
Dia melihat ke arah kerahnya. Tentu saja dia tidak akan bisa melihat noda bekas lipstik itu. Siapa yang sudah mencium dia di situ? Pasti perempuan kecentilan itu. Adik dan kakak yang ini memang berbeda sekali. Satu jahatnya minta ampun, yang satu lagi baik hati.
“Ini hanya kecelakaan di restoran. Ada seorang tamu yang menabrak gue saat gue akan pulang tadi,” katanya dengan santai. Dia menatap aku dengan saksama. “Lo pikir gue bercumbu dengan Clara?”
“Menabrak bagaimana sampai bekas lipstiknya menempel di leher kamu?” Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dada, menahan emosi.
“Tidak semua orang sependek lo.” Dia mengangkat kedua alisnya. “Perempuan yang menabrak gue ini bertubuh tinggi sehingga ini terjadi. Lo enggak usah curiga begitu. Gue enggak macam-macam. Kalau lo enggak percaya, lo boleh minta CCTV restoran dari Daisy.”
Karena dia berkata begitu, aku tidak bisa marah. Apalagi dia mempersilakan aku melihat CCTV. Aku menutup bukuku dan membawanya ke kamar. Aku mau keadaan tetap damai dan tidak bertengkar mengenai hal yang sepele lagi dengannya, jadi lebih baik aku menghindar.
Memasuki minggu ketiga bulan Juni, Theo mengajak aku menginap di kabin tengah hutan seperti tahun sebelumnya. Aku menerimanya dengan senang hati. Kami pergi ke lokasi yang berbeda dengan suasana hutan yang sama segarnya.
Aku tidak melupakan hari istimewanya, jadi aku mengajaknya pergi ke kota pada pagi berikutnya. Dia hanya tersenyum penuh arti. Kami mampir ke toko kue dan aku membeli kue ulang tahun mini untuk kami makan bersama.
“Gue pikir lo lupa.” Dia tersenyum saat aku mengecup bibirnya.
“Aku tidak akan melupakan hari lahir pria favoritku.” Aku menciumnya lagi. “Saatnya makan kue!”
Kami kembali ke kabin dengan perut penuh. Karena hari ini hari istimewa, dia tidak boleh melakukan apa pun, jadi kami membeli makan malam untuk kami nikmati nanti. Kami juga membeli beberapa stok camilan dan minuman selama kami tinggal di hutan.
“Tidak ada yang spesial dengan umur perak,” ucapnya pelan.
Aku tertawa kecil. “Memangnya apa yang kamu harapkan akan terjadi pada usiamu ini?”
“Orang-orang selalu bilang ada yang berbeda rasanya. Sama halnya ketika usia emas nanti. Kalau tidak ada yang khusus, mengapa disebut ulang tahun perak?” debatnya.
“Apa merayakan ulang tahunmu bersamaku setelah kita pernah terpisah bukan hal yang istimewa?” godaku. Dia menoleh, lalu tersenyum. “Kita tidak tahu apa tahun depan kita masih bersama. Jadi, iya, ini ulang tahun kamu yang spesial.”
“Kita akan bersama sampai gue mati dahulu.”
“Lo? Kok, kamu yang mati dahulu. Aku tidak mau. Aku yang dahulu pergi,” protesku.
“Enggak. Gue enggak akan sanggup hidup tanpa ada lo lagi. Gue yang dahulu pergi,” balasnya.
“Jadi, kamu pikir aku bisa sendirian kalau kamu tidak bersama aku lagi??”
“Gue enggak mau tahu. Pokoknya, harus gue yang dahulu mati.”
__ADS_1
Sayup-sayup aku mendengar suara dari jauh. Aku meletakkan telunjuk di depan bibirku. Dia pun diam dan ikut mendengarkan. “Kamu dengar itu?” Tidak salah lagi, ada suara di kejauhan. “Salakan anjing. Mungkin ada yang butuh bantuan.”
“Dari mana lo tahu? Bisa saja itu anjing penyewa kabin tetangga yang sedang bermain di pekarangan dengan tuannya.” Theo merangkul bahuku dan mengajak aku terus melangkah menuju kabin kami.
“Tidak, Theo. Itu bukan gonggongan biasa.” Aku menghentikan langkah dan mencari arah datangnya suara. “Ayo, kita periksa. Bisa saja ada orang yang sedang dalam kesulitan.”
“Lo ini merepotkan saja.”
“Ayo.” Aku setengah menarik tangannya menuju arah suara.
Salakan itu semakin dekat, jadi aku tahu kami menuju arah yang benar. Tidak jauh di antara pohon rindang dan semak belukar, ada seekor anjing Labrador yang sangat tampan dan terawat. Dia mengubah suaranya menjadi kecil dan sedih.
Melihat dia mengajak kami mendekati sesuatu di dekat semak, aku mengikutinya. Namun Theo menarik tanganku dan berjalan dahulu di depanku. Ada-ada saja. Dari penampilan anjing itu bisa ditebak dia tidak bersama orang jahat.
“Oh, Theo! Ada orang!” pekikku terkejut.
“Sepertinya dia pingsan.” Theo berlutut dan memeriksa keadaan pria yang berambut serba putih itu. Dia mendekatkan telinga ke punggung pria itu untuk mendengar detak jantungnya, lalu meletakkan jarinya di bawah hidungnya. “Dia masih hidup.”
“Kalian tinggal di mana?” tanyaku kepada anjing itu. Tentu saja dia tidak bisa menjawab. Aku melihat ke sekeliling kami. Pondok mana yang menjadi tempat tinggalnya?
“Tidak perlu cari kabin lain,” ucap Theo. “Anjing ini sudah menggonggong sangat lama. Kalau ada orang di dekat sini, mereka pasti sudah datang dahulu.”
“Kita laporkan ke pengelola saja. Biar mereka yang mengurus dia.” Theo mengeluarkan ponselnya.
“Maksudmu, kita biarkan kakek ini berbaring di sini sampai ada yang datang menolong!?” tanyaku tidak percaya. Dia bisa mati dibiarkan begini terlalu lama.
“Iya. Memangnya mau dibawa ke mana lagi? Gue enggak mau memeriksa semua kabin untuk tahu yang mana tempat tinggalnya.”
“Ya, sudah. Kita bawa ke pondok kita saja.” Aku berlutut dan memeriksa keadaan pria itu. Tidak ada tanda-tanda luka, memar, atau apa pun di bagian luar tubuh yang kelihatan.
“Bagaimana kalau ternyata dia orang jahat?” Theo memegang tanganku.
“Kita bisa pukul dia nanti. Dua lawan satu, kita pasti menang. Sekarang, dia butuh tempat yang hangat daripada berbaring di sini.”
“Dua lawan satu? Apa lo lupa dengan anjingnya?”
“Tinggal beri sosis yang dilumuri obat tidur, beres. Dia tidak akan bisa menolak makanan seenak itu.”
__ADS_1
“Lo sudah gila,” keluh Theo, tetapi dia mengikuti yang aku lakukan. Kami membalikkan tubuh pria itu, Lalu mendudukkannya. “Tubuhnya tinggi dan besar. Aku tidak yakin kita akan sanggup memapahnya berdua sampai ke pondok.”
“Coba dahulu.” Aku menguatkan diri dan mengangkatnya bersama Theo. Pria itu mengerang pelan. Aku mendesah lega. Ternyata dia masih sadar.
Setelah berhasil berdiri, anjing itu menyalak, meminta kami mengikutinya. Aku menoleh ke arah Theo. Dia mendesah keras, kemudian menganggukkan kepalanya. Kami mengikuti anjing itu yang untungnya, menuju kabin yang jaraknya dekat.
“Halooo,” seru kami memanggil dari depan pintu.
Kami memanggil berulang kali, tidak ada yang menyahut, maka Theo menekan kenopnya. Ternyata tidak dikunci, jadi kami bisa masuk. Kami membaringkan pria tua itu di atas sofa, baru duduk di kursi kosong dengan lega. Syukurlah, kami tidak perlu membawanya terlalu jauh.
Anjing itu kembali menyalak, meminta kami mengikutinya. Theo berdiri dan menyuruh aku tetap duduk dan tidak pergi ke mana pun. Memangnya aku mau ke mana tanpa dia? Tidak lama kemudian, dia kembali bersama anjing itu dengan sebuah tabung di tangannya.
“Tolong, ambilkan air,” katanya.
Aku menurut dengan mendekati konter dapur dan mengisi air di dalam gelas yang aku temukan di kabinet atas. Aku memberikan air itu kepada Theo. Dia sudah mendudukkan pria itu dan membuka mulutnya. Setelah menaruh obat di lidahnya, dia mendekatkan gelas ke bibir pria itu.
Dia membaringkannya kembali, sedangkan aku meletakkan gelas ke konter. Aku duduk di sisinya dan melihat ke sekeliling kami. Pria tua ini dan anjingnya pasti sedang berlibur, sama seperti kami. Tidak ada tanda-tanda dia datang bersama orang lain dilihat dari jumlah piring dan gelas yang ada di rak pengering. Entah apa jadinya dia kalau kami tidak menolongnya tadi.
“Lo lihat dia? Gue enggak mau hidup sendirian seperti itu tanpa lo.” Yang benar saja. Dia malah melanjutkan pertengkaran kami yang tadi sempat terhenti.
“Dari mana kamu tahu dia sendirian? Bisa saja istrinya ada di suatu tempat bersama anak mereka,” debatku. “Mungkin mereka bertengkar, lalu sang suami pergi menenangkan diri.”
“Gue lebih baik bercinta dengan lo supaya kita tidak bertengkar lagi.”
“Theo!” Aku merasakan pipiku memanas mendengar keterusterangannya itu.
“Kenapa lo masih malu? Lo harus membiasakan diri. Karena lo siap atau tidak, lo jadi milik gue tahun depan. Begitu kita menikah, gue enggak mau menunggu lagi. Malam itu juga jadi malam pertama—”
“Sudah, berhenti. Kamu ini tidak bisa melihat situasi. Apa kamu tidak sadar kita bersama orang sakit?”
“Hari ini hari ulang tahun gue. Bukan salah gue kita berpapasan dengan kakek ini.”
“Bisakah kalian diam?” ucap pria tua itu. Kami serentak menoleh ke arahnya.
“Kakek, apa kamu baik-baik saja? Kamu tadi pingsan di luar.” Aku mendekatinya.
Dia membuka matanya perlahan, lalu melihat ke sekitarnya. Keningnya berkerut saat memandang aku dan Theo. “Siapa kalian? Aku mau mati, mengapa kalian menolong aku?”
__ADS_1
“Apa maksudmu? Ditolong malah marah. Mati bisa nanti saja. Lihat, tuh, anjingmu sampai sedih tidak bisa menolong saat kamu mau mati,” sindirku.
“Aku tidak punya apa-apa lagi, untuk apa aku hidup?” Dia menatap aku dengan tajam. “Memangnya kamu mau membiayai makan dan obatku yang mahal?”