
“Amarilis, lo jelas-jelas sakit. Muka lo semakin pucat,” kata Theo bersikeras. “Gue ambilkan minum, ya. Atau lo mau makan sesuatu?”
Aku mengalihkan pandanganku dari pintu masuk dan menatap pemuda berisik itu lagi. “Aku baik-baik saja. Dan iya, aku butuh minum. Air putih saja.”
Tenang, Amarilis, tenang. Semuanya akan baik-baik saja. Kamu tampil di awal sebelum acara makan, jadi mereka tidak akan mengganggu kamu sampai kamu selesai bermain. Benar. Aku akan baik-baik saja dan bermain dengan sempurna, lalu aku bisa duduk dan menghadapi yang kemudian terjadi.
Ingat dengan bayaran besar yang akan kamu terima, Amarilis. Ini kesempatan emas yang jarang kita dapatkan. Jadi, tenangkan dirimu, jangan panik. Uang, uang, uang, ingat saja itu supaya bisa tampil maksimal. Aku membutuhkan banyak suntikan dana untuk menyelesaikan kuliahku.
“Kebetulan ada kue kesukaan lo, jadi gue bawakan sekalian,” kata Theo. Dia meletakkan segelas air putih dan sepiring kroket di depanku.
“Terima kasih.” Aku meminum air dan memakan kue tersebut. Sakit kepala, debaran jantung, dan getaran di tubuhku berkurang. Aku bisa berpikir dengan jernih kembali.
Matt mengajak aku untuk memulai acara, maka aku menghela napas panjang sebelum berdiri dan mengikutinya. Aku berdiri di dekat piano yang akan dia mainkan, lalu menunggu aba-aba darinya. Untuk mengurangi beban, dia memilih “Moonlight Sonata First, Second, Third Movement” sebagai lagu pembuka. Pilihan gila, tetapi aku menerima tantangan itu dengan susah payah.
Aku menghindari tempat di mana aku tahu keluarga itu sedang duduk bersama. Chika mendekati Theo dan duduk di sisinya. Namun pacarku itu mengabaikannya dan hanya mengarahkan pandangan kepadaku. Dia masih terlihat khawatir melihat kondisiku. Padahal aku sudah baik-baik saja.
Kalau bukan karena racun yang Chika sebarkan, aku bisa bersikap tenang setiap kali bertemu dengan keluarga itu. Ternyata mengaku siapa aku yang sebenarnya tidak membuat dia berhenti menjadi orang jahat. Baik. Aku akan gunakan senjata rahasiaku ketika saatnya tiba.
Pembalasanku atas perbuatannya akan sangat sakit hingga dia menyesal sudah pernah menantang aku. Iya, aku yang sekarang miskin dan tidak punya daya. Namun aku masih punya otak yang bisa aku andalkan untuk membuat dia menyesal sudah macam-macam denganku.
“Beri tepuk tangan yang meriah untuk Mattheo Wibisana dan Amarilis Josepha atas duet mereka yang luar biasa!” seru pembawa acara ketika kami sudah selesai memainkan semua lagu.
Kebun itu bergemuruh dengan bunyi tepuk tangan dari para tamu yang hadir. Jantungku berdebar kencang dan keringat bercucuran, tetapi semua itu terbayar lunas dengan penghargaan dari tamu yang mendengarkan permainan kami.
Matt menggandeng tanganku, kemudian kami serentak menundukkan badan kepada semua orang yang masih bertepuk tangan tersebut. Pembawa acara menunggu sampai mereka tenang, sebelum mempersilakan kami turun dari panggung.
“Wah, Kak! Aku salut! Pada bagian terakhir tadi terasa sekali Kakak sedang marah dengan seseorang. Lagunya jadi hidup!” puji Matt. Pasti yang dia bicarakan adalah saat aku sedang kesal kepada Chika. Iya, aku memang sedang marah kepadanya.
__ADS_1
“Lanjutkan bicaranya nanti saja. Amarilis perlu mengisi perutnya.” Theo meraih tanganku, lalu membawa aku ke meja kami.
“Lo lihat penampilan kami tadi, Theo!?” seru Matt senang. Dia duduk di kursinya di sebelahku.
“Gue belum buta dan duduk di barisan paling depan,” jawab Theo senewen.
Aku tersenyum mendengar mereka bertengkar. Chika sudah pergi pasti Theo yang mengusirnya. Aku tidak memperhatikan mereka sepenuhnya dari depan, karena aku fokus menghindari tatapan dari keluarga yang tidak aku duga akan hadir.
Sepanjang acara itu, aku menahan diri untuk tidak beranjak dari tempat dudukku. Aku tidak mau bertengkar dengan Chika, tidak juga bertemu dengan wanita yang hanya akan memarahi aku tanpa tahu duduk perkara yang sebenarnya.
Untunglah, aku sudah selesai datang bulan. Jadi, aku tidak membutuhkan toilet. Theo melihat aku dengan tatapan memahami. Hanya dia dan Chika yang mengerti mengapa aku gusar. Yang satu prihatin, sedangkan yang satu lagi tidak sabar menanti kehancuranku.
Begitu tiba pada puncak acara, aku sangat lega. Matt akan pulang dengan orang tua mereka, jadi Theo yang mengantar aku pulang. Tante Ruth berterima kasih kepadaku dan menyisipkan sesuatu ke dalam tasku. Om Azarya hanya menjabat tanganku, sedangkan Matt memeluk aku dengan erat.
“Apa lo perlu ke toilet?” tanya Theo saat kami memasuki lobi. “Perjalanan ke kamar sewa lo cukup jauh dan memakan waktu. Sedari sore lo belum ke kamar mandi, ‘kan?”
“Kalau begitu, kita ke kafe terdekat saja,” ajak Theo. Aku mengangguk setuju.
Para tamu sudah meninggalkan kebun, ternyata mereka masih mengantri untuk keluar dari tempat parkir hotel. Aku mengerang pelan melihat antrian panjang kendaraan itu. Selama duduk, aku tidak menyadari aku membutuhkan kamar mandi. Setelah beberapa saat berdiri, barulah aku merasakan sesak. Aku menarik tangan Theo kembali ke lobi.
Dia hanya tertawa, tetapi aku mengabaikannya. Aku melihat ke sekeliling, tidak ada tanda-tanda wanita itu di sekitar kami. Aku pun memberanikan diri masuk ke toilet wanita. Theo menunggu di luar. Dia sudah ke toilet beberapa saat yang lalu.
Baru saja berbelok ke koridor di mana bilik berada, sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Aku tertegun sejenak sebelum mengangkat kepalaku dan bertemu pandang dengan wanita yang aku hindari itu. Aku tidak heran melihat siapa yang berdiri di belakangnya.
“Kau … berani sekali kau tertawa bahagia sepanjang acara. Apa kau sama sekali tidak menyesal sudah membunuh putriku!?” hardik Mama, ah, maksudku, Tante Wibowo dengan berang. “Walau usiamu masih muda, aku tidak akan berhenti mencari keadilan untuk Katelia!”
“Aku tidak membunuh Katelia,” kataku dengan serius.
__ADS_1
Dia menampar aku lebih keras dari yang pertama. Atau kekuatannya sama saja, tetapi terasa lebih sakit karena bekas yang sebelumnya belum pulih. “Tidak membunuh, katamu!? Lalu bagaimana bisa dia yang pintar berenang malah mati karena tenggelam!? Hah!? Jawab!!”
“Tante!” Theo tiba-tiba saja datang dan berdiri di antara kami. “Apa yang Tante lakukan? Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah.”
Aku hanya diam, tidak membalas, sepertinya bukan jalan keluar yang terbaik untuk menghadapi Tante Wibowo. Chika tidak akan berhenti memanfaatkan keadaannya yang berduka atas kematian Katelia yang tragis untuk memprovokasi kami.
Dia tersenyum puas di belakangnya, senang karena aku disakiti oleh ibu kandungku. Perempuan tidak punya hati. Walau aku jahat kepada teman-teman yang tidak aku sukai, aku tidak pernah memfitnah mereka agar dimarahi oleh orang terdekat mereka.
“Apa Tante benar-benar tidak tahu apa yang telah Katelia lakukan di sekolah?” tanyaku ingin tahu. “Dia memukul, menghina, dan meludahi kekuranganku setiap hari. Bukan saat kami berdua, tetapi di depan semua teman-teman yang—.”
“Jangan bawa-bawa nama putriku. Dia gadis yang baik,” potong wanita itu dengan cepat.
“Aku takut kepada Katelia, bagaimana aku bisa membunuhnya? Menyentuhnya saja aku takut.” Aku tidak berhenti bicara. “Aku tidak bisa berenang, Tante. Katelia, Rahma, Nisa, dan Chika yang berdiri di belakang Tante itu merundung aku di kapal sampai aku jatuh. Apalagi yang bisa aku lakukan kalau tidak berpegangan pada sesuatu? Bukan salahku jika Katelia yang terjangkau tanganku.”
“Dia bohong, Tante. Katelia dan kami tidak pernah menyakiti siapa pun,” kata Chika berkelit.
“Yang Amarilis katakan benar, Tante. Mereka berlima yang terakhir berada di atas kapal. Maafkan aku harus mengatakan ini, tetapi Katelia tidak sebaik yang Tante duga. Amarilis adalah korban yang sering dia sakiti di sekolah. Tante boleh tanya teman-teman yang lain, selain Chika CS. Mereka pasti akan menjawab dengan jujur,” papar Theo, membela aku.
Dia tidak menggunakan kata gue dan lo, sepertinya dia terbiasa bicara sedikit formal kepada orang yang lebih tua darinya dan kurang akrab. Karena dia tidak menggunakan kata aku saat mengobrol dengan kedua orang tuanya atau Kak Jericho.
Syukurlah dia ada di sini. Jadi, ada yang membantu aku menceritakan keadaan yang sebenarnya. Walau terasa aneh menjelek-jelekkan diriku sendiri, aku harus melakukannya. Ini adalah salah satu cara untuk membuka pikiran Tante Wibowo agar dia tidak percaya begitu saja kepada Chika.
“Ada apa denganmu, Theo? Apa kamu diguna-gunai gadis pembunuh ini? Katelia dahulu adalah tunanganmu. Mengapa kamu berbicara buruk tentang dia dan membela perempuan jahat ini?” tanya Tante Wibowo tersinggung.
“Kalau benar aku tunangan Katelia, mengapa Om dan Tante tidak pernah memberi tahu dia tentang aku? Apa Tante tahu betapa terkejutnya aku ketika dia tidak mengenali aku sama sekali?” tuntut Theo. Pertanyaan itu membuat aku lupa pada tujuanku ke kamar mandi.
Tante Wibowo berubah gugup. Dia menelan ludah dengan berat sambil memasang senyum terpaksa. “Ah, itu, aku tidak bermaksud menutupi siapa kamu darinya.”
__ADS_1
“Oh, ya? Om dan Tante sangat antusias ketika Papa dan Mama menyetujui pertunangan kami. Lalu apa alasan Tante tidak memberi tahu Katelia mengenai aku?” desak Theo. “Kalian yang berinisiatif, mengapa kalian juga yang menunda pengumuman hubungan kami?”