Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
42|Untung Saja


__ADS_3

~Amarilis~


“Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?” tanya pelayan yang membukakan pintu butik.


“Selamat pagi,” balasku dengan riang.


“Ah, biar aku yang layani,” kata seorang wanita muda yang mendekati kami. Aku menoleh dan bertemu pandang dengan wajah yang tidak asing. “Mari, Mbak. Saya bantu.”


“Iya.” Aku mengangkat tas belanja yang aku bawa. “Aku mau menukar semua pakaian ini dengan model yang berbeda, tetapi dengan harga yang sama.” Aku menunjukkan kuitansinya.


“Asal labelnya tidak dirusak—” kata wanita itu penuh arti. Aku segera menggeleng. “Baik. Mari, ikut dengan saya.” Dia tersenyum lebar sebelum membalikkan badannya.


Wow. Aku pikir aku akan berdebat keras dahulu sebelum ada yang mau melayani aku. Pelayanan butik ini boleh juga. Aku menunggu dia dan rekannya memeriksa semua pakaian yang telah dibeli dengan saksama. Dia tersenyum puas melihat tidak ada satu pun label yang dilepas dan baju dalam keadaan yang sama seperti saat kami membawanya dari tempat ini.


Dia adalah wanita yang membantu aku saat memilih pakaian. Jadi, aku tidak heran dia mengambil semua baju yang cocok denganku yang membuat aku tersenyum puas saat mengenakannya. Dia memang sangat jeli melihat kesukaan pelanggannya.


Setelah menukar semua baju yang tidak cocok untukku itu dengan yang lebih baik, aku pun pulang dengan langkah ringan. Untung saja konsernya diadakan pada malam hari, jadi aku masih punya waktu untuk menukarnya, mencuci kering di penatu, dan bersiap di kamar sewaku.


Aku bisa saja meminta bantuan Kakak, tetapi Theo akan marah jika aku tampil secantik kemarin. Ada yang salah dengan isi kepalanya. Masa dia tidak suka melihat aku cantik? Pacar macam apa itu? Aku terpaksa membeli lipstik, tetapi harganya lebih terjangkau daripada menggunakan jasa salon.


Wajah Theo jelas menunjukkan dia protes dengan penampilanku. Bagus. Dia sekarang tahu rasanya menahan emosi ketika seseorang melakukan hal yang tidak dia sukai. Aku senang Tante Ruth suka dengan penampilanku. Aku tidak bisa bayangkan responsnya andai aku memakai baju jelek itu.


“Duh, merepotkan saja,” ucap Theo sambil memasukkan ponselnya kembali ke saku jasnya setelah bicara dengan adiknya lewat ponsel.


“Ada apa?” tanyaku ingin tahu.


Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah menggandeng tanganku dan mengajak aku menuju pintu samping. Melihat dia mengajak aku ke bagian dalam gedung, aku pikir kami mendapat tempat duduk kehormatan di dekat panggung. Ternyata Matt sedang menghadapi masalah.


Masalah yang sayangnya sangat rumit sampai nyaliku ciut. Namun aku tidak tega melihat dia begitu panik dengan kelangsungan konser musik mereka. Jadi, aku memberanikan diri untuk mengiringi dia memainkan lagu rumit yang membutuhkan permainan jari secepat cahaya itu.

__ADS_1


Orang-orang berwajah pucat di belakang panggung itu berubah ceria melihat aku datang bersama Matt. Mereka kembali gusar saat mendengar permainan biolaku. Menjengkelkan sekali. Bukannya bersyukur ada orang yang mau menolong, mereka malah memandang sinis ke arahku.


Wajar saja permainan pembukaku agak kacau. Aku sedang pemanasan, bukan bermain biola yang sebenarnya. Selesai mengatur keketatan setiap senar dan mendapatkan not yang pas, maka aku mengangguk kepada Matt. Dia membuka halaman buku not untukku.


Untung saja aku kadang-kadang memilih lagu klasik untuk dimainkan saat mengamen. “Moonlight Sonata” adalah salah satunya. Karya si jenius Beethoven yang paling pas untuk unjuk kebolehan dalam bermain alat musik. Dan aku memang suka pamer.


“Oke, aku tarik kata-kataku tadi,” ucap Matt menatap aku dengan mata berbinar saat aku baru saja menyelesaikan dua baris nada.


Melihat pakaian semua orang, aku lega tidak tampil buruk seorang diri. Seorang wanita datang untuk membantu memperbaiki tataan rambutku dan sedikit memoles mekap pada wajahku. Barulah kami memulai orkestra tepat pada waktunya.


Walau aku memasang wajah datar selama memainkan lagu sulit itu, jantungku berdebar tidak karuan dan keringat mengucur di tengah dada dan punggungku. Mereka yang mengenal lagu ini pasti menyadari saat aku memilih not yang berbeda dari yang Matt mainkan.


Namun aku mendesah lega ketika akhirnya nyaris tujuh menit yang panjang itu terlewati juga. Enam menit lebih yang rasanya melampaui neraka itu terganti dengan indah ketika orang-orang berdiri sambil bertepuk tangan atas penampilan kami tadi.


Setelah mereka tenang, aku dipersilakan mengambil tempat bersama para pemain biola yang lain dan melanjutkan ke lagu berikutnya. Lama juga pemain biola mereka melarikan diri, membiarkan aku yang mengerjakan tanggung jawabnya.


“Terima kasih banyak, Kak!” Matt memeluk aku dengan erat saat kami beristirahat sebentar di belakang panggung. Giliran pemain kontrabas yang unjuk gigi, jadi dia bisa meninggalkan pianonya.


“Gue enggak menilai Kakak karena gendut,” katanya, membela diri. “Gue mana tahu Kakak bisa main biola sehebat itu. Mengapa tidak jadi guru musik saja, Kak? Bayarannya lebih mahal.”


“Tetapi tekanannya lebih berat. Menjadi guru kamu sudah cukup,” jawabku dengan santai.


“Mattheo!” panggil seseorang dari arah belakangnya.


“Giliranmu akan segera tiba, sebaiknya kamu kembali ke posmu,” kataku. Dia mengangguk.


Gadis pemain biola yang sudah membuat semua orang panik itu tidak mendekati aku sama sekali untuk sekadar mengucapkan terima kasih. Orang yang tidak punya etika. Dia meminta maaf kepada semua rekan-rekannya atas keterlambatannya, tetapi mengabaikan aku.


Dasar pembohong. Mana ada orang yang sudah berbulan-bulan mempersiapkan diri untuk tampil, malah datang terlambat begitu saja pada hari unjuk diri. Terlambat itu melewatkan acara pembuka saja, bukan tiga lagu berturut-turut dimainkan baru muncul.

__ADS_1


Seorang wanita mendekati aku, kemudian menanyakan beberapa data pribadiku. Aku menjawab karena dia membutuhkannya untuk mengirim bonus atas penampilanku tadi. Wah, lumayan. Uang tabungan untuk biaya kuliahku akan bertambah.


Aku keluar dari bagian belakang panggung, berniat untuk kembali ke tempat dudukku. Jemariku masih gemetar karena dipaksa melakukan sesuatu di depan begitu banyak orang. Aku belum pernah mengamen dengan penonton sebanyak itu. Terakhir kali aku tampil di depan orang banyak adalah pada perayaan ulang tahun Kak Jericho yang ketujuh belas. Namun tidak sampai puluhan orang.


“Kamu benar-benar tidak takut menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya di depan banyak orang?” tanya Chika yang sudah berdiri di koridor, sepertinya menunggu untuk bicara denganku.


“Apa maksud kamu? Aku tidak pernah bersandiwara di depan banyak orang,” kataku, menyindir dia dengan tatapan mataku.


“Berpura-pura baik di depan keluarga Theo, apa itu bukan bersandiwara juga?” balasnya.


“Tentukan maksudmu dengan jelas, Chika. Aku sedang bersandiwara atau menunjukkan diriku yang sebenarnya di depan banyak orang?” kataku dengan wajah lugu.


“Aku penasaran. Apa yang akan Tante Wibowo lakukan nanti ketika melihat pembunuh putrinya hidup tenang dan damai di sini.” Dia mendekat dan berjalan memutari aku. “Kamu sudah sembilan belas tahun, nyaris dua puluh. Apa kamu pikir kamu akan lolos dari jeratan hukum kalau kasus itu dibuka lagi? Hati-hati, Katelia. Tetaplah menjadi Amarilis kalau kamu tidak mau masuk penjara.”


“Keluargaku sudah melaporkan perbuatanku, maka keputusan polisi pada tahun kejadian tidak bisa diganggu gugat lagi. Tetapi aku tidak takut, karena aku sudah tahu siapa yang sebenarnya telah menyebabkan Katelia dan Amarilis tenggelam pada hari itu.” Aku tersenyum kepadanya.


“Kamu, Nisa, dan Rahma tidak akan bisa berbohong dengan baik. Kalian harus bersyukur karena kasus ini ditutup atau tidak hanya polisi, tetapi semua orang akan tahu apa yang sebenarnya terjadi di atas kapal pada hari itu,” bisikku.


Bibirnya gemetar dan dia menelan ludah dengan berat. Bagus. Dia pikir aku masih bisa ditakut-takuti atau dibodohi seperti yang mereka lakukan pada hari kematian Katelia. Aku sudah bukan Amarilis yang kebingungan dengan masa depannya. Aku punya impian dan dia atau siapa pun tidak akan aku biarkan merusak segalanya.


“Amarilis.” Terdengar suara Theo memanggil namaku.


Aku menoleh ke arahnya yang berdiri tidak jauh di hadapanku. Dia pasti mencari aku karena aku tidak juga kembali ke tempat dudukku walau sudah selesai tampil di panggung. Aku tersenyum saat menoleh ke arah Chika. Dia sedang menatap pria itu dengan mata membulat.


“Kamu dengar itu?” godaku sambil mendekatkan mulutku ke telinganya. “Theo memanggil namaku, bukan namamu.”


Chika merapatkan bibirnya dan menatap aku dengan tajam. Aku tersenyum manis setelah menjaga jarak darinya. Dia akan merasakan patah hati yang menyakitkan ketika dia kehilangan pemuda yang sepertinya sangat dia cintai itu. Theo tidak akan memilih dia, karena berulang kali aku meminta putus, dia tidak mau mengabulkannya.


“Kita harus segera kembali.” Theo meraih tanganku, lalu menggandeng aku berjalan bersamanya. “Matt bisa marah kalau dia tidak melihat lo saat dia tampil.”

__ADS_1


“Apa kamu yakin itu alasannya? Kamu mencari aku bukan karena kamu tidak mau melihat aku bersama laki-laki lain?” godaku.


Dia melepaskan tanganku, lalu melingkarkan tangannya di pinggangku. Dengan mudahnya, dia menyudutkan aku di dinding, tidak jauh dari pintu menuju aula. Aku menahan napas melihat jarak wajah kami sangat dekat.


__ADS_2