
Aku tidak pernah menduga akan bertemu dengannya di kota, apalagi di rumah ini. Mengapa orang-orang yang ingin aku hindari malah berdatangan di tempat yang sama? Pertama, ketiga musuh bebuyutanku. Sekarang, musuh bebuyutan Katelia.
Walau dia bersikap baik kepada Amarilis, ah, maksudku, kepadaku, dia tetaplah orang yang sudah berlaku jahat kepada Katelia. Kami saling membenci karena punya prinsip yang berbeda. Dia yang sok suci, sedangkan aku yang selalu jujur terhadap siapa pun.
Satu tahun tidak bertemu, dia sangat berubah. Wajahnya kini terlihat semakin dewasa. Hilang sudah muka kekanak-kanakan semasa SMU yang selalu aku lihat padanya. Mungkin pakaian dan potongan rambutnya yang membuat dia terkesan sedikit dewasa.
“Lo? Kalian berdua saling mengenal?” tanya wanita baik hati itu, melihat kami secara bergantian.
“Dia teman sekelas gue di Medan, Ma. Mengapa dia ada di sini?” tanyanya bingung.
“Dia guru privat Matt mulai dari hari ini. Baguslah kalau kamu mengenal dia. Aku mau tahu apa saja yang kamu kenal darinya. Aku mau dia betah di sini menolong adikmu belajar,” goda wanita itu.
Merasa tidak nyaman ditatap penuh selidik olehnya, aku menoleh ke arah mamanya. “Ng, saya pamit pulang, Tante. Takutnya saya kemalaman sampai di indekos,” ucapku segan.
Dia menepuk tangannya. “Ah, kebetulan Theo sudah pulang. Biar dia yang mengantar kamu.”
“Kenapa gue, Ma? Gue baru saja pulang. Suruh Matt, dong. Ini gurunya, bukan gue,” tolak Theo, membuat aku tidak enak.
Kami kalah berdebat dengan mamanya. Dia berhasil mendorong aku dan Theo sampai keluar rumah hingga di dekat sebuah sepeda motor besar yang ada di pekarangan. Wow. Aku tahu harganya. Dia sangat sederhana di sekolah, jadi aku belum terbiasa melihat dia bergaya hidup mewah.
Dia menolong aku naik ke atas jok belakang yang cukup tinggi itu. Sial. Mengapa tidak menggunakan sepeda motor biasa saja, sih? Belum lagi aku terpaksa duduk maju ke arahnya karena kemiringan joknya. Jenis sepeda motor yang sangat aku benci.
“Sudah, jangan malu-malu. Peluk saja. Nanti kamu jatuh.” Mama Theo melingkarkan tanganku di tubuh putranya itu. Oh, Tuhan.
Pipiku memanas merasakan tubuh kami sedekat itu. Walau aku cantik dan supel, aku belum pernah punya pacar. Papa dan Mama melarang, karena aku sudah punya calon suami. Hal yang tidak asing lagi bagi kami yang lahir di tengah keluarga pengusaha. Sudah biasa di antara kolega menjodohkan anak untuk memperkuat jalinan bisnis.
Ah, maksudku, Katelia yang dijodohkan. Ukh. Aku tidak boleh lupa bahwa aku adalah Amarilis. Jadi, dia adalah pemuda pertama selain kedua kakakku yang pernah aku peluk sedekat ini. Posisi ini benar-benar tidak nyaman. Apalagi dada Amarilis, ah, maksudnya aku, besar sehingga aku tidak bisa memberi jarak di antara tubuh kami.
Theo hanya diam sepanjang perjalanan. Dia fokus melihat titik pada peta daringnya, yang aku atur supaya menuju ke tempat tinggalku. Aneh rasanya ditolong oleh orang yang selama ini menjadi musuhku, tetapi dia tidak tahu aku adalah Katelia.
__ADS_1
“Tempat ini boleh juga,” katanya setelah membantu aku turun dari sepeda motornya.
“Terima kasih,” ucapku pelan.
“Gue enggak menduga lo akan ada di sini, apalagi menjadi guru privat adik gue. Apa yang lo lakukan di Depok?” tanyanya heran.
“Kuliah,” jawabku, berterus terang. Aku ingin menjawab dengan sarkas, tetapi itu bukan gaya bicara Amarilis, aku harus berhati-hati dengan orang yang mengenal aku dengan baik.
“Kuliah? Di UI?” tanyanya terkejut.
“Iya. Kenapa? Apa aku tidak boleh kuliah di sini?” Aku balik bertanya. Tahan dirimu, Kat, jangan sampai terpancing emosi. Dia hanya bertanya, bukan menuduh.
Dia menatap aku dengan saksama dari kepala hingga kaki, lalu kembali ke wajahku. “Lo berubah. Gue enggak menyangka lo akan sesukses ini. Selamat, ya.”
Aku mendesah lega begitu berada di kamarku lagi. Sial. Aku tidak tahu dia akan kuliah di sini juga. Siapa lagi berikutnya dari kotaku yang ada di sini? Meski aku sudah bertekad untuk menjadi Amarilis sepenuhnya, aku butuh waktu untuk membiasakan diri.
Jalanku masih panjang, jadi aku belum bisa bersantai. Biaya kuliahku untuk dua setengah tahun berikutnya harus aku cari. Aku tidak tahu kapan aku bisa bernapas lega, karena perjuangan keduaku justru baru dimulai. Aku berdiri dan mendekati meja belajarku.
Setitik demi titik air mata jatuh membasahi pipiku. Hari sudah malam, tetapi aku belum bisa tidur. Itu adalah kemewahan dalam hidup Katelia. Aku harus memaksa diri untuk bekerja sepuluh kali lebih berat untuk bisa mewujudkan mimpiku semula. Dan aku harus berhasil.
“Lihat, siapa yang ada di sini.” Chika memukul kepalaku dengan keras dari belakang, tetapi aku tidak berhenti berjalan. “Berani sekali kamu tidak datang pada saat ospek.”
“Hei, berhenti kalau ada yang sedang bicara denganmu!” Rahma menarik kerah kemejaku sehingga aku terpaksa menghentikan langkah.
“Aku harus ke ruang kuliah,” kataku sambil menepis tangannya itu. Aku berniat menjauh, tetapi Nisa sudah menghalangi jalanku bersama Chika. Kalau bukan karena aku tidak mau membuat mereka curiga, aku bisa saja mengalahkan mereka dengan mudah.
“Oh.” Dia tertawa terkejut melihat keberanianku. Tangannya mengusap-usap pergelangan tangan yang aku pukul itu. “Berani sekali kamu melawan!”
“Apa kalian akan terus mengganggu dia?” ucap seseorang dari arah belakangku.
__ADS_1
Aku tertegun sejenak sebelum menoleh dan melihat pemuda tampan itu berdiri tidak jauh dari kami. Rambut berbelah pinggirnya disisir rapi sehingga poninya tidak lagi menutupi seluruh dahinya. Dia memakai kemeja dengan dua kancing teratas dibiarkan terbuka, menunjukkan kaus yang dia pakai di baliknya dipadu dengan celana panjang dan sepatu kets.
“Jangan ikut campur, Theo. Kamu sebaiknya langsung ke kelas saja supaya tidak terlambat,” ejek Chika. “Kami hanya bicara dengan Amarilis, bukan mengganggu. Iya ‘kan?” Dia merangkul bahuku.
“Aku benar-benar harus ke ruang kuliah.” Aku menepis tangannya itu dari bahuku, lalu menjauh dari mereka. “Terima kasih.” Aku menyempatkan diri mengucapkan hal itu kepada Theo.
Perkuliahan hari pertama berjalan dengan lancar. Aku mengikuti tiga mata kuliah pada waktu yang berbeda, di ruangan yang berbeda pula. Tidak mau membuang uang, aku membayar uang makan bulanan di sebuah warung dengan harga termurah. Jadi, aku cukup mengambil jatah makan siangku.
Walau air liurku terbit, aku tidak menuruti keinginanku untuk membeli banyak jajanan yang dijual di sepanjang jalan. Aku perlu berhemat agar bisa membeli sepeda. Siapa tahu aku bisa banyak jajan nanti. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Jika aku beruntung.
Namun keinginanku itu terpenuhi saat tiba di rumah Theo. Mamanya, ah, maksudku, Tante Ruth menyiapkan banyak camilan dengan minuman dingin untukku dan Matt. Karena dia mempersilakan, maka aku tidak malu-malu menikmati makanan tersebut.
“Apa dia bersikap baik kepadamu selama kalian belajar?” tanya Tante Ruth, menemani kami makan malam usai belajar. Karena mulutku penuh, aku hanya mengangguk. “Syukurlah, aku tidak mau dia kehilangan guru lagi.”
“Kalau lo segan sama Mama, lo bisa bilang ke gue. Matt tidak akan berani macam-macam kalau gue sudah campur tangan,” kata Theo, menambahkan. Dia melirik ke arah adiknya.
“Hati-hati, Theo. Lo mau jatuh cinta dengan cewek jelek ini?” ejek Matt yang langsung mendapat pukulan di kepalanya. “Mama! Itu sakit!”
“Aku sudah bilang, aku tidak mau mencari guru baru lagi. Bukannya kamu sendiri yang mau dibantu belajar supaya lulus di kampus yang sama dengan kakakmu?” kata mamanya, mengingatkan.
“Apa salahnya bicara jujur? Memang dia jelek,” protes Matt. Mamanya melotot, dia segera menjauh agar wanita itu tidak bisa memukulnya lagi.
Walau pemuda itu menghina fisikku, aku tidak merasa tersinggung. Aku sudah melewati hal yang lebih buruk dari itu. Selama dia tidak memukul atau mengerjai aku sehingga menyakiti tubuhku, maka ejekan bukanlah masalah. Apalagi mamanya memberi aku uang yang cukup besar.
Ketika Tante Ruth berniat meminta Theo untuk mengantar aku pulang, aku menolak dan bergegas pergi dari rumah itu. Aku punya harga diri dan tidak mau menerima lebih dari kesepakatan awal kami. Aku hanya datang untuk memberi les tambahan, bukan merepotkan putra sulungnya.
Aku sangat senang menghadiri hari kuliah kedua. Menjadi mahasiswa ternyata ada enak dan tidak enaknya. Dosen memberi mata kuliah berbeda dengan saat di sekolah, tetapi aku berusaha untuk menyesuaikan diri dengan baik. Baru dua hari masa sudah mengeluh?
Kakiku tiba-tiba tersandung sesuatu. Aku tidak bisa menjaga keseimbangan sehingga jatuh dengan dada membentur lantai terlebih dahulu. Sakitnya minta ampun. Aku menoleh untuk mencari tahu siapa pelakunya.
__ADS_1