Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
130|Menghajar Rival


__ADS_3

~Altheo~


Pertemuanku dengan Pak Willis tidak berjalan sebagaimana yang aku harapkan. Pembicaraan kami dimonopoli oleh Clara. Aku bisa melihat dia menyesal telah membawa putrinya serta. Seharusnya begitu, karena aku tidak akan memberi dia kemudahan lagi untuk bertemu denganku.


Ketiga karyawan yang telah aku tolong berubah sikap kepadaku. Mereka rajin sekali mengantarkan aku makan siang, jika aku tidak punya janji di luar restoran. Aku tidak enak menerima pemberian mereka, jadi setiap makanan yang mereka antar, aku masukkan ke tagihanku.


Gaji mereka tidak kecil, tetapi aku tidak mau mencari keuntungan hanya karena aku melakukan tugasku sebagai seorang pemilik. Membela kepentingan mereka adalah tanggung jawabku, jadi mereka tidak perlu berterima kasih secara berlebihan.


Keadaan di restoran sedang baik, tetapi tidak dengan hubunganku dan Amarilis. Kami sering sekali bertengkar belakangan ini. Perempuan naif itu masih saja tidak berubah. Ada pria yang menyukai dia dengan sengaja menyakitinya, malah dia ladeni. Kapan dia mengerti kalau sikapnya itu membuat para pria semakin penasaran kepadanya? Kapan dia jadi dewasa?


Dihentikan di tengah jalan, bukannya langsung menghajar pria itu sampai pingsan, masih saja diajak berbincang. Aku sendiri sampai panas melihat dia bicara begitu dekat dengannya. Apalagi saat mendengar dia menyebut tempat tidur. Benar-benar membuat darahku mendidih.


“Theo, apa yang kamu lakukan!?” pekik Amarilis panik.


Dia sudah melihat aku meninju pria berengsek itu, malah bertanya. Aku melayangkan pukulan berikutnya ke ulu hatinya dan puas mendengar dia mengeluh kesakitan. Itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan hatiku yang retak karena dia berani memegang wanitaku, calon istriku.


“Dengar, Jagoan.” Aku menarik kerah pria tidak tahu diri itu. “Wanita ini sudah ada yang memiliki. Satu kali lagi aku melihat kamu menyentuh ujung jarinya saja, maka bagian tubuhmu yang tersentuh itu akan aku potong. Jadi, pikirkan baik-baik sebelum bertindak.”


Dia tidak bisa menjawab, hanya mengangguk sambil memegang perutnya. Aku melepaskan kerahnya dan memberi sinyal kepada Amarilis agar melanjutkan jalannya. Lalu aku mengikuti dia mengayuh sepedaku menuju apartemen.


“Lo mau tunggu sampai kapan baru menghajar dia?” tanyaku kesal saat kami sudah berdua saja di apartemen. “Lo mau merasakan ciumannya dahulu baru bertindak?”


“Jaga bicaramu. Aku hanya berhati-hati. Ini negeri orang, bukan tanah air kita. Jika terjadi hal yang buruk, mereka pasti lebih memilih membela warga negara mereka daripada pendatang.”


“Kata siapa? Ada banyak saksi. Mereka bisa membela lo. Orang-orang itu tidak buta atau bodoh. Ini yang terakhir. Kalau lo enggak bisa menjaga diri, lo enggak perlu lanjut kuliah.”


“Apa!? Mereka yang mengganggu aku, mengapa aku yang disalahkan?”


“Jadi, gue harus singkirkan mereka semua supaya tidak dekat lo lagi? Lebih mudah mengatur lo daripada memerintah mereka.”


“Bagaimana kalau kamu belajar untuk percaya penuh kepadaku? Aku sayang kamu dan tidak akan selingkuh, Theo. Kamu bersikap begini, karena kamu curiga aku tidak setia.”


“Saudara kandung saja tidak bisa dipercaya, apalagi lo yang belum sah menjadi istri gue.”


Dia diam, tidak membalas lagi. Aku mengerutkan kening. Tidak biasanya dia mengalah secepat ini. Apa dia akhirnya mengerti bahwa aku benar? Namun caranya melihat aku sangat aneh. Dia menatap aku, tetapi kelihatan sedang berpikir dengan serius.


“Kenapa lo lihat gue seperti itu?” Aku mulai merasa tidak nyaman.


“Apa Matt pernah mengkhianati kepercayaanmu?” tanyanya pelan. “Itukah sebabnya kamu tidak bisa percaya kepadaku?”

__ADS_1


“Gue gerah. Gue mandi dahulu baru masak.” Aku berjalan menuju kamar.


“Kita sedang bicara, kamu tidak boleh pergi.” Ada nada otoriter pada suaranya yang membuat aku enggan melawan. “Kamu harus jawab pertanyaanku.”


“Matt tidak pernah mengkhianati kepercayaan gue,” kataku dengan tegas.


“Lalu siapa yang kamu maksud dengan saudara kandung tadi?” Dia mengerutkan keningnya.


“Lupakan saja. Lo juga harus mandi, baru kita makan.”


“Jika bukan Matt, apa ini ada hubungannya dengan rahasia keluargamu yang dipegang oleh keluarga Chika?” Dia belum menyerah. "Theo, aku berhak untuk mengetahuinya. Kamu tidak bisa terus marah seperti ini setiap kali aku tidak bersalah.”


“Tidak bersalah?” Aku mendengus keras. “Kamu ganjen begitu, di mana letak tak bersalahnya?”


“Jangan ubah topik, Theo. Jawab pertanyaanku.”


“Oke. Gue akan belajar untuk percaya kepada lo. Puas?” Aku membalikkan badan dan segera masuk kamar sebelum dia memaksa aku lagi untuk bicara jujur.


Dia memang tidak menyinggung masalah itu lagi, tetapi dia tidak berhenti menatap aku saat kami makan. Walau risi dengan pandangannya yang penuh selidik, aku tidak bertanya atau mengajak dia bicara. Bisa saja dia kembali membahas hal tadi.


Usai mencuci piring, dia meminta aku untuk duduk. Dia memeriksa entah apa di kabinet bawah, lalu mengeluarkan benda yang dia cari. Sebuah kotak obat. Aku melirik tangan kananku. Ah, dia memperhatikan memar di punggung tanganku.


“Apa lo pikir gue enggak tahu lo menyundul hidung dan menendang kêmàluan Mike? Gue enggak mau ribut, makanya gue enggak bahas itu. Kenapa lo juga begitu terhadap Robert? Kenapa harus menunggu sampai dia seinci lagi mencium lo?”


“Karena akan lebih menyakitkan jika diserang dari dekat. Apa kamu pikir aku tidak belajar detail seperti itu saat merundung orang?” Dia sengaja menekan kuat kapas yang diolesi alkohol ke lukaku. Perihnya minta ampun, tetapi aku menggigit bibirku. “Oh, maaf. Sakit, sayang?”


Aku hanya merapatkan bibir. Dia meneteskan obat antiseptik ke kapas, lalu mengolesinya ke lukaku yang sudah bersih itu. Dia meniup luka itu agar obatnya cepat kering. Itu lebih melegakan daripada ditekan kuat seperti tadi.


“Siapa pun yang sudah membuat kamu jadi begini, aku bukan dia. Aku tidak akan mengkhianati kamu. Aku terlalu sayang kamu, Theo. Tidak dipercaya itu menyakitkan. Aku tahu caraku yang hati-hati membuat kamu gusar, tetapi kamu harus percaya. Aku bisa mengatasi masalahku.”


“Lo terlalu naif. Itu kelemahan terbesar lo. Meghan adalah contoh lainnya. Lo sudah tahu dia adik siapa, tetapi lo tetap mau jadi temannya.” Aku menggeleng tak percaya.


“Perempuan genit yang datang ke sini itu Clara?” tanyanya. Aku mengangguk. “Aku tetap percaya Meghan tidak sama dengannya. Dia wanita yang baik,” katanya tanpa pikir panjang.


“Lo juga berpikir begitu awalnya tentang Nora.”


“Dia kesalahan terbesarku.”


“Ngomong-ngomong, kenapa kalian berakhir?”

__ADS_1


Dia menatap aku sesaat. “Dia suka kamu, jadi dia mau menyingkirkan aku.”


“Hm. Apa Robert dan Mike juga begitu? Mereka tahu dan berniat untuk memisahkan kita?” Aku jadi ingin tahu apa yang memotivasi mereka melakukan itu.


“Aku berada di sini hanya untuk kuliah. Untuk apa mereka memisahkan kita? Hobi?”


Benar, ‘kan? Dia terlalu naif. Dia selalu berpikir orang-orang tidak mungkin punya niat jahat hanya karena dia bukan gadis yang berasal dari keluarga terpandang. Namun semua kejadian di sekitar kami bisa jadi tidak ada hubungannya dengan dia, melainkan aku.


Lebih baik hal itu aku kesampingkan. Ada festival bunga yang sangat besar untuk menyambut musim semi. Aku mengajak dia untuk menghadirinya. Musim ini adalah musim yang disukai semua orang, jadi aku yakin dia juga akan senang berada di festival tersebut.


Dari awal kami masuk, berada di dalam kebun demi kebun, sampai keluar, dia terus mengangakan mulutnya melihat keindahan bunga di sekitar kami. Ada berbagai binatang, orang-orangan, juga benda yang dibentuk dari rangkaian bunga. Mulai dari lantai, dinding, sampai langit-langit dihiasi dengan berbagai bunga yang mekar sehingga tempat itu sangat harum dan segar.


“Banyak juga, ya, festival di sini. Setiap musim dan hari besar selalu dimeriahkan dengan berbagai acara yang keren.” Dia menikmati burger bagiannya sambil melihat ke sekitar kami.


“Negara kita juga punya, hanya saja kurang dipromosikan secara besar-besaran.” Aku menyeka saus yang ada di sudut bibirnya.


“Terima kasih.” Pipinya memerah.


“Apakah sakit?” Aku melirik giginya yang masih rajin dirawat. Dia menggeleng pelan, maka aku mendekat dan mengecup bibirnya. “Gue menyesal mengajak lo melakukan perawatan gigi sekarang. Seharusnya ditunda saja sampai kita pulang ke Indonesia biar gue enggak punya saingan.”


“Tuh, ‘kan, dibahas lagi. Katanya, kamu mau belajar percaya penuh kepadaku.”


Aku menepuk pipi dengan telunjukku. “Ciúm, baru gue percaya.”


Dia memicingkan matanya, curiga aku punya maksud lain. Namun dia menurut juga dan kecurigaan itu benar. Karena aku memutar kepalaku agar bisa menciúm bibirnya. Aku merasakan senyumannya sebelum dia membalas ciúmanku.


Dia masih libur, aku tetap masuk kerja seperti biasa. Suasana restoran sangat damai karena si pengganggu sedang berlibur dengan keluarga di Hawaii. Aku sudah biasa ke Bali, jadi pantai bukan incaranku di negara ini. Aku lebih suka mendatangi tempat bersejarah, museum, atau festival. Hal yang menjadi ciri khas yang tidak akan ditemukan di negaraku atau lain.


Selagi kampus libur, aku sekalian menyelesaikan masalah lain yang tertunda. Pengawalku menunjuk apartemen yang aku cari. Mereka berjaga agar tidak ada orang yang akan menginterupsi. Satu orang menemani aku dengan membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu.


“Berapa kali harus aku katakan ….” Pria itu menoleh dan terdiam begitu melihat siapa yang berdiri di ambang pintu kamarnya. Matanya membulat saat dia memandang aku dan pengawalku. Saatnya untuk membuat perhitungan.


___


~Author's Note~


Hai, teman-teman. Maaf, aku lupa memberitahukan. Hari ini aku ada kegiatan, jadi tidak bisa unggah bab baru pada jam-jam biasanya. Semoga saja bab ini tidak terlalu lama ditunjau, ya. Terima kasih sudah membaca.


Salam sayang,

__ADS_1


Meina H.


__ADS_2