
Orang tuaku selalu mengajari kami untuk bersikap jujur dan adil kepada siapa pun. Sebagai anak dari orang kaya dan terpandang, mereka mengingatkan kami untuk tidak pernah menyalahgunakan hal yang ada pada kami. Apa aku tidak salah dengar? Mama mengancam akan merusak studi Amarilis?
“Kalau Mama bersikap begini, sampai mati pun, gue enggak akan menikah dengan Chika. Karena dia sudah membuat Mama jadi orang jahat. Ke mana mama gue yang selalu menghargai orang lain dan menjunjung nilai kebenaran?” kataku tersinggung.
“Mama tidak mengeluarkan sepeser pun untuk biaya kuliahnya, jadi jangan sentuh dia. Semua yang dia raih itu adalah hasil kerja kerasnya sendiri, tidak seperti gue dan Chika yang santai saja dibayari sekolah setinggi yang kami mau oleh orang tua.”
“Aku melakukannya supaya kamu tidak terus membawa keluarga kita dalam kehancuran,” kata Mama dengan tegas. “Apa kamu baru puas setelah video kamu dan dia di ranjang jadi viral?”
“Bagaimana kalau Mama atau Chika mengaku saja? Kalian, ‘kan, yang buat video itu jadi viral? Gue masih bayangan Papa, masa berita tentang gue lebih heboh dari direktur utama? Lagi pula, gue enggak akan menyentuh calon istri gue melewati batas sebelum kami menikah.
“Jadi, tolong nasihati Chika juga agar tidak menggoda atau merayu gue lagi.” Aku menoleh ke arah Papa. “Gue berangkat, Pa. Maaf, jika gue sedikit terlambat. Papa sudah tahu alasannya.”
“Theo,” panggil Mama, tetapi aku tidak menggubrisnya lagi.
Enak saja Mama mengancam akan menghalangi Amarilis yang berniat lulus pada semester ini. Aku tidak akan biarkan hal itu terjadi. Dia sudah cukup menderita dengan bekerja mengumpulkan uang, sekaligus belajar agar bisa mempertahankan prestasi akademiknya. Mamaku tidak perlu menambah kesusahan hidupnya lagi.
Aku yang salah. Amarilis benar. Aku tidak seharusnya masuk dalam hidupnya sekarang. Aku yang sudah egois memaksa dia menjalani hubungan diam-diam, lalu menjalin ikatan yang serius. Malah aku juga yang tidak bisa menahan rasa cemburu.
Begini lebih baik. Amarilis bisa mengerjakan skripsinya dengan tenang dan aku mempersiapkan studi masterku dengan lancar. Jadi, aku tidak bisa biarkan mamaku sendiri yang merusak rencananya. Dia adalah mamaku, tetapi bisa lupa cara memenangkan hatiku.
Menjelang pulang kerja, aku menerima pesan dari Daisy, pengawal pribadi Amarilis. Dia curiga dengan sikap Amarilis yang baru pulang dari rumah dosen pembimbingnya. Namun dia tidak punya informasi lain, karena dia tidak bisa memasuki rumah tersebut tanpa ketahuan pemiliknya.
Ketika pada malam harinya mereka mengekori dia ke hotel, aku semakin heran. Apa lagi yang dia lakukan di hotel lain milik Norman? Aku berusaha menenangkan diri agar tidak terbakar cemburu. Kami sudah putus, maka aku tidak berhak emosi begini.
__ADS_1
Barulah mengetahui dia mengikuti dosennya ke elevator usai makan malam, aku tidak tahan lagi. Pria tua berengsek! Apa yang dia pikirkan!? Apa dia mau melecehkan calon istriku!? Aku akhirnya tiba di hotel tersebut, tetapi ada yang memegang tanganku, menahan langkahku.
“Jangan rusak rencana Anda sendiri, Pak. Biar rekan kami yang menjaga dia,” kata salah satu pria yang menjadi pengawal pribadiku.
“Menjaga dia? Mereka gagal melakukannya ketika dia ada di rumah dosennya. Bagaimana lo bisa jamin mereka akan menolong dia tepat waktu!?” amukku. Aku menarik tanganku darinya.
“Apa Bapak lupa? Mbak Amarilis bisa melindungi dirinya sendiri,” kata pria itu, mengingatkan aku.
Kalimat itu mampu menyadarkan aku. Benar juga. Amarilis bukan perempuan tak berdaya yang tidak akan bisa menjaga dirinya sendiri. Apa yang baru saja akan aku lakukan? Aku tidak boleh ada di sini dan dilihat oleh orang lain, terutama Amarilis. Rencanaku bisa berantakan.
Cukup lama menunggu, aku melihat Amarilis keluar dari lobi bersama Matt dan teman kampusnya. Dia kelihatannya baik-baik saja. Aku ingin sekali berada di sisinya, membantu dia menenangkan diri. Kejadian ini pasti membuat dia terguncang. Dia harus mengalaminya karena aku.
“Siapa saja yang menemui dosen itu akhir-akhir ini?” tanyaku kepada pengawalku.
Aku berhenti tidak jauh dari rumahku cukup lama sebelum pulang. Emosiku benar-benar tinggi dan aku tidak mau membunuh siapa pun sebagai pelampiasan. Keluarga Winara lagi-lagi makan malam di rumah kami, jadi aku bergegas ke kamar.
Aku akan mengikuti ujian kemampuan berbahasa Inggris pada akhir pekan ini, jadi aku perlu fokus dan menjauhkan diri dari masalah. Berkas lain sudah beres, tinggal satu dokumen penting itu saja. Begitu pendaftaran dibuka, aku bisa mengajukan lamaranku dengan tenang.
Pintu kamarku dibuka ketika aku sedang berganti baju di ruang pakaian. Aku langsung tahu siapa pelakunya. Pelayan sudah datang mengantarkan makanan ketika aku sedang mandi. Mereka selalu mengetuk pintu. Hanya satu orang yang kurang ajar dan dia bukan penghuni rumah ini.
“Theo? Oh! Maafkan aku.” Dia berdiri di ambang pintu, saat aku sedang memakai kaus.
Aku melewati dia ketika keluar dari tempat itu dan lampu pun otomatis padam. Aku mendekati sofa dan menyantap makan malamku yang masih hangat. Tanpa tahu malu, dia duduk di sisiku membuat selera makanku nyaris hilang.
__ADS_1
“Skripsiku sudah selesai, jadi aku tinggal menjalani sidang. Kamu datang, ya? Om sudah memberi izin untuk kamu tidak bekerja pada hari itu,” katanya, setengah membujuk.
Aku hanya diam. Papa bisa memberi izin aku tidak bekerja selama satu tahun, jika dia mau. Namun aku yang menentukan kegiatan apa yang aku pilih pada hari itu. Setelah apa yang dia lakukan pada hari ini, aku tidak bisa lagi bersikap baik kepadanya.
“Theo, aku membutuhkan kamu. Kalau kamu ada di sana, aku akan berani menghadapi ujian besar itu. Aku mohon. Kamu datang, ya?” pintanya. Tangannya berada di pahaku.
“Lo buat gue tidak selera makan.” Aku menatap tajam ke arah tangannya itu.
“Aku bersikap sopan kepadamu, tidak seperti dia yang memberikan dirinya demi mendapatkan kamu. Tetapi kamu bertingkah seolah aku berbuat lebih dari menyentuh kakimu,” protesnya. “Apa yang dia miliki yang aku tidak punya? Apa aku harus memberikan badanku juga supaya kamu memilih aku?”
Dia membuka jaket kecil rajutan yang dia pakai. “Silakan. Kita akan menikah, aku tidak keberatan kamu membuka hadiah malam pertamamu sekarang.”
“Gue sayang dia, karena itu gue menginginkan dia. Lo mau telanjang di depan gue sekalipun, gue enggak tertarik. Gue enggak punya perasaan apa-apa sama lo,” kataku dengan serius. “Apalagi setelah perbuatan lo malam ini. Jangan pikir gue enggak tahu rencana kotor lo itu.”
“A-apa? Laki-laki mana yang tidak mau menyentuh perempuan yang memberikan diri kepadanya? Munafik kamu. Setelah beberapa saat bersama, kamu akan selingkuh juga sama seperti kebiasaan pria lain. Kamu tidak mungkin tidak bosan dengan Amarilis.” Dia mendengus keras.
“Mengenai tuduhanmu itu, aku tidak punya rencana kotor apa pun malam ini. Aku menjaga diri dengan baik, karena aku tahu apa arti reputasi dalam keluarga kita,” katanya, tanpa merasa bersalah sudah berani berbohong kepadaku.
Namun aku tidak menunjukkan foto dan rekaman yang menguatkan kalimatku tadi. Aku tidak akan menuduh tanpa bukti. Belum saatnya. Begitu waktunya tiba, aku akan membuat dia dan keluarganya menyesal sudah membuat aku dan Amarilis susah.
Dia akhirnya pergi ketika pelayan datang menyampaikan pesan dari orang tuanya. Aku mengabaikan dia dengan belajar ulang contoh ujian yang akan aku hadapi. Walau dia terus bicara menyatakan protesnya karena aku diamkan, aku menutup telingaku dari suara cemprengnya itu.
Pintu kamarku diketuk, aku mendesah kesal. Apa orang-orang ini tidak akan pernah meninggalkan aku sendiri dengan urusanku? Seseorang masuk sebelum aku persilakan dan langsung duduk di tepi tempat tidurku. Mendengar dia berdecak, aku segera mengenali suaranya.
__ADS_1
“Gue sudah enggak tahan. Perempuan itu enggak boleh datang lagi ke rumah ini. Lo harus cerita sama gue,” katanya dengan nada mendesak. “Rahasia apa yang dimiliki orang tua kita di masa lalu? Apa mereka melakukan kesalahan fatal yang sudah merusak nama baik keluarga kita?”