
Theo menyapukan pandangan ke sekelilingnya. Mencari aku yang sudah tidak ada di panggung. Aku dan Matt hanya bermain untuk menyambut kedatangan para undangan. Ketika pembawa acara memulai perayaan, maka musik diambil alih oleh band.
Begitu dia menemukan aku, kami hanya saling pandang tanpa kata. Dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena dikejutkan di depan banyak orang. Aku tahu Theo tidak akan membuat keluarganya malu dengan membangkang mereka secara terang-terangan.
Walau jauh di lubuk hati, aku berharap dia menolaknya. Aku hanya bisa melihat kejadian itu tidak jauh dari mereka. Matt duduk santai di sisiku, menikmati sepotong kue. Agar dia tidak curiga, aku menerima kue pemberiannya dan ikut menyantapnya.
“Beri tepuk tangan yang meriah untuk pasangan serasi kita, Altheo dan Jessica yang bertunangan pada hari ini!” seru pria, pembawa acara tersebut. “Jadi, para gadis dan pemuda lajang, kesempatan kalian sudah habis. Jangan usik hubungan mereka lagi.”
Para undangan tertawa. Tante Ruth dan Tante Winara terlihat sangat bahagia. Hanya Theo yang tidak tersenyum selama pemasangan cincin. Sebaliknya, Chika tidak berhenti tersenyum lebar dan memegang lengan pemuda itu. Dia sengaja mencari aku hanya untuk tersenyum penuh kemenangan.
Ada banyak wartawan yang hadir yang menunggu di ruang sebelah untuk mengikuti konferensi pers dari juru bicara kedua keluarga. Jadi, aku tidak heran melihat Theo dan Chika diajak menuju ruangan itu. Aku dan Matt mendekati meja saji dan mulai mengambil makanan kami.
“Papa dan Mama sangat aneh.” Matt melihat ke arah pintu di mana ruang konferensi berada. “Apa yang mereka pikirkan sehingga menggunakan momen ini untuk mengumumkan pertunangan itu?”
Aku hanya diam, tidak memberi tanggapan. Keputusan orang tuanya bukanlah urusanku, jadi aku tidak mau gegabah ikut campur dengan memberikan tanggapan. Lebih baik aku mendengarkan dia saja. Lagi pula, aku yakin dia hanya butuh teman bicara.
“Gue enggak suka dengan cewek bernama Jessica itu. Entah kenapa Papa dan Mama tidak bisa lihat bahwa dia penuh kepalsuan. Senyumnya tidak pernah sampai ke matanya, tidak tulus banget. Cara dia melihat Theo juga sinis, seolah-olah bilang, gue akan dapatkan lo, bagaimana pun caranya.”
Dia memain-mainkan makanan di atas piringnya dengan sendok. “Theo juga bego banget. Kenapa dia diam saja, sih? Seharusnya dia tolak. Ini acara ulang tahunnya, bukan tunangan. Mengapa dia mau saja diperlukan layaknya barang yang tidak punya kemauan?”
“Matt, apa kamu sadar kamu bicara dengan siapa?” tanyaku, memotong sebelum dia menguak semua isi hatinya atau rahasia keluarganya.
“Tahu. Gue enggak akan bahas ini dengan Kakak kalau gue enggak percaya Kakak bisa simpan rahasia. Buktinya, penampilan kita tadi tidak Theo ketahui. Padahal kita diam-diam berlatih selama dua minggu. Jadi, Kakak orang yang bisa gue percaya.” Kesimpulan yang masuk akal.
Karena tidak ada lagi yang perlu aku lakukan, aku pamit kepada Tante Ruth yang sudah kembali dan Matt. Murid baik hatiku itu memaksa untuk mengantar aku pulang. Karena aku menolak, maka dia memesankan taksi daring. Aku pun terpaksa mengalah.
Aku menonaktifkan ponsel sebelum tidur. Walau aku tidak bisa pulas sekuat apa pun aku berusaha menutup mata. Bayangan wajah bahagia Chika menghantui aku. Dia tidak berhenti memandang ke arahku setiap kali dia mendekatkan tubuhnya kepada Theo dan pemuda itu hanya diam.
__ADS_1
Kami tidak punya hubungan istimewa apa pun. Hanya backstreet yang tidak punya dasar dan bisa putus kapan saja. Lalu mengapa dadaku terasa sakit seperti ada yang meremas kuat jantungku? Mengapa air mataku mengalir tanpa bisa aku hentikan?
“Amarilis, kita perlu bicara,” kata Theo yang mendatangi aku di tempat kerjaku.
“Oh. Kamu mau minta kado?” Aku pura-pura tidak mengerti. “Maaf, aku tidak menyiapkan apa pun untukmu. Uangku hanya untuk membiayai kuliahku.” Aku berbohong.
“Gue enggak tahu mereka akan melakukan itu semalam,” ucapnya, memberi penjelasan.
“Theo, aku sedang bekerja.” Aku melirik biola yang ada di antara bahu dan leherku.
“Janji kita akan bicara saat lo istirahat,” desaknya. Dia tidak akan membiarkan aku bekerja dengan tenang sampai mendapatkan maunya, maka aku terpaksa mengangguk.
Dia membelai pipiku sebelum menjauh dan menonton permainan biolaku bersama kerumunan di depanku. Mataku memanas, jadi aku menghela napas sejenak, menenangkan emosiku. Sebuah nada lagu bermain di kepalaku, cocok dengan perasaanku saat ini.
Aku selalu bermain mengikuti emosi, maka aku menuruti hatiku. Orang-orang mulai memasukkan uang mereka ke kotak biola. Satu per satu orang datang, penasaran mendengarkan permainanku. Ketika ada yang merekam, maka yang lain tidak mau kalah melakukan hal yang sama.
Ketika Theo mendekat dan meraih tanganku, aku tahu sudah jam makan siang. Jadi, aku menurut dengan merapikan kotak biolaku, mengumpulkan uang yang aku dapat, dan menyimpan biola itu pada tempatnya. Kami akan bicara sangat serius.
“Gue benar-benar enggak tahu akan bertunangan dengan dia semalam,” tukasnya. Dia tidak perlu mengatakan itu karena aku ada di sana dan melihat reaksinya.
“Hal itu tidak akan mengubah apa pun. Kamu dan Chika sudah resmi bertunangan. Orang tua kalian bahkan mengundang wartawan untuk memastikan semua orang tahu mengenai hubungan kalian,” kataku dengan serius. “Kamu tidak bisa berkelit lagi. Kita putus, Theo.”
“Kita tetap bersama,” ucapnya dengan tegas.
“Terserah. Kamu mau bilang apa, aku tidak peduli. Bagiku, kita sudah putus. Titik,” pungkasku, tidak mau terbujuk dengan pembelaan dirinya.
“Gue sudah bilang, gue yang menentukan ke mana arah hubungan kita, Amarilis.”
__ADS_1
“Backstreet sampai kamu menua bersama dengan Chika, itu maksudmu? Dia menjadi istri sah dan aku hanya simpananmu. Itukah yang kamu rencanakan? Apa kamu membalas semua perbuatanku saat SMU dengan menjadikan aku sampah? Maaf, Theo. Masih ada laki-laki yang mau memilih aku menjadi yang pertama baginya.”
Setelah diam saja dan tidak melakukan apa pun terhadap rencana orang tuanya pada malam itu, berani sekali dia menyinggung kalimat pamungkasnya itu. Jika memang dia yang menentukan arah hubungan kami, seharusnya dia juga mengatakan yang sejujurnya kepada orang tuanya. Bukan malah menerima pertunangan itu, lalu tetap bersamaku di belakang mereka.
“Lo bukan simpanan gue. Lo pacar pertama gue! Berapa kali gue harus katakan itu!? Gue dan dia masih tunangan, belum sah!” balasnya. “Kalau kami sudah bertunangan di gereja, baru lo bisa marah. Gue memilih lo jadi istri gue!”
Dia meraih tanganku, lalu meletakkan sesuatu di telapak tanganku itu. Aku melihatnya baik-baik. Sebuah kotak beludru. Aku menatapnya dengan bingung, tetapi dia hanya diam. Maka aku melihat kotak itu lagi, kemudian membukanya. Ada sebuah cincin sederhana dengan satu berlian sebagai matanya di dalamnya.
“Apa ini?” tanyaku sambil menutup kotak itu kembali.
“Cincin pertunangan Nenek yang diwariskan untuk gue,” jawabnya. Dia mengambil kotak itu dari tanganku, membukanya, lalu mengeluarkan isinya. “Gue akan menikah dengan lo, bukan Chika.” Dia melingkarkan cincin mahal itu di jari manis kananku. Pas sekali. “Lo lihat itu? Gue enggak salah pilih.”
Mataku memanas melihatnya. Cincin itu seperti dipilihkan untukku. Mungkin aku dan neneknya punya ukuran jari yang sama, tetapi bukan berarti aku adalah gadis yang terpilih. Namun aku tidak mau bertengkar dan membiarkan cincin itu berada di jariku.
“Kami tidak akan mengadakan acara apa pun sampai gue menyelesaikan gelar master gue kelak. Jadi, hubungan gue dan Chika hanya formalitas. Gue janji tidak akan menyentuh dia. Semua yang gue lakukan kepada lo, tidak akan gue lakukan dengannya.” Dia memegang tanganku dan menatap aku dengan serius.
“Apa maksudmu?” tanyaku.
“Gue tidak akan pegang tangan, memeluk, atau mencium dia. Tidur bareng juga tidak. Kalau lo lihat atau dengar semua hal itu, percayalah, gue tidak melakukannya dengan sukarela. Semua hal itu hanya akan gue lakukan dengan lo.” Matanya menatap aku dengan serius.
Aku tertawa kecil. “Aku tidak akan tidur bersama pacar, Theo. Aku hanya akan melakukannya dengan suamiku,” kataku dengan tegas.
“Setuju,” ucapnya cepat. Aku mengerutkan keningku. “Aku janji.”
Kami makan dalam diam. Aku menghabiskan semua makanan yang aku pesan, juga tidak menolak ketika dia memesan beberapa camilan. Aku meminta kepada pelayan untuk mengemasnya agar aku bisa membawanya pulang. Lumayan, bisa menjadi menu sarapanku.
Dia menemani aku mengamen sampai malam, maka aku tidak melarangnya. Aku sengaja menutup cincin pemberiannya agar tidak dilihat penonton. Kalau mereka tahu aku mengenakan berlian, mana ada yang mau menyumbangkan uangnya untukku.
__ADS_1
Kami kembali hanya diam ketika dia mengantar aku ke tempat tinggalku. Tidak seperti biasanya, dia memeluk aku setelah aku mengembalikan helmnya. Dadaku sesak dan mataku memanas merasakan perubahan sikapnya itu. Aku juga takut kehilangan dia.
Namun keputusanku sudah bulat. Hubungan kami tidak akan pernah menuju bahagia. Tante Ruth baik kepadaku, bukan berarti dia akan merestui aku menjadi istri putra sulungnya. Saat melepaskan pelukan, aku menyisipkan benda berharga itu di saku jaketnya.