
~Amarilis~
Aku tidak percaya dengan apa yang terjadi di hadapanku. Kedua ibuku dan mama Theo bertengkar mengenai nama anak pertama kami. Sudah tiga malam berturut-turut sejak hari ulang tahunku, kado demi kado diberikan kepadaku. Kejutan makan malam, pembalasan terhadap Rahma, Chika, dan Nisa, lalu pulihnya hubungan Theo dan aku dengan mamanya.
Semuanya terjadi lebih cepat dari dugaanku. Padahal aku masih punya kejutan untuk Chika, tetapi sudah tidak perlu. Dia pasti malu dengan reputasi hotel keluarganya saat ini. Polisi pun turun tangan memeriksa situasi hotel mereka, memastikan sudah benar-benar bersih dari praktik pêlàcuran. Mereka akan butuh waktu bertahun-tahun untuk memulihkan reputasi hotel mereka lagi.
Nisa menjadi urusan Edrick yang menuntut pêrzînaan yang sudah dia lakukan, bukan dengan satu, tetapi banyak laki-laki. CCTV rumah itu disita polisi sebelum mereka sempat menghancurkan bukti. Kabar baik untukku, Bastian ditemukan dalam satu rekaman sedang bêrsètubuh dengan seorang perempuan yang bukan istrinya. Hancur sudah reputasi dan kariernya.
Berita mengenai kasus pêrzînaan yang ditimpakan kepadaku tidak menjadi perhatian media lagi. Tanpa harus membayar atau mengancam, mereka menurunkan berita itu dengan sendirinya. Para petugas kepolisian yang sudah bersikap semena-mena juga meminta maaf lewat konferensi pers mengenai perlakuan tidak adil mereka terhadap aku.
Chika masih selamat. Tidak ada yang menyebut nama orang yang sudah melaporkan aku ke pihak yang berwajib. Aku sudah banyak belajar dari pengalaman. Hanya masalah waktu sampai orang akhirnya tahu, dia dan Nisa pelakunya. Aku hanya perlu bersabar dan menyiapkan camilan agar siap menonton pertunjukan yang mengasyikkan nanti.
“Aku benar-benar tidak percaya. Bastian sudah mengamati aku sejak lama. Dia tahu aku akan datang menolong ketika dia dalam kesulitan. Luar biasa.” Kak Jericho menggeleng pelan. “Rencananya rapi sampai aku tidak curiga sama sekali. Ternyata dia mengincar aku agar bisa dekat denganmu.”
Theo baru saja pergi ke kantor setelah kami menjemput Antonio, Buddy, dan Meghan di bandara. Bunda dan Mama yang menemani mereka menjelajahi pekarangan belakang, sedangkan aku dan Kakak mengobrol sejenak di teras samping. Karena bosku bersantai, ya, aku ikut istirahat.
“Aku juga tertipu dengan ketulusannya. Kakak tidak sendiri. Sepertinya kita harus belajar sinis seperti Theo dan berhenti menjadi orang yang naif.” Aku mengangguk pelan.
“Dia gila, tetapi aku setuju denganmu. Berhati-hati seperti Theo lebih baik daripada punya banyak teman, tetapi mènikam dari belakang.” Kakak melirik jam tangannya. “Aku harus menghadiri rapat. Kamu mau ikut? Temanmu pasti akan beristirahat karena masih jet lag.”
Karena Kakak yang mengajak, maka aku tidak perlu meminta izin Theo. Aku mengambil tasku di kamar dan pamit kepada mereka, lalu masuk mobil Kakak. Kami tidak mengobrol dalam perjalanan, karena aku sibuk menjawab panggilan masuk dan membalas pesan.
Asistennya sudah menunggu di lokasi, jadi aku bisa menjaga jarak dari mereka. Aku mengambil minuman dan camilan, lalu duduk di kursi yang ada di sudut. Mereka berdiskusi sambil menikmati kudapan sore, sedangkan aku menjawab telepon sesenyap mungkin.
__ADS_1
Usai rapat, mereka melanjutkan dengan makan malam di sebuah restoran. Manajer perusahaan yang memilih Kakak menjadi model iklan mereka mentraktir makan. Kakak memaksa aku untuk ikut, maka aku menonaktifkan semua gadgetnya dan keluar dari ruangan bersamanya dan Gino. Kedua ibuku tidak akan keberatan aku tidak bersama mereka malam ini.
Keluar dari elevator, kami berjalan menuju lobi. Menyadari ada gerakan dari sebelah kanan kami, aku menoleh. Rahma berjalan mendekat dengan pandangan tertuju kepada Kakak. Dia merangkul bahuku dan mengajak aku tetap melangkah menuju pintu keluar.
“Kak Jericho,” panggil Rahma, mengikuti kami. “Kak, aku mohon. Dengarkan aku sebentar.” Dia menyejajarkan langkahnya di samping Kakak.
“Ibuku tidak pernah main-main dengan ancamannya Rahma. Sebaiknya kamu menjauh dari kami sebelum hal buruk menimpa kamu atau keluargamu,” ucap Kakak, mengingatkan.
“Aku mencintai Kakak sejak lama. Aku hanya meminta kesempatan. Kalau Kakak memberikannya, aku tidak akan mengancam atau melakukan hal yang jahat. Satu kesempatan saja, Kak. Jika Kakak sampai akhirnya tidak juga punya perasaan apa pun kepadaku, aku tidak akan datang lagi.”
Kakak menghindar ketika Rahma berniat meraih tangannya. “Aku melihat dengan mataku sendiri kamu menyakiti Amarilis, apa kamu pikir aku akan jatuh cinta kepadamu? Sudah cukup. Pergilah.”
“Bagaimana aku bisa pergi? Aku tidak bisa mengeluarkan Kakak dari kepalaku. Katakan, apa yang harus aku lakukan agar Kakak mau beri aku kesempatan?” mohonnya sambil berdiri di depan kami, menghalangi langkah kami.
“Semakin kamu melakukan ini, aku semakin yakin tidak memberi kamu kesempatan, Rahma.” Kakak menatapnya dengan serius. “Kamu tidak bisa mengubah masa lalumu, begitu juga semua yang kamu lakukan sekarang tidak bisa mengubah keputusanku.”
Rahma merapatkan bibirnya. Matanya berkaca-kaca, menahan tangis. “Kalau Kakak tidak mau beri aku satu kesempatan, maka aku akan melompat dari atap gedung ini. Jadi, pikirkan baik-baik langkah Kakak selanjutnya. Kakak pasti tidak mau karier Kakak hancur seketika, ‘kan?”
Aku menatapnya tidak percaya. Semula aku pikir dia akan berubah dan berhenti memaksa. Tidak aku sangka dia malah menggunakan ancaman lain untuk menggoyahkan keputusan Kakak. Rasa kasihan yang sempat muncul di dadaku pun musnah. Dia tidak tertolong lagi.
“Lompatlah,” kata Kakak tanpa emosi. “Dengan begitu, kamu tidak akan mengganggu aku lagi.”
Rahma menarik napas terkejut. Air mata jatuh setetes demi setetes di pipinya. Tiba-tiba saja dia berlutut di depan Kakak. “Aku tidak bisa hidup tanpamu, Kak. Aku bahagia kita bisa bersama walau sebentar. Aku mohon. Aku sangat mencintai Kakak. Aku mohon, beri aku kesempatan terakhir.”
__ADS_1
Tanpa menunggu lagi, Kakak menggandeng tanganku, mengajak aku menjauhinya. Rahma menutup wajah dengan kedua tangannya dan menangis tersedu-sedu di tempat. Aneh sekali. Aku seharusnya senang melihat dia akhirnya merasakan sakit lebih dari yang aku rasakan.
Namun mataku memanas dan air mata jatuh membasahi wajahku melihat dia patah hati. Dendamku sudah terbalaskan, tetapi aku tidak merasa puas atau bahagia seperti yang aku duga. Aku malah ikut sedih melihat dia kehilangan kesempatan bersama orang yang dia cintai.
“Tidak usah dipikirkan. Itu pengaruh hormon,” hibur Theo. Kami bersiap untuk tidur dan dia sedang membantu menyisir rambut panjangku. “Yang penting, Rahma dan Nisa sudah keluar dari daftar.”
“Lalu Chika?” tanyaku heran. “Apa kamu masih punya rencana lagi untuknya?”
“Gue yakin dia belum puas karena lo lolos dari tuntutan.” Dia meletakkan sisir di konter. “Jangan khawatir. Daisy dan rekannya akan menjaga lo sebaik mungkin. Jadi, tetap di dekat mereka dan jauhi tempat yang terlalu ramai. Istirahat kalau lo kelelahan.”
Aku memahami kekhawatirannya. Kami akan pergi menemani Antonio berlibur. Dia tidak bisa ikut, karena pekerjaan. Lagi pula, ada dua ibu dan seorang ibu mertua yang bersama aku menikmati hari bersantai kami. Terbiasa dengan gunung dan daratan, Antonio dan Meghan lebih memilih pantai.
Kami menginap di hotel yang dekat dengan pantai. Semua olahraga air menjadi pilihan utama mereka. Aku tidak ikut bersama mereka saat naik kapal, berenang pun tidak. Syukurlah, tidak ada yang curiga aku punya ketakutan terhadap air. Mereka berpikir aku hanya takut dengan bakteri yang bisa saja membahayakan kehamilanku.
Ibu mertuaku sangat menjaga aku selama kami berlibur bersama. Dia mengingatkan aku untuk makan, cukup minum dan istirahat, juga tidur bersamaku di kamar yang sama. Meghan terpaksa mengalah dengan tidur sendirian di kamarnya.
“Aku masih tidak percaya aku sudah sangat jahat kepadamu,” ucapnya setelah aku memadamkan lampu di sisiku. Kami berbaring di ranjang kami masing-masing.
“Lupakan, Ma. Aku senang Mama sudah menerima aku. Itu cukup,” kataku, menghiburnya.
“Temanmu sedang ada di sini. Ayo, kita lakukan hal itu sekarang,” ujar Mama dengan antusias.
Aku menoleh ke arahnya dengan bingung. “Lakukan hal itu? Hal itu apa, Ma?”
__ADS_1