
~Altheo~
Ada satu cara menikah tanpa membutuhkan saksi atau restu dari pihak keluarga. Harganya tidak mahal, akomodasi ke sana juga bisa aku tanggung. Namun aku ragu warga negara asing bisa dapat fasilitas yang sama juga.
Selain itu, akan sulit membujuk Amarilis sekarang. Dia sudah tahu aku punya tunangan. Dia akan semakin tidak mau menikah denganku jika dia tahu rencana Papa dan Mama dalam waktu dekat. Sial. Mengapa semua jadi berantakan begini?
Pintu ruanganku diketuk, maka aku mempersilakan masuk. Manajer datang dan meletakkan sebuah tas belanja di atas mejaku. Clara pulang dari liburan ke Eropa dan membagi oleh-oleh kepada semua orang. Semua orang. Paling juga dia hanya memberi mereka barang murah dan yang bagus diberikan kepadaku. Wanita yang aneh. Aku sudah menolak, masih saja berusaha mendekati aku.
Asisten manajer seperti dia hanya merepotkan aku saja. Dia sering sekali mengambil cuti panjang. Walau dia rela tidak dibayar, aku tetap rugi harus membayar orang lain untuk lembur mengerjakan tugasnya. Uang lembur jauh lebih besar daripada gaji harian.
“Ah, maaf.” Seorang wanita masuk begitu saja ke restoran saat aku akan keluar. Aku menahan kedua lengannya agar dia tidak jatuh. “Te-terima kasih.”
“Tidak masalah.” Aku membiarkan dia dan teman-temannya masuk dahulu, baru aku keluar.
Bersepeda beberapa saat, aku tiba di apartemen. Daisy sedang berjaga di ruang tunggu dekat pintu apartemen kami. Rekannya pasti ada di apartemen mereka, memperhatikan Amarilis lewat CCTV. Perempuan itu menunduk penuh hormat ketika bertemu pandang denganku. Dia memberi sinyal lewat tangannya saat aku akan masuk, tetapi aku abaikan.
Barulah aku mengerti apa yang hendak dia sampaikan ketika Amarilis berang melihat bekas lipstik di kerah bajuku. Ada-ada saja. Aku seharian sibuk bekerja, mana sempat selingkuh. Apalagi bercumbu dengan perempuan yang tidak aku sukai. Untung saja ada CCTV di setiap sudut restoran. Jadi, dia bisa cek sendiri aku berkata jujur atau bohong.
“Hai!” Aku berjalan keluar restoran ketika seorang wanita menyapa. Aku mengabaikannya, karena aku pikir itu bukan untukku. “Altheo Gunawan?” Aku menoleh mendengar namaku disebut. “Hai!”
“Oh, maafkan aku.” Ternyata dia memanggil aku. “Ada yang bisa aku bantu?”
“Kamu pasti tidak ingat aku. Kita bertabrakan di sini kemarin.”
“Ah, begitu.” Aku tidak tahu apa yang dia inginkan, tetapi aku mau segera bertemu dengan Amarilis. “Maaf, aku harus pergi. Silakan masuk dan selamat menikmati.”
Wajahnya berubah kecewa. Aku membalikkan badan, lalu mendekati sepedaku. Ada apa lagi dengan perempuan itu? Kami bertabrakan pada hari sebelumnya adalah hal yang biasa. Mengapa dia malah mencari tahu namaku segala?
Setelah semua karyawan mendapat giliran libur menyambut musim panas, aku juga mengambil jatahku dengan mengajak Amarilis menginap di kabin. Aku mau merayakan ulang tahun kami berdua sendirian saja. Sayangnya, rencana itu berubah bencana.
Kami dalam perjalanan kembali ke pondok ketika dia bersikeras melihat apa yang membuat seekor anjing tidak berhenti menyalak. Ternyata seorang pria tua yang sengaja terlambat meminum obat demi mengakhiri hidupnya. Ada-ada saja.
__ADS_1
Aku bangun pagi itu dengan Amarilis ada dalam pelukanku. Tanganku kesemutan karena berada pada satu posisi saja sepanjang malam. Siapa yang bilang tidur dengan posisi seperti ini romantis? Mereka pasti tidak pernah melakukannya.
Sepasang mata besar menyambut aku ketika aku membuka pintu. Aku mendesah kesal. Mengapa aku yang harus menanggung biaya kebutuhan kedua mulut makhluk asing ini? Aku mendekati kulkas dan mengeluarkan sebuah sosis, lalu menghangatkannya di microwave.
Sembari menunggu, aku menyiapkan bahan untuk sarapan tiga orang dewasa. Tiga orang! Harusnya hanya aku dan Amarilis saja yang menghabiskan semua stok makanan ini. Jika mereka terus berada di sini, maka aku harus pergi belanja lagi.
Anjing itu menyantap sosisnya dengan lahap. Tidak ada makanan khusus anjing, sepertinya aku juga harus membeli satu bungkus besar untuknya. Kalau dia memakan hal yang sama dengan kami, aku bisa bangkrut. Mengapa liburan kami jadi hancur begini?
“Apa dia adikmu?” tanya pria tua itu yang ternyata sudah bangun dan duduk di salah satu kursi dekat konter. “Aku sengaja tidur lebih cepat semalam, tetapi kamar kalian sangat sunyi. Aku pikir kalian adalah sepasang kekasih.”
Pria tua yang aneh. Dia berpura-pura tidur dan berharap akan mendapat musik gratis. Apa dia pikir aku sudah gila bermesraan dengan Amarilis dengan kehadiran orang lain di dekat kami? Apa yang sebenarnya yang dia inginkan dengan datang ke kabin ini?
Jika dia punya niat jahat, dia sudah menyakiti kami saat kami tidur. Namun aku bangun dengan sehat dan tidak ada hal yang hilang di kamar atau pondok ini. Kunci pintu kamar juga tidak berusaha untuk dibuka paksa dari luar. Katanya, dia tidak punya apa-apa. Mengapa dia tidak mencuri apa pun?
“Kami menunggu sampai kami menikah,” kataku, memahami maksud pertanyaannya.
“Ah, teori yang membosankan. Kalian harus banyak bertualang agar aktivitas ranjang kalian lebih nikmat. Percayalah kepadaku. Melakukannya hanya dengan satu orang seumur hidupmu, kamu tidak akan belajar apa pun,” ejeknya.
Dia berdehem pelan. Reaksinya itu sudah cukup menjadi jawaban. Apa dia pikir aku tidak tahu apa-apa tentang urusan ranjang? Yang terpenting bukan dengan berapa orang kita melakukannya, tetapi apakah kita melakukannya dengan orang yang tepat. Segala detail bisa didiskusikan agar kedua belah pihak sama-sama menikmatinya. Dasar laki-laki tua suka menjebak.
“Ngomong-ngomong, untuk apa kalian berlibur ke tempat terpencil kalau tidak bersenang-senang?” Dia kembali membahas topik itu.
“Kami bersenang-senang sebelum kamu berpura-pura mau mati.” Aku membuat telur orak-arik.
Dia tertawa kecil. “Mulutmu tajam juga.”
“Apa kamu akan berkata sopan kepada orang asing yang memasuki tempat tinggalmu tanpa izin?” Aku menoleh ke arahnya.
“Cukup adil.” Dia mengangguk sambil tersenyum. “Aku tidak mengenal bahasa yang kalian gunakan. Kalian datang dari mana?”
“Indonesia.” Aku memindahkan telur yang sudah matang itu ke atas piring.
__ADS_1
“Aah, negeri yang indah. Sayang, aku hanya pernah mengunjungi Bali.” Dia mengusap-usap dagunya. “Setahuku orang Indonesia masih konservatif. Apa orang tua kalian tidak marah kalian menginap berdua saja seperti ini? Biasanya pelajar seperti kalian selalu datang berkelompok.”
“Apa yang sebenarnya mau kamu katakan, Pak Tua?” tanyaku bosan. Aku menunda niatku memasak bakon dengan menoleh kepadanya.
“Kalau kamu benar-benar mencintai gadis itu, segera ikat dia. Jangan sampai ada yang mendahului kamu. Aku bisa lihat dari caramu yang sangat melindungi dia, kalian punya hubungan khusus.” Dia bicara dengan serius.
“Biasanya orang tua seumurmu menyuruh kami menunggu, bukan buru-buru menikah,” ejekku.
Dia tersenyum. “Kalau kamu sudah bertemu orang yang kamu inginkan, untuk apa lagi menunggu?”
Aku memasukkan bakon ke wajan, lalu mendekati konter sambil menunggu matang. “Tentang itu ….” Kebetulan dia menyinggungnya, aku menanyakan informasi yang sudah lama aku ketahui, tetapi kesulitan untuk mengeksekusinya.
Dia tidak mengecewakan dengan menjawab setiap pertanyaanku sesuai dengan keterangan yang aku baca. Ternyata mudah sekali, tidak sesulit yang aku pikirkan. Karenanya, aku tidak percaya hal itu benar-benar ada. Sayang sekali, aku harus menunggu satu tahun untuk bisa melakukannya.
Amarilis bangun, percakapan itu kami hentikan. Aku tidak mau dia mengetahuinya lalu menolak ide itu. Wanita ini sangat rumit dan aku tidak pernah bisa memahami dia dalam satu hal. Dia sayang kepadaku, tetapi tidak cukup berani untuk berjuang bersamaku.
Dia merasakan pahitnya hasil dari perbuatan baiknya kepada orang asing. Pria itu tidak mau pergi dan aku tidak mungkin mengusir dia. Dia memang membebani aku dalam hal makanan dan tempat tidur, tetapi aku tidak tega membiarkan dia mati mengenaskan.
Ulang tahun Amarilis kami rayakan bertiga. Dia menyembunyikan rasa tidak sukanya dengan tetap bersikap baik kepada pria tua itu. Aku mengulum senyum melihat dia menahan diri setiap kali ingin memeluk atau mencium aku. Biar dia tahu rasa.
Aku memeluk dia dalam perjalanan pulang untuk menghiburnya, tetapi dia tidak mau tersenyum. Aku melirik Daisy lewat kaca spion. Dia hanya menggeleng pelan. Wajar saja dia tidak bisa menolong, konsultasi urusan asmara bukanlah tugasnya.
“Putar mobilnya,” kataku, melihat Clara berdiri di depan gedung.
“Tidak. Berhenti di sini. Dia sudah melihat kita,” perintah Amarilis. “Aku sudah muak bersembunyi.”
“Sayang.” Aku tidak bisa mencegah dia keluar dari mobil, maka aku mengikutinya.
Clara berjalan dengan cepat ke arahku, mengabaikan Amarilis. Aku menunggu sampai dia berdiri di depanku. Tinggiku hanya seratus tujuh puluh lima senti, jadi aku dan dia sama tingginya setiap kali dia mengenakan sepatu berhak. Namun perbedaan itu tidak membuat aku merasa terintimidasi.
“Kamu tidak bilang kamu punya tunangan,” katanya dengan marah. Dia melambaikan ponselnya kepadaku. “Apa maksud undangan ini?”
__ADS_1