
Aku masih percaya tidak percaya dengan apa yang terjadi dalam hubungan kami. Semuanya berjalan begitu cepat. Dia mengajak aku menjalin hubungan meski backstreet. Putus, lalu kembali bersama dengan hubungan yang lebih serius: dia memberi tahu orang tuanya mengenai hubungan kami.
Sepakat untuk berjuang walau dunia merendahkan kami dan menyebut aku sebagai selingkuhannya, kami menjalani hubungan penuh liku. Kami lebih banyak bertengkar daripada satu kata, tetapi kami tidak mau berpisah. Lalu apa yang kini terjadi?
Mengapa dia begitu sulit percaya kepadaku? Dekat dengan lawan jenis tidak akan terelakkan selama aku masih kuliah, bekerja, dan aktivitas sosial lainnya. Dia tidak mau mendengar penjelasanku, main putus saja. Padahal aku sudah menolak ajakan Mas Norman untuk menjalin hubungan.
Dasar laki-laki bodoh, arogan, menjengkelkan, yang tidak punya hati! Aku serius sayang kepadanya, dia masih saja lebih percaya pada rasa cemburunya. Dia mau putus, ya, sudah. Kami putus. Aku tidak sudi mengemis cintanya kalau dia tidak bisa menerima aku apa adanya.
“Amarilis, hei, apa kamu mendengarkan?” Seseorang melambai-lambaikan tangannya di depanku.
Aku mengedip-ngedipkan mata dan bertemu pandang dengan sekretaris direktur utama. “Ah, iya, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?”
“Pak Norman dari tadi memanggil, kamu hanya diam saja.” Dia menunjuk ke arah atasan kami yang sudah berdiri di ambang pintu.
“Ah, iya.” Aku melihat pekerjaanku yang masih menumpuk, lalu berdiri. “Iya, Pak?”
“Tinggalkan pekerjaanmu. Kamu bisa melanjutkannya besok. Ayo, ikut aku,” ajaknya.
Aku memandang sekretarisnya yang sedang merapikan meja, maka aku melakukan hal yang sama. Mungkin dia mengajak kami untuk bertemu dengan koleganya. Namun di depan lobi, wanita itu mendekati pacar yang menjemputnya, hanya aku yang diajak masuk mobil Mas Norman.
Sudah telanjur salah paham, aku menurutinya. Sopir memasuki areal parkir sebuah restoran dan aku mengerti ketika melihat Om dan Tante Wiryawan sudah menunggu kami. Makan malam berempat lagi. Jika sebelumnya aku tidak mempermasalahkan hal ini, maka aku merasa segan sekarang.
Tante yang paling banyak mendominasi pembicaraan. Dia menceritakan tentang Mas Norman semasa kecilnya. Pria itu sesekali meminta mamanya tidak membuka rahasianya dengan panik. Aku mencoba untuk bersikap sopan dengan mengikuti arah pembicaraan.
“Hai, Nancy!” sapa seorang wanita yang sudah sangat aku kenal.
“Hai, Ruth,” balas Tante Wiryawan. Dia berdiri dan mereka saling mencium pipi. “Kamu juga makan malam di sini?”
__ADS_1
“Iya, bersama calon besanku,” jawab Tante Ruth dengan antusias. “Wah, kalian sepertinya semakin akrab dengan gadis ini.”
“Dia gadis yang baik, jadi kami suka berada di dekatnya.” Tante Wiryawan melihat ke sekelilingnya. “Di mana keluargamu?”
“Itu,” tunjuk Tante Ruth.
“Altheo dan Jessica terlihat sangat serasi. Kamu beruntung bisa mendapatkan calon menantu yang ideal. Semoga aku juga akan segera menyusul kamu,” ucap Tante Wiryawan penuh harap.
Aku menelan ludah dengan berat mendengarnya, memahami arah pembicaraannya. Aku harus segera memberi jawaban mengenai tawarannya itu. Semakin lama aku menunda, maka dia akan semakin berharap aku akan menjawab iya.
Usai makan, mereka membujuk agar aku mengizinkan Mas Norman mengantar aku pulang. Namun aku bersikeras menolaknya. Aku sudah menolak perasaan pria itu, untuk apa lagi aku memberi dia harapan palsu? Aku tahu aku bertindak bodoh menolak orang yang sempurna, tetapi aku tidak punya perasaan apa pun terhadapnya.
Pada malam itu, aku memang berhasil menghindar, tetapi Mas Norman sudah menunggu di depan pagar ketika aku berangkat kerja. Tidak mau memperkeruh suasana, aku menolak tawarannya dan bergegas menuju halte. Dia memanggil namaku, tetapi aku tidak menggubrisnya.
Tinggal satu minggu lagi, maka aku tidak perlu datang ke hotel itu. Aku tidak merindukan suasana kerja di sana, karena semua orang jahat kepadaku. Mas Norman dan keluarganya bersikap berbeda kepadaku, bukanlah kesalahanku. Aku tulus hanya magang dan mencari data.
Jika akhirnya atasan mereka itu menyukai dan memperlakukan aku secara istimewa, itu juga bukan kesalahanku. Aku tidak pernah memberi dia harapan, merayu, apalagi menggodanya. Tidak juga memelet atau memesan ilmu hitam lainnya.
“Apa aku boleh tahu mengapa kamu tidak mau memberi putraku kesempatan?” tanyanya setelah aku memberi jawaban atas tawarannya.
“Saya sudah menyukai laki-laki lain, Tante,” akuku.
“Nak, aku mengenal Ruth dan suaminya. Kamu tidak punya harapan dengan Altheo. Mengapa kamu memaksakan kehendak untuk hal yang mustahil? Cinta akan tumbuh dengan sendirinya seiring dengan seringnya berinteraksi. Jadi, beri putraku satu kesempatan,” bujuknya.
“Maafkan saya, Tante. Saya benar-benar tidak bisa.” Aku menundukkan kepalaku kepadanya.
Dia diam dan mendesah sedih, tetapi tidak mencoba untuk membujuk aku lagi. Aku merasa sangat tidak enak sudah menyakiti hatinya. Perasaan yang sangat asing bagiku. Biasanya aku santai saja membuat orang terluka karena perbuatanku atas mereka.
__ADS_1
Ponselku bergetar beberapa kali di atas tempat tidur, aku mengabaikannya. Matt dan Kak Jericho berulang kali menelepon, mengajak bertemu. Aku sedang dalam keadaan tidak bisa bertemu dengan siapa pun. Menyakiti orang baik ternyata memengaruhi emosiku juga.
Minggu terakhir magang di hotel milik Mas Norman, aku masih diberi banyak sekali pekerjaan. Aku tidak mengeluh agar tidak menjadi tanda merah pada surat referensiku. Karyawan mereka masih saja memandang aku dengan sinis setiap kali kami berpapasan.
Aku sedang memeriksa ponsel saat berada di dalam bus kota ketika pesan dari Hercules masuk. Mama bangkrut. Toko ditutup. Pesan singkat itu mampu membuat aku panik. Apa yang terjadi? Usaha Mama memasang kaca sebagai pembatas antara toko dan dapur berhasil mengusir jauh gosip murahan mengenai kualitas produknya. Mengapa mendadak bangkrut begini?
“Hercules yang mengadu kepadamu?” ucap Mama ketika aku meneleponnya. Hal pertama yang aku lakukan begitu berada di kamarku. Suaranya terdengar serak dan lemah.
“Iya. Apa yang terjadi, Ma? Mengapa mendadak begini?”
“Tabungan kami dibobol, jadi aku tidak punya cukup uang untuk membayar karyawan. Beberapa pesanan partai besar yang kami terima juga mendadak dibatalkan dan mereka tidak mau membayar ganti ruginya. Padahal kami sudah membuat pesanan mereka.
“Kasirku yang bodoh tidak membuat surat perjanjian hitam di atas putih dahulu. Jadi, mereka kabur, aku tidak bisa menuntut. Belakangan, aku baru tahu ruko yang kami beli sudah lama menunggak pajak.” Mama terisak. “Aku tidak tahu mengapa ini terjadi. Aku yang bodoh tidak berhati-hati.”
Oh, Tuhan. Aku terlalu fokus dengan urusan pribadiku sampai lupa memperhatikan keluargaku. Aku segera memutar otak untuk menolong mereka. “Mama masih ada uang? Kalian sudah makan?”
“Kami masih bisa makan. Yang aku pikirkan adalah uang kuliah Hercules. Tabungan khusus untuknya itu lenyap diretas orang.” Mama akhirnya menangis. “Maafkan aku, Riris. Aku sudah jahat tidak mau mengizinkan kamu kuliah. Akhirnya, aku kena getahnya.”
“Tidak, Ma. Jangan bicara begitu. Aku akan kirim uang untuk bayar biaya kuliah Adik, ya,” hiburku. “Mama butuh berapa untuk buka usaha kecil-kecilan? Mama bisa jual kue dari sekolah ke sekolah sampai keadaan membaik. Jadi, Papa dan Mama punya kesibukan dan uang masuk lagi.”
“Kamu membutuhkan uang itu untuk kuliahmu, Nak. Tidak, aku tidak bisa menerimanya.”
“Aku dapat beasiswa, Ma. Jumlahnya cukup besar, karena itu aku bisa menabung. Hasil mengamen selama berbulan-bulan tersimpan aman dalam tabunganku. Asal untuk biaya kuliah Adik dan usaha Mama, aku tidak keberatan. Mau, ya, Ma? Akan aku transfer besok,” bujukku.
“Baiklah.” Dia menangis lagi. “Terima kasih banyak, Nak.”
“Sama-sama, Ma. Sudah, Mama jangan menangis lagi. Kalau Mama butuh apa pun, tolong hubungi aku, ya, Ma.”
__ADS_1
“Iya. Aku tenang sekarang. Terima kasih sudah menelepon aku secepat ini.”
Begitu hubungan telepon berakhir, otakku mulai berpikir. Ini bukan kebetulan. Ada orang yang sedang memberi aku sebuah peringatan. Mas Norman tidak mungkin melakukan ini. Tante Ruth pasti sudah tahu aku dan Theo putus. Lalu siapa yang berbuat sejahat ini kepada keluargaku?