
Sidang tesisku berjalan sangat menegangkan. Walau aku menguasai penelitian yang aku kerjakan selama hampir delapan bulan bergelut pada topik yang sama, aku akui para dosen penguji pandai mengajukan pertanyaan. Aku tidak bisa langsung menjawab dan butuh waktu untuk berpikir.
Namun mendengar kata lulus, beban sangat berat di kedua pundakku pun terangkat. Profesor Bateman tersenyum puas dan menjabat tanganku dengan erat. Sayang sekali, dia tidak mau buka mulut sejak keceplosan menyebutkan tentang Theo yang membantu biaya kuliahku.
Bertanya kepada bagian administrasi, mereka tetap tidak mau memberi tahu identitas orang yang sudah memberi bantuan atas biaya studiku. Aku semakin merasa bersalah, karena aku tidak akan pernah bisa mengucapkan terima kasih kepadanya.
Theo. Mengapa dia begitu baik kepadaku? Apa yang aku miliki sehingga dia mengorbankan banyak hal untukku? Padahal aku selalu mau menang sendiri dan membuat dia susah. Ternyata dialah orang yang sudah berada di belakang, mendukung penuh rencana studiku.
Profesor Bateman benar. Uang sebanyak itu lebih baik dia gunakan untuk mengembangkan usaha keluarganya. Atau membeli rumah yang dia impikan di Indonesia. Mengeluarkan uang sebanyak ini untukku sama saja dengan menghabiskan tabungannya untuk cewek egois yang malas-malasan memperjuangkan hubungan dengannya.
“Amarilis? Kamu lulus. Mengapa kamu malah menangis?” tanya Meghan yang datang mendekat.
“Meghan!” Aku segera memeluknya dengan erat.
“Hei, ada apa? Apa yang terjadi?” tanyanya panik.
Dasar Theo bodoh! Aku bisa menunggu gelombang berikutnya untuk melamar beasiswa nasional lagi. Mengapa dia harus mengorbankan tabungannya untukku? Mengapa dia selalu saja terburu-buru dalam banyak hal? Dia juga ingin sekali kami menikah pada tahun ini.
Lihatlah apa yang terjadi. Justru aku yang membuat semua rencananya gagal total. Apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Kepalaku benar-benar kosong. Setiap rencana yang sudah aku susun juga mendadak hilang dari benakku. Aku harus ke mana sepulang ke Indonesia pun tidak tahu.
Orang pertama yang aku beri tahu mengenai kelulusanku adalah Mama dan Bunda. Mereka sudah mengurus VISA sejak tahun lalu, jadi Bunda tidak menunda lagi untuk memesan tiket kedatangan mereka. Aku sangat terharu dia dan Ayah rela membayar tiket pesawat dan penginapan keluarga Amarilis selama berada di Amerika nanti.
Berbeda dengan Keluarga Husada, keluargaku akan berada di sini selama dua minggu. Mereka bahkan sudah menentukan tempat-tempat yang ingin mereka datangi. Waktunya sangat tepat karena aku masih punya waktu satu minggu setelah mereka pulang untuk berbenah.
“Kamu serius tidak mau pulang bersama kami saja? Kami bisa membantu kamu berkemas,” tawar Bunda yang segera disetujui Mama.
“Tidak bisa, Bunda. Masih ada urusan di kampus yang perlu aku selesaikan. Belum lagi biaya sewa apartemen sampai akhir bulan Maret. Aku menyusul saja,” tolakku.
“Baiklah. Tetapi kamu harus menginap di rumah dahulu, baru boleh pulang ke rumah mamamu,” tuntut Bunda. Mereka pun berdebat memperebutkan rumah siapa yang aku kunjungi dahulu.
Pada hari kedatangan mereka, aku menjemput mereka di bandara lengkap dengan koper berisi barang pribadiku. Kami melepas rindu, lalu pergi bersama menuju hotel. Mereka menyewa dua suite. Satu untukku bersama orang tua kami, satu lagi untuk para anak laki-laki.
__ADS_1
Kak Nolan dan Jericho tidak mau ketinggalan bisa berlibur bersama di negara ini. Padahal mereka sering berkunjung ke negeri ini sejak masih kecil. Kami menarik perhatian banyak orang begitu tiba di lobi, karena semua berebut untuk bicara.
Ingin memperkenalkan mereka dengan Antonio dan Buddy, aku mengajak mereka makan malam di restorannya yang keren itu. Ketiga saudaraku langsung mengenalinya dari postinganku di media sosial. Mereka serentak memesan burito yang selalu aku puji.
“Nah, sudah beres.” Antonio meletakkan ponselnya di atas meja.
“Memangnya ada masalah apa?” tanyaku heran.
“Kalian sudah check-out dari hotel dan uang sudah dikembalikan ke nomor yang digunakan untuk melakukan pembayaran. Tolong diperiksa agar aku bisa komplain jika mereka menipu aku,” katanya dengan santai. “Amarilis punya teman di kota ini. Aku tidak izinkan kalian menginap di hotel.”
“Antonio—” protesku.
“Eits, jangan katakan apa pun. Untuk apa aku punya rumah besar, tetapi keluarga temanku datang malah menginap di hotel?” potongnya. “Koper kalian dalam perjalanan menuju rumahku. Jangan khawatir. Kalau ada yang tertinggal di hotel, mereka akan mengantarnya ke rumahku.”
Kebaikan Antonio tidak berhenti sampai di situ. Dia juga memanggil orang untuk membantu aku bersiap-siap mengikuti acara pemberian ijazah di kampus. Mama dan Bunda bersiap sendiri, hanya aku yang didandan dengan sempurna.
Aku mengenakan kebaya di balik togaku. Ukurannya pas, mengikuti bentuk tubuhku dua bulan yang lalu. Untung saja aku tidak bertambah gemuk atau kurus. Rambutku digerai dengan diberi spiral pada ujungnya. Keenam pria itu, plus Buddy, sampai terpukau dengan penampilanku.
Selama mengikuti acara, aku tidak berhenti memikirkan Theo. Seharusnya dia ada di sini, karena dia yang berhak menerima penghargaan terbesar dari kampus atas bantuannya dalam studiku. Dia yang sudah memberi semangat, bahkan membiayai kuliahku.
“Selamat untuk kita berdua!” seru Meghan senang. “Apa kamu dan keluargamu akan merayakan kelulusanmu?” Dia menyapukan pandangannya kepada dua keluargaku.
“Iya. Antonio sudah menunggu kami di rumahnya.”
“Oh, syukurlah. Aku merasa tidak enak keluargamu tinggal di hotel. Padahal ada rumah keluargaku di kota ini. Tetapi kamu tahu Clara sangat membenci kamu, jadi—” Dia tidak melanjutkan kalimatnya itu, aku mengerti. “Baiklah. Kita akan pergi bersama nanti. Kalian akan suka dengan vila keluargaku.”
“Siapa Clara?” tanya ketiga saudara laki-lakiku serentak. Mereka melemaskan tangan dan leher, siap untuk menyerang wanita yang namanya mereka sebut itu.
“Ah, ayo, Meghan. Mobil kita sudah menunggu.” Aku menarik tangan temanku itu menuju tempat parkir. Aku tidak mau ada yang ikut campur dengan urusan pribadiku.
“Ngomong-ngomong,” bisik Meghan. “Maaf, aku tidak tahu, Amarilis. Ternyata kamu punya keluarga yang broken home. Pasti berat harus hidup dalam dua keluarga begitu.”
__ADS_1
Aku ingin meralat, tetapi aku terdiam. Memangnya apa yang bisa aku katakan kepadanya? Berterus terang bahwa aku orang yang berbeda tubuh dan jiwa? Anggapan dia lebih masuk akal. Lagi pula, dia tidak akan pernah tahu tentang aku dan keluargaku. Biar saja dia menebak begitu.
Kami saling berpelukan sebelum masuk ke mobil kami masing-masing. Suasana mobil sangat ramai saat kami menuju rumah Antonio. Aku tidak menduga dia sudah menyiapkan sebuah ruangan untuk kami semua berfoto bersama. Jika kami bergaya sesukanya, maka Kak Jericho menunjukkan bahwa dia memang seorang foto model profesional.
Dua minggu itu kami jalani dengan berlibur ke berbagai objek wisata. Diawali dengan mengunjungi tempat bersejarah di kota, lalu ke negara bagian tetangga, dan ditutup dengan menginap selama beberapa hari di vila keluarga Meghan. Antonio dan Buddy juga ikut atas desakan kedua papaku.
Lokasinya dekat sekali dengan berbagai objek wisata terkenal yang bisa sekaligus kami datangi. Kami membuat banyak kenangan di tempat itu. Namun ada satu hal yang tidak luput dari perhatian kami semua. Kak Nolan tidak mau jauh dari sisi sahabatku itu.
“Apa Nolan pria yang baik?” tanya Meghan saat kami berbaring di tempat tidur.
Aku menoleh ke arahnya, terkejut dengan pertanyaannya itu. “Meghan?” godaku.
Dia menutup wajah dengan kedua tangannya. “Jangan menatap aku seperti itu.”
“Apa kamu suka dengan kakakku?” tanyaku tidak peduli dengan sikap malunya. Dia hanya diam. Aku tertawa kecil. “Iya, dia pria yang baik. Setidaknya, dia baik kepada adik perempuannya. Aku tidak tahu apa dia akan baik juga kepada calon kekasihnya.”
Dia tiba-tiba membalikkan badan menyembunyikan wajahnya di bantal. “Ya, ampun, Meghan. Kak Nolan mengucapkan cinta kepadamu??”
“Tidak!!” serunya terkejut. “Kami baru beberapa hari bersama, dia tidak sampai sejauh itu.”
“Lalu apa yang membuat kamu bersikap begini?” tanyaku bingung.
“Dia mengatakan aku cantik. Kamu tahu sendiri, itu kata yang selalu orang ucapkan kepada Clara, tetapi tidak kepadaku.” Dia tersipu. “Apa menurutmu, dia suka kepadaku?”
Keluarga melarang aku mengantar mereka, maka kami berpisah di rumah Antonio. Aku pulang ke apartemen bersama pengawalku, sedangkan Antonio menyediakan mobil untuk mengantar mereka ke bandara. Aku tidak lupa berterima kasih atas kebaikan sahabat baikku itu.
Waktu kami hanya tinggal satu minggu, jadi aku harus mulai mengemasi barang-barangku dan Theo. Mengingat dia, aku jadi sedih. Apa yang harus aku lakukan dengan barang-barang pribadinya? Aku bawa ke Indonesia atau titip di restoran? Sebaiknya aku mendiskusikan hal itu dengan Matt.
Aku berpisah dengan pengawalku di pintu depan. Aku memasuki unitku, sedangkan mereka entah melakukan apa yang menjadi rutinitas mereka. Aroma masakan yang lezat memasuki penciumanku. Aneh. Apa ada orang di dapur? Aku menoleh dan hampir menjatuhkan ponsel di tanganku.
__ADS_1