Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
6|Pantang Menyerah


__ADS_3

“Apa maksud Mama dengan kesepakatan?” tanyaku tidak mengerti.


Aku tidak peduli mereka akan curiga kepadaku atau tidak. Amarilis terkenal bodoh, jadi aku tahu dia terbiasa melupakan banyak hal. Mamanya tidak akan heran dengan pertanyaan itu. Lagi pula, aku perlu tahu perjanjian apa yang dia maksudkan agar bisa menentukan langkah berikutnya.


“Kami hanya sanggup menyekolahkan kamu sampai SMU. Kamu bisa sekolah di sana juga karena bantuan orang lain,” kata mama Amarilis. Bantuan orang lain? “Apa kamu pikir kami mau membuang uang untuk membiayai kuliah kamu yang ujung-ujungnya hanya jadi ibu rumah tangga?”


Mereka hidup di zaman apa? Perempuan zaman sekarang tidak lagi hanya memikirkan menikah dan punya anak. Aku punya banyak impian yang mau aku raih dan salah satunya bisa aku capai dengan kuliah. Setidaknya, mempelajari ilmu dasarnya. Kalau hanya lulusan SMU, siapa yang mau menerima aku menjadi karyawan mereka?


Aku sudah tidak bisa mengharapkan akan bekerja di perusahaan milik Papa. Jadi, satu-satunya jalan adalah dengan kuliah, lalu melamar untuk bekerja di perusahaan yang lebih baik. Mungkin dengan begitu, aku bisa menunjukkan kepada semua orang bahwa aku bukanlah Amarilis yang tidak berguna itu. Aku adalah Katelia yang bisa membuat hidup kami lebih baik.


Lalu sesuatu melintasi kepalaku. Bila alasan aku tidak kuliah karena mereka tidak mau membuang uang, bagaimana dengan Hercules?


“Dia laki-laki dan suatu hari nanti akan menjadi tulang punggung keluarga. Tentu saja dia harus kuliah dan bekerja di tempat yang bagus. Aku tidak mau dia jadi sama seperti papamu ini,” kata mama Amarilis dengan sengit.


“Itu namanya tidak adil, Ma. Masa dia boleh kuliah, sedangkan aku tidak?” protesku dengan keras.


“Aku sudah bilang, kamu kuliah untuk apa kalau cuma kerja di dapur dan mengurus anak? Aku saja bisa melakukan semua itu tanpa sekolah,” katanya, tidak mau dibantah. “Sudah, jangan bicara lagi. Habiskan makananmu, lalu tidur. Kamu harus bangun pagi untuk mengantar kue.”


Tidak mau menyerah, aku mengubah strategi. Aku yang akan membiayai kuliahku sendiri. Jika dahulu sulit bagiku untuk mendapatkan bantuan, maka seperti kata mama Amarilis tadi. Aku bisa dapat beasiswa dari kampus begitu lulus nanti.


Yang harus aku kerjakan sekarang adalah mengumpulkan uang sebanyak mungkin. Tidak apa-apa menunda kuliah pada tahun berikutnya. Aku sama sekali tidak punya uang untuk sekadar mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri sekarang.


Melihat ada beberapa orang yang mengambil fotoku pada saat mengamen, aku menyembunyikan wajah dengan rambut. Aku harus memikirkan sesuatu supaya wajahku tidak bisa terlihat dengan jelas. Kalau sampai ada teman sekolah atau keluarga Amarilis yang tahu, rencanaku bisa berantakan.


“Mengapa kamu memakai topi itu, Nak?” tanya ibu penjual lontong di tempat mengamen utamaku. “Ah, aku tahu. Kamu pasti mau membuat penampilan yang menjadi ciri khasmu, ‘kan?”


“Iya, Bu,” jawabku, membenarkannya. Padahal bukan itu alasan yang sebenarnya. “Siapa tahu aku jadi terkenal, ibu akan ikut tenar juga.”


“Amin, amin. Ya, sudah. Cepat, mainkan satu lagu untuk memberi kita semangat pada hari ini,” pintanya tidak sabar. Aku segera menurutinya.


“Haste to the Wedding” karya The Corrs menjadi pilihanku. Ibu itu bertepuk tangan mengiringi gesekan biolaku. Tidak lama kemudian, orang-orang yang lewat berhenti sejenak untuk membeli lontong sambil mendengarkan permainanku.

__ADS_1


Mereka berbaik hati memberikan uang atas penampilanku itu. Aku tidak mendapatkan sebanyak yang aku kumpulkan dari penampilan di taman, tetapi aku tidak peduli. Tempat ini adalah tempat pertama yang menerima aku mengamen, maka aku tidak akan menyia-nyiakannya.


Apalagi ada wanita yang baik hati yang menjadi temanku selama mencari sesuap nasi. Kami sudah santai saja ketika Satpol PP datang. Setelah kabur secepat mungkin, kami pun kembali lagi begitu mereka pergi. Itu menjadi kebiasaanku pada hari Senin sampai Jumat.


“Ibu berjualan di mana pada hari Sabtu?” tanyaku ingin tahu.


“Di dekat rumah. Orang-orang biasanya mencari sarapan karena tidak ke kantor. Jadi, daganganku sudah habis sebelum siang hari. Aku hanya berjualan di sini pada hari kerja,” jawabnya. “Bagaimana dengan kamu? Kamu pasti tidak berada di sini pada akhir pekan.”


“Iya, Bu. Saya ke taman dekat sini. Ada banyak orang yang olahraga pagi dan sore, jadi lumayan bisa dapat banyak penonton.”


“Orang tuamu ke mana? Kamu membantu mereka mencari uang setelah lulus SMU?” Dia menerima piring kosong dariku.


“Tidak, Bu. Saya mau kuliah. Ini cara saya mengumpulkan uang,” kataku dengan jujur.


“Waahh! Itu hebat sekali! Semoga kamu sukses, ya,” doanya dengan tulus. Mengapa mama Amarilis tidak bisa bersikap sebaik ini kepada putrinya sendiri?


Kegiatanku setiap hari pun masih sama. Aku mengantar kue ke sekolah, lalu membawa uangnya kepada mama Amarilis, mengamen di tempat biasa, dan pulang pada malam hari. Melihat ada anak SMU yang melewati tempat aku bekerja, aku memandang iri kepada mereka.


Mengingat rencanaku itu, maka walau badan lelah, aku menyempatkan diri untuk belajar sebelum tidur. Aku tidak mau otakku melupakan semua pelajaran yang telah aku dapatkan selama sekolah. Semua itu akan aku perlukan untuk menjawab ujian pada tahun berikutnya.


“Ini berkas asli kamu dan ini fotokopi yang sudah dilegalisir. Kalau kamu masih butuh legalisirnya lagi, datang saja. Kami akan bantu. Selamat atas kelulusanmu, ya,” ucap petugas yang melayani kami para siswa kelas tiga yang mengambil ijazah dan legalisirnya.


“Baik, Bu. Terima kasih.” Aku menatap berkas itu dengan penuh harapan. Setidaknya, dia lulus. Aku tidak peduli dengan nilainya yang ternyata benar, pas-pasan.


Aku mendapatkan peringkat kedua dari seluruh siswa kelas tiga di sekolah ini, tetapi aku tidak bisa mengambil hadiah yang ditujukan kepadaku itu. Musnah sudah semua kerja kerasku, semuanya hanya tinggal kenangan.


Aneh rasanya mendengar teman-teman sekelas menangis untukku pada saat upacara tadi, padahal aku masih hidup dan berdiri di antara mereka. Aku baru tahu banyak yang sayang dan kehilangan aku. Apa mereka tulus dengan tangisan itu atau hanya berpura-pura?


“Heh, pembunuh!” Terdengar teriakan dari arah belakangku. Aku menoleh dan bertemu pandang dengan Mama yang aku rindukan. “Apa kamu puas sekarang sudah mengambil hidup putriku!?”


“Ma, jangan lakukan ini,” kata kakak keduaku yang ternyata ikut menemaninya datang ke sekolahku. “Ada banyak orang yang melihat. Mama juga perlu menjaga kesehatan.”

__ADS_1


“Aku tidak peduli dengan orang yang melihat. Mereka semua sudah tahu ada pembunuh di antara mereka, tetapi dibiarkan saja berkeliaran bebas. Biar mereka semua berhati-hati saat ada di dekat pembunuh ini. Pembunuh putri kesayanganku!” pekik Mama dengan mata memerah.


“Aku—” Jika Mama tahu bahwa aku adalah Katelia, mungkin dia tidak akan berduka lagi. Namun melihat gelengan kepala Kakak, aku mengurung niatku itu.


“Aku, aku apa? Kamu mau berkelit? Semua orang ini menyaksikan sendiri kamu menarik dia ikut jatuh ke danau! Pembunuh! Hanya karena kamu juga tercebur, polisi tidak mau menahan kamu! Tetapi aku tidak akan tinggal diam. Kamu pasti akan mendapatkan balasannya!”


Chika dan kedua temannya tersenyum sinis di belakang Mama, puas melihat aku menjadi limpahan amarahnya. Siswa dan petugas administrasi sekolah mengarahkan pandangan mereka kepadaku. Kakak melarang, jadi aku tidak bisa mengatakan apa pun.


“Mau ke mana kamu? Aku belum selesai bicara! Hei, berhenti!” teriak Mama saat aku meninggalkan ruangan itu. Kakak masih memegang tubuhnya, jadi dia tidak bisa menahan kepergianku.


Aku harus hidup menderita menjadi orang asing, lalu disalahkan atas perbuatan orang lain, apa lagi yang akan aku alami selama hidup dalam tubuh ini? Amarilis sudah mati, dan aku tidak mungkin bisa mendapatkan badanku lagi. Yang bisa aku andalkan hanya otak dan keahlian yang aku miliki untuk bertahan hidup ke depan.


Namun bagaimana aku bisa hidup damai? Mama tadi bilang aku akan mendapat balasannya. Aku ada dalam bahaya kalau perbuatan Amarilis yang menarik aku ikut jatuh ke danau itu tersebar. Bisa-bisa aku tidak akan dapat pekerjaan nanti. Perusahaan mana yang mau menerima pembunuh?


“Hei, Nak. Hei.” Seseorang menepuk bahuku, membuyarkan lamunanku. “Bapak ini sedang bicara dengan kamu, tetapi kamu diam saja.”


Aku melihat antara bapak penjual sarapan itu dengan pria yang berdiri di depanku. “Oh. Maafkan saya. Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanyaku dengan sopan.


“Permainan kamu sangat bagus. Apa kamu mau bermain di restoranku?” tanya pria yang memakai baju olahraga itu. Aku mengerutkan kening tidak mengerti. “Usahaku buka pada pukul sebelas siang sampai sebelas malam. Ini alamatnya. Datanglah siang ini atau besok, kita bisa bicarakan tentang bayaran. Pelangganku pasti sangat terhibur dengan penampilanmu.”


Aku baru saja mengasihani diri dan keajaiban datang lagi. Penglihatanku mengabur, karena air mata menggenang di pelupuk mataku. Aku tidak perlu lagi lari dari kejaran Satpol PP atau berebut tempat. Ada orang yang baik hati memberikan tempat khusus untukku.


Tidak mau membuang waktu, aku datang siang itu juga. Pria itu menerima aku dengan ramah di ruang kerjanya. Dia meminta aku tampil pada makan siang dan makan malam sampai tutup. Selama jeda makan siang ke makan malam, aku dipersilakan melakukan apa yang aku mau. Tentu saja aku menerima tawaran itu.


Bayaran yang dia tawarkan tidak besar, tetapi dia menjanjikan bonus jika permainanku bagus dan banyak tamu yang suka. Itu memberi semangat kepadaku. Jika aku bisa dapat uang setiap hari, maka uangku akan cukup untuk ikut seleksi masuk jadi mahasiswa dan uang kuliah semester pertama.


“Hei, Gendut,” kata orang yang berdiri di depanku.


Aku baru selesai tampil di restoran dan berniat untuk pulang. Badanku lelah setelah seharian bekerja, jadi aku berjalan sejenak sebelum mengayuh sepeda. Mendengar panggilan itu, aku mengangkat kepala dan melihat ada tiga pria menghalangi jalanku.


“Bagaimana? Apa laki-laki kaya itu memberi kamu banyak uang?”

__ADS_1


__ADS_2