
“Theo!!! Apa yang kamu lakukan!?” teriakku sekuat tenaga. “Lepaskan aku!! Cepat, lepaskan aku!!”
Pintu terbuka, tetapi bukan pria menjengkelkan itu yang datang. Seorang pelayan mendekati aku dengan wajah panik. “Tuan sudah pergi, Nyonya. Apa Anda mau sarapan sekarang?”
“Dia sudah pergi!? Theo!! Lihat saja! Riwayatmu tamat hari ini!” jeritku kesal.
Mengapa dia membungkus aku menggunakan selimut tebal, lalu mengikatnya dengan syal lagi? Apa yang sedang dia pikirkan dengan melakukan hal yang sama seperti saat kami di Amerika? Aku tidak melakukan kesalahan apa pun! Dia boleh makan malam dengan koleganya, mengapa aku tidak bisa makan dengan sahabatku?
Melihat pelayan itu hanya berdiri diam di dekat tempat tidur, emosiku semakin menjadi. “Apa yang kamu lakukan? Cepat, lepaskan aku!”
“Maaf, Nyonya. Tuan bilang, kami tidak boleh melepaskan ikatan itu.” Dia menundukkan kepalanya.
“Apa maksudmu? Aku mau ke kamar mandi, bagaimana caranya kalau diikat begini?” Aku mêmbèrontak, mencoba untuk lepas dari selimut itu.
“Kata Tuan, tetap tidak boleh, Nyonya,” jawabnya lagi. Kalau dia sudah bilang begitu, aku tidak akan bisa membujuk wanita ini.
“Pergi,” kataku, memberi perintah.
“Ng, tetapi Anda belum sarapan, Nyonya.” Dia menoleh ke arah temannya yang berdiri di dekat pintu. Aku baru menyadari ada orang lain di kamar bersama kami. Wanita itu membawa baki yang pasti berisi makanan untukku.
“Pergi dan jangan datang datang sampai suamiku sendiri yang masuk ke kamar ini.” Aku menahan suaraku. Mereka tidak bersalah, jadi aku tidak boleh menaikkan suaraku ketika bicara dengan mereka.
“Ba-baik, Nyonya.” Dia menoleh ke arah temannya, lalu kepadaku dengan ragu. Namun mereka akhirnya pergi dan menutup pintu dengan hati-hati.
Aku menghitung di kepalaku sampai emosiku turun. Ada bayi dalam tubuhku, jadi aku tidak boleh marah berlebihan. Seluruh tubuhku terkurung begini, entah bagaimana aku akan makan dan minum. Yang paling memusingkan, bagaimana aku akan buang air?
Theo akan pulang sore, apa aku akan dibiarkan begini sampai dia pulang? Oh, Tuhan. Sejak aku hamil, aku buang air lebih sering dari biasanya. Tidak makan dan minum selama satu hari, bukan masalah. Yang satu itu tidak mungkin aku tahan seharian. Mana aku belum ke toilet sama sekali.
Biar saja. Biar saja selimut ini aku kotori dan kamar ini bau pêsing dan kötôran. Aku tidak peduli. Dia mau mengikat aku sampai lewat trimester pertama, oke. Kita lihat saja siapa yang menang. Aku tidak akan kalah dengannya.
“Apa-apaan ini!?” Pintu tiba-tiba dibuka dan aku mendengar suara Kak Jericho.
“Kakak!?” ucapku tidak percaya.
“Apa yang Theo pikirkan dengan melakukan ini kepadamu!?” serunya kesal. Dia segera melepas syal, lalu membuka selimut itu sehingga tubuhku bebas. “Apa kamu sudah ke kamar mandi?”
__ADS_1
“Belum.” Aku berusaha untuk duduk, tetapi kepalaku pusing.
“Ayo, aku bantu.” Dia meletakkan tangannya di punggung dan belakang lututku, lalu membopong aku ke kamar mandi. Kakiku kebas, jadi dia harus menolong aku untuk duduk.
“Tidak apa-apa, Kak. Aku bisa sendiri.” Aku mengusir dia keluar. Aku melotot melihat dia ragu-ragu.
Aku menunggu sampai dia menutup pintu, lalu melakukan semua urusan pagiku. Perutku lapar, jadi aku menunda mandi untuk mengisi perut. Untung saja sarapan untukku sudah tersedia di atas meja. Aku makan secepat yang aku bisa sambil memikirkan kalimat apa yang akan ucapkan kepada Theo.
Setelah mandi dan berganti pakaian, aku menemui Kakak di lantai dasar. Dia menunggu di ruang duduk dengan seseorang yang tidak aku kenal. Ternyata pria itu adalah kuasa hukumnya. Syukurlah, ada hal penting yang bisa membuat aku lupa sejenak dengan masalahku.
Kakak mempersilakan aku untuk membaca kontrak kerjaku. Aku diizinkan menanyakan apa saja yang kurang jelas kepada pengacaranya. Isinya persis seperti yang kami bahas pada hari sebelumnya. Aku tidak perlu menanyakan apa pun karena setiap poin sangat detail.
Aku membubuhi tanda tangan terlebih dahulu, kemudian Kakak, dan pengacaranya memberi cap. Kami memegang masing-masing kopi untuk kami simpan. Pria itu pergi dahulu, asisten Kakak masuk dan meletakkan sebuah ponsel serta tablet di atas meja.
“Ini adalah alat yang akan kamu butuhkan untuk bekerja. Pakai senyaman kamu. Keduanya memakai nomor yang berbeda. Bila kamu lebih nyaman menggunakan laptop, aku bisa menyediakannya nanti. Kalau ada hal yang lain yang kamu butuhkan, katakan saja.”
“Tidak, Kak. Ini sudah cukup. Aku punya laptop yang kondisinya masih bagus, jadi aku tidak butuh yang baru.” Aku membuka layar ponsel dan melihat-lihat aplikasi yang tersedia.
“Oke. Jangan lupa, aktifkan nomorku hanya pada jam kerjamu. Kalau ada yang menghubungi kamu saat jam kerjamu nyaris usai, minta mereka menelepon pada hari kerja berikutnya. Gunakan internet hanya untuk bekerja, bukan menonton video. Kamu mengerti?” Dia menatap aku dengan serius.
“Kamu mau ke mana?” tanya Kakak heran.
“Ke mana lagi? Menyelesaikan urusanku dengan suamiku.” Aku berdiri. “Jangan khawatir. Semua telepon yang masuk pasti aku jawab dan setiap pesan akan aku balas.”
“Aku sudah memarahinya tadi. Kamu bisa bicara dengannya setelah dia pulang kerja. Tidak ada gunanya kamu datang ke kantornya sekarang. Dia pasti sedang sibuk. Kamu tidak mau membuat keributan di depan karyawan mereka, ‘kan?”
“Dia sudah keterlaluan,” kataku dengan suara tertahan.
“Aku tahu.” Kakak berdiri. “Ikut aku saja. Hari ini kamu pasti bertemu Rahma.”
Kakak benar. Aku tidak mungkin bertengkar dengan Theo di kantornya. Ada Matt dan Om Azarya di sana. Belum lagi para karyawan yang bisa saja memotret atau merekam keributan di antara kami. Aku tidak mau menjatuhkan wibawa suamiku sendiri di depan bawahannya.
Ponsel Kakak tidak berhenti bergetar begitu kami ada di mobilnya. Aku menjawab panggilan demi panggilan yang meminta kesediaan Kakak untuk mengikuti pagelaran busana atau undangan untuk wawancara. Luar biasa. Ternyata Kakak lebih terkenal dari dugaanku.
Waktu tablet dan ponselnya bergetar pada saat yang bersamaan, aku terpaksa mematikan nomor kerjanya pada tablet itu. Aku tidak mungkin menjawab keduanya. Kami tiba di sebuah hotel, lalu berjalan menuju taman sampingnya yang sudah diubah menjadi lokasi syuting.
__ADS_1
Ah, pantas saja. Hotel ini milik paman Rahma. Tidak mengherankan jika dia muncul di sini. Apa dia tidak punya pekerjaan lain selain mengekori kakakku? Asistennya mengurus dia, maka aku menjauh agar bisa menerima telepon masuk di tempat yang lebih tenang.
“Hai, Kak Jericho!” sapa Rahma yang baru datang. Dia langsung duduk di kursi kosong di samping kakakku yang sedang dirias. “Aku senang bisa bertemu dengan Kakak di sini!”
Selama kami berteman, aku tidak pernah melihat dia tertarik kepada kakakku. Apa yang membuat dia berubah? Apa tanpa Kakak sadari, dia memberi harapan atau sinyal kepada wanita itu di masa sekolah atau kuliah? Lima tahun itu waktu yang lama untuk mengejar satu pria saja.
Panggilan masuk akhirnya berhenti, aku bisa santai sejenak. Aku mencari kursi kosong untuk duduk. Salah satu kru mendekat dan memberi tempat untukku. Aku berterima kasih, lalu memperhatikan interaksi Kakak dengan Rahma. Wanita itu benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangannya.
Ketika syuting dimulai, Kakak mengikuti arahan panitia. Barulah Rahma menyingkir dan menyapukan pandangannya hingga kami bertemu pandang. Dia mengerutkan kening, lalu matanya membulat, mengenali aku. Setelah keadaannya tenang, dia berjalan mendekat.
“Amarilis?” tanyanya tidak percaya.
“Tidak usah basa-basi. Aku tahu kamu sudah melihat foto terbaruku di media sosial.” Aku menonton Kak Jericho yang sedang syuting merek busana yang dipakainya.
“Perubahanmu sungguh drastis. Apa kamu operasi plastik di luar negeri?” Dia tertawa geli. “Jangan bilang semua yang aku lihat ini asli.”
“Andai kamu bisa membuktikan aku operasi plastik sekalipun, yang kamu lihat ini asli.” Aku menoleh kepadanya. “Biasanya yang menuduh yang melakukannya.” Aku mengamatinya baik-baik. Ada yang berubah pada bibir dan hidungmu. Apa kamu melakukan filler?”
“Jangan sembarangan bicara!” serunya. Orang di dekat kami menoleh dan meletakkan telunjuk di depan bibir mereka. “Ah, maafkan aku.” Rahma memelankan suaranya.
“Kalau kamu tertarik dengan kakakku, bukankah seharusnya kamu bersikap baik kepadaku?” Aku tersenyum manis kepadanya.
“Kamu sudah bukan adiknya. Tidak dapat restu darimu pun bukan masalah. Lihat saja, aku pasti akan menjadi istrinya.” Dia berdiri. “Maaf, aku bukan pengangguran. Ada banyak pekerjaan yang harus aku lakukan, tidak seperti kamu.”
Dia berjalan menuju hotel dengan penuh percaya diri. Boleh juga usahanya untuk mendekati Kakak. Dia rela merogoh kocek demi menyempurnakan penampilannya. Padahal wajah aslinya sudah cantik. Segala yang dia pakai dari kepala hingga kaki juga bermerek. Luar biasa.
Menjelang malam, aku berpisah dengan Kakak. Dia menuju kegiatan selanjutnya, sedangkan aku pulang. Namun aku berubah pikiran dan meminta sopir untuk membawa aku ke kantor Theo. Matt luang malam ini, jadi aku mengajaknya makan bersama.
Aku tidak peduli Theo ada di mana. Dia tidak memberi tahu akan pulang terlambat, bisa jadi dia sudah ada di rumah. Hanya dia yang bisa memantau aku. Sebaliknya, Daisy tidak mau mengatakan apa pun mengenai keberadaan bosnya itu. Menjengkelkan sekali.
Petugas keamanan mempersilakan aku masuk, membuat aku terkejut. Ah, mungkin Matt sudah memberi tahu mereka mengenai aku. Pegawai resepsionis memberikan kartu pengenal kepadaku, lalu menunjukkan di mana elevator khusus eksekutif berada.
Lokasinya mudah, jadi aku menolak untuk diantar. Lagi pula, mereka punya pekerjaan yang lebih penting dari sekadar menemani aku berjalan. Aku melihat belokan pertama yang dimaksud petugas tadi. Sepertinya elevator untuk karyawan dan khusus eksekutif saling membelakangi.
“Theo!” Terdengar suara seorang wanita saat aku akan berbelok. Aku mengangkat wajahku dan melihat seorang wanita bêrpèlukan dengan suamiku. “Gue kangen elo.” Tanganku mengepal melihat pemandangan itu.
__ADS_1