Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
121|Semester Baru


__ADS_3

Aku bersorak senang saat tahu dia lulus dengan nilai yang sempurna. Kami berpelukan dan aku mengabaikan peraturanku sendiri dengan mengecup bibirnya. Hanya sebuah kecupan, karena aku tidak mau melukai dia dengan kawatku.


Dia mengajak aku untuk makan malam di luar dan kami sama-sama ingin masakan Meksiko. Aku senang sekali dia mengajak aku ke restoran kesukaannya yang menjadi favoritku juga. Aku tidak banyak bicara dan membiarkan dia menceritakan situasi sidang tadi.


Upacara pemberian ijazahnya akan diadakan pada bulan Maret, jadi keluarganya akan datang untuk menghadirinya. Kami sama-sama khawatir bulan itu akan menjadi waktu terakhir kami bersama. Namun aku yakin kami akan menemukan jalan untuk bertemu lagi seandainya dia harus pulang.


“Mengapa dia sekelompok lagi dengan kita? Dasar pria,” keluh Nora melihat Robert masih bersama kami saat diskusi grup.


“Kamu sendiri yang bilang, sikapnya tidak akan memengaruhi nilai akademik kita. Abaikan saja.”


Aku puas dengan hasil akademikku pada semester pertama. Walau aku tetap harap-harap cemas, aku sangat bersemangat mengikuti perkuliahan pada semester kedua. Robert atau siapa pun tidak akan bisa menghalangi aku untuk lulus dengan nilai yang bagus.


“Apa kamu sudah punya rencana untuk Hari Valentin? Ada banyak restoran yang memberikan diskon untuk pasangan, lo. Kamu bisa kencan dengan Theo.”


Seandainya saja dia tahu. Aku dan Theo banyak sekali berkencan sepanjang Natal dan Tahun Baru. Aku sudah cukup berjalan-jalan dengannya. Lagi pula, Theo sedang sibuk dengan restorannya karena hari besar itu. Mereka juga menawarkan menu khusus Hari Valentin kepada pelanggan mereka.


Dosen tidak main-main memberikan tugas pada semester genap ini, jadi aku harus belajar lebih keras. Untunglah, aku membaca buku pemberian Theo selama liburan, jadi aku tidak sepenuhnya buta dengan materi baru kami.


“Kalian ini bodoh atau bagaimana? Bukan itu kesimpulannya.” Robert masih saja memaksakan pendapatnya sehingga kami tertahan di kampus, tidak bisa pulang.


“Rob, kita satu tim. Kamu tidak bisa memaksa hanya pendapatmu yang didengarkan. Kita berenam di sini. Semua pendapat sudah ditampung dan sepakat ini kesimpulan akhirnya,” kata Nora.


“Ini bukan kesimpulan akhir bersama, tetapi kalimat yang Amarilis sarankan.” Dia melirik aku.


“Kalau kamu bisa buat kalimat yang lebih baik, sampaikan saja. Kami mendengarkan,” kata teman yang lain. Pria itu menurut dengan menyampaikan kalimat yang tidak jauh beda denganku.


Nora yang mengetik tugas tersebut, jadi kami percayakan isinya kepadanya, maka kami bisa pulang. Aku melirik jam tangan. Sudah pukul delapan. Theo pasti sudah menunggu lama di apartemen. Aku mengayuh sepeda dengan cepat menuju tempat tinggalku.

__ADS_1


Apartemen masih gelap saat aku tiba. Apa Theo masih di restoran? Aku mandi dan berganti pakaian, lalu mengirim pesan kepadanya. Dia tidak juga membalas, maka aku memeriksa isi kulkas dan lega melihat masih ada piza yang bisa dipanaskan.


Pada pagi harinya, aku terbangun di tempat tidur. Seingatku, aku terakhir kali ada di sofa ruang depan. Mengingat harus berolahraga, aku berganti pakaian dan keluar kamar. Aroma masakan yang lezat menyambut aku. Aku melihat Theo sedang memasak telur di konter dapur.


“Pagi,” sapanya.


“Pagi.” Aku menguap lebar. “Ah, maafkan aku.”


“Maaf, semalam ada masalah di restoran. Gue enggak bisa menelepon atau mengirim pesan.” Dia meletakkan sepiring telur orak-arik di atas meja. Sudah ada makanan lainnya yang tersaji.


“Apa ini? Mengapa kamu memasak cepat sekali?”


“Gue harus pergi ke restoran lebih pagi dari biasanya. Lo joging sendiri, ya.” Dia mengecup keningku, lalu berjalan menuju kamarnya.


Wah, ada masalah serius apa sampai dia harus berangkat sepagi ini? Karena dia mempersilakan aku untuk olahraga, maka aku tidak mengantar kepergiannya. Salju sudah tidak turun lagi, jadi aku tidak perlu khawatir jalanan akan licin oleh air. Udara juga sudah tidak sedingin sebelumnya, walau aku masih perlu memakai baju berlapis.


Topik perkuliahan hari ini sangat menarik, dosennya juga menyenangkan, jadi pertemuan kami di ruang kuliah sangat seru. Pada saat diskusi kelompok tidak ada hal yang aneh terjadi. Robert tidak bersikap menjengkelkan seperti biasanya yang justru membuat kami curiga.


“Makan, yuk. Aku yang bayar,” ajak Mike di akhir diskusi kami.


Semua orang saling bertukar pandang. Mereka menyetujuinya, hanya aku yang menolak. Mereka pun membujuk agar aku mau ikut bersama mereka. Aku masih menolak. Lebih baik aku makan bersama Theo daripada orang lain.


Dugaanku benar. Theo sudah pulang dan menyiapkan makan malam kami. Aku bergegas masuk kamar untuk membersihkan diri, lalu bergabung bersamanya. Aku tahu dia tidak bisa berbagi rahasia mengenai pekerjaan, jadi aku memilih topik aman untuk kami perbincangkan.


Dia menyebut tanggal kedatangan keluarganya untuk menghadiri upacara kelulusannya nanti. Dia akan tinggal bersama mereka di hotel, jadi aku akan sendirian. Tidak sepenuhnya seorang diri, karena aku tahu ada pengawal yang selalu mengawasi aku.


Sama seperti saat dia wisuda sarjana, aku hanya bisa melihat dia dari jauh ketika upacara nanti. Kami seperti masih backstreet saja. Ah, kami memang sedang menjalin hubungan rahasia. Hanya orang tertentu yang tahu dan mereka bisa menutup mulut rapat-rapat.

__ADS_1


“Amarilis, temui saya di ruangan pada jam makan siang,” ucap dosen pada akhir perkuliahan.


“Iya, Prof,” jawabku dengan sopan.


Nora segera mendekat. Kami saling bertukar pandang. Aku hanya mengangkat bahu, tidak tahu apa yang menyebabkan aku diminta datang ke ruangannya. Kami sudah mengumpulkan tugas. Lagi pula, teman-teman yang lain pasti dipanggil juga kalau ini ada hubungannya dengan tugas kami.


Aku mendatangi ruang dosen pada jam yang ditentukan. Pria itu melihat aku, lalu memberi sinyal agar aku masuk dengan gerakan tangannya. Aku menurut, kemudian duduk di kursi yang dia tunjuk. Pertanyaannya membuat aku bingung.


“Maaf, Prof. Saya sudah mengerjakan tugas bersama teman-teman saya dan sudah dikumpulkan,” jawabku. “Jika belum, mereka pasti ada di sini juga.”


“Siapa nama teman satu kelompok kamu?” tanyanya. Aku menyebut nama lengkap Nora.


“Oke.” Dia mengambil setumpuk kertas dan memeriksa bagian depan tugas tersebut. “Tidak ada nama kamu.” Dia memberikan berkas itu kepadaku.


Aku menerimanya dan membaca nama Nora, Robert, Mike, dan kedua teman kami yang lain pada kertas tersebut, tetapi tidak ada namaku. Aku membuka halaman paling akhir, namaku juga tidak tertera di sana. Apa yang terjadi?


“Saya sudah meminta kepada Nora untuk memeriksa nama semua anggota sudah ada di tugas itu. Dia jawab sudah, jadi saya yakin sudah tidak ada kesalahan. Semua orang sudah mengumpulkan tugas, kecuali kamu sendiri. Karena sudah lewat satu minggu, maka kamu tidak mendapatkan nilai.”


Jantungku nyaris berhenti berdetak mendengarnya. Aku tidak mendapat nilai dari tugas ini? Itu tidak adil. Aku sungguh ikut mengerjakannya bersama teman satu grupku. Apa Nora sengaja melakukan ini? Dia sangat baik kepadaku, mungkinkah dia tega berbuat begini?


“Kamu pasti tidak menduga teman baikmu akan melakukan itu kepadamu,” kata Robert saat aku keluar dari ruang dosen. Dia bersandar di dinding dekat pintu masuk.


Tidak punya urusan apa pun dengannya, aku memilih untuk mengabaikannya dan pergi. Aku perlu bicara dengan Nora. Dia pasti ada di ruang belajar atau perpustakaan. Aku cukup mencari sepeda putihnya untuk tahu dia ada di mana.


“Aku tahu rahasiamu …,” dia malah mengikuti aku dan berjalan di sisiku, “Kat.”


Aku menghentikan langkahku, lalu menoleh ke arahnya. Dia tersenyum puas karena berhasil menarik perhatianku. Bagaimana dia bisa tahu tentang itu? Dari mana dia tahu aku adalah Katelia?

__ADS_1


__ADS_2