Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
31|Yang Hilang


__ADS_3

Aku berjalan menuju kampus dengan langkah cepat. Gara-gara melamun, aku hampir saja terlambat mengikuti kuliah jam pertama. Padahal Keluarga Wibowo bukanlah bagian hidupku lagi, tetapi aku jadi kepikiran kata-kata Kak Jericho sepanjang malam.


“Lo benar-benar menguji kesabaran gue, ya?”


Aku menghentikan langkah mendengar suara itu. Aku mengangkat kepala dan bertemu pandang dengan Theo yang berwajah dingin. Kesalahan apa lagi yang sudah aku lakukan sampai mendapat sambutan muka jeleknya itu?


“Kapan aku menguji kesabaranmu?” tanyaku tidak mengerti.


“Kenapa lo makan siang berdua saja dengan Richo? Lo lupa dengan kesepakatan kita?”


“Aku tidak mau meladeni sikap kekanak-kanakanmu ini.” Aku berjalan melewatinya, tetapi aku terpaksa berhenti karena dia memegang tanganku.


“Gue hanya berusaha untuk melindungi lo. Tunggu saja. Semua yang gue katakan akan terbukti benar. Gue enggak akan bantu lo kalau hal itu sudah terjadi nanti,” katanya begitu yakin.


Dia menggandeng tanganku menuju ruang kuliah, tidak memberi aku kesempatan untuk merespons. Bagaimana dia bisa tahu aku bersama Kakak kemarin? Apa dia membuntuti aku? Atau jangan-jangan ada orang yang dia bayar untuk mengikuti aku ke mana pun aku pergi?


Tidak mungkin Kakak yang memberi tahu dia mengenai pertemuan kami itu. Aku melihat ke sekitar kami. Maka kemungkinan besar, dia menyuruh orang untuk memata-matai aku. Namun aku tidak pernah merasa ada orang yang mengawasi aku. Lagi pula, untuk apa dia buang-buang uang untuk membayar orang semahal itu?


Begitu kami tiba di depan pintu, dia melepaskan tanganku dan berjalan menuju ruang kuliahnya. Pemuda yang aneh. Dia hanya marah sekejap, mengantar aku ke ruangan, lalu pergi begitu saja. Apa maksud dari tindakan anehnya ini?


Mahasiswa lain yang berdiri di dekatku melihat aku dengan pandangan sinis. Aku membalas tatapan mereka, tidak gentar sama sekali dengan pandangan iri itu. Beberapa melanjutkan langkahnya, yang lain memasuki ruang kuliahnya, sedangkan sisanya tetap berdiri di tempat untuk mengobrol dengan teman satu grupnya.


Sonata memanggil namaku, menarik perhatianku. Dia sudah duduk di barisan paling depan dan membiarkan kursi di dekat jendela kosong. Aku tersenyum dan duduk di sisinya. Bukan saatnya untuk memikirkan Theo dan sikap anehnya. Aku harus konsentrasi mengikuti kuliah.


“Lo?” ucap Sonata dengan panik, sibuk mengutak-atik laptopnya. “Aku yakin failnya masih ada kemarin. Mengapa aku tidak menemukannya di mana pun?”


“Fail apa?” tanyaku waswas.


“Tugas kita,” jawabnya dengan wajah memerah. “Hari ini sudah hari Jumat, kita tidak akan bisa mengerjakannya lagi dari awal. Aku tidak menyimpannya di mana pun selain di sini.”


Aku melihat gadis itu dengan saksama. Wajah merah dengan air menggenang di pelupuk matanya adalah bukti dia tidak sedang bersandiwara. Apalagi tangannya sampai gemetar mengetik entah apa di kibor. Berkas tugas kami benar-benar hilang dari laptopnya. Namun aku tidak menyentuh benda itu, jadi hanya dia satu-satunya pelakunya.

__ADS_1


Kalau bukan dia, siapa yang sudah menghapus dokumen penting itu dari laptopnya? Hanya ada dia dan aku selama kami mengerjakan tugas kelompok itu. Kami berdiskusi di perpustakaan dan … ah, aku mengerti. Aku tahu siapa yang telah melakukan ini kepada kami.


“Sonata, aku mencatat setiap kata pada tugas itu, jadi begini saja. Kamu mengetik ulang setengah, sedangkan sisa halamannya aku yang kerjakan. Bagaimana? Kita tinggal satukan tugas itu pada hari Senin sebelum dikumpulkan,” kataku memberi usul.


“Kamu mencatat semuanya?” tanyanya penuh harap. “Benarkah?”


“Iya.” Aku tersenyum, lalu mengambil buku catatan yang aku maksud. “Kamu selesaikan lima halaman pertama, lalu segera beri tahu kamu sampai di mana. Aku akan lanjutkan sisanya besok.”


“Bagaimana kamu melanjutkannya? Kamu tidak punya laptop,” katanya heran.


Itu masalah yang solusinya gampang. “Aku akan mengetiknya di rental. Selama aku menggunakan pengaturan yang diharuskan oleh dosen, maka hasilnya akan seperti berasal dari berkas yang sama,” jawabku, menenangkannya.


“Baiklah. Terima kasih sudah menyelamatkan tugas kita, Amarilis. Aku sempat melarang kamu untuk mencatat tugas ini, ternyata ada gunanya untuk jaga-jaga.” Dia mendesah lega, lalu cepat-cepat menyeka air mata yang membasahi pipinya.


Masalah kami selesai, tetapi aku belum tenang sampai pelakunya mendapatkan pelajaran. Aku jadi ikut repot karena usaha kami mengerjakan tugas itu sebelum akhir pekan jadi sia-sia. Kami harus mengetik ulang dan waktuku untuk mengamen akan berkurang gara-gara tugas ini.


Theo sudah menunggu di gerbang, maka aku menerima helm darinya dan duduk di jok belakang tanpa banyak bicara. Dia menoleh kepadaku sesaat sebelum menyalakan mesin sepeda motornya dan keluar dari pekarangan fakultas kami.


“Apa ada hal buruk yang terjadi pada hari ini?” tanyanya ingin tahu.


“Hanya hal biasa yang bisa aku atasi,” jawabku dengan santai.


“Ada apa?” desaknya.


“Aku sudah bilang—” tukasku.


“Ada apa? Dan jangan sampai gue mengulangi pertanyaan yang sama,” gertaknya.


Aku menatapnya dengan kesal. “Kami ada tugas kelompok dari dosen. Aku dan temanku sudah menyelesaikan semuanya, tetapi dia baru tahu dokumen itu terhapus dari laptopnya. Aku benci harus pergi ke tempat rental pada akhir pekan,” keluhku.


Semua tempat itu pasti ramai dengan mahasiswa yang juga mengerjakan tugas. Belum lagi bersaing dengan mahasiswa yang sedang menyusun skripsi. Aku bisa saja tidak mendapat tempat yang masih punya komputer menganggur. Hilang sudah kesempatan untuk mendapat satu juta dari mengamen pada akhir pekan ini.

__ADS_1


“Kenapa lo harus mengerjakan tugas lo di tempat rental?” tanyanya bingung. Dia melirik tasku. “Lo belum punya laptop?”


“Bisa bayar uang kuliah saja sudah syukur,” tuturku sekenanya.


Dia kembali hanya menatap aku, lalu mengeluarkan bukunya. Melihat dia kembali sibuk dan tidak bicara lagi, aku pun melakukan hal yang sama. Sikap arogannya sangat menjengkelkan, tetapi saat dia diam lebih meresahkan lagi. Mengapa reaksinya hanya begitu?


Usai makan siang, kami kembali ke kampus. Dia menggandeng tanganku walau aku sudah menarik diri darinya. Sikapnya ini sangat membingungkan aku. Seolah-olah kami pacaran hanya pada hari Senin dan Jumat, sedangkan kami menjadi orang asing pada hari Selasa sampai Kamis.


Karena dia mengantar aku ke ruang kuliah, maka aku tidak bisa melakukan rencanaku. Aku terpaksa menunggu sampai jam kuliah terakhir selesai baru menemui orang yang sudah membuat aku susah. Inilah alasan aku tidak mau berteman dengan mereka lagi.


“Akh!” Perempuan itu mengeluarkan suara tercekik ketika aku menariknya masuk ke ruangan yang kosong dengan mencengkeram lehernya.


“Apa kalimatku masih kurang jelas bagimu?” tanyaku dengan suara tertahan. “Kita tidak berteman dan aku tidak mau kamu dekat-dekat denganku lagi.”


Aku melihat wajahnya memerah, tetapi aku belum puas. Olahraga memang membuat staminaku sangat bagus sehingga aku tidak sekadar berbadan gendut, tetapi juga bertenaga. Hanya satu yang masih perlu aku latih, gerakanku lambat.


“Yang kamu lakukan kemarin sangat keterlaluan, Rahma.” Aku menggeram kesal. “Berani sekali kamu membuat sahabatku nyaris menangis karena ulahmu. Jadi, dengarkan aku. Akui perbuatanmu dan minta maaflah kepadanya. Apa kamu mengerti?”


Dia hanya menatap aku dengan mata membesar. Aku pun melepaskan dia agar bisa bernapas lagi. Dia menghela napas panjang sampai terbatuk-batuk, tetapi aku tidak tersentuh melihatnya. Dia pantas mengalaminya setelah membuat orang yang tidak bersalah mengalami kesulitan.


“Apa yang kamu bicarakan? Aku tidak mengerti,” katanya berkelit.


“Kamu menghapus berkas tugas kami.” Aku berbaik hati menjawab pertanyaannya itu.


Dia mengerutkan keningnya, masih tidak mengerti. “Menghapus berkas tugas? Maksud kamu, yang kalian kerjakan di perpustakaan sepanjang sore itu? Amarilis, aku tidak menyentuh laptopnya. Apa dia yang menuduh aku sembarangan?”


“Dia tidak perlu mengatakannya. Aku tahu kamu pelakunya, karena hanya kamu yang ada di sana bersama kami. Walau aku sudah mengusir, kamu tidak mau pergi.” Aku mengangkat kedua alisku. “Jadi, ini sebabnya kamu tidak mau pergi? Kamu mau mengerjai aku lagi?”


“Aku memang ada di dekat kalian, tetapi apa buktinya aku yang sudah menghapus dokumen itu? Kamu bisa tunjukkan kepadaku kalau aku pelakunya?” tantangnya dengan berani.


“Semua hal tentangmu, Chika, dan Nisa tidak memerlukan bukti, Rahma. Aku tahu kamu pelakunya,” balasku dengan serius.

__ADS_1


“Amarilis, kamu terlalu naif. Sepertinya tanpa kami, kamu tidak bisa lagi berpikir dengan tajam.” Dia tersenyum mengejek. “Dia yang punya laptop, dia juga yang mengadu bahwa tugas kalian terhapus. Lalu apa alasanmu tidak menjadikan dia sebagai tersangka utama?”


__ADS_2