Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
97|Suka Segalanya


__ADS_3

~Altheo~


Tidak ada rahasia yang benar-benar bisa disimpan dalam keluarga kami. Orang terdekat yang kami sebut keluarga atau sahabat pun bisa membuka peristiwa yang seharusnya hanya diketahui oleh lingkar dalam saja kepada orang lain. Yang paling menggiurkan, kepada wartawan.


Aku terlalu muda untuk memahami skàndal besar yang pernah terjadi di tengah keluarga kami. Hal yang membuat hubungan Nenek dan Mama menjadi jauh. Alasan yang juga menyebabkan cincin warisan itu diberikan kepadaku, bukan kepada Mama.


Papa tidak pernah mengajak Matt ke kantor bersama aku juga berawal dari sana. Aku mendengar kepingan demi kepingan cerita yang akhirnya aku satukan menjelang dewasa. Papa tidak pernah mau membahasnya dan Mama memarahi aku setiap kali aku bertanya.


Jadi, aku mencari tahu sendiri dan sangat marah ketika mengetahuinya. Aku pun berhenti membujuk adikku untuk ikut bersamaku ke kantor Papa. Namun tidak seperti ayahku yang membiarkan sakit hati merusak hubungan keluarga, aku belajar untuk memaafkan.


“Gue janji, begitu lo siap untuk mendengar kebenarannya, gua sendiri yang akan cerita. Tetapi tidak hari ini. Gue akan pergi jauh di saat lo butuh teman bicara.” Aku duduk di sisinya. “Gue kenal lo, jadi gue tahu lo akan sangat terguncang.”


“Bagaimana dengan lo? Apa lo punya teman bicara ketika tahu rahasia itu?” tanyanya.


“Gue kakak lo, Matt. Melindungi lo adalah tugas gue. Menjaga gue adalah tanggung jawab Papa,” kataku, memberi petunjuk aku tidak sendirian ketika segalanya terungkap.


“Oke. Gue tunggu lo pulang, lalu gue tagih janji lo.”


Aku mengikuti ujian kemampuan bahasa asing pada akhir pekan dan berusaha untuk tidak gugup. Debaran kencang jantungku bisa memekakkan telinga padahal aku butuh nilai yang tinggi juga pada bagian memahami percakapan.


Matt sudah menunggu dengan sepeda motornya ketika aku keluar dari lapangan parkir tempat ujian. Dia hanya memberi sinyal agar aku bergerak dahulu dan dia mengikuti. Melihat dia butuh teman bicara, maka aku mampir ke kafe favorit kami.


Kesempatan itu aku gunakan untuk memeriksa ulang tanggal pendaftaran beberapa kampus yang aku incar. Aku hanya punya satu universitas tujuan, tetapi Papa menyarankan supaya aku tidak bergantung pada satu tempat saja. Karena bisa jadi, jodohku adalah kampus lain.


“Apa yang lo suka dari Kak Amarilis?” tanya Matt tiba-tiba.


“Segalanya,” jawabku singkat.

__ADS_1


“Termasuk wajah jelek penuh jerawatnya, rambut kusamnya, kulit tidak bercahayanya, dan gigi tidak rapinya?” tanyanya tidak percaya. Aku mengangguk. “Gue enggak percaya.”


“Mengapa lo hanya melihat kekurangannya? Lo lupa menyebutkan dada dan bokongnya yang besar, tubuhnya yang menggoda, otaknya yang cerdas, sikapnya yang sopan, juga bicaranya yang halus,” ujarku, menambahkan.


“Lo pikir gue apa bahas bentuk badan guru gue?” protesnya.


“Apa wajah, rambut, dan semua yang lo sebut tadi tidak termasuk dari bagian tubuh? Guru lo pintar begitu, mengapa muridnya bego begini?”


“Terus, kenapa lo putuskan dia?” tanyanya lagi.


Aku terpaksa berhenti melakukan kegiatanku dan menutup laptop tersebut. Sepertinya dia tidak akan berhenti mengajukan pertanyaan yang sudah dia siapkan. Karena kami sudah lama tidak bicara begini, aku memutuskan untuk meladeninya.


“Gue mengerti lo sayang sama dia, tetapi gue enggak bisa melihat dia menangis lagi,” akuku.


“Apa maksud lo?”


Dia mengamati aku dengan saksama, tidak mengatakan apa pun selama beberapa saat. Pada saat itu, pelayan datang mengantarkan minuman pesanan kami. Aku menggunakan waktu diamnya untuk minum, menyegarkan dahagaku.


“Sikap lo ini ada hubungannya dengan masa lalu orang tua kita, ya?” Ternyata dia tidak sebodoh yang aku duga. “Apa Papa selingkuh dan Mama berniat memutuskan pertunangan mereka?”


“Tunggu sampai gue pulang, Matt, tidak sekarang.” Aku mengingatkan dia tentang kesepakatan kami.


Dia mendesah kesal, menyilangkan kedua tangan di depan dadanya, lalu bersandar. “Lo sama sekali enggak asyik. Gue bukan anak kecil lagi yang tidak kuat mendengar kabar buruk.”


Lebih baik dia marah daripada aku tidak berada di sini ketika dia terguncang. Papa saja nyaris tidak kuat menopang aku yang patah hati berat. Jadi, aku harus melatih diri juga agar benar-benar siap membantu adikku nantinya.


Begitu aku selesai mengikuti ujian, Papa kembali mengajak aku bersamanya ke luar kota pada akhir pekan. Chika sedang persiapan sidang skripsi, jadi aku tenang. Sudah tidak perlu lagi melihat-lihat ke sekitarku, waspada dengan kehadirannya.

__ADS_1


Perjalanan itu tidak sia-sia ketika ada beberapa orang yang setuju menjadi rekan bisnis Papa untuk membuka restorannya di negara mereka. Papa memperkenalkan aku sebagai wakilnya yang akan mengurus segala persiapan hingga cabang di sana resmi dibuka.


Aku sangat lega karena kami tidak perlu lagi pergi ke sana kemari untuk melayani calon rekan bisnis Papa. Kami bisa fokus bekerja dari kantor pusat. Meski begitu, aku tidak nyaman dengan cara para karyawan memandang aku. Sejak video itu viral, reputasiku rusak.


Namun mereka hanya bisa menghakimi aku dengan tatapan mereka. Tidak ada yang berani bicara langsung di depanku atau di saat aku ada di sekitar mereka. Semuanya akan diam, tidak melanjutkan percakapan jika topiknya adalah aku.


“Pak Dirut dan ibu tidak pernah begitu di depan umum. Bagaimana Pak Altheo bisa berbeda dengan mereka? Kalau hanya pegang tangan atau cium kening, tidak apa-apa. Dia dan selingkuhannya malah berciuman panas begitu di tempat umum,” kata seorang wanita di dalam ruang rapat.


Tanganku yang memegang kenop pintu membeku. Kejadian yang sudah lama itu masih saja ramai dibicarakan. Kami hanya berciuman biasa, tetapi mereka selalu menilai kami saling mêlúmat bibir layaknya orang yang akan bêrcinta di ranjang.


“Mereka hanya berciuman, tetapi kalian bicara seolah mereka sedang buka baju dan bergelut di tempat tidur. Apa kalian tidak pernah mencium orang yang kalian sayang?” goda yang lain.


Mendengar itu, aku memutuskan untuk menunggu mereka selesai bicara. Aku sudah beberapa kali mendapati mereka sedang membahas aku. Mereka bicara dengan nada sinis, tetapi ketika bertemu, mereka tersenyum penuh hormat kepadaku. Munafik.


“Kalau mereka sudah menikah, tidak apa-apa. Tetapi mereka tidak punya hubungan apa pun,” ujar wanita tadi. “Para pemegang saham juga tidak suka dengan perbuatannya itu. Apa yang aku katakan tadi tidak salah. Kasihan Bu Jessica. Dia pasti malu sekali.”


“Selera Pak Altheo unik, ya. Padahal Bu Jessica jauh lebih cantik,” timpal yang lain.


Ketika aku membuka kedok wanita itu, mereka tidak akan bisa bicara baik lagi tentang dia. Apa yang mereka ketahui tentang Chika? Jika hanya mendengar dari media, itu namanya bukan mengenal. Ah, sebentar. Apa mungkin dia sering datang ke kantor ini untuk meracuni pikiran karyawan kami?


Ooo. Jadi, itu alasan dia sering berkunjung. Dia cerita ke sana kemari mengenai nasib malangnya, karena aku mengabaikan dia dan dekat dengan Amarilis. Bagus, kalau begitu. Ketika saatnya tiba nanti, dia akan malu sendiri dan menyesal sudah berani macam-macam denganku.


“Makanya itu. Aku heran dia beda sekali dengan orang tuanya. Jangan-jangan gosip itu benar.”


“Gosip? Gosip apa?”


Suasana hening sejenak, aku sempat berpikir wanita pertama itu tidak akan menjawab. Namun dia mengatakannya juga. “Pak Altheo bukan anak kandung Pak Dirut.”

__ADS_1


__ADS_2