
Keluargaku datang dari Medan untuk merayakan Natal bersama kami. Theo cemberut karena rumah kami tidak ada satu dekorasi pun. Bunda dan Mama serentak mengatakan mereka tidak keberatan. Bisa berkumpul sekeluarga saja sudah sangat membahagiakan.
Saat menghadiri ibadah malam Natal, aku merasakan kôntraksi palsu. Hal yang sudah aku alami berulang kali selama beberapa hari terakhir. Namun ketika aku merasakannya lagi usai ibadah dengan rasa sakit yang luar biasa, aku tahu si kecil ingin bertemu kami segera.
“Tarik napas, Kat. Ingat yang sudah kamu pelajari selama senam kéhàmilan.” Bunda mencontohkan cara bernapas yang selalu diajarkan kepadaku.
Aku hanya bisa menggeleng dan méngèrang kesakitan. Aku baru bisa bernapas lega ketika sakitnya berlalu. Walau aku tahu ini hanya sementara, karena rasa sakit akan datang lagi. Perempuan gila mana yang mau mengalami ini berulang kali? Aku cukup dua kali, tidak peduli anak kami laki-laki atau perempuan, aku berhenti pada anak kedua.
“Kamu jangan cuma merintih tidak jelas begini. Bernapas yang benar,” kata Mama.
“Aku berusaha, oke? Mama tidak bilang sakitnya akan seperti ini,” protesku kesal.
“Ini belum seberapa.” Bunda tertawa kecil. “Intensitas sakitnya akan meningkat nanti.” Mereka berdua malah saling tersenyum penuh arti.
“Oh, Tuhan.” Aku tidak mau membayangkan rasa sakit yang lebih dari ini.
Kami tiba di tujuan, Bunda dan Mama segera keluar dari mobil. Theo yang duduk di depan keluar, lalu mendekati aku untuk membopong aku. Dia berjalan dengan hati-hati menuju ruang gawat darurat. Seorang perawat mendekat dan menunjukkan bilik yang kosong.
Tidak lama kemudian, dokter yang menangani aku datang. Dia meminta perawat untuk menyiapkan satu kamar untukku. Oh, Tuhan. Prosesnya masih lama. Air kétúban belum pecah walau aku sudah kontraksi. Ternyata membaca buku tentang kèhàmilan dan mendengar pengalaman orang lain tidak sama rasanya dengan mengalaminya sendiri.
Aku tidak tahu harus melakukan apa selama proses menunggu sampai aku siap untuk melahirkan. Berbaring salah, duduk tidak nyaman, berdiri pun menderita. Theo dan ketiga mamaku bergantian memijat punggung, pinggang, bagian tubuh mana saja yang aku rasa tidak nyaman.
Sampai pagi datang, si kecil belum juga mau keluar. Padahal kami semua sudah kelelahan. Bahkan aku nyaris kehabisan tenaga menunggu dia menemui aku. Theo menawarkan makanan, minuman, apa saja untuk aku makan. Semua aku tolak.
“Kalau kamu lapar dan haus, tidak perlu ditahan,” ujar mamaku. “Kamu membutuhkan banyak energi untuk menjalani ini.”
Aku menggelengkan kepalaku. “Aku tidak mau buang air saat melahirkan dia nanti.”
“Kamu bisa buang air dengan normal sebelum melahirkan.” Mama tetap menyodorkan segelas air minum kepadaku. “Ayo, jangan sampai kamu dehidrasi.”
Aku melihat gelas itu, lalu menerimanya. Setelah minum, aku merasa lapar. Bunda memberikan sekotak makanan kepadaku. Aku tidak peduli apa yang mereka berikan, aku melahapnya. Perut kenyang tidak membantu rasa sakit itu berkurang.
Benar saja. Seperti kebiasaanku pada pagi hari, aku membutuhkan toilet. Aku menahan diri agar tidak buang air, tetapi ketiga ibuku mengantar aku ke ruang kecil itu. “Tidak. Bagaimana kalau aku melahirkan di kamar mandi?” ucapku panik.
__ADS_1
“Itu tidak akan terjadi, asal kamu jangan mêngèjan,” kata Bunda, menenangkan aku.
“Bagaimana aku bisa menahan jika tubuhku sendiri yang melakukannya?” Aku semakin panik.
“Amarilis,” Mama membingkai wajahku dengan kedua tangannya, “percaya kepada kami. Kamu akan baik-baik saja. Cepat, selesaikan urusanmu. Atau mau aku temani?”
“Tidak,” jawabku dengan cepat. Aku masih punya harga diri dan tidak mau ditonton saat buang air. Merasakan tubuhku mulai protes, membutuhkan toilet, aku mengalah. “Baik, aku segera kembali.”
Mereka tersenyum geli saat aku menutup pintu. Ibu apa itu? Mereka malah senang melihat putri mereka menderita begini. Apa mereka tidak mengalami hal yang sama ketika mengandung anak pertama? Oh, Tuhan. Semoga saja si kecil tidak lahir saat aku menggunakan toilet.
Saran ketiga ibuku lagi-lagi benar. Aku menyelesaikan urusanku di kamar mandi tanpa insiden. Aku bisa kembali ke kamar dan berjalan ke sana-kemari mengurangi rasa sakit. Entah mengapa dia lama sekali tinggal di dalam tubuhku? Apa dia sedang menggoda mamanya?
Karena ada ketiga mama kami, Theo tidak banyak ikut campur. Namun saat aku membutuhkan dia, aku tidak perlu memanggil dia dua kali. Karena dia sudah ada di sisiku dan melakukan apa pun yang aku minta. Beberapa kali aku hanya mau dipeluk saat rasa sakit itu menyerang.
“Baik, Ibu sudah siap untuk melahirkan.” Ucapan perawat itu bagaikan oasis di tengah padang gurun.
“Akhirnya!” kata ketiga mamaku serentak.
Aku pun dipindahkan ke sebuah ruangan. Kami sepakat untuk melahirkan dalam air. Jadi, aku tidak heran kami memasuki sebuah ruangan dengan bak mandi yang setengahnya sudah diisi dengan air. Theo menolong aku untuk pindah dari kursi roda ke dalam bak. Lega rasanya saat cairan hangat itu membasahi bagian bawah tubuhku.
Proses penantian jauh lebih lama daripada proses melahirkan. Sebentar saja, dia keluar dari tubuhku. Rasa lapar yang berikutnya menyerang. Mama sudah menyiapkan makanan, maka aku melahapnya. Kami semua tersenyum bahagia mendengar tangisan kerasnya.
Setelah dokter anak memeriksa keadaannya dan dia dinyatakan sehat, maka perawat mendekat dan meletakkan bayi itu di dadaku. Aku terpaksa memberikan mangkuk buburku kepada Mama. Semoga saja aku bisa memberi minum si kecil.
Simulasi itu berjalan sangat lama, tetapi aku menunggu dengan sabar. Lagi pula, aku sudah makan banyak, jadi tenagaku sedikit pulih. Aku tidak tahu kapan bayi itu minum, karena aku tertidur. Saat membuka mata, aku sudah berbaring di sebuah ruangan yang bersih dan sejuk.
“Hei, lo bangun tepat waktu.” Theo duduk di sisiku.
Aku menoleh ke arahnya dengan mata berat. “Sudah jam berapa ini?” tanyaku pelan. Suasana di sekitarku tenang sekali sehingga aku mengantuk lagi.
“Pukul sebelas. Si kecil sudah lapar. Apa lo juga mau makan?” Dia meletakkan bayi kami di depanku, maka aku mengulurkan tanganku. “Sebentar, gue ambil bantalnya.”
Dia menolong aku mencari posisi yang nyaman untukku dan si kecil saat minum. Aku tidak sadar ketika pengalaman pertama memberinya makan. Jadi, rasanya aneh melihat dia minum dengan lahap dari tubuhku. Untung saja ada bantal, jadi aku tidak pegal memegangnya begitu lama.
__ADS_1
Theo duduk di sisiku, jadi aku bisa bersandar kepadanya daripada ke bantal. Apalagi dia sesekali mencium rambutku, membuat aku lebih tenang. Akhirnya, keluarga kami semakin lengkap dengan kehadiran buah hati kami. Selamat datang, sayang mama. Mataku memanas. Aku kini seorang ibu.
“Aku lupa bertanya. Dia laki-laki atau perempuan?” Aku mengusap-usap kepala bayi kami.
“Laki-laki,” jawab Theo dengan bangga.
Aku merasa bagai dipukul sangat keras pada bagian perutku. “Laki-laki?” Aku melihat wajah anak itu baik-baik. Bukan hanya laki-laki, dia juga bagai kembaran Theo. Mereka mirip sekali. Aku merasakan mataku memanas. “Aku mau anak perempuan,” isakku.
“Lo, sayang? Jangan menangis. Nanti dia bangun, lo sendiri yang repot.” Karena bayi itu sudah pulas, dia mengambilnya dariku. Dia berjalan mendekati pintu dan mencari entah siapa.
“Ada apa?” tanya Bunda yang berdiri di ambang pintu. Aku mengenalinya dari suaranya, karena aku tidak bisa melihat dengan jelas. Air mata memburamkan penglihatanku.
“Tolong jaga si kecil sebentar, Bunda. Kat menangis tahu anaknya laki-laki.”
Bukannya prihatin, Bunda malah tertawa kecil. “Ya, sudah. Kalian bicara. Aku yang jaga cucuku.”
Theo menutup pintu dan berjalan mendekati aku yang menangis tersedu-sedu. “Lo pasti lapar. Gue sudah belikan nasi goreng kesukaan lo. Makan, ya?” Dia mengambil sebuah kotak yang ada di atas nakas di sisiku. Begitu dia membukanya, aroma makanan yang lezat memasuki penciumanku.
“Aku mau anak pertama kita perempuan.” Aku cemberut. “Mengapa malah permintaan kamu yang dikabulkan, bukan aku? Dia tumbuh selama sembilan bulan lebih dalam tubuhku, mengapa dia tidak menuruti aku?” Aku menggeleng saat Theo menyuapkan nasi ke mulutku.
“Kita bisa coba lagi. Apa lo enggak senang tugas lo sudah selesai? Anak pertama kita laki-laki, maka lo tidak perlu memikirkan tentang anak lagi.” Dia memegang tanganku. “Lagi pula, laki-laki atau perempuan sama saja. Apa lo enggak sayang dia karena bukan perempuan?”
“Tentu saja aku sayang dia. Aku hanya sedih harapanku tidak terwujud.” Aku melihat ke arah pintu. “Aku mau punya teman seperti Mama dan Bunda. Anak perempuan itu bisa jadi sahabat baik. Kalau laki-laki pasti kerjanya cuma membangkang seperti kamu.”
Dia malah tertawa. “Lo sedang lapar, makanya bicara aneh begini. Ayo, buka mulut lo. Makan, lalu lo bisa tidur lagi. Lo membutuhkannya. Anak kita akan haus beberapa saat lagi.”
“Oh, Tuhan.” Aku mendesah pelan. “Kita tidak akan bisa tidur pulas lagi sampai dia cukup besar.”
Katanya, bayi akan butuh minum selang beberapa jam. Ibu harus siap sedia untuk memberinya minum. Belum lagi mengganti popok, menemani jika dia belum mengantuk, menenangkan saat dia menangis tanpa sebab. Aku harus membujuk Bunda dan Mama untuk tinggal lebih lama.
Theo mencium pipiku. “Selamat menjadi ibu, sayang. Kita tidak akan tidur pulas sampai anak kita pergi dari rumah dan menikah dengan pasangan pilihannya. Ingat saja dengan semua kenakalan lo yang sudah buat orang tua lo banyak pikiran. Atau ulah gue yang buat orang tua berang. Giliran kita untuk mengalami semua itu.”
Aku merasakan darah berhenti mengalir ke kepalaku mendengar kalimatnya itu. Oh, tidak.
__ADS_1
[Hihihi .... Firasat Theo yang benar. Anak mereka laki-laki. Maaf, ya, Amarilis. Selamat untuk kedua tokoh kita. 😍🥳🥳]