
Dua orang yang datang bersamanya merebut tasku, lalu mengeluarkan isinya. Mereka tidak akan menemukan apa pun selain buku dan peralatan menulis. Namun aku juga tidak bisa memberi tahu mereka dengan keadaan setengah mati, tidak bisa bernapas.
“Tidak ada apa pun selain peralatan sekolahnya, Bos,” lapor anak buahnya itu.
“Kau.” Dia mempererat cengkeraman tangannya. “Di mana uang yang kau dapat malam ini? Cepat, katakan! Atau kau akan mati detik ini juga.”
Oh, Tuhan. Aku akhirnya akan menemui ajalku juga. Tujuh belas menjelang delapan belas tahun, dan aku yang seharusnya mati tenggelam di Danau Toba hanya hidup untuk sementara. Bukan di dalam tubuhku sendiri, tetapi badan gadis yang selama mengenal aku telah menderita.
Aku tidak mau mati sebagai perempuan bodoh dan tidak berguna ini. Aku berharap bisa meninggal dengan status lebih baik, dengan keadaan yang lebih mulia. Aku ingin orang menangisi kepergianku karena aku mati terhormat, bukan mati konyol begini.
Pria itu berteriak kesakitan dan pegangan pada leherku tiba-tiba melonggar. Aku yang tidak siap dengan itu meluncur bebas ke atas bata beton. Lega akhirnya bisa bernapas kembali, aku menghirup udara dengan rakus hingga terbatuk-batuk. Aku tidak peduli selama paru-paruku kembali dipenuhi dengan oksigen.
Perhatian mereka teralihkan, aku bergegas merapikan semua buku dan peralatan menulisku. Masih ada satu senjata lagi, jadi aku membantu melumpuhkan mereka. Tangan kiri memegang penyemprot cabai dan tangan kanan penyetrum yang beraliran listrik, aku gunakan untuk menyakiti mereka. Aku perempuan dan mereka harus datang berenam untuk menghadapi aku. Gila.
Mereka tidak bisa lari, hanya mengerang kesakitan tersungkur di bata beton. Semoga saja mereka kapok dan tidak kembali lagi mengganggu aku. Aku menoleh ke arah orang yang sudah membantu. Pria itu tersenyum memamerkan barisan giginya.
“Aku tidak bisa diam lagi. Kamu adalah perempuan. Mereka sudah keterlaluan datang bergerombol hanya untuk melawan kamu seorang,” kata koki restoran yang baik hati itu.
“Terima kasih banyak, Pak.” Aku terharu mendengar ketulusan pada suaranya.
“Ayo, aku temani sampai ke tempat yang ramai.” Dia membuang tongkat kayu yang dia pakai untuk menghajar semua penjahat itu, lalu mendekati sepeda motornya.
Kami berjalan kaki menuju jalan utama, lalu berpisah. Aku tidak tega menumpang di motor tuanya dengan tubuh sebesar ini. Aku tiba di rumah lewat dari tengah malam. Rasanya aku mau mati saja. Aku hanya punya satu jam sebelum mama Amarilis membangunkan aku untuk membantunya.
Seandainya aku tidak selelah ini, aku bisa menangani pria tadi sendirian. Aku lengah, karena rasa capai menurunkan konsentrasiku. Aku tidak bisa pergi ke tempat lain. Restoran itu adalah tempat terbaikku untuk mengamen dan mendapatkan uang yang layak.
“Apa yang terjadi pada mukamu ini!?” teriak wanita itu membangunkan aku di kamar. “Apa kamu berantem dengan orang di luar sana? Begitukah caramu membuang-buang waktumu?”
“Aku bekerja, Ma,” jawabku dengan suara serak, mengulang kalimat yang sama yang sudah berulang kali aku ucapkan.
“Lalu mengapa muka dan leher kamu makin parah begini?” tanyanya memarahi aku, bukan khawatir melihat keadaanku ini. Mengapa sifatnya berbeda sekali?
“Aku dipalak preman supaya mereka bisa mengambil gajiku,” jawabku dengan jujur. Suaraku masih terdengar serak. Ini pasti akibat cekikan laki-laki jahat itu.
__ADS_1
“Ya, sudah. Ayo, bangun! Bantu aku membuat kue!” serunya sambil berjalan menuju pintu.
Dia masih memarahi aku habis-habisan selama berjam-jam membuat semua makanan itu. Sama sekali tidak peduli dengan kondisiku yang babak belur. Aku menahan diri dan melakukan semua perintahnya, serta diam mendengar omelannya.
Sebelum ke restoran, aku menyempatkan mampir ke rumah untuk menyerahkan uang dari penjaga toko yang membayar hasil penjualan pada hari sebelumnya. Namun perempuan itu memegang bajuku, melarang aku pergi bekerja.
“Tidak bisa, Ma. Aku dapat banyak uang dari tempat ini. Kalau aku berhenti sekarang, maka usahaku untuk sampai di sini akan sia-sia.” Aku menatapnya dengan mata memelas.
“Kalau kamu butuh uang, nanti akan aku berikan setiap bulannya,” katanya, tawar-menawar.
“Begini saja. Aku bekerja, lalu membagi uangnya dengan Mama, tetapi aku tidak bangun pagi lagi untuk membantu. Mama bisa menggunakan uang itu untuk mempekerjakan orang. Aku tahu Mama kekurangan pendapatan, makanya tidak sanggup membayar pekerja lagi. Bagaimana?” tanyaku.
Dia terlihat sedang berpikir dengan serius. “Oke. Kalau kamu memberi aku uang sebesar dua ratus ribu malam ini, kamu tidak perlu membantu aku besok. Begitu juga pada hari lainnya selama kamu sanggup memberi aku uang sebanyak itu.” Aku menyetujuinya.
Uang yang dia minta sangat banyak, lebih dari setengah yang aku dapatkan setiap harinya. Namun itu lebih baik daripada aku tidak tidur sama sekali. Uang tambahan bisa aku cari dengan cara lain. Aku juga tidak perlu bergadang lagi, karena aku bisa belajar pada jam istirahatku di restoran.
“Pak, terima kasih atas pertolongannya semalam.” Aku meletakkan satu kotak kue di atas meja di samping koki penyelamatku itu.
“Waduh, kamu tidak perlu repot-repot begini, Nak,” ucapnya segan.
Puas menerima uang yang dia minta pada malam harinya, wanita itu tidak membangunkan aku pada keesokan harinya untuk membuat kue. Dia bahkan dengan baik hati tidak meminta aku mengantar, tetapi adik Amarilis yang pemalas itu yang melakukannya. Uang memang jalan keluar yang terbaik.
Karena waktuku luang pada pagi hari, aku kembali mengamen di dekat ibu penjual lontong. Dia tersenyum senang menyambut kedatanganku. Kami sudah lama sekali tidak bertemu, jadi aku menghibur dia dengan dua lagu kesukaannya.
“Lo? Kamu mau ke mana?” tanyanya saat aku mengemasi barang-barangku. “Kamu belum makan.”
“Oh, tidak perlu, Bu,” tolakku dengan halus melihat dia menyiapkan piring bersih untukku. “Saya akan melanjutkan pekerjaan di tempat lain. Makan di sana saja nanti. Ibu juga sebentar lagi akan pulang, jadi santai saja.”
“Apa kamu akan datang lagi besok?” tanyanya penuh harap. Aku mengangguk cepat. Aku ikut tersenyum ketika dia mengembangkan bibirnya.
Para preman itu tidak datang lagi, tetapi aku tidak mengurangi sikap waspadaku. Bisa saja mereka masih sakit hati dan berniat membalas perbuatanku dan koki baik hati itu. Uang yang aku dapat dari pemilik restoran masih stabil. Untuk mempertahankan tamu tetap banyak yang datang, aku memilih lagu yang bervariasi agar mereka tidak bosan.
Dua bulan mengumpulkan uang, aku membelikan ponsel untuk mama Amarilis. Jika dia berjualan dengan cara tradisional tidak akan bisa membuat usahanya itu berkembang. Aku mengajari dia cara menggunakannya, lalu membuatkan akun pada tiga media sosial yang sedang populer.
__ADS_1
“Wah! Kalau begini, akan ada banyak orang yang mau memesan kue buatanku!” soraknya senang. Dia menatap layar ponselnya dengan mata berbinar-binar.
“Benar, Ma. Kalau ada yang memberi komentar, Mama tinggal periksa di bagian notifikasi di sini. Kalau ada tanda merah di sini, maka Mama sentuh saja untuk melihat pesan yang masuk. Aku lihat pekerja Mama masih muda, dia pasti tahu cara menggunakan ponsel ini.”
Matanya berair saat menatap aku, tetapi dia tidak mengatakan apa pun. Aku sudah menyampaikan segalanya, maka aku masuk ke kamar untuk beristirahat. Hariku masih panjang sebelum bisa meraih semua yang sudah aku cita-citakan.
“Hei, hei. Jangan mengamen di sini. Pergi!” usir sekuriti saat aku baru saja meletakkan kardus di aspal depan mal. Pusat perbelanjaan terdekat dari restoran tempatku bekerja.
“Saya tidak mengamen di dalam halaman atau gedung mal, Pak. Mengapa tidak boleh?” tanyaku.
“Karena kamu merusak pemandangan. Ayo, pergi! Tidak boleh mengamen di sini!” Dia sedikit mendorong tubuhku. “Seperti tidak ada tempat lain saja. Kalau orang melihat kamu yang gendut dan jelek ada di sini, mereka bisa kabur.”
“Eh, Pak! Bicara itu dipikir dahulu! Enak saja menghina orang. Memangnya Bapak seganteng apa? Sudah pernah berkaca?” balasku sengit.
“Amarilis?” tegur seseorang dari arah kananku. Kami menoleh dan ada dua orang perempuan yang melihat aku dan petugas keamanan itu secara bergantian. “Kamu sedang apa di sini? Kena razia orang jelek dan gendut?” Mereka berdua tertawa mengejek.
“Usir saja, Pak. Mengganggu pemandangan,” ucap gadis yang lain. Aku tidak mengenal mereka. Jika mereka mengenal Amarilis maka kemungkinan besar mereka adalah siswa dari SMU kami.
Melihat dari pakaian dan cara mereka berdandan, mereka pasti mahasiswa. Cemburu menyusupi dadaku. Seharusnya aku juga sedang asyik kuliah di kampus incaranku, dan sudah bersama kedua kakakku di sana. Namun dengan tubuh ini dan tanpa uang, aku tidak bisa melakukan itu.
Tidak. Aku tidak boleh memikirkan hal itu lagi. Aku tidak akan kembali pada kehidupanku yang dahulu, jadi aku harus menatap ke depan dan melupakan semua yang sudah ada di belakangku. Pertama, aku harus menghadapi kedua gadis arogan ini.
“Apa hubungannya aku ada di sini dengan kalian?” tantangku. “Mau aku jadikan badan kurus kalian itu gepeng? Sini, maju!” Mereka mundur selangkah.
“Ayo, kita pergi saja. Biar sekuriti yang mengurus dia,” kata gadis yang pertama.
Mereka pun pergi dengan wajah takut, tidak berani lagi melihat ke arahku. Bagus. Hanya karena Amarilis bodoh dan lambat, mereka berani mengganggu. Aku bentak sedikit, ternyata mereka bisa juga merasa gentar kepadanya.
Tidak bisa mengais uang di depan mal, maka aku memilih taman terdekat. Itu menjadi kegiatanku selama beberapa bulan mengumpulkan uang. Mengamen di dekat ibu penjual lontong, restoran, juga taman hanya pada akhir pekan.
Uangku cukup untuk mengikuti seleksi masuk. Maka aku mendaftar dan berusaha yang terbaik selama menjalani ujian dalam ruangan bersama peserta lain. Aku menemukan banyak pertanyaan yang sulit, yang tidak bisa aku jawab dengan yakin. Seandainya saja aku punya uang lebih untuk les.
Karena itu, saat membeli surat kabar untuk mencari tahu kelulusanku, jantungku berdebar dengan kencang. Aku bahkan butuh waktu lama untuk melihat apakah nama dan nomor ujianku ada dalam daftar panjang tersebut.
__ADS_1
“Nak, tunggu apa lagi?” ucap ibu penjual lontong yang juga terlihat penasaran. Dia melihat ke arah surat kabar itu dengan tidak sabar. “Ayo, cepat cari nama kamu. Lulus atau tidak?”