa dia berpacaran denganku? Masa hanya karena penasaran?


Untunglah, aku tidak perlu bertemu atau berinteraksi dengannya pada tiga hari berikutnya. Aku bisa fokus mengerjakan tugas dengan Sonata. Dia gadis yang cemerlang dengan ide-ide yang segar. Asyik untuk diajak diskusi. Yang membuat kami tidak nyaman, Rahma selalu ada di mana kami berada.


Karena Sonata saja yang punya laptop, aku tidak punya berkas yang aku simpan. Hanya catatan dari setiap hasil diskusi kami. Sepertinya aku sudah membutuhkan benda itu. Kalau aku dapat salah satu beasiswa yang aku lamar, benda itu yang akan aku beli pertama kali.


“Yang pasti bukan di tempat yang sesuai dengan kelasmu,” jawabku acuh tak acuh.


“Aku ikut. Lebih baik makan berdua daripada sendiri.” Dia menyejajarkan langkahnya denganku, sama sekali tidak mendengarkan rasa tidak suka pada nada suaraku tadi.


“Rahma,” aku berhenti, tidak tahan lagi dengan sikapnya, “apa yang kamu inginkan?” Aku menatap matanya dengan serius.


“Apa maksudmu?” tanyanya bingung. Kalau bukan karena aku sangat mengenalnya, aku akan tertipu dengan wajah polosnya itu.


“Kita sepakat untuk menjalani hidup masing-masing. Apa yang kamu lakukan dengan mendekati aku?” tanyaku tidak mengerti.


“Aku hanya ingin berteman denganmu.”


“Hal itu tidak ada dalam kesepakatan kita. Aku sudah menolak berteman denganmu,” kataku lagi, mengingatkan percakapan terakhir kami saat dia mendatangi aku. Padahal aku berharap dia akan mengatakan kalimat yang aku tunggu-tunggu. Ternyata cuma mau tetap berteman.

__ADS_1


“Kat, ah, maksudku, Amarilis … aku bukan orang yang sama lagi. Aku ingin berteman denganmu. Sungguh. Aku tidak mau lagi dekat dengan orang jahat, karena itu aku tidak bersama Chika dan Nisa. Mereka sudah memberi pengaruh buruk kepadaku.”


“Aku juga sudah memberi pengaruh buruk kepadamu, Rahma. Tolong, jangan ikuti aku lagi.” Aku mengangkat tanganku melihat dia berniat melangkah bersamaku. Melihat dia berhenti, barulah aku melanjutkan tujuanku pulang ke tempat tinggalku.


Setelah satu minggu tidak bertemu, aku senang melihat Kakak berdiri di gerbang kampus. Aku segera berlari mendekat dan memeluknya dengan erat. Peduli amat dengan Theo dan peringatan konyolnya itu. Dia tidak mungkin punya mata di sini yang bisa melihat setiap perbuatanku.


“Kakak dari mana saja?” protesku. “Mengapa lama sekali tidak kelihatan?”


“Nanti saja bicaranya. Aku lapar.” Dia mengajak aku mendekati sepeda motornya.


Ternyata dia mempersiapkan diri untuk mengikuti sebuah audisi untuk menjadi bintang iklan parfum pria yang sedang naik daun. Pantas saja dia langsung lari terbirit-birit mendengar ancaman Theo. Dasar Kakak tidak punya harga diri. Masa kariernya lebih penting daripada adiknya sendiri.


Sebentar. Apa yang baru saja aku pikirkan? Aku dan Kak Jericho bukan kakak adik lagi. Kami tidak berasal dari kandungan yang sama, DNA kami jelas berbeda, bahkan semua identitasku bukan atas nama Katelia, tetapi Amarilis. Aku bukan adiknya lagi.


Walau jiwaku Katelia, Theo benar. Aku dan Kak Jericho bisa saja punya hubungan lebih dan tidak ada yang bisa melarang kami. Mau diselisik dari sisi mana pun, kami bukanlah saudara kandung. Hiii, seram. Aku tidak mau punya hubungan asmara dengan kakakku sendiri.


“Kamu sedang memikirkan apa?” tanya Kak Jericho penuh selidik.


“Ah, tidak ada, Kak.” Aku memasukkan sesendok nasi ke mulut. “Hm. Makanannya enak, ya?” Dia bisa berang kalau tahu apa yang aku pikirkan. Aku tidak mau kehilangan persahabatan kami hanya karena Theo curiga perasaan kakakku untukku akan berubah romantis.


“Kamu sedang dekat dengan Theo, ya?” tanyanya lagi. “Sebaiknya kamu berhati-hati. Papa tidak suka dengan Keluarga Husada. Walau kamu ditunangkan dengan putra mereka, Papa tidak akan membiarkan pernikahan kalian terjadi.


“Karena itu, Papa tidak mengatakan kepadamu siapa orang yang akan menjadi suamimu kelak, juga tidak pernah mengumumkan hubungan kalian seperti yang biasanya dilakukan pengusaha lain. Kalau Papa tidak menyukai mereka, pasti ada alasannya. Salah satunya, mereka orang jahat,” katanya.


Aku tertegun mendengar informasi yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya itu. Benar juga. Papa dan Mama hanya memberi tahu aku sudah punya tunangan. Namun mereka tidak pernah memberi tahu namanya atau memperkenalkan aku dengan dia dan keluarganya.


Keanehan itu tidak pernah mengganggu, karena aku percaya orang tuaku hanya memikirkan yang terbaik untuk kami, anak-anak mereka. Kalau benar Papa tidak menyukai Keluarga Husada, lalu mengapa aku ditunangkan dengan putra mereka? Apa mungkin Om Azarya mengancam Papa dan memaksanya untuk menjodohkan aku dengan Theo?


Tidak mungkin. Keluarga itu sangat baik. Om dan Tante sangat ramah kepadaku, juga tidak pernah memandang aku sebelah mata dengan perbedaan status kami. Theo memang menjengkelkan, tetapi hatinya baik. Matt suka iseng, namun dia orang yang menyenangkan.


Lalu apa alasan Papa tidak mau mengumumkan pertunanganku dengan Theo dan menyembunyikan identitas calon suamiku itu dariku?

__ADS_1


__ADS_2