Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
78|Yang Kubenci


__ADS_3

~Altheo~


Sejak wisuda dan fokus mendampingi Papa dalam pekerjaannya, aku sudah tidak punya waktu untuk diriku sendiri. Akhir pekan yang seharusnya menjadi hakku untuk beristirahat pun direnggutnya demi pertemuan penting dengan para koleganya.


Papa mau mewujudkan impiannya sejak lama dalam waktu dekat, membuka cabang restorannya di luar negeri. Apalagi bumbu instan kami paling banyak diekspor ke Amerika, dibandingkan Eropa dan benua lainnya. Kebetulan aku akan melanjutkan studi di sana, jadi Papa mau memanfaatkan hal itu.


Aku tidak bisa menolak, karena aku membutuhkan pengalaman kerjaku bersamanya sebagai modal untuk melanjutkan studi. Waktu luangku pun tersita dengan belajar bahasa asing secara autodidak agar aku bisa meraih poin yang cukup dalam tes bahasa nanti.


“Hai, Theo!” seru seseorang yang suaranya sudah tidak asing lagi.


Mama semakin hari semakin keterlaluan. Aku mengikuti Papa ke luar kota pada akhir pekan, bukan untuk mengasuh perempuan yang dia tunangkan denganku. Hampir setiap kota yang kami datangi juga dikunjungi wanita tidak punya kerjaan ini.


Entah apa yang Mama sukai dari dirinya? Dia ogah-ogahan menyelesaikan studinya. Lebih sering bepergian daripada mengerjakan skripsinya. Perempuan yang tidak bisa menentukan prioritas hidup seperti dia, mana bisa menjadi istri dari seorang direktur utama yang punya tanggung jawab besar.


Amarilis saja lebih bijak dalam menggunakan waktunya. Dia terlambat menjadi mahasiswa, tetapi berusaha untuk menyelesaikan studinya lebih cepat dari teman-teman seangkatannya. Jadi, saat dia tamat nanti, dia mudah mendapatkan pekerjaan, karena usianya di bawah dua puluh lima tahun.


“Aku ada di sini, kamu hanya menyapa Theo,” goda Papa.


“Ah, maaf, Om. Aku ambilkan minuman, ya. Tunggu sebentar.” Dia meletakkan piring yang dia bawa, lalu pergi meninggalkan kami.


Papa menyikut lenganku. “Duduk di sana.”


“Gue sudah mau selesai, Pa,” kataku memasukkan suapan terakhir ke mulutku. Masih ada sedikit kopi di dalam cangkir, tetapi aku mengabaikannya.


“Kamu mau ke mana?” Papa menahan lenganku ketika aku berdiri.


Karena mulutku penuh, aku tidak menjawab. Aku melepaskan pegangan tangannya dengan jari tanganku yang bebas. Sebelum Chika kembali dengan minuman untuk Papa, aku meninggalkan ruang makan itu. Aku ikut ke sini untuk bekerja, bukan melayani tunangan palsu itu.

__ADS_1


Aku bersiap untuk mengikuti pertemuan pagi kami di kamar. Masih ada waktu beberapa menit, aku mengirim pesan kepada Amarilis. Dia tidak segera membalasnya. Hari Sabtu. Dia pasti membereskan kamar atau mencuci pakaian, maka aku membaca berita terbaru lewat media berita daring.


Sudah tidak ada lagi berita mengenai aku dan Amarilis atau dengan Chika. Beberapa bulan terakhir, fotoku dan mereka tidak berhenti menghiasi media. Padahal kami bukanlah artis. Aku hanya bisa menebak-nebak antara Mama atau Tante Winara yang sengaja melakukannya.


Usaha mereka menjelek-jelekkan hubunganku dengan Amarilis atau memuja-muja kecocokanku dengan Chika tidak akan membuat aku berubah pikiran. Aku hanya mau menikah dengan calon istri pilihanku. Seandainya saja Chika adalah gadis baik-baik, mungkin aku pasrah menerimanya. Namun dia tidak sesempurna yang Papa dan Mama duga.


Reputasi adalah segalanya bagi keluarga kami dan aku memegang teguh hal itu. Alasan ini juga yang membuat aku mensyukuri keadaan Katelia yang kini berada di tubuh Amarilis. Semua kualitas baik Katelia ada padanya, sedangkan penampilan luarnya justru membantu aku mengusir laki-laki lain.


“Yang kamu lakukan terhadap Chika itu tidak benar,” tegur Mama saat kami sarapan.


Ini adalah alasan yang membuat aku malas makan bersama keluargaku lagi. Topiknya selalu dia lagi, dia lagi. Aku sedang mempersiapkan diriku untuk mendaftarkan diri kuliah di Amerika, Mama terus saja membahas perempuan itu. Padahal kami sudah sepakat tidak ada pernikahan sampai aku selesai melanjutkan studi.


“Justru yang Chika lakukan itu yang tidak benar,” sanggah Matt, menyetujui pendapatku. “Papa dan Theo menemui dan menjamu kolega mereka untuk membicarakan pekerjaan, tetapi dia datang untuk mengganggu konsentrasi Theo.”


“Dia datang untuk mendukung calon suaminya, bukan mengganggu,” bantah Mama.


“Aku punya urusan sendiri, Matt. Memangnya siapa yang akan mengurus keperluan rumah ini dan kamu kalau bukan aku?” kelit Mama.


“Nah, Chika juga sama. Setahu gue, dia belum lulus, malah jalan-jalan. Masa Theo menyelesaikan kuliahnya hanya dalam waktu tiga setengah tahun, calon istrinya sudah empat tahun lewat masih berkutat di skripsi? Kak Amarilis saja akan tamat dalam semester ini.”


“Kamu harus mulai memanggil Chika dengan sopan. Masa orang asing kamu sebut kakak, sedangkan calon kakak iparmu hanya kamu panggil dengan nama,” tuntut Mama, sengaja mengalihkan topik. Dia tahu apa yang Matt katakan itu benar.


“Maaf, Ma. Chika belum punya jasa apa pun sehingga layak gue panggil kakak. Beda dengan Kak Amarilis. Dia yang menolong gue tamat SMU dan masuk ke kampus incaran gue.”


“Gue sudah siap. Gue pergi,” kataku, melihat ada kesempatan untuk kabur. Mereka sibuk bicara, dan aku pun bisa menyelesaikan sarapanku.


“Theo, tunggu papamu. Kalian pergi ke tempat yang sama, mengapa tidak menumpang di mobil papamu saja?” ucap Mama heran.

__ADS_1


Ikut dengan Papa berarti aku menuruti ke mana saja dia pergi. Aku tahu mereka akan menjebak aku lagi saat aku lengah, jadi aku lebih baik naik kendaraanku sendiri. Lagi pula, aku bisa singgah untuk melihat keadaan Amarilis di tempat tinggalnya.


Beberapa kali mengejutkan dia dengan datang tiba-tiba di depan indekosnya, aku selalu membuat dia menangis. Aku benci melihat air matanya. Entah kekuatan apa yang ada pada cairan itu sampai aku tidak berkutik melihatnya. Aku harus segera menemukan solusi untuk masalah kami.


Aku tidak bisa menemui dia setiap pagi demi menjaga motivasiku sendiri. Kalau aku sudah bersama dia sebentar saja, berat bagiku untuk berpisah dengannya. Namun memandang dia dari jauh seperti ini, aku bisa sedikit tenang. Apalagi melihat dia sehat dan baik-baik saja.


Dia sedang magang, jadi aku tidak bisa mengganggu sekadar mengajak dia sarapan bersama lagi. Dua bulan, itu waktu yang sangat lama. Namun aku tidak bisa protes. Aku magang di kantor Papa, tidak seperti dia yang bekerja di perusahaan orang lain.


Wiryawan. Mengapa dia memilih perusahaan itu? Aku baru tahu dia tertarik dengan perhotelan. Seandainya saja keadaan kami tidak begini, aku bisa bersama dia setiap hari jika dia magang di kantor Papa. Semuanya jadi begini gara-gara Chika dan orang tuanya yang ngebet meresmikan hubungan kami di depan publik.


Papa fokus dengan rencananya membuka cabang baru, maka urusan internal perusahaan diserahkan kepadaku. Semua laporan bulanan dari setiap divisi, termasuk laporan harian yang mendesak harus aku periksa dengan teliti sebelum diserahkan kepada Papa. Dia hanya membubuhi tanda tangan.


Jadi, aku tidak boleh melakukan kesalahan. Pekerjaan itu sudah terbiasa aku lakukan sebelumnya, maka aku tidak menemui kesulitan. Namun bebannya kali ini lebih berat sehingga aku ketakutan sendiri Papa akan menandatangani sesuatu yang melanggar hukum.


“Theo,” Papa mengetuk pintu ruanganku yang terbuka, “waktunya makan siang.”


“Baik, Pa,” jawabku.


Karena kami akan kembali ke kantor, aku selalu ikut mobilnya pada jam makan siang. Lagi pula, aku tidak tahan dengan kemacetan pada jam padat itu. Lebih baik sopirnya saja yang bergelut dengan suasana jalan yang tidak aku sukai itu.


Tidak seperti biasanya, lokasi tempat makannya dekat dari kantor. Makan siang di restoran hotel. Orang yang kami temui ini pasti orang penting. Aku mengikuti Papa yang berjalan bersama asisten kepercayaannya menuju tempat janji kami.


Ada tiga pria yang sudah mendapatkan satu meja untuk enam orang. Mereka menyapa kami dengan ramah dan mempersilakan kami untuk duduk. Setelah memesan makanan masing-masing, Papa mulai bicara dengan mereka. Aku hanya mendengarkan.


“Amarilis, di sini!” seru seseorang tidak jauh dari sebelah kanan kami.


Aku menoleh dan melihat Om dan Tante Wiryawan ada di sana. Mereka melihat ke arah pintu, maka aku memandang ke arah yang sama. Norman berjalan bersama Amarilis. Aku berniat untuk menyapa, tetapi mengurungnya mengingat aku datang bersama Papa.

__ADS_1


Ada apa mereka mengajak calon istriku bertemu berempat saja? Bukankah dia hanya magang? Sejak kapan keluarga Norman dekat dengan Amarilis?


__ADS_2