Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
66|Dia Saudaraku


__ADS_3

Dia bergantian melihat aku dan mal dengan tatapan dingin. Aku menelan ludah dengan berat. Malas sekali berurusan dengan pacar pencemburu ini. Semua laki-laki adalah pemuda lain selain adikku dan adiknya. Padahal Kak Jericho dan Kak Nolan itu kakak kandungku!


“Dia adalah kakakku,” kataku, membela diri.


“Dia adalah kakak Katelia, bukan kakak lo,” ralatnya dengan ketus. Mengapa dia selalu menyebut hal itu lagi, itu lagi. Apa dia pikir aku tidak tahu itu?


“Lagi pula, mengapa kamu bisa tahu aku ada di sini?” tanyaku penuh selidik. Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dada.


“Orang yang merasa bersalah, ya, begini, mengalihkan topik,” sindirnya. Dia membalas aku dengan meletakkan kedua tangannya di pinggulnya.


“Enak saja!” pekikku kesal. “Aku tidak mengalihkan pembicaraan!”


“Pagi-pagi sudah kabur untuk menemui mama gue, lalu lanjut bermesraan dengan selingkuhan lo. Sibuk juga, ya, akhir pekan lo. Enggak sekalian ketemu dengan calon mertua dari selingkuhan lo itu?” omelnya, melewati batas.


“Aku tidak selingkuh, Theo! Dia adalah kakakku, baik satu DNA atau tidak!” seruku dengan kesal.


Orang-orang yang berjalan menuju halte bus melihat ke arah kami. Mereka saling berbisik dengan temannya sambil menatap kami penuh selidik. Menyadari kami menjadi tontonan orang yang lewat, aku diam. Karena kesal, aku bicara dengan suara yang terlampau keras.


Theo memegang tanganku, lalu membawa aku menjauh dari tempat itu. Mobilnya diparkir tidak jauh dari halte tersebut. Dia membuka pintu depan, tetapi aku tidak mau masuk. Melihat dia menatap aku dengan tajam, aku mendesah keras dan menurut. Menjengkelkan sekali.


Makan siang dengan Kak Jericho salah. Bertemu dengan Kak Nolan juga tidak boleh. Masa aku tidak bisa lagi berteman dengan kakakku sendiri? Tidak peduli aku berada di tubuh siapa, jiwaku adalah Katelia. Kakakku sendiri tidak mungkin memandang aku lebih dari adik kandung mereka.


Entah mengapa dia tidak bisa memahami itu. Oke, dia hanya punya saudara laki-laki. Mungkin dia tidak mengerti perbedaan rasa sayang antara saudara kandung lawan jenis dengan orang asing yang saling jatuh cinta. Namun aku tahu bedanya dan kedua kakakku hanya menyayangi aku sebagai adik.


“Kamu belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana kamu tahu aku ada di sini?” tukasku.


“Setelah bertemu mereka beberapa kali, lo masih perlu bertanya?” ucapnya, tidak menjawab aku secara langsung.


“Bertemu mereka beberapa kali?” ulangku. Apakah yang dia maksud itu adalah— “Dua pria yang menolong aku itu adalah suruhanmu?”


“Juga perempuan itu,” tambahnya. Perempuan yang dia maksud pasti yang menyamar sebagai mahasiswa yang sering aku dan Matt lihat secara tidak sengaja.


“Mengapa kamu membuang uang untuk membayar tiga orang hanya untuk mengawasi aku?? Aku bisa melindungi diriku sendiri,” protesku.


“Gue melindungi ketiga orang itu. Lo terluka dan dirawat di rumah sakit justru bonus yang gue harapkan. Papa dan Mama tidak akan bisa membela Chika lagi. Kalau mereka yang terluka, uang gue habis banyak untuk biaya perawatan dan pemulihannya.”


Aku bengong mendengar jawabannya itu. Aku terluka sampai dirawat di rumah sakit adalah bonus? Apa dia pikir aku ini hanya alat, bukan manusia yang punya perasaan? Isi kepalanya apa, sih, sampai cara berpikirnya di luar kebiasaan manusia normal?


“Tepikan mobilnya,” kataku dengan kesal. Aku tidak akan kuat menahan diri lama-lama dari emosiku ini. Jadi, sebelum aku meledak, aku harus menjauh dari sumbernya.

__ADS_1


“Kita belum sampai,” balasnya.


“Tepikan mobilnya sekarang!!” perintahku.


“Teriak saja terus, gue enggak peduli.”


Aku menarik kenop, tetapi pintunya tidak bisa dibuka. Menjengkelkan sekali. Dia sengaja mengunci secara sentral. Karena itu, aku tidak bisa membuka kuncinya dengan manual. Aku mendesah keras, tidak menahan emosiku lagi.


“Lo sendiri yang bilang, lo bisa melindungi diri. Kehadiran mereka bukan untuk menjaga lo, tetapi untuk mengumpulkan bukti. Chika memang tidak mengecewakan. Dia berulang kali memberi gue rekaman video yang bagus.” Dia tersenyum licik.


“Apa maksudmu?” Aku mendadak tertarik mendengar kata video.


Dia memberikan ponselnya dan menyebut deretan angka untuk membuka kunci layarnya. Aku menatapnya tidak percaya, dia memberi tahu aku PIN rahasianya. Apa dia tidak salah? Bagaimana kalau aku menyalahgunakan kepercayaannya itu?


“Ada apa? Lo berubah pikirannya?” tanyanya heran.


“Ah, tidak.” Aku kembali melihat layar ponselnya. “Di mana rekamannya?”


Dia menyebutkan nama foldernya, maka aku membuka dan melihat ada beberapa video di dalamnya. Aku memilih yang terbaru dan segera mengenali rekaman itu. Aku diserang saat sedang joging oleh tiga pria yang berusaha mengambil cincin dari Theo. Mereka tidak tahu benda itu ada di leherku.


Video lainnya adalah saat aku diserang Chika yang marah karena aku dekat dengan Theo, kejadian di taman ketika dia memukul biolaku hingga terlempar, juga beberapa rekaman dari tindakan Chika yang tidak sepantasnya tanpa melibatkan aku.


Dia pernah mengonsumsi obat-obatan terlarang. Aku tahu dia sudah bersih, tetapi kalau masa lalu itu terkuak, dia akan hancur. Dia juga melakukan banyak hal yang memalukan saat dalam pengaruh obat itu. Salah satunya, tidur dengan pacar kakaknya sendiri. Pria itu kini adalah kakak iparnya. Aku tidak tahu sampai kapan rahasia itu bisa mereka simpan.


“Kamu sudah menunjukkan ini kepada orang tuamu?” tanyaku pelan.


“Belum. Gue menunggu waktu yang tepat. Menunjukkan semua itu kepada mereka berdua sudah tidak ada gunanya. Mereka akan membela perbuatan jahatnya itu. Lebih baik gue menggunakan cara lain yang lebih menyakitkan, baik untuk mereka juga keluarga Chika.”


“Theo, mereka adalah keluargamu.” Dia tidak perlu mengatakannya, aku sudah bisa menebak cara apa yang dia maksudkan.


“Gue sedang memberi mereka kesempatan. Jika mereka tidak paham juga, gue terpaksa memilih cara yang ekstrem,” katanya acuh tak acuh.


Dia memasuki sebuah mal dan mengajak aku keluar dari mobil. Aku sebenarnya lebih memilih untuk bekerja. Namun setelah seharian bertemu dua orang yang tidak aku duga, jalan-jalan juga boleh. Aku membiarkan Theo membawa aku ke mana yang dia mau.


Berbeda dengan mal yang sebelumnya, tempat ini lebih sepi pengunjung. Kami tidak berpapasan dengan banyak orang yang lalu-lalang. Dia mengajak aku menggunakan elevator menuju lantai atas. Melihat nama tempat yang ada pada lantai itu, aku tahu tujuannya.


Benar saja, dia membawa aku ke bioskop. Yang tidak aku duga adalah Matt sudah menunggu di sana. Dia yang semula cemberut, melambai-lambaikan tangannya kepada kami. Bukannya mendekati adiknya, Theo mengajak aku mendekati konter makanan ringan.


Tanpa bertanya, dia membeli jagung berondong, roti isi, kentang goreng, dan soda untuk kami berdua. Matt meminta pesanannya juga, tetapi Theo mengabaikannya. Aku hanya tertawa melihat dia harus menentukan dan membayar makanannya sendiri.

__ADS_1


Mereka memilih film animasi mengenai dunia binatang. Ceritanya berfokus pada seekor kelinci betina yang meraih impiannya dengan menjadi polisi. Kisahnya lucu dan menggemaskan. Bagian yang menegangkan dikemas begitu baik sehingga nyaman ditonton berbagai kalangan usia.


“Gue suka sekali bagian kungkang itu. Bayangkan saja, kelinci yang selalu bergerak dengan cepat, berhadapan dengan hewan yang bergerak saja lambaaattt sekali.” Matt tertawa geli.


“Mirip seseorang, ya,” goda Theo.


“Aku tidak lambat,” ralatku, menyadari dia sengaja melirik aku.


“Jadi, apa saja yang sudah kalian lakukan?” tanya Matt mengubah topik. “Sudah pelukan? Ciuman? Bagaimana dengan tidur bareng? Aw!!”


Theo memukul kepalanya dengan keras sehingga aku tidak perlu melakukan hal yang sama. Enak saja dia bertanya hal yang pribadi begitu. Apalagi di tempat umum di mana ada banyak orang yang bisa mendengar pertanyaannya itu.


“Apa salahnya gue bertanya? Orang zaman sekarang, ‘kan, pacarannya sudah jauh.” Dia mengusap bagian belakang kepalanya. “Kalau Kak Amarilis hamil, kalian bisa menikah. Mama sudah pasti akan memberi restu. Jadi … aw!!”


“Bicara yang sopan. Gue enggak akan merendahkan Amarilis seperti itu. Dia akan mendapat restu Mama dengan cara baik-baik,” kata Theo dengan serius.


“Lama-lama dipandang, kalian cocok juga, ya.” Matt menatap aku dan Theo secara bergantian. “Tapi gue berharap anak-anak kalian meniru Theo, jangan Kak … aw!! Bisa berhenti, enggak, Theo?!”


“Lo yang seharusnya berhenti menghina calon kakak ipar lo. Enggak punya hati banget menghina dia terus dari tadi,” hardik Theo.


Selagi kakak dan adik itu terus bertengkar, aku menyadari perhatian orang-orang di sekitar kami. Aku menyapukan pandangan sambil lalu agar mereka tidak berpikir aku mengetahui aku sedang menjadi pusat perhatian. Hanya perempuan yang melihat sinis ke arahku. Huh, mereka pasti cemburu karena aku duduk bersama dua pemuda tampan ini.


“Ngomong-ngomong, ada apa mengajak aku jalan-jalan hari ini?” tanyaku ingin tahu sambil melerai mereka yang masih saja saling berbalas pantun.


“Kabur,” jawab Matt dengan santai.


“Kabur?” tanyaku lagi.


“Iya. Mama sepertinya tergila-gila dengan Keluarga Winara. Hampir setiap hari kami makan bersama mereka. Sampai akhir pekan setiap kali tidak ada undangan pun, kami makan dengan mereka. Kayak enggak ada urusan lain saja yang bisa kami lakukan.” Matt memotong daging panggangnya dengan kesal, seolah sedang memotong seseorang.


“Awas, nanti piringnya retak,” godaku.


Kami makan dengan santai, tidak peduli dengan malam yang semakin larut. Hari yang diawali dengan pertemuan yang menegangkan itu berakhir dengan menonton film kedua di bioskop. Film tentang pahlawan super yang konyolnya minta ampun.


Theo mengantar aku pulang, sedangkan Matt kembali dengan sepeda motornya. Kami lebih banyak diam, tetapi aku menyukai suasananya. Damai, setiap kali kami tidak bertengkar. Dia juga bersikap sopan dengan tidak mencuri ciuman dariku.


Aku lebih bersemangat mengikuti perkuliahan pada hari Senin. Ternyata sesekali bersenang-senang pada akhir pekan sangat baik untuk emosiku. Berbeda dengan waktu aku fokus bekerja. Aku tertawa karena Sonata tersenyum penuh arti melihat aku datang bersama Theo ke ruang kuliah kami.


Makan siang seperti biasanya dengan Theo, seseorang menelepon aku. Nomornya sudah aku simpan, jadi aku mengerti mengapa jantungku berdebar cepat sekali. Apakah mereka akan memberi aku kabar baik atau kabar buruk?

__ADS_1


__ADS_2