
Aku mengikuti perkuliahan dengan pikiran kacau. Untuk pertama kalinya, aku tidak bisa konsentrasi. Apakah Jericho juga curiga ada jiwa Katelia dalam tubuh Amarilis? Bagaimana dia bisa mengetahui hal itu? Dia sudah tamat sekolah saat kejadian itu berlangsung.
Mereka tidak mungkin sempat berinteraksi, karena Amarilis tidak tinggal bersama mereka, tetapi dengan keluarganya sendiri. Bagaimana mungkin dia bisa kembali jika Tante Wibowo tidak berhenti menyebut dia sebagai pembunuh Katelia setiap kali mereka bertemu?
Nah, itu dia! Tidak mungkin Jericho mau berada di dekat Amarilis mengingat dia selalu diberi label pembunuh adiknya oleh hampir semua orang. Caranya memanggil dia juga sama seperti panggilan Amarilis di keluarganya, Riris. Kecuali—
“Karena mulai dari detik ini, lo jadi pacar gue.”
Aku tidak tahu mengapa aku mengatakan itu, tetapi aku merasa lega setelah menyampaikannya. Om Wibowo dan Nolan adalah orang yang jahat, jadi aku tidak percaya Jericho punya niat baik dengan mendekati orang yang telah mereka sebut sebagai pembunuh adiknya.
Ini adalah satu-satunya cara untuk menolong dia agar tidak disakiti oleh keluarga itu. Amarilis adalah gadis yang naif, bisa saja Katelia juga terpengaruh dengan sifat asli pemilik tubuhnya. Dia pikir Jericho ingin berteman dengannya, ternyata hanya mau melukai hatinya.
Polisi menolak tuntutan mereka, karena usia Amarilis belum genap delapan belas tahun. Lagi pula, kejadian tenggelamnya mereka adalah murni kecelakaan. Danau itu memang sudah banyak menelan korban, karena kedalaman dan gelapnya keadaan di bawah permukaan air. Apalagi ada ganggang yang sering melilit orang yang berenang di sana hingga tenggelam dan meninggal.
“Kamu salah makan obat, ya?” tanyanya heran. Dia memicingkan matanya dan aku bisa lihat dia berusaha keras untuk tidak menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Iya, dia adalah Katelia.
“Gue enggak sakit,” balasku.
“Berhenti bercanda. Tidak lucu.” Dia melihat ke sekeliling kami. “Apa ada kamera atau orang yang merekam kejadian ini? Kamu pasti sedang mengerjai aku.”
“Untuk apa gue mengerjai lo?” Aku mendekatkan tubuhku ke arahnya. “Dengar, gue enggak mau lo dekat dengan cowok lain. Kalau gue ada waktu, gue akan ajak lo makan siang. Lo enggak boleh menolak. Selesai mengajar Matt, gue yang antar lo pulang. Jika gue ada kerjaan, sopir gue yang antar lo pulang. Jangan membantah. Ini perintah.”
“Apa-apaan ini!?” protesnya.
“Di luar ketiga hal itu, lo bebas mau melakukan apa. Kalau lo ada masalah, jangan datang kepada orang lain. Lo harus datang ke gue. Awas, kalau gue sampai tahu lo pinjam uang atau menangis di dada laki-laki lain. Lo enggak akan selamat, karena gue pencemburu berat.”
“Kamu ini ada apa? Aku belum menjawab aku mau jadi pacarmu,” serunya mulai kesal.
“Gue enggak bertanya,” tukasku.
__ADS_1
“Aku memang tidak sekaya kamu, tetapi aku tidak bisa kamu beli.”
“Lo pacar gue, Amarilis, bukan budak,” ulangku.
“Kamu dari tadi menyebut ini itu, apa namanya kalau bukan menjadikan aku budakmu?” Akhirnya, dia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
Aku melipat kedua tanganku di atas meja. “Sejak kapan orang pacaran tidak ada aturan mainnya? Lo mau kita punya hubungan, tetapi lo genit dengan laki-laki lain, begitu?” tantangku.
“Sejak kapan aku genit?” protesnya lagi.
“Makanan kita sudah datang.” Aku melihat ke arah pelayan yang datang mendekati meja kami. “Makan yang banyak. Gue enggak suka punya pacar kurus.”
Wanita yang mengantar makanan itu menarik napas terkejut. Aku mendelik, dia segera mengubah sikapnya dengan tersenyum ramah. Dia menyebut nama minuman pada gelas yang dia pegang, aku menunjuk siapa di antara kami yang memesannya.
Pelayan yang tidak sopan. Apa dia sedang menghina Amarilis dan menganggap dia tidak pantas menjadi pacarku? Kalau dia tahu gadisku bisa bermain biola dengan ahli dan meraih nilai akademik tertinggi dari seluruh teman seangkatannya, maka dia tidak akan memandang sebelah mata lagi.
“Aku tidak mau jadi pacar kamu, Theo. Jangan gila. Kita berdua bagaikan bumi dan langit,” katanya dengan serius. “Lagi pula, Matt bilang, kamu sudah punya tunangan. Aku tidak mau terlibat dalam cinta segitiga. Ada banyak rencana yang sudah aku susun dengan rapi, pacar tidak ada di dalamnya.”
Aku sudah memikirkan segalanya. Papa dan Mama sudah pasti akan menentang hubungan kami. Mereka tidak akan mendapatkan apa-apa dari Amarilis dan keluarganya. Berbeda jika aku bersama Katelia. Pernikahan kami akan menguntungkan kedua belah pihak.
Padahal aku tidak berencana sampai sejauh itu. Aku hanya akan menjaga dia selama dia menuntut ilmu di kampus ini. Dia bisa ada dalam masalah besar jika Chika dan ketiga temannya, apalagi ditambah dengan Jericho, menyakitinya.
Setelah dia wisuda dan mendapatkan pekerjaan, aku tidak akan mengganggu dia lagi. Ini adalah rencana yang sempurna. Orang-orang tidak akan curiga lagi dengannya dan berhenti menyebut dia sebagai pembunuh begitu mereka melihat dia berhasil dalam studinya nanti.
“Rahasia?” tanyanya terkejut. “Maksud kamu, kita backstreet?”
“Iya. Keluarga gue pasti heboh jika mereka tahu gue berpacaran dengan guru privat adik gue. Jadi, jangan sampai mereka tahu. Matt akan menggoda kita habis-habisan dan gue butuh waktu untuk meyakinkan orang tua gue mengenai hubungan kita.” Wow, aku semakin ahli berbohong.
“Lebih baik kita tidak usah pacaran sekalian. Buang-buang waktu dan tenaga saja. Aku tidak punya uang untuk kencan denganmu atau waktu untuk mengobrol dan teleponan denganmu,” katanya.
__ADS_1
“Solusinya mudah banget.” Aku mengeluarkan ponselku dari tas, lalu membuka kunci layarnya. Aku mengetik deretan angka, lalu memasukkan nomornya dan nominal, kemudian dikirim.
“Apa yang kamu lakukan?” tanyanya bingung. Terdengar getaran dari dalam tasnya. Dia menyipitkan matanya sebelum mengambil ponselnya. “Apa ini!? Kamu mengisi pulsaku!?”
“Apa ada masalah lain lagi?” tanyaku dengan santai. Dia merapatkan bibirnya. “Gue sudah bilang, kita hanya akan makan siang sesekali. Gue juga punya tanggung jawab lain selain belajar. Jadi, gue enggak akan sempat kencan dengan lo setiap hari.”
“Lalu untuk apa kita pacaran? Orang menjalin asmara itu untuk melihat kecocokan apa hubungan bisa lanjut ke pernikahan. Aku baru semester dua, belum terpikir untuk menikah,” katanya, keras kepala. “Aku juga tidak mau punya pacar yang bisanya hanya memerintah aku.”
“Makanlah. Tidak enak kalau dingin.” Aku memberi sinyal percakapan tidak perlu dilanjutkan lagi. Dia kembali merapatkan bibirnya, tetapi menuruti aku.
Sebelum makanan pada piringnya habis, pelayan datang membawa makanan berikutnya untuknya. Walau dia menatap aku dengan tajam, dia tidak mampu menolak masakan lezat tersebut. Aku sudah hafal beberapa makanan yang sering dia pesan, jadi dia pasti menghabiskannya.
Berat badannya tidak boleh berkurang lebih dari ini atau Jericho juga mahasiswa yang lain akan jatuh cinta kepadanya. Walau dia tidak secantik Katelia, bila dia berdandan dan mengenakan pakaian yang cocok, dia bisa menarik perhatian laki-laki mana pun. Itu tidak boleh sampai terjadi.
Theo, benarkah kamu hanya mau melindungi dia? Bukan karena kamu diam-diam jatuh cinta kepada Amarilis? Apa kamu yakin kamu tidak akan jatuh cinta kepadanya sebelum waktunya habis?
Aku tidak akan jatuh cinta kepadanya. Yang benar saja. Amarilis jelas bukan tipe gadis kesukaanku. Karena itulah dia harus tetap gemuk. Katelia juga bukan perempuan favoritku. Dia bengis, sadis, berdarah dingin, dan aku yakin, begitu dia sukses, dia akan kembali menjadi perundung.
“Pokoknya, aku tidak mau jadi pacarmu. Enak saja kamu mau jalin hubungan dengan dua gadis sekaligus. Apa kamu pikir aku mau jadi yang kedua?” katanya, masih menolak.
Memang hanya Katelia yang sombong begini. Amarilis pasti akan tersipu dan terbang tinggi jika aku menyebut dia adalah pacarku. Sama seperti gadis lain yang tahu siapa aku. Mereka berusaha untuk mendapatkan perhatianku meski hanya sesaat. Perempuan di depanku ini malah menolak.
“Siapa yang tadinya janjian dengan lo?” tanyaku ketika makanannya hampir habis.
“Bukan siapa-siapa,” jawabnya acuh tak acuh.
“Siapa?” tanyaku lagi, tidak menyerah.
Dia mendesah kesal. “Kak Jericho,” jawabnya dengan berat.
__ADS_1
Aku mengeluarkan ponselku, mencari nomornya, lalu meneleponnya. Dia menatap aku dengan curiga. “Apa yang kamu lakukan?”