Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
101|Coba Lagi


__ADS_3

~Amarilis~


“Heeiii!!! Berhenti! Maliiinngg! Toloonng …!!”


“Nak, hati-hati. Kamu perempuan, kamu tidak akan bisa melawan mereka seorang diri,” kata Mama. “Sudah, biarkan saja mereka pergi.”


“Tidak bisa begitu, Ma.” Aku menghentikan sepeda. “Mama tunggu di sini saja. Mama tidak akan kuat melihat aku bertarung dengan mereka nanti.”


Mana bisa mereka dibiarkan lolos. Mama baru saja menarik uang di ATM demi belanja kebutuhan toko. Tiba-tiba saja pengendara sepeda motor itu menarik tas mamaku dengan paksa. Aku mengenal kawasan ini, jadi aku tahu setiap gang pintas untuk menghadang mereka.


Aku tidak berhenti berteriak maling untuk menarik perhatian orang-orang. Beberapa hanya bengong dan melihat aku mengayuh sepeda dengan cepat, yang lain acuh tak acuh. Namun saat tiba di jalan utama, jarakku dengan mereka sudah dekat. Aku berteriak sekuat tenaga menarik perhatian para pengendara di sekitarku.


Untung saja ada yang baik hati dan menghadang sepeda motor itu. Penumpang bodohnya tidak memakai jaket, jadi tas Mama terlihat mencolok di tangannya. Laki-laki mana yang bepergian memeluk tas perempuan?


“Dasar bodoh! Pemalas!” Aku memukul pria yang memegang tas mamaku dan merebutnya darinya. “Cari kerja kalau mau kaya! Jangan jadi maling!”


Aku membiarkan mereka dihajar massa dan pergi menjemput Mama. Aku tidak percaya kepada polisi, jadi aku tidak melaporkan kejadian itu. Selama keluargaku tidak mereka sentuh lagi, aku tidak peduli andai mereka mencuri tas orang lain.


Mama masih ada di tempat semula. Dia menatap tidak percaya ketika aku melambai-lambaikan tas tangannya. Kami melanjutkan perjalanan menuju swalayan dan membeli semua bahan yang dia perlukan. Belajar dari kesalahan sebelumnya saat kami menerima tepung berkutu, Mama yang menangani sendiri pembelian bahan-bahan utama.


Aku tidak memberi tahu alasan semua kemalangan itu terjadi. Tante Ruth yang membayar orang agar usaha Mama tidak akan pernah sukses. Namun terima kasih kepadanya, kami jadi belajar banyak mengenai orang yang bisa dipercaya dan yang tidak.


Wanita yang aneh. Aku dan Theo sudah berbulan-bulan tidak berkomunikasi dan sudah satu tahun lebih putus hubungan. Mengapa dia masih saja mengusik kehidupan orang tuaku? Untung saja aku ada di sini untuk membantu mereka. Masalahnya, aku tidak bisa selamanya ada di sini.


“Terima kasih banyak, Bu. Kue yang Ibu masak di acara teman saya sangat enak. Jadi, ibu jamin kue yang ini juga enak, ‘kan?” tanya pelanggan baru Mama yang memesan kue dalam partai besar.


“Iya, Bu. Dijamin enak.” Mama menoleh ke arahku yang membawa sepiring kue di atas baki. “Nah, Ibu boleh mencicipi contohnya.”

__ADS_1


“Benar, Bu?” Mata ibu itu berbinar dan dia mengambil satu kue. “Hmm. Enak sekali. Teksturnya bahkan lebih baik dari yang saya makan di rumah teman saya. Minta kartunya, Bu. Kalau ada teman yang bertanya, saya akan rekomendasikan toko Ibu.”


“Terima kasih banyak, Bu,” ucapku dan Mama bersamaan.


“Ini putri Ibu?” tanyanya melirik aku.


“Iya, Bu,” jawab Mama dengan sopan.


“Enak, ya. Ibu dan putrinya kompak.”


Wanita itu pergi, maka aku dan Mama bisa kembali ke pos kami. Mama di belakang kasir, sedangkan aku dengan laptopku memeriksa media sosial toko kami. Aku baru saja membuat postingan produk baru kami berharap ada yang berkomentar atau memesan.


Melihat ada notifikasi dari surel, aku cepat-cepat memeriksanya. Kabar terbaru dari beasiswa milik pemerintah yang aku lamar. Aku sudah lulus berkas dan mengikuti ujian serta wawancara, tinggal menunggu pengumuman penerimaan.


Namun aku malah mendapat kabar buruk. Mereka meminta maaf karena aku tidak lolos ke tahap berikutnya. Aku mendesah keras. Bagaimana bisa aku tidak lolos? Aku menjawab setiap pertanyaan dengan baik. Para pewawancara juga kelihatan puas dengan jawabanku. Masa aku harus menunggu awal tahun depan untuk mencoba lagi? Menjengkelkan sekali.


Padahal aku sudah mengikuti ujian kemampuan bahasa asing dengan nilai yang nyaris sempurna. Aku juga sudah mencatat setiap tanggal pendaftaran kampus yang aku incar. Kalau aku menunggu sampai gelombang berikutnya, maka aku tidak bisa mendaftar tahun ini.


“Aku gagal, Ma. Aku tidak lulus wawancara,” ucapku sedih.


Dia mengusap rambutku. “Ya, sudah. Kamu bisa coba lagi. Kamu bilang, sertifikat ujian bahasa Inggris itu berlaku untuk dua tahun. Masih ada waktu untuk mencoba.”


“Apa aku tidak direstui Tuhan untuk lanjut studi, ya, Ma?” tanyaku pelan.


“Bukan. Tuhan mau menguji sekeras apa kamu berusaha meraih impianmu.”


Aku tertegun mendengarnya. Benar juga. Sejak awal aku menjadi Amarilis, hidupku tidak pernah mudah. Mau kuliah, aku harus kumpulkan uang dahulu baru bisa masuk kampus. Itu pun satu tahun lebih lambat dari teman-teman seangkatanku di SMU.

__ADS_1


Bila aku harus menunggu beberapa bulan lagi untuk ikut beasiswa gelombang berikutnya, apa salahnya? Aku tinggal lulus lebih cepat saja seperti saat kuliah sarjana. Lagi pula, kampus yang aku incar suka dengan proposalku. Pengalaman kerjaku sebagai konsultan toko roti dan kue Mama sangat menarik. Jadi, mereka menunggu aku untuk kuliah di sana.


“Kakak tidak lulus wawancara?” Hercules tertawa. “Makanya, jangan sombong. Pewawancara pasti melihat Kakak terlalu percaya diri, jadi mereka mencoret nama Kakak dari peserta.”


“Heh, mulut itu dijaga. Enak saja aku dikatai sombong,” balasku.


“Sudah, sudah. Kalian ini berkelahi terus. Apa tidak bisa satu hari saja berdamai?” lerai Papa.


“Biar saja, Pa. Hercules hanya sedih karena akan berpisah lagi dengan kakaknya,” goda Mama.


“Se-sedih? Siapa yang sedih?” sanggah adikku itu.


Aku mengamatinya dengan saksama. “Kamu sedih aku akan pergi jauh lagi?” tanyaku penuh selidik.


“Ih, amit-amit. Kalau mau pergi, ya, pergi saja. Mau ke Jakarta, Amerika, aku juga akan pergi jauh nanti. Aku mau ke Eropa!” serunya, tidak mau kalah.


Kami tertawa mendengarnya. Aku tentu saja berdoa di dalam hati semoga impiannya itu terwujud. Aku menginginkan hal yang baik bisa terjadi dalam kehidupan keluargaku. Papa dan Mama sukses dalam usaha mereka, juga adikku berhasil di masa depannya.


Sendirian di kamar adalah waktu yang sangat aku nikmati. Usai makan, Papa dan Mama biasanya menonton. Hercules yang semula juga begitu, berubah saat aku pulang. Dia ikut masuk kamar dan mengulang mata kuliah yang baru dia pelajari.


Aku memeriksa ponsel dan membuka media sosial. Rutinitas setiap malamku adalah memeriksa keadaan akun Theo. Foto profilnya masih belum berubah. Mau sampai kapan dia memberontak terhadap orang tuanya?


Aku menyentuh benda yang ada di balik kerah kausku. Peninggalan Theo yang tidak pernah bisa aku mengerti. Mengapa dia tidak mengambil benda berharga ini dariku? Apa yang sebenarnya dia mau dari hubungan kami berdua, putus atau lanjut?


Rencana pernikahannya dan Chika berakhir bencana. Kejadian itu diberitakan selama berminggu-minggu sampai keluarga itu bersembunyi, tidak sanggup muncul di depan umum. Aku pikir Theo akan diam saja dan menuruti rencana orang tuanya, ternyata dia menunggu untuk membalas.


Dia tidak lagi bermain aman, tetapi menggunakan gosip untuk merusak nama baik Chika. Begitu orang mulai bertanya, video pun disebar. Teman-teman kami yang pernah menjadi korban Chika ikut berkomentar untuk membongkar semua kejahatan yang pernah dia lakukan semasa sekolah.

__ADS_1


Rahma dan Nisa sampai mengadakan konferensi pers untuk klarifikasi. Katelia beruntung. Dia sudah meninggal, jadi mau tidak mau para korbannya tidak menyebut namanya. Lagi pula, apa gunanya? Dia sudah tidak bisa dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya selama masih hidup.


Muncul notifikasi ada surel di kotak masuk, aku kembali merasa sedih. Ada berita terbaru yang biasa aku terima dari universitas incaranku karena surelku terdaftar untuk menerima kabar penting yang mereka terbitkan. Aku membukanya, tetapi bukan newsletter yang aku terima.


__ADS_2