Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
49|Pesta Kejutan


__ADS_3

~Altheo~


Hari ini aku genap berusia dua puluh tahun. Aku ingin memulai hari bersama Amarilis, tetapi aku tidak bisa menghubungi dia sejak subuh. Keluargaku bersikap acuh tak acuh saat kami sarapan. Hal yang langsung membuat aku sadar, mereka sudah menyiapkan sesuatu.


Karena itu, aku mau bersama pacarku, tetapi dia tidak ada di mana pun. Aku mencari di kamar sewanya, kata teman satu tempat tinggalnya dia tidak ada. Aku memeriksa taman di mana dia biasanya mengamen juga nihil.


Darahku mendidih membayangkan dia sedang selingkuh, berduaan dengan laki-laki lain. Aku tidak tahu mengapa, tetapi aku membenci kata itu. Dia dan laki-laki lain bukanlah perpaduan yang aku suka disebut secara bersamaan. Amarilis adalah gadisku.


Tidak peduli apa yang aku rasakan kepadanya ini, aku juga tidak mau tahu apa namanya, aku tidak suka setiap kali tidak tahu kabarnya. Aku benci mencari dia dengan susah payah, tetapi tidak bisa menemukan dia. Di mana di sudut ibu kota dia bersembunyi dariku?


“Yang benar saja,” dengus Richo. “Jadwalku padat hari ini, tidak punya waktu mengganggu adikku.”


Aku melihat ke sekitar kami. Dia benar. Mereka akan bersiap untuk syuting iklan parfum khusus pria. Lokasi sudah diamankan, jadi tidak mungkin ada orang biasa yang bisa berkeliaran di sekitar mereka. Kecuali orang-orang tertentu seperti aku.


Barulah pada malam harinya aku melihat dia di aula hotel. Papa berpura-pura mengajak aku untuk menghadiri sebuah undangan. Padahal mereka selalu membawa Matt, sedangkan aku diminta untuk mewakili mereka menghadiri acara lain di tempat yang berbeda.


Dugaanku benar. Mereka menyiapkan pesta kejutan untuk pertambahan usiaku yang genap dua puluh tahun. Yang hadir didominasi oleh kenalan orang tuaku, karena aku memang tidak berteman dengan siapa pun. Mahasiswa satu angkatanku saja tidak diundang, hanya ada Chika.


“Ayo, Theo.” Mama mengangguk sambil memberikan sebuah kotak kecil kepadaku.


“Giliran kamu, Chika,” kata Tante Winara setelah aku memasangkan cincin di jari putrinya.


“Ayo, cium keningnya,” kata Mama begitu cincin dari keluarga Winara melingkari jariku. Perintah itu aku abaikan sebagai rasa protesku.


Perayaan mewah yang aku pikir hanya untuk mensyukuri ulang tahunku, ternyata juga adalah acara pertunangan antara aku dengan Chika. Entah apa yang terjadi sehingga Papa dan Mama melakukan ini. Mereka biasanya mendiskusikan keputusan sebesar ini denganku terlebih dahulu.


Keluarga ini adalah keluargaku juga, jadi aku tidak bisa bertindak gegabah di depan banyak orang. Aku menuruti semua prosesi acara itu dengan wajah datar. Satu-satunya cara yang aku tahu sangat aman untuk menyatakan protesku.


Chika tersipu, memegang tanganku lebih lama dari yang seharusnya saat memasang cincin, tetapi aku tidak merasakan apa pun. Dia bahkan melingkarkan tangannya dan menempelkan tubuhnya begitu dekat kepadaku saat mengambil foto bersama. Aku justru ingin pergi jauh darinya.


Aku tidak bisa mengatakan apa pun melihat Amarilis harus menyaksikan semua itu di depannya. Padahal dia baru saja memainkan lagu untukku bersama Matt, selanjutnya dia harus melihat aku bertunangan dengan perempuan lain yang sudah sangat jahat kepadanya.

__ADS_1


Ketika mengikuti konferensi pers, juru bicara yang menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh wartawan. Aku hanya diam. Lagi pula, apa yang bisa aku sampaikan? Aku saja terkejut statusku berubah pada malam ini. Hanya Chika dan orang tua kami yang tersenyum bahagia.


“Apa yang Om Winara tawarkan sampai Papa dan Mama menjual putra sendiri untuk jadi suami putri mereka?” tanyaku pada saat kami sarapan pagi.


“Theo, kami tidak menjual kamu,” protes Mama.


“Lalu apa namanya kalian merencanakan pertunangan tiba-tiba begitu?” tanyaku lagi.


“Kamu sudah tahu kalian akan kami jodohkan. Itu bukan tiba-tiba,” ucap Mama, membela diri.


Itu benar, tetapi aku berulang kali memberi tahu mereka lewat kata-kata maupun tindakan bahwa aku tidak menyetujui pilihan mereka itu. Mereka menghargai pendapatku saat mereka menjodohkan aku dengan Katelia. Aku bahkan boleh menyatakan tidak untuk melanjutkan ke jenjang pertunangan, jika aku menemukan alasan yang tepat. Lalu mengapa sikap mereka kali ini berbeda?


“Chika bukan gadis baik-baik, Ma. Kalau Mama mau memilihkan istri untukku, setidaknya pilih yang lebih baik dari Katelia atau yang seperti Mama. Jangan Chika.” Aku memberikan ponselku kepadanya.


“Apa ini?” tanya Mama sambil menerima gadgetku itu.


“Ketuk tombol PLAY, Mama akan mengerti,” kataku, memberi petunjuk.


Matt menyambarnya, penasaran dengan isi rekaman tersebut. Aku membiarkan dia menontonnya. Dia bereaksi lebih jujur dengan menarik napas terkejut hingga bersorak senang ketika orang yang dibelanya berhasil mengalahkan orang yang jahat kepadanya.


“Chika adalah teman baik Katelia selama kami sekolah di Medan. Mereka suka merundung orang yang lebih lemah, jelek, dan miskin dari mereka. Katelia selalu menyebut mereka sampah yang tidak pantas hidup mengotori dunia ini.” Aku melirik ponselku.


“Kami selalu berselisih paham karena gue tidak suka dengan cara mereka memperlakukan orang lain yang kurang beruntung. Maaf, gue tidak bisa terima perempuan seperti itu yang jadi istri gue.” Aku menatap mereka berdua dengan serius.


“Orang pasti berubah, Theo. Mereka membutuhkan waktu untuk membuktikan bahwa mereka bisa menjadi orang yang lebih baik. Kamu bersikap tidak adil jika kamu langsung memberi kesimpulan dari satu kejadian saja. Aku yakin Chika punya alasan melakukan itu terhadap Amarilis,” kata Mama.


“Benar, Nak,” kata Papa menambahkan. “Chika sangat baik dan sopan. Aku yakin dia sudah berubah. Beri dia kesempatan untuk membuktikan hal itu kepadamu. Kami sudah mengamati dia dan kami menyukai kesopanan dan kecerdasannya.”


Menyadari mereka sudah tidak waras lagi, maka aku diam. Rekaman itu tidak bisa membuka mata mereka. Chika jelas-jelas menyuruh dua pengawal yang bertubuh besar itu untuk menghajar Amarilis. Orang baik mana yang akan melakukan hal itu kepada orang yang lebih lemah? Itu keroyokan.


Namun orang tuaku tidak bisa melihat kejadian itu seperti aku menilainya, maka untuk apa aku berdebat dengan mereka? Hanya membuang-buang tenaga dan waktuku yang berharga. Lebih baik aku mengurus masalah lain yang lebih penting.

__ADS_1


Tidak seperti pada hari sebelumnya, aku menemukan Amarilis di taman tempat dia biasa mengamen. Aku tidak menemukannya sebelum perayaan ulang tahunku pasti karena dia berlatih dengan Matt. Aku sepertinya harus menarik kata-kataku, karena aku cemburu kepada adikku.


Aku berniat memasukkan ponsel ke saku celana ketika benda itu bergetar. Aku segera mengabaikan panggilan masuk dari Chika itu. Dua kali menelepon tidak direspons, dia mengirim pesan. Aku hanya membacanya lewat notifikasi yang muncul di atas layar.


“Makan siang bareng, yuk.”


Aku tidak tertarik bertemu dengannya apalagi makan bersamanya. Aku lebih memilih untuk makan dengan Amarilis dan menyelesaikan masalah di antara kami. Walau aku sudah memasang cincin pemberian Nenek di jarinya, aku belum merasa tenang.


“Kita makan sebelum pulang, ya?” tanyaku ketika dia sudah selesai mengamen. Dia mengangguk.


Karena dia pernah menyebut bakso, maka aku membawanya ke restoran yang menyediakan menu itu sebagai masakan utama mereka. Dia makan dengan lahap dan tidak menolak camilan yang aku pesan khusus untuknya. Karena aku sudah membeli banyak makanan pada saat makan siang, aku tidak memberikan bekal lagi untuknya.


Entah mengapa aku melakukannya, tetapi aku ingin sekali bisa berada di dekatnya beberapa menit lagi. Jadi, aku memeluk tubuhnya sebelum dia masuk ke rumah itu. Aku tersenyum lega merasakan dia membalas pelukanku. Untuk saat ini, pelukannya sudah cukup.


Aku tidak langsung pulang, melainkan menepi dan melihat rumah itu dari jauh. Aku tahu kamarnya ada di lantai dua di bagian tengah depan rumah. Jadi, aku bisa melihat dia memasuki kamar ketika lampunya dinyalakan. Bayangan tubuhnya mendekati jendela dan aku tidak bisa melihat apa pun begitu dia menutup tirai tebalnya.


Rumah sudah sepi saat aku tiba. Namun melihat ada bayangan di teras samping, aku memeriksanya. Ternyata ada Matt di sana sedang duduk sendiri. Melihat dia menatap layar tabletnya, dia pasti sedang memainkan salah satu gim daring kesukaannya.


“Akhirnya pulang juga lo,” katanya tanpa menoleh. Aku menutup pintu, lalu duduk di sisinya. “Chika datang dan mencari lo. Gue bilang saja lo kencan dengan pacar lo. Eh, dia marah sama gue. Padahal gue hanya bicara sembarangan.”


Seandainya saja dia tahu tebakannya itu tepat. Chika pasti langsung bisa menebak aku bersama Amarilis, karena itu dia marah. Hanya perempuan itu yang selalu aku dekati ketika aku sedang luang. Orang buta pun bisa menduga ada hubungan khusus antara aku dengan Amarilis.


“Lo sebaiknya menyusun rencana yang lebih baik. Gue enggak mau Chika yang jadi kakak ipar gue,” protes Matt. “Gila saja perempuan bermuka dua begitu masuk dalam keluarga kita.”


“Lo suka dia, ya?” ucapku dengan nada bosan.


“Amit-amit,” sumpahnya.


“Kalau begitu, jangan bahas dia lagi.”


Udara mulai dingin, kami pun masuk ke rumah. Aku menunggu Matt mengunci pintu dengan benar, barulah kami berjalan menuju lantai dua. Dia masuk ke kamarnya lebih dahulu, sedangkan kamarku ada di ujung koridor. Lokasi paling tenang di lantai ini.

__ADS_1


Aku mengeluarkan ponsel dari saku jaket, begitu juga dengan dompet, dan …. Apa ini? Ada sesuatu di saku yang semula tidak berisi apa pun. Aku curiga begitu merasakan bentuk benda itu lewat jariku. Aku mengeluarkannya dan merapatkan bibirku melihat dugaanku benar.


__ADS_2