
“Ada yang tertinggal di rumah?” tanya Theo.
“Bukan.” Aku memegang kenop pintu. “Kita sebaiknya ke tempat lain. A-aku tidak mau ada di sini.”
“Apa maksud lo? Ada apa dengan tempat ini?” Dia meletakkan kedua tangannya di pinggangnya. Aku tidak bisa menjawab, hanya menggelengkan kepala. “Sayang? Apa lo … baik. Kita pindah ke tempat lain, ya. Masuklah. Kita pergi dari sini.”
Aku memasuki mobil, lalu dia menutup pintunya kembali. Dia tidak menanyakan apa pun, jadi aku juga tidak bicara. Mungkin dia tidak mau pengawal kami mendengarkan percakapan pribadi kami. Aku tenang melihat tempat yang dia pilih selanjutnya.
Kami ke bioskop. Dia mempersilakan aku untuk memilih film apa pun yang aku mau, lalu kami mampir ke sebuah kafe. Menunggu jam film dimulai, kami menikmati kue dan minuman hangat. Dia hanya diam menatap aku, tidak memeriksa ponsel atau tabletnya seperti biasanya.
“Mengapa kamu hanya diam? Sampaikan saja kalau ada yang mau kamu tanyakan,” kataku, memulai percakapan setelah dia masih diam memandang aku.
“Gue enggak perlu bertanya. Gue tahu lo trauma.” Dia menatap aku dengan serius. Aku mengangguk. “Karena itu juga, lo belum berani berenang.” Aku kembali mengangguk.
Dia memegang tanganku tanpa mengatakan apa pun lagi. Aku bisa melihat dia sedang memikirkan sesuatu dengan serius. Luar biasa. Baru beberapa minggu menikah, aku bisa mengetahui emosi yang dia rasakan. Padahal dia tidak menunjukkan apa pun lewat ekspresi wajahnya. Beginikah rasanya setelah menikah?
“Apa lo butuh bantuan psikolog?” tanyanya, berhati-hati. “Bicara dengan ahlinya mungkin akan membantu lo untuk lepas dari kejadian yang menakutkan itu.”
Aku meletakkan tanganku yang bebas ke atas tangannya. “Aku hanya butuh waktu. Tiba-tiba jadi orang lain itu bukan pengalaman yang menyenangkan. Tinggal dalam tubuh yang bukan milikku dari aku lahir juga bukan hal yang nyaman.
“Semuanya berawal dari danau itu. Aku masih bisa mandi, tetapi berendam dalam bak pun aku tidak berani. Jika aku berenang, bagaimana andai jiwaku keluar dari tubuh ini? Yang paling menakutkan, aku tidak mau menjadi penyebab orang lain màtî sia-sia lagi.”
“Kita sudah sepakat tidak akan bicara tentang kêmàtian,” potongnya.
“Apa kamu tidak pernah memikirkan keajaiban ini sekali pun?” Kami sedang membahasnya, maka aku tidak menahan diri lagi untuk mendiskusikannya. “Aku kadang-kadang khawatir hal yang sama akan terulang. Bagaimana bila aku bertukar tubuh lagi dengan orang lain?
__ADS_1
“Aku tidak tahu bagaimana hal yang pertama bisa terjadi antara aku dan Amarilis. Mungkinkah aku akan mengalaminya lagi jika berenang atau tercebur ke air dengan orang lain? Aku bisa gila kalau harus mengulang segalanya dari awal lagi.” Tubuhku bergidik.
“Itu tidak akan terjadi. Orang yang bertukar badan dengan lo sudah tidak ada. Gue yakin jalan keluar satu-satunya bagi jiwa lo hanya kembali ke tubuh asalnya. Itu sudah tidak mungkin lagi. Lo berpikir terlalu jauh. Kalau jiwa bisa sesukanya berpindah tubuh, dunia ini bisa kacau.”
Dia benar. Aku berenang sejak masih kecil tidak pernah mengalami kejadian aneh ini. Justru saat aku dalam keadaan tidak siap dan ikut tercebur ke danau, aku bertukar tubuh dengan Amarilis. Ini bukan peristiwa alam sehari-hari. Bisa jadi itu hanya satu kali seumur hidup.
Namun aku tidak bisa memungkiri, melihat danau dan pantai adalah hal yang menakutkan bagiku. Aku belum siap untuk berada di tempat di mana semua ini bermula. Memikirkannya saja sudah membuat badanku gemetar, apalagi dengan berada di sana.
“Kalau lo tahu caranya bertukar tubuh, beri tahu gue.” Dia menatap aku dengan serius.
“Untuk apa? Kamu ini jangan bicara sembarangan.” Aku menarik tanganku dari genggamannya.
Dia menahan sehingga aku tidak bisa lepas darinya. “Karena kalau bisa, gue mau gue saja yang alami semua yang lo jalani selama hàmil.”
Aku tidak akan percaya dengan ucapannya itu seandainya saja aku tidak mendengarnya sendiri. Pria arogan yang menjengkelkan ini ternyata bisa bicara manis juga. Dia selalu bersikap tenang, nyaris tanpa emosi. Ternyata dia diam-diam mengkhawatirkan keadaanku.
Walau aku sedikit takut dan khawatir, ada Theo yang selalu sigap. Dia tidak membiarkan aku sendiri menjalani semua hal. Mual di pagi hari, rasa selalu lapar, mudah lelah, bahkan emosiku yang sering berubah drastis, aku hadapi bersamanya.
Karena kondisiku itu, maka aku memilih film laga. Jadi, aku tidak akan mengantuk sepanjang film diputar. Lagi pula, hanya film genre ini yang kelihatannya menarik. Pilihan lain tidak menggugah rasa ingin tahuku. Melihat padatnya studio, aku tahu semua orang juga punya pendapat yang sama.
“Filmnya seru sekali! Aku suka!” seruku senang. Kami berjalan bersama penonton lainnya keluar dari studio. “Kamu lihat cara pemeran perempuannya beraksi? Keren! Aku juga bisa begitu.”
“Tidak. Lo tidak boleh berkelahi dengan siapa pun. Biar itu urusan mereka,” katanya dengan serius. “Apa yang lo lakukan kepada Venny itu tidak baik untuk reputasi lo. Setidaknya, pilihlah tempat yang tidak memiliki CCTV. Apa lo lupa lo masih terkenal di media sosial?”
“Kalau aku bêrpèlukan dengan seorang cowok—” balasku.
__ADS_1
Dia meletakkan telunjuknya di depan bibirku. “Jangan uji kesabaran gue.”
“Tuh, kamu saja marah. Masa aku tidak?” Aku memeluk pinggangnya saat dia merangkul bahuku. “Kita pergi ke mana lagi? Makan dahulu, ya. Aku lapar.”
Seseorang yang baru masuk bioskop menarik perhatianku. Dia memakai kacamata baca, menaikkan leher jaketnya, dan topi. Aneh. Mengapa dia memakai penutup kepala di dalam gedung? Perempuan di sebelahnya juga berpenampilan misterius yang justru membuat orang curiga.
Yang menarik perhatianku adalah gerak-geriknya cukup akrab bagiku. Tinggi badannya, posturnya, ah, iya! “M—” Aku memanggilnya sekuat tenaga, tetapi sebuah tangan membekap mulutku.
“Lo ini enggak lihat sinyal dengan baik, ya? Mereka sudah menyamarkan identitas, lo malah mau teriak memanggil namanya,” ucap Theo.
Aku menjauhkan tangannya dariku. “Mana aku tahu. Aku pikir dia berpakaian begitu karena mau tampil keren.” Aku mengikuti mereka yang berjalan menuju konter tiket dengan mataku.
“Biarkan saja. Katanya mau makan.” Dia menutup mataku dengan tangannya dan menuntun aku ke arah pintu keluar. Menjengkelkan sekali.
Repot juga berpacaran diam-diam begitu. Jadi ingat dengan pengalaman kami berdua dahulu. Namun aku tidak sampai menyamar segala. Toh, orang tidak akan percaya kami berpacaran. Sampai Theo menggandeng tanganku di koridor kampus. Rasanya peristiwa itu baru saja terjadi kemarin.
Konflik yang sempat menegangkan antara Gordon dan Willis pun dapat diselesaikan dengan baik. Aku ikut bahagia membaca beritanya di berbagai media luar negeri pada hari Minggu itu. Aku tidak bisa bayangkan nasib sahabatku andai perang antar dua keluarga itu benar-benar pecah.
Pelakunya ternyata pelayan setia mereka. Dia ragu-ragu untuk menyebarkan video itu terlihat dari lamanya waktu yang dia butuhkan dari hari kejadian. Dia ingin memberi kesempatan kepada Clara untuk berubah. Ternyata majikannya itu berulah lagi dengan menyakiti dia, maka dia membalas.
Karena polisi sudah terlibat, papanya tidak bisa berbuat apa-apa. Clara dimasukkan ke tahanan. Hillary dan Gordon pasti senang mereka tidak sendirian menanggung kesalahan akibat hasutannya. Dari semua masalahku selama di sana, hanya Nora yang tidak memperpanjang masalah. Semoga saja dia menjalani hidupnya dengan baik. Sayang sekali, persahabatan kami harus berakhir sangat cepat.
Walau tidak berteman dengan Chika di media sosial, tetapi teman kami yang sama mengomentari postingannya. Maka fotonya saat berbulan madu mewarnai berandaku juga. Lumayan banyak yang memberi komentar. Hm. Benar juga. Mengapa aku tidak memikirkan hal ini sebelumnya?
“Sayaanngg …!” Aku keluar dari kamar, mencari suamiku. “Theo, kamu di mana?”
__ADS_1
Dia tadi bersamaku di kamar, tetapi pamit keluar untuk mengambil kudapan. Sudah hampir satu jam dia tidak kembali juga. Bukankah pelayan sudah tahu kapan saja waktunya menyiapkan makanan utama dan camilan? Pipiku memanas. Ah, masa iya dia membuatkan kue untukku.
Tidak ada sahutan, maka aku menuruni tangga. Merasakan ponsel di tangan bergetar, aku melirik layarnya. Pada saat itulah aku tidak memperhatikan langkahku. Hanya tumitku yang menginjak anak tangga berikutnya sehingga saat aku menumpukan berat tubuhku sepenuhnya pada kaki tersebut, aku kehilangan keseimbangan.