
Mengapa dia bicara seperti itu? Mike mengajak aku makan, bukan ingin memiliki aku. Namun aku hanya menyimpan pikiran itu sendiri dan tidak mengatakannya. Urusan kuliah sudah banyak menyita perhatianku, tidak perlu lagi ditambah dengan masalah lain.
“Ngomong-ngomong, kamu sudah punya rencana Thanksgiving nanti?” Dia menaiki sepedanya.
“Tidak. Hanya di kamar saja,” jawabku.
“Ibuku ingin bertemu denganmu. Dia ingin tahu seperti apa orang Indonesia. Rumahku tidak jauh. Aku akan menyewa mobil, lalu kita pergi bersama. Ajak juga teman satu apartemen kamu biar dia tidak sendirian. Mau, ya?” Dia menatap aku penuh harap.
“Aku—” Ajakannya itu sangat tiba-tiba.
“Kamu pikirkan dahulu, kabari aku kalau kamu sudah dapat jawabannya.” Dia mengedipkan sebelah matanya kepadaku.
Nora adalah gadis yang baik. Setiap kali bersamanya, aku teringat dengan Sonata. Aku tidak merasa ada niat buruk darinya seperti yang aku rasakan saat ada di dekat Chika. Semoga saja perasaanku sedang tidak membohongi aku.
Theo sedang bergelut dengan tesisnya, jadi aku tidak heran melihat apartemen masih kosong. Dia mungkin masih ada di perpustakaan. Kami berhenti pulang bersama karena dia selalu selesai lebih lama dariku. Dia lebih suka aku menunggu dia di apartemen daripada di kampus.
Padahal ada pengawal yang dia pekerjakan yang selalu mengawasi aku dari jauh, tetapi dia masih saja khawatir dengan keselamatanku. Dia juga takut aku akan dekat dengan laki-laki lain. Aku tidak mengerti apa yang dia lihat dari wajah dan tubuhku sampai dia yakin ada laki-laki yang menaksir aku.
“Hai,” sapanya yang membuka pintu apartemen.
“Sayang!” seruku senang. Aku berdiri, mendekatinya, dan memeluknya dengan erat.
“Ada apa? Seperti tidak bertemu berhari-hari saja,” katanya tanpa perasaan.
“Kamu tidak rindu aku?” Aku mengangkat wajahku dan menempelkan daguku di dadanya.
Dia mengecup keningku. “Kangen. Tapi saat ini gue sangat lapar.”
Aku pun melepaskan pelukanku. “Kamu akan masak apa?” tanyaku mengikuti dia ke dapur.
“Brokoli, daging, dan kentang kukus. Yang praktis saja. Bagaimana?” Dia memeriksa isi kulkas. Aku segera menyetujuinya. “Jangan hanya duduk. Bantu gue bersihkan sayurnya.”
“Siap, Bos!” candaku.
Selesai makan malam, dia masuk kamar dan aku tahu dia akan terus berada di dalam sampai pagi. Aku benar-benar rindu dia. Kami hanya bertemu saat olahraga pagi, sarapan, lalu makan malam. Selebihnya, dia berada di perpustakaan atau kamarnya.
__ADS_1
Usul Nora boleh juga. Kampus akan libur selama Thanksgiving nanti. Theo tidak boleh hanya berada di kamar selama itu. Apalagi liburnya lumayan panjang, dari hari Rabu dan masuk kuliah lagi pada hari Senin. Maka aku coba mendiskusikan hal itu dengannya.
“Apa lo tahu di mana orang tuanya tinggal?” Dia meletakkan sepiring telur orak-arik di depanku. Aku menyebut nama kota yang juga ada di negara bagian ini. “Oke.”
“Kamu serius? Kita akan ikut dia untuk merayakan Thanksgiving?” tanyaku tidak percaya.
“Iya. Kenapa lo terkejut begitu?”
“Aku pikir kamu akan menolaknya.” Aku menggigit roti panggangku.
“Gue belum pernah ikut Thanksgiving. Pasti menyenangkan bisa turut merayakan salah satu hari besar mereka.” Dia berdiri untuk mengambil roti panggang bagiannya yang sudah matang. “Tahun lalu, gue hanya merayakannya di restoran dengan makan menu khusus kalkun panggang mereka.”
“Bagaimana rasanya? Apakah sama seperti ayam?” tanyaku penasaran.
“Gue enggak memahami perbedaan tekstur daging unggas, tetapi daging kalkun enak. Lo harus coba daging domba. Hm. The best one!” Daging terenak! Dia mengecup telunjuk dan jempolnya.
“Kamu membuat aku lapar.” Padahal kami sedang sarapan, tetapi mendengar caranya mengucapkan rasa kedua daging itu enak, air liurku terbit.
Nora senang sekali ketika aku mengatakan jawabanku iya. Dia dan Theo sedikit berdebat saat kami berangkat menuju kotanya. Sebagai satu-satunya pria, dia memaksa untuk mengendarai mobil. Namun Nora tidak mengizinkan karena kami adalah tamunya.
Sahabatku itu adalah pemandu wisata yang baik. Dia menyampaikan informasi penting dan unik mengenai setiap kota yang kami lalui, sampai nama restoran terkenalnya juga. Dia juga menjawab setiap rasa ingin tahuku dengan sabar.
Kami berhenti dua kali setiap dua jam agar Nora bisa beristirahat sejenak. Kesempatan itu kami gunakan untuk makan dan menikmati camilan. Dia tersenyum penuh arti melihat sikapku dan Theo. Aku yakin dia sudah bisa menebak apa hubungan kami.
“Hai! Akhirnya, kalian sampai juga!” sambut seorang wanita yang mirip sekali dengan Nora. Dia pasti mamanya. Usianya kelihatan masih muda.
“Hai, Ma. Perkenalkan ini Amarilis dan Altheo.” Nora menunjuk kami saat menyebut nama kami.
“Ayo, masuk. Kalian pasti lapar.” Dia menepi agar kami bisa masuk lewat pintu.
Rumah itu tipikal rumah yang sering aku tonton di film mereka. Di ruang depan ada tangga menuju lantai atas. Di sebelah kirinya ada ruang duduk lengkap dengan sofa, meja, televisi dan lemarinya. Kami diajak untuk berjalan terus menuju dapur. Aroma masakan yang lezat memasuki penciuman kami. Ada berbagai macam kue, piza, selada, dan lemon dingin di atas meja.
“Aku belum pernah keluar dari negara ini, jadi aku hanya membaca dan menonton tentang keadaan di negara lain. Pasti menyenangkan bisa menikmati matahari sepanjang tahun,” katanya.
Kami mengobrol dengan santai sambil menyantap masakan enaknya yang masih hangat. Dia dan Nora membuat aku merindukan Mama dan Bunda. Mereka tidak hanya tertawa bersama, tetapi juga sesekali berdebat di depan kami.
__ADS_1
Setelah makan, Nora menunjukkan kamar kami dan menyebut jam biasanya mereka makan malam. Kami dipersilakan untuk istirahat dan berganti pakaian jika perlu. Aku dan Theo saling pandang. Kami tidur satu kamar. Hal yang biasa bagi mereka, tetapi tidak bagi kami.
“Apa boleh buat. Tidak sopan jika kita menolak.” Theo meletakkan ranselnya di dekat meja. “Lo tidur di ranjang, biar gue yang di lantai.”
“Aku tidak keberatan kita tidur bersama di ranjang. Tempatnya cukup untuk berdua.”
“Jangan menggoda gue, Kat,” katanya dengan nada serius.
“Siapa yang menggoda kamu?” Aku menyilangkan kedua tangan di depan dadaku. Dia melakukan kebiasaan yang aneh itu dengan memalingkan wajahnya. “Itu. Mengapa kamu melakukan itu?”
“Melakukan apa?” Dia duduk di tepi ranjang.
“Kamu sering sekali memalingkan muka seperti tadi. Itu bukan cara kamu marah. Apa kamu tidak menyukai sesuatu padaku?” Aku memeriksa kedua pipiku.
Dia mengerutkan keningnya. “Lo benar-benar tidak mengerti apa yang lo lakukan kepada gue?”
“Hah? Aku tidak melakukan apa pun kepadamu?” protesku. Aku duduk di sisinya dan mengarahkan tubuhku agar berhadapan dengannya. Wajahnya ganteng juga dilihat dari samping begini.
“Amarilis, sejak kapan lo enggak mau melihat cermin?” Pertanyaan itu mengejutkan aku. Kami sedang membahas dia, mengapa malah mendiskusikan tentang aku?
“Kamu belum menjawab pertanyaanku.” Aku kembali menyilangkan kedua tangan di depan dadaku.
“Ini ada kaitannya.” Dia tidak mau melihat ke arahku.
“Sejak berada di tubuh Amarilis,” akuku.
“Lo bego.” Dia menggelengkan kepalanya. Aku menarik napas terkejut dan berniat untuk mengomeli dia. “Jangan marah. Karena kalau lo melihat cermin, lo akan sadar mengapa gue sangat pencemburu.”
Aku menelengkan kepalaku. Apa maksudnya berkata begitu? Aku tahu jerawat sudah jarang muncul, rambutku menggunakan jenis sampo yang disarankan oleh dermatolog, badanku tidak gemuk, tetapi juga tidak kurus, serta gigiku memakai kawat.
Tetap saja aku bukan Katelia yang cantik dan menarik. Aku masih Amarilis yang jelek dan biasa saja. Kak Jericho tahu aku tidak bercermin karena benda itu tidak ada di kamar. Bagaimana Theo bisa tahu hal itu juga? Padahal di kamarku kali ini ada cermin untuk menutupi rahasiaku itu.
“Gue baru menyadarinya hari ini. Lo enggak mau melirik kaca spion. Saat kita berada di restoran, lo sama sekali tidak mau memeriksa penampilan lo di kaca. Nora malah melakukan itu beberapa kali.”
Aku mengangguk mengerti. Melihat ada cermin besar di dekat lemari, jantungku mulai berdebar lebih kencang. Namun ingin memahami Theo, aku memberanikan diri untuk melihat bayanganku sendiri. Aku menghela napas panjang, kemudian berdiri. Satu langkah lagi dan aku pun bisa melihat wajah dan tubuhku setelah bertahun-tahun menghindari cermin. Nyaliku mendadak ciut.
__ADS_1
Tidak. Mengapa aku jadi penakut? Katelia Wulan bukanlah seorang pengecut! Aku kembali menarik napas panjang dan mendekati cermin. Ada perubahan apa pada penampilan Amarilis?