
Theo bersikap seperti biasanya pada keesokan harinya. Padahal kami berdebat panjang mengenai rencananya untuk menikah secara diam-diam pada hari sebelumnya. Aku sangat mengagumi rasa percaya dirinya, tetapi dia bisa saja salah perhitungan.
Papa dan mamanya punya pengalaman puluhan tahun lebih banyak darinya mengenai pernikahan. Walau kami bisa bermesraan di sini, jauh dari sikap curiga orang tuanya, mereka akan mencium hubungan kami, cepat atau lambat.
Mengapa Tante Ruth cepat sekali menjodohkan putranya lagi dengan perempuan lain? Apa yang dia takutkan? Jika dia begitu yakin hubungan kami tidak akan sampai ke pelaminan, lalu mengapa dia bersikap begini? Apakah dia juga sudah tahu kalau Theo tidak akan pernah mengubah pendiriannya?
“Gue pergi.” Theo mengecup bibirku. “Lo akan bertemu dokter hari ini?” Aku mengangguk. Dia pun menciúm aku lebih lama dan dalam, seperti yang dia lakukan saat pulang dari hotel.
“Theo.” Aku mendorong tubuhnya. “Kamu bisa terlambat.”
“Aku bosnya. Siapa yang akan memarahi aku?” Dia tersenyum. Hal yang akhir-akhir ini sangat jarang aku lihat tersungging di bibirnya. Dia menciúm aku lagi, maka aku tidak menolak.
Dia tidak mau menjawab mengenai hasil pertemuan maupun percakapan dengan orang tuanya. Aku bisa saja mendapatkan informasi itu dari Matt, tetapi aku merasa sedang memanfaatkan kedekatan kami bila melakukan itu.
Aku juga penasaran bagaimana dia dan perempuan itu berinteraksi selama dua hari di hotel. Namun dia juga tidak mau menjawab pertanyaanku itu. Setiap kali membahas hal yang berhubungan dengan orang tua dan tunangannya, dia menutup mulutnya rapat-rapat.
Meghan sudah ada di ruang kuliah ketika aku datang. Kami saling menyapa, lalu aku duduk di tempat biasa. Ruangan itu masih sama. Orang-orang memandang aku sambil berbisik dengan teman yang duduk di sisinya. Persis seperti keadaan di koridor tadi.
Sahabatku itu menarik perhatianku dengan meletakkan sebuah tas belanjaan di atas meja kursiku. Aku menatapnya dengan heran. “Oleh-oleh dari Hawaii. Ayo, buka.”
“Wow, Meghan. Kamu seharusnya tidak perlu repot.” Aku membuka tas itu dengan segan.
“Aku tidak repot. Temanku hanya kamu, jadi mengapa aku tidak bawakan sesuatu? Tenang. Aku membeli barang yang tidak akan kena pajak ketika kamu pulang nanti.” Dia tersenyum manis.
Ada sebuah boneka buah nanas yang lucu dengan tulisan I Love Hawaii di dadanya. Lalu ada sebuah kaus bertuliskan Hawaii dan dua kotak besar cokelat berisi kacang Macadamia. Aku menatapnya tidak percaya. Oleh-oleh yang dia bawakan banyak sekali.
Ujian tengah semester sudah di depan mata, maka kami fokus dengan kuliah. Liburan sudah berakhir, jadi kami harus serius lagi dengan studi kami. Robert kini menghindari aku setiap kali berpapasan denganku. Mike memang sudah tidak mau dekat lagi, terutama sejak kehilangan mobil mahalnya.
Semoga saja keadaan akan damai terus seperti ini. Aku ingin sekali menyelesaikan studiku tanpa ada masalah dari luar urusan akademik. Nora masih bersikap tenang, aku tidak tahu apa dia sudah tidak mengharapkan Theo atau sedang menunggu waktu yang tepat untuk beraksi lagi.
__ADS_1
“Wajah kamu semakin hari semakin berkilau. Apa kamu memakai sesuatu?” tanya Meghan saat kami akan berdiskusi mengenai tugas dari dosen.
“Jangan mengejek.” Aku tertawa gugup. Aku tergoda untuk menyentuh pipiku, tetapi aku tahu hal itu tidak boleh aku lakukan atau aku akan berjerawat lagi. Masa iya wajahku berkilau?
“Aku serius.” Dia mendekat untuk melihat wajahku dengan saksama. “Pori-pori kamu besar, wajar saja kamu berjerawat. Tetapi wajahmu sekarang lebih sehat. Aku mau menemui doktermu.”
“Bagaimana kamu tahu aku menemui dokter?”
“Amarilis, apa kamu lupa dengan fotomu yang disebar Robert? Aku juga berjerawat, tetapi aku tidak bisa lepas dari krim yang aku pakai. Sepertinya Clara sengaja membawa aku ke sembarang dokter.” Dia cemberut sambil menatap tangannya.
“Kakakmu sendiri jahat kepadamu?” tanyaku terkejut.
“Kamu belum kenal dia. Walau dia sempurna dengan rambut pirang indah dan mata biru cerahnya, dia selalu menganggap orang terdekatnya sebagai saingan. Aku diberi makanan bagiannya waktu kami kecil yang aku pikir dia lakukan karena dia kakak yang baik. Ternyata ….” Dia melirik tubuhnya.
“Ganti dermatolog yang tidak ada hubungannya dengan kakakmu itu. Lalu mulailah temui ahli gizi. Kalau kamu punya uang, maka merawat diri bukan masalah untukmu.”
“Benar juga.” Dia mengusap dagunya, lalu mengangguk mengerti. “Terima kasih, Amarilis, tetapi kamu belum jawab pertanyaanku.”
Kami belajar bersama saat menghadapi ujian akhir semester. Momok mengerikan tesis mulai terasa. Kami sudah punya topik penelitian utama saat melamar masuk kampus, tetapi judul itu bisa diganti jika kami menemukan hal yang lebih menarik untuk diangkat.
Udara mulai terasa panas, pertanda musim semi akan segera berakhir. Meghan dan keluarganya akan berlibur ke Eropa membuat aku cemburu. Cuaca yang sejuk lebih menyenangkan daripada panas. Teringat dengan kebaikan hatinya, aku mengingatkan dia agar tidak membawakan oleh-oleh.
Pada saat pengumuman hasil akademik, kami sama-sama puas dengan hasilnya. Theo benar-benar baik sudah bicara dengan dosenku sehingga nilaiku tidak jatuh. Beasiswa itu masih di tangan. Aku pun bisa bernapas dengan lega saat membayar uang kuliah untuk semester berikutnya.
“Kamu beruntung kali ini, tetapi tidak lain kali.” Tiba-tiba saja Nora sudah berdiri di sampingku.
“Ada apa denganmu? Kalian berteman baik pada awal kuliah, mengapa kamu berubah sikap dan jadi jahat terhadap Amarilis?” Meghan berdiri di depanku, melindungi aku dari wanita itu.
“Tidak usah munafik, Meg. Kamu mendekati dia juga ada niat lain, ‘kan? Keluarga kaya seperti kalian mana mau berteman dengan orang biasa seperti kami,” tantang Nora.
__ADS_1
“Yang kaya itu orang tuaku, bukan aku,” balas Meghan. “Pergilah. Tidak usah mengganggu temanku lagi. Kamu ini membuat suasana hatiku jadi buruk.”
Nora menatap aku dengan sinis sebelum membalikkan badannya dan pergi. Wanita yang malang. Apa yang membuat dia begitu yakin dengan menyingkirkan aku, maka Theo akan tertarik kepadanya? Pria itu rumit dan tidak bisa dibaca pikirannya. Aku saja tidak berhasil membuat dia menjauh dariku, apalagi orang asing yang tidak ada hubungannya dengan dia.
“Mengenai ucapannya tadi—” kata Meghan berusaha untuk menjelaskan.
“Tidak perlu,” potongku. “Aku tahu kamu tidak punya niat jahat berteman denganku.”
“Bukan niat jahat, tetapi aku akui aku memang punya niat lain menjadi temanmu.” Dia diam, lalu menundukkan kepalanya. “Clara selalu mendapatkan segalanya. Selalu. Jadi, saat aku tahu kamu ada hubungan dekat dengan pria yang diincarnya, aku mau mendukung kamu.”
“Karena kamu mau Clara kali ini tidak mendapatkan orang yang dia inginkan,” tebakku.
Dia mengangguk pelan. “Awalnya tujuanku begitu, tetapi semuanya berubah. Aku senang punya teman yang tulus kepadaku. Kamu berbeda dengan orang-orang yang biasanya aku kenal. Kamu tidak memanfaatkan nama keluarga atau uangku.”
“Jangan salah paham, Meghan. Aku yang terlihat tulus di matamu sekarang, bisa berubah garang kalau kamu main-main denganku.”
“Aku tahu. Aku melihat waktu kamu menghajar Mike.” Dia tertawa geli. “Dia memang perlu diberi pelajaran. Dia mirip Clara yang selalu berpikir semua orang bisa dengan mudah dia dapatkan.”
“Kita lupakan saja mereka. Ayo, aku sudah lapar.” Aku melingkarkan tanganku di lengannya.
Libur musim panas yang panjang pun tiba, tetapi aku tetap datang ke perpustakaan di kampus untuk mencari bahan penelitian. Meghan sudah pergi berlibur bersama keluarganya, tetapi dia akan ikut belajar di tempat ini sepulang dari Eropa.
Aku tidak menyangka ada begitu banyak mahasiswa yang memenuhi ruang belajar. Ternyata tidak semua orang memanfaatkan hari libur untuk bersantai. Aku tidak sendirian. Itu artinya aku berebut buku untuk dipelajari. Menyadari hal itu, aku datang lebih pagi pada keesokan harinya.
“Sudah dapat judul untuk penelitian lo?” Theo yang baru pulang kerja datang mendekat dan tanpa peringatan, mengecup bibirku. “Minum. Bibir lo sampai kering begitu.”
“Menurut kamu, apa topik yang jarang dibahas di bidang kita?” tanyaku ingin tahu.
Dia mengisi gelasku dengan air putih, lalu duduk di depanku. Kami berbincang sesaat mengenai materi perkuliahan kami. Begini enaknya punya pacar satu jurusan. Aku tidak perlu bertanya kepada orang lain mengenai masalah studiku.
__ADS_1
Sesuatu pada lehernya menarik perhatianku. Aku mengulurkan tangan untuk memeriksanya. Darahku mendidih mengenali bercak itu. “Siapa yang menciúm kamu di situ?”