Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
21|Akal Bulus


__ADS_3

~Altheo~


Kadang-kadang aku iri dengan Matt. Dia bisa melakukan apa saja yang dia mau, menjadi apa saja yang dia inginkan, dan merencanakan masa depannya sendiri. Berbeda denganku sebagai anak pertama dan ahli waris utama keluargaku.


Aku tidak bisa memilih cita-citaku sendiri. Mereka sudah mengajari, menasihati, mendekatkan aku pada pekerjaan yang ayah geluti. Kakek dan Nenek, semoga jiwa mereka tenang di atas sana, juga melakukan hal yang sama. Semua dongeng mereka hanya tentang seorang direktur utama.


Aku juga tidak bisa melakukan apa pun yang aku mau. Libur beberapa hari, aku tidak bisa bepergian untuk menyegarkan pikiran. Hanya Mama dan Matt yang beruntung untuk pergi ke Raja Ampat dan menikmati setiap fasilitas di sana. Aku harus ikut Papa dalam urusan bisnisnya.


Yang paling parah, aku tidak bisa memilih perempuan yang menjadi istriku. Sejak aku masih kecil, orang tuaku sudah memilih anak gadis dari kolega mereka untuk dinikahkan denganku. Salah satu cara kami bertahan lama di dunia bisnis ini. Papa dan Mama juga awalnya dijodohkan, lalu mereka tergila-gila terhadap satu sama lain. Walau mereka jarang bertemu, cinta mereka tidak memudar.


“Bagaimana menurutmu, Theo?” tanya Papa, membuat aku menjadi pusat perhatian tamu kami. “Apa kamu setuju dengan kerja sama bisnis kita yang baru?”


“Sebaiknya kita uji coba dahulu sebelum menandatangani perjanjian, Pa. Kerja sama ini sangat mahal dan risikonya tinggi. Ekonomi sedang sulit, jadi kalau kita langsung produksi besar-besaran, lalu respons masyarakat tidak seperti perkiraan, maka kita akan rugi besar,” jawabku jujur.


“Tetapi, Theo … Kita sudah merencanakan hal ini sejak satu tahun yang lalu. Tim riset juga sudah mencoba melempar produk ke pasar dan respons masyarakat cukup bagus. Daya beli mereka sedang baik, jadi ini momen yang tepat untuk meluncurkan produk baru,” kata Nolan, keberatan.


Dia adalah putra rekan kerja Papa yang sangat aku benci. Segalanya dianggap enteng sampai aku bingung mengapa Om Wibowo tidak juga mengajari putra sulungnya itu tentang berbisnis yang benar. Kalau perusahaan mereka merugi, aku tidak peduli. Namun jangan seret usaha kami juga.


“Walau aku kurang setuju, ucapan Theo ada benarnya juga. Tidak ada salahnya kita berhati-hati. Ini proyek besar dengan modal yang tidak kecil. Bagaimana kalau kita lakukan uji coba dahulu?” tanya Om Wibowo. Putranya terlihat protes, tetapi dia memberi sinyal agar dia diam.


Untung saja Papa menyetujui usulku. Kalau tidak, aku tidak akan tinggal diam. Keluarga ini hanya mau memanfaatkan kebaikan hati Papa. Mereka tidak peduli jika proyek itu gagal karena modal seratus persen berasal dari kantong papaku.


Sayang sekali, giliranku untuk memimpin perusahaan ini masih lama. Begitu aku yang duduk sebagai direktur utama, keluarga ini adalah orang pertama yang akan aku keluarkan dari daftar kolega kami. Mereka sama sekali bukan rekan bisnis yang baik.

__ADS_1


Kami mengakhiri pertemuan itu dan menentukan hari rapat selanjutnya. Aku bergantian menerima uluran tangan kedua pria itu dan menjabatnya sejenak. Papa masih punya urusan lagi, jadi kami keluar lebih dahulu.


“Ah, Pa.” Aku berpura-pura memeriksa saku kemeja dan celanaku. “Ada yang ketinggalan di ruang rapat. Papa duluan saja, aku segera menyusul.”


“Oke,” jawabnya dengan santai.


Aku kembali ke ruangan tadi dan dugaanku tepat. Mereka sedang bicara dengan serius. Aku tidak bisa mendengar dengan baik dari luar ruangan itu, tetapi aku bisa mengintip dan mencuri dengar dari ruang sebelahnya. Beginilah aku tahu siapa mereka yang sebenarnya.


“Iya, aku tahu. Tetapi kamu perlu mengendalikan dirimu. Jangan gegabah atau mereka akan tahu rencana kita yang sebenarnya,” kata Om Wibowo. “Theo anak yang cerdas. Kamu buat dia curiga, maka kamu tidak akan pernah mendapatkan kepercayaannya.”


“Kita sudah menunggu terlalu lama, Pa. Kalau sampai anak itu yang jadi dirut, maka kesempatan kita musnah. Om Husada terlalu percaya kepada kita, tetapi tidak dengan Theo,” ujar Nolan.


“Sebaiknya kita pergi sekarang. Jangan sampai ada yang mendengar percakapan kita ini,” pungkas Om Wibowo. Dia pun berdiri dari kursinya.


Namun aku tidak tahu rencana apa yang sedang mereka bicarakan. Aku tidak bisa menyimpulkan mereka berniat jahat, karena belum tentu itu yang mereka pikirkan. Sama seperti kami, reputasi adalah segalanya bagi keluarga mereka. Jadi, mereka tidak mungkin melakukan hal yang jahat.


“Ini semua terjadi gara-gara Kat pergi,” gumam Nolan. “Theo berubah sikap sejak dia dan kita sudah tidak ada ikatan lagi di masa depan. Kalau saja kecelakaan itu tidak terjadi.”


“Seandainya saja Jericho adalah perempuan. Baru kali ini aku merasakan tidak enaknya punya anak laki-laki,” kata Om Wibowo, menambahkan.


Katelia, kasihan sekali dia. Ayah dan kakaknya tidak menyayanginya dengan tulus. Mereka hanya menganggap dia sebagai modal utama mereka untuk bisa menyentuh uang kami. Heran. Padahal keuangan perusahaan mereka baik, mengapa mereka pelit sekali mengeluarkan dana untuk proyek kerja sama kami? Mengapa hanya Papa yang menyiapkan modal sendiri?


Tidak. Orang tuaku juga punya motivasi yang sama terhadap pernikahanku. Yang mereka utamakan adalah keluarga yang bisa menguntungkan bisnis keluarga kami juga. Mereka memilih Katelia pasti ada perjanjian yang baik untuk usaha kedua keluarga. Jadi, mereka dan keluarga Katelia tidak ada bedanya. Sama-sama memperlakukan aku demi keuntungan perusahaan.

__ADS_1


Setelah menunggu beberapa saat, aku keluar dari ruangan itu menuju kantor Papa. Kami hanya bicara sebentar dan aku pun diizinkan untuk pulang lebih dahulu. Aku pergi ke satu-satunya tempat yang ingin aku datangi selain rumah dan kantor.


Namun gadis itu selalu saja tidak ada di kamarnya. Mama menawarkan dia tiket pulang pergi untuk bertemu keluarganya di Medan selama liburan Natal dan Tahun Baru, dia menolak. Lalu ke mana dia pergi di sekitar kota ini? Aku tahu dia tidak akan ke perpustakaan sejak insiden dompet itu.


“Kamu mau ke kampus?” tanya Mama saat aku berjalan menuju pintu depan. Aku mengangguk. “Jangan lupa ajak Amarilis untuk makan siang bersama kita.”


“Iya, Ma,” jawabku dengan patuh.


“Jangan hanya bilang iya. Lo benaran harus bawa dia,” kata Matt setengah menuntut. Aku hanya menggeleng pelan mendengarnya.


Aku pergi untuk melihat hasil akademik semester gasal. Kecurigaanku sepenuhnya terbukti benar. Angka cantik yang diributkan oleh ketiga ekor Katelia itu tidak mungkin bisa diraih oleh Amarilis. Mau ikut les di mana pun, sehebat apa pun gurunya, dia tidak mungkin jadi pintar secepat ini.


“Bagaimana menurutmu? Itu hasil nilainya sendiri atau dia mencontek?” kata mahasiswi di dekatku kepada teman di sampingnya.


“Aku tidak kenal dia semasa sekolah, jadi aku tidak tahu. Lagi pula, dosen kita yang mana yang mau merusak reputasinya dengan menjual nilai?” jawab temannya itu.


Ketiga gadis itu benar, mereka tidak salah. Aku juga baru yakin sekarang. Kemampuannya berbahasa Inggris, caranya mengajar adikku, matanya yang tidak pernah menunjukkan rasa takut sedikit pun, dan setiap kata yang dia ucapkan, dia bukan Amarilis.


Mungkinkah dia adalah … hm, mengapa tidak? Saat di rumah sakit juga aku ingat tingkahnya sangat aneh. Dia menangis sejadinya bahkan sangat terguncang ketika mengetahui Katelia meninggal. Itu adalah pemandangan yang tidak bisa hilang dari kepalaku.


Semua korban perundungannya hanya sedih seadanya ketika tahu Katelia telah tiada. Hanya Amarilis yang sangat berduka. Dia adalah korban yang paling sering dia ganggu. Mustahil dia akan terguncang dengan kematian gadis itu, Lagi pula, dia tidak bersalah dengan tenggelamnya mereka di danau. Itu sebuah kecelakaan dan kami berusaha menolong mereka secepat mungkin.


Matt yang berulang tahun, tetapi mamaku yang paling bahagia saat kami makan siang bersama. Aku mengamati cara makannya, dia sama sekali tidak canggung memilih alat makan yang sesuai dengan hidangan yang dia makan. Amarilis tidak mungkin mengetahui etika meja sedetail itu.

__ADS_1


Wow, Katelia. Apakah ini kamu? Bagaimana bisa gadis yang sangat terguncang di koridor rumah sakit itu bisa bertahan dalam tubuh gadis lain yang sangat dibencinya?


__ADS_2