Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
80|Menjadi Bintang


__ADS_3

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Amarilis terkejut.


Aku menyeka anak rambutnya ke belakang telinganya, lalu merapikan kerah kemeja bagian belakang. Dia pasti buru-buru, tidak sempat memeriksa penampilannya di toilet. Aku menyisir poni di dahinya dengan jemariku. Sepertinya dia memotongnya sendiri, bukan ke salon. Hm.


Dia perempuan dengan harga diri tinggi. Tanpa bertanya, aku tahu dia akan menolak bantuanku untuk menyembuhkan jerawat pada wajahnya dan merapikan susunan giginya. Aku akan bantu dia setelah kami menikah. Pada saat itu, dia tidak akan bisa direbut laki-laki lain lagi. Untuk saat ini, kondisi mukanya ini bisa menjadi tameng untuk mengusir semua penggoda itu menjauh darinya.


“Biasanya kamu tidak peduli dengan penampilanku. Mengapa harus dirapikan segala? Malu makan malam dengan aku yang berantakan?” ucapnya yang terdengar masih marah.


“Gue melakukan ini demi lo, sayang.” Aku melihat ke arah restoran. “Ayo, kita keluar.”


Dugaanku benar untuk merapikan penampilannya. Orang-orang berjajar di jendela rumah makan itu dengan kamera mereka. Amarilis tidak akan malu melihat wajahnya saat berada di media nanti. Namun sepertinya dia kurang tertarik mengikuti berita, karena dia terlihat santai saja, tidak cemas sama sekali. Dia masih tidak menyadari ada barisan orang yang meliput kami.


Aku juga tidak akan tahu kalau bukan karena tatapan para karyawan ke arahku sambil berbisik dengan teman-temannya. Pemandangan yang tidak pernah aku alami setiap kali pulang kerja. Aku mendapatkan jawabannya ketika membuka ponsel.


Mama, Chika, dan Matt mengirimi aku pesan dengan nada berbeda. Yang satu menangis, yang lain marah besar, sedang adikku hanya tertawa seperti orang bodoh. Padahal semua itu bukan salahku. Orang-orang usil itu yang melakukannya.


Akibatnya, beberapa wartawan mengikuti aku sejak keluar dari tempat parkir gedung perusahaan keluarga kami. Mereka tidak masuk ke lokasi kerja ketika aku menjemput Amarilis, tetapi baru terlihat lagi waktu aku memarkirkan mobil di restoran ini.


“Ada apa mengajak aku makan malam?” Dia menyipitkan mata, curiga dengan motivasi lain di balik kencan kami. “Kamu belum menjawab pertanyaanku itu.”


“Karena itu pertanyaan bodoh,” jawabku acuh tak acuh. Aku adalah calon suaminya, mengapa dia malah bertanya mengapa aku mengajak dia makan malam? “Bagaimana dengan skripsi lo?”


“Itu pertanyaan bodoh,” balasnya.


Aku tertawa mendengarnya. “Baik, gue ralat. Bagaimana penelitian lo? Apa lo sudah dapat semua bahan yang akan lo butuhkan?”


Dia mendesah pelan. “Iya. Terima kasih kepada mas Norman yang sudah—”


“Mas Norman?” potongku. Sejak kapan dia memanggil pria itu semesra itu?


“Iya. Aku memanggil dia Mas Norman sejak pertama kali kami—” katanya, menjelaskan. Aku benci melihat matanya berbinar-binar menyebut nama laki-laki itu.


“Panggil dia pak, jangan mas. Dia atasan lo, bukan pacar,” protesku.

__ADS_1


“Itu, ‘kan, sapaan hormat juga untuk laki-laki. Mengapa kamu malah menyebut pacar? Lagi pula, Mas Norman sendiri yang—” Dia masih berani-beraninya membantah aku.


“Gue bilang panggil dia pak, maka lo harus panggil dia pak,” tukasku dengan tegas.


“Theo, Mas Norman itu atasanku. Kamu tidak bisa cemburu setiap kali aku dekat dengan laki-laki. Ini belum seberapa. Bagaimana kalau aku sudah bekerja dan punya tim yang didominasi laki-laki. Apa kamu akan larang aku mendekati mereka dan harus memanggil semuanya dengan pak?” lawannya.


“Baik. Gue akan bicarakan ini dengan Norman,” pungkasku.


Mulutnya menganga lebar. Apa dia pikir aku tidak punya cara lain untuk membuat dia menuruti aku? Dua tahun bersama, dia masih saja tidak bisa menebak cara berpikirku. Baguslah. Itu bisa menjadi keuntungan bagiku, karena dia akan selalu lengah.


“Ka-kamu tidak akan berani melakukan itu,” gagapnya tidak percaya.


“Mengapa gugup, sayang? Lo bilang dia hanya atasan lo.” Aku menopang dagu dan menelengkan kepalaku. “Atau kalian ada hubungan lain?”


“Kamu akan menyesal sudah menuduh aku tanpa alasan,” katanya dengan ketus.


“Gue lebih menyesal bertindak ketika segalanya sudah terlambat,” balasku.


Melihat ada lampu merah, pertanda bahaya, aku memutar otak. Ini bukan hal yang suka aku lakukan, bahkan tidak pernah aku perbuat kepada siapa pun. Siapa pun. Namun Amarilis adalah calon istriku dan aku tidak mau kehilangan dia. Maka aku menyampingkan harga diriku.


“Sayang,” aku melembutkan suaraku, “gue percaya sama lo, tetapi tidak dengan pria lain.” Aku mengulurkan tangan dengan mata memelas. Dia mengerutkan kening, lalu mendesah keras sebelum memberikan tangannya kepadaku. “Jangan marah lagi. Gue sudah sering bilang, gue pencemburu.”


“Kita bahas hal yang lain saja.” Dia kembali mendekatkan dirinya ke meja. “Seharusnya kamu jangan pakai foto kita bersama di media sosialmu.”


“Gue mau memamerkan calon istri gue yang cantik kepada semua orang,” kataku dengan bangga.


“Aku tidak cantik. Theo, orang-orang memaki kamu dalam foto itu.” Dia terlihat khawatir.


Aku mengulurkan tangan dan membelai pipinya. “Lo cantik. Gue enggak peduli lo atau orang lain menilai diri lo seperti apa, bagi gue, lo cantik. Titik.” Dia tidak suka aku memegang pipinya terlalu lama, jadi aku menarik tanganku kembali. “Mengenai foto, gue sudah biasa dimaki. Santai saja.”


“Kamu melakukan itu hanya untuk membalas Chika, ‘kan? Seharusnya kamu biarkan saja dia berbuat sesukanya. Aku percaya kamu, jadi aku tidak akan terpengaruh dengan semua postingannya.”


“Oh, ya? Lo enggak cemburu melihat dia memeluk dan memegang tangan gue?” tantangku.

__ADS_1


“Cemburulah. Aku serius sayang kamu. Masalahnya, kamu membalas begitu, dia pasti merasa kamu ada sedikit perhatian kepadanya.”


Aku tersenyum bahagia mendengar pengakuannya. “Gue enggak membalas dia. Gue sudah bilang, gue mau pamer calon istri gue. Enggak ada alasan lain. Hanya lo yang gue pikirkan dan sayangi.”


Makanan pesanan kami diantar, maka kami berhenti bicara dan menikmatinya. Aku menyaksikan cara dia makan yang menjadi kebiasaannya sejak kecil, sama seperti aku. Heran. Bagaimana orang bisa luput memperhatikan detail yang sangat jelas itu? Dia adalah anak orang terpandang, bukan orang miskin yang tidak peduli dengan etika makan.


Dia tidak marah saat aku memesan satu porsi makanan lagi untuknya, malah dia lahap tanpa protes. Pekerjaan dan pertengkaran kami pasti membuat dia lapar. Dari pengamatanku setiap kali kami bertemu dan laporan dari pengawalnya, dia baik-baik saja. Perpindahan jiwanya ke tubuh Amarilis tidak memberi efek negatif. Semoga saja begitu. Aku tidak bisa bayangkan hidupku tanpa dia.


Apa mungkin Norman memberi dia banyak tugas sampai kelaparan begini? Aku sepertinya perlu bicara dengannya. Bukan hanya tentang magangnya di sana, tetapi juga hubungan mereka. Sikapnya yang terlalu akrab dengan Amarilis akan disalahpahami oleh karyawan yang lain.


Begitu menerima kembalian dari pelayan, aku mengajaknya pulang. Ketika dia berada di sisiku, aku merangkul bahunya dan mencium pelipisnya. Dia tersenyum bahagia. Hm. Badannya semakin kurus saja. Kalau begini terus, rivalku akan kian bertambah.


Pelayan membuka pintu restoran, kami disambut dengan lampu kilat kamera wartawan. Aku hanya mengulum senyum melihat Amarilis terkejut dan menyapukan pandangan ke sekelilingnya dengan bingung. Dia benar-benar tidak membaca berita tentang kami.


“Theo, benarkah kamu akan menikah dengan perempuan biasa?”


“Bagaimana dengan Jessica, tunangan kamu? Apa kalian sudah memutuskan hubungan?”


“Kapan rencananya kalian akan menikah?”


“Apa orang tuamu sudah memberi restu?”


Mereka terus menghujani kami dengan pertanyaan sampai kami berada di mobil. Kedua pengawal Amarilis sampai turun tangan untuk membantu kami lepas dari mereka. Aku mengangguk kepada kedua pria itu sebelum menyetir menjauh dari restoran.


“Wow. Apa yang baru saja terjadi?” Amarilis melihat ke arah belakang mobil. “Mengapa wartawan mengikuti kita? Mereka sudah tahu kita berpacaran, kok, baru sekarang mendekati kita?”


“Lo sibuk selingkuh, sih, makanya enggak baca berita,” sindirku.


Dia menatap aku dengan tajam. “Berapa kali aku harus bilang, Mas Norman adalah atasanku.”


“Pak,” ralatku. Lama-lama, aku kesal juga mendengar dia menyebutnya mas.


“Apa kamu berbuat hal aneh lagi yang menyebabkan mereka mendatangi kita?” Dia mengeluarkan ponselnya, maka aku bersiap menunggu responsnya.

__ADS_1


__ADS_2