Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
127|Jangan Marah


__ADS_3

Dia benar-benar marah. Padahal aku tidak selingkuh. Hanya makan siang bersama sebagai ucapan terima kasih. Lagi pula, ada banyak mahasiswa lain di sekitar kami. Eh, dia malah bertingkah seolah aku dan Mike makan malam dengan sinar lilin yang romantis di ruang tertutup.


Kami joging, dia hanya diam. Kami kembali ke apartemen, dia juga tidak bicara sepatah kata pun di dalam elevator. Aku benar-benar tidak suka dengan perang dingin ini. Walau dia aslinya memang tidak banyak bicara, sikap diamnya ini jelas karena marah.


“Aw!” serunya terkejut. “Amarilis, apa yang lo lakukan?”


“Aku lelah.” Aku bertengger di punggungnya seperti panda memeluk pohon. “Gendong aku.”


“Lo sudah naik baru minta izin. Apa lo enggak sadar lo itu berat?” keluhnya.


“Berat apanya? Kamu mudah saja menggendong aku beberapa hari yang lalu.” Aku mempererat pelukanku saat dia berusaha untuk melepaskan kaitan tanganku.


“Merepotkan saja.” Dia menyerah dan membawa aku di punggungnya ke apartemen kami.


“Jangan marah lagi, sayang. Aku tidak selingkuh. Itu hanya makan siang sebagai ucapan terima kasih. Mike sudah membantu aku bicara dengan dosen. Jadi, aku dapat nilai atas tugas kelompok kami,” kataku, menjelaskan. “Kami hanya makan, tidak lebih. Lagi pula, dia hanya sibuk membahas dirinya.”


“Tetap saja lo selingkuh.” Dia membuka pintu apartemen, lalu meminta aku turun. Aku tidak mau melepaskan pelukanku. “Cepat, turun. Gue harus berangkat cepat hari ini.”


“Maafkan aku dahulu.” Aku masih bertengger di punggungnya.


Dia tidak mengatakan apa pun, melainkan terus berjalan menuju kamarnya. Dia tidak melakukan apa yang aku pikirkan, ‘kan? Tidak mungkin dia ke kamar mandi dengan aku masih ada di punggungnya. Namun itu yang dia kerjakan, berjalan ke kamar mandi dan bersiap untuk melepas celananya.


“Tunggu! Tunggu, aku keluar!” Aku segera melonggarkan pelukanku dan merosot turun ke lantai. “Kamu benar-benar menjengkelkan. Terserah, kalau kamu mau marah terus!”


Dia benar. Aku sudah berjanji tidak akan berdua saja dengan laki-laki, malah melanggarnya. Kalau bukan karena Nora yang egois itu, semua ini tidak akan terjadi. Masalahnya, aku sangat berterima kasih atas bantuan Mike, tidak ada maksud lain dari makan siang itu.


Kami sarapan dalam diam. Dia tidak mau melihat aku sama sekali dan aku hanya bisa geram melihat tingkah egoisnya itu. Mau sampai kapan dia marah begini? Namun saat dia mencium keningku di lobi, aku tersenyum bahagia. Dia tidak marah lagi.


Meghan benar-benar sahabat yang baik. Dia menyapa aku dengan ramah dan mengajak aku duduk bersamanya. Seperti yang sudah dia sampaikan, teman seangkatan kami tidak menyukai dia. Mereka saling berbisik sambil memandangnya, pasti sedang mengejek fisiknya.


Aneh. Bagaimana bisa aku tidak tahu mereka melakukan ini kepada seorang dari teman kami? Apa saja yang aku lakukan selama beberapa bulan terakhir? Aku pernah ada di posisi itu. Jadi, aku bisa memahami sikap rendah diri Meghan. Wanita yang malang.


Orang jahat memang ada di mana saja. Padahal tidak semua orang suka gemuk. Namun ada yang tidak sempat memperhatikan berat badannya karena keadaan tertentu. Mana ada orang yang tidak kepikiran dengan kondisi tubuhnya yang rawan dengan penyakit.


“Terima kasih, Amarilis. Aku menderita penyakit tiroid, karena itu berat badanku begini. Setelah kuliah selesai, aku berencana untuk memulai diet sehat. Aku juga tidak mau mati muda karena kegemukan.” Dia tersenyum usai mendengar saran dariku.

__ADS_1


“Semoga cepat sembuh, Meghan. Aku pernah gemuk, makanya aku bisa berbagi.”


“Kamu pernah gemuk?” tanyanya tidak percaya. Aku mengangguk. “Wow. Apa itu artinya kulit kamu kendor di balik bajumu?”


“Tidak. Aku menurunkannya perlahan, tidak ekstrem. Jadi, kulitku ikut membiasakan diri setiap kali beratku turun.” Aku tertawa kecil. Aku melakukan riset sebelum memulai program menurunkan berat badan agar aku tidak mengeluarkan uang berlebih setelahnya.


Dia mengangguk mengerti. “Aku akan coba. Karena aku punya teman yang ujungnya merogoh kocek sangat dalam demi operasi membuang kulit kendornya.”


“Hai, para gadis!” sapa Mike yang berdiri di depan kami. “Maafkan aku, Meghan, aku hanya bawa satu bunga.” Dia menyodorkan setangkai mawar untukku. “Happy Valentine’s Day!”


Aku menjauhkan wajahku dan mendorong bunga itu kembali kepadanya. “Berikan itu kepada yang lain. Maaf, aku sudah punya pacar.”


“Ouch!” goda Meghan. “Mike tidak pernah ditolak oleh wanita mana pun. Bagaimana rasanya?”


“Amarilis hanya jual mahal karena ada kamu di sini,” balas Mike. “Ini bukan bunga biasa. Ini adalah undangan untuk menghadiri pesta di rumahku pada liburan musim semi nanti.”


“Tidak, terima kasih. Aku sudah punya acara lain,” tolakku lagi. “Lagi pula, aku tidak mau menghadiri acara yang tidak dihadiri oleh sahabat baikku.” Aku melingkarkan tanganku di lengan Meghan dan mengajaknya ke perpustakaan.


Theo sedang menyiapkan makan malam ketika aku tiba di rumah pada malam harinya. Aku memeluk dia dari belakang, memastikan dia tidak marah lagi kepadaku. Dia menepuk pelan tanganku tanpa berhenti mengaduk saus.


“Gue juga. Cepat, bersihkan diri lo. Makan malam hampir siap.”


“Oke!” seruku patuh.


Aku bergegas menuju kamar, lalu ke kamar mandi. Setelah berganti pakaian, aku memeriksa diri di depan cermin. Barulah aku melihat sesuatu di atas tempat tidur. Aku menoleh, memastikan aku tidak salah lihat. Itu kenyataan. Aku tidak bermimpi.


Ada setangkai mawar merah dan sekotak cokelat di atas ranjang. Aku membawanya bersamaku keluar dari kamar. Ruangan itu gelap dan hanya lilin di atas meja makan yang menjadi penerang. Theo sudah berdiri di dekatku, menggandeng tanganku, dan menuntun aku ke dapur.


“Gue enggak tahu kenapa kalian perempuan suka makan dengan cahaya lilin saja. Semoga lo suka.” Dia membukakan kursiku untukku.


“Apa pun yang kamu lakukan, aku suka!” ucapku senang.


“Selamat Hari Valentin, sayang.” Dia mengecup pipiku. “Gue tidak tahu apa cokelat kesukaan lo. Pelayan di supermarket bilang, para gadis menyukai merek itu, jadi gue membelinya.”


“Aku suka merek apa pun.” Aku tersenyum bahagia.

__ADS_1


“Lo senang banget atau sedang kehilangan kata-kata?” ejeknya. Aku tidak membiarkan kalimatnya itu merusak suasana hatiku. “Ayo, kita makan.”


Dia memasak makanan yang mewah. Daging panggang dengan sausnya, kentang halus, sayuran kukus, dan pai apel - yang aku yakin dia beli sebagai penutup. Kami saling menceritakan hari kami, dan aku senang tidak ada insiden dengan seorang pria yang memancing amarahnya.


Kami melanjutkan malam itu dengan duduk di sofa dekat jendela. Dia membuatkan cokelat hangat dengan banyak marshmallow untukku. Kami menikmatinya sambil menyaksikan pemandangan kota. Seandainya saja waktu berhenti dan kami bisa terus begini. Aku akan puas dengan hidupku.


Aku dan Meghan mengantar tugas kami ke ruang dosen pada siang itu. Karena sebelumnya dia yang menyerahkan makalah, aku berniat untuk gantian, tetapi dia menolak. Maka kami pergi bersama menghadap dosen kami.


Wanita itu menyambut kami dengan ramah dan menerima tugas kami. Dia menanyakan beberapa hal, Meghan yang menjawabnya. Dia memeriksa isi makalah itu, lalu melihat aku. Dia tersenyum penuh arti membuat aku dan Meghan saling bertukar pandang.


“Kamu harus jaga pacarmu dengan baik, Amarilis. Jarang sekali seorang pria yang mau berkata dia beruntung memiliki wanitanya.” Dia menaruh makalah itu di atas meja, lalu membuka kacamatanya. “Apalagi sampai datang menunjukkan bukti bahwa kamu pantas mendapatkan nilai.”


“Apa maksudnya, Prof?” tanyaku bingung.


“Dia menunjukkan bukti video kamu satu grup dengan kelompok lamamu. Karena itu, aku tahu Nora telah berbuat kesalahan. Ah, dia pasti merahasiakan hal ini darimu, ya.” Dia tertawa. “Aduh, Theo bisa marah kepadaku. Dia marahnya menakutkan, hanya diam. Aku lebih suka diomeli.”


“Jadi, bukan Mike yang datang menjelaskan saya dan mereka satu grup?” tanyaku, mengonfirmasi.


“Dia datang beberapa hari setelah pacarmu. Entah mengapa tidak ada yang membela kamu lebih cepat. Kalian berdua bersainglah dengan sehat. Jangan menikam teman dari belakang. Aku sudah tidak muda lagi menyaksikan persaingan seperti itu.” Dia memandang aku dan Meghan.


Kami permisi sebelum keluar dari ruangan itu. Jadi, Mike berbohong kepadaku? Laki-laki kurang ajar. Aku sampai bertengkar dengan Theo karena aku mentraktirnya makan siang. Ternyata bukan dia yang mengusahakan aku tetap mendapatkan nilaiku.


“Theo yang dimaksud Profesor Bateman itu, Altheo Husada pemilik restoran masakan Indonesia itu, ya? Senior di jurusan kita?” tanya Meghan setelah kami berada di tempat parkir sepeda.


“Iya. Kamu mengenal dia?” tanyaku terkejut.


Dia menggeleng pelan. “Namanya sering disebut kakakku. Kamu harus hati-hati, karena sainganmu berat.” Dia menatap aku penuh simpati.


“Apa maksudmu?” tanyaku, tidak mengerti. “Memangnya siapa kakakmu?”



"Gendong, gendong, gendong!"


"Amariliiss~ Lo itu beraatt~"

__ADS_1


__ADS_2