Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
151|Orang Asing


__ADS_3

“Theo sudah merencanakan ini sejak lama, kamu juga tahu kalian akan menikah tahun ini. Mengapa kamu masih terkejut?” tanya Antonio.


“Kamu tahu rencananya untuk menikah denganku tahun ini?” tanyaku tidak percaya.


“Kami mendiskusikan segalanya saat aku menginap di kabin kalian. Kamu saat itu masih tidur. Dia meminta kesediaanku untuk menjadi saksi kalian. Lalu satu orang lagi dari salah satu pengawalnya,” jawab Antonio. “Kalian seharusnya menikah pada hari ulang tahunmu, tetapi keadaan berubah.”


“Karena Theo tidak bisa tinggal lama di sini dan harus segera pulang?” tebakku.


Matt yang kali ini mengangguk. “Ini bukan tempat yang cocok baginya untuk memulihkan ingatan. Tanah air adalah tempat yang tepat. Kak, aku tahu ini terburu-buru, tetapi kesempatan ini tidak datang dua kali. Kakak harus buktikan kepada ortu kami bahwa Kakak sayang Theo apa adanya.”


“Kalau begitu, kami bisa menikah dengan normal, tidak diam-diam begini,” sanggahku.


“Kakak dan Theo tetap beda status. Jadi, kita harus pakai cara ini,” bujuk Matt.


“Dia benar-benar amnesia?” tanyaku curiga. “Bagaimana kalau ternyata dia cuma pura-pura supaya aku mau menikah dengannya?”


“Benar, Kak. Psikiater dan psikolog sampai turun tangan karena dia nyaris depresi tidak bisa ingat apa pun, bahkan namanya sendiri. Andai Kakak  melihatnya. Dia takut dengan kami sampai butuh waktu berhari-hari untuk menerima kami adalah keluarga aslinya dan tidak menipu dia.”


“Entahlah, Matt. Pernikahan bukan permainan. Bagaimana kalau kami tidak berhasil? Bagaimana jika aku tidak tahan dengan sikapnya? Apalagi dia tidak punya perasaan yang sama denganku.”


“Kak, dia bicara kasar untuk menjaga hatinya sendiri. Dia tetap Theo yang baik hati. Aku jamin.”


Kami tidak punya banyak waktu, jadi aku mengalah dan mereka keluar dari ruangan, memberi aku privasi dengan tim yang membantu aku. Daisy menolong aku mengenakan gaun itu dan penata rias menyiapkan aku tampil sempurna pada hari terpentingku.


Theo sudah menunggu di lobi dan dia berulang kali melirik jam tangannya dengan kesal. Ketika dia menoleh ke arah kami, matanya yang semula berang, memperhatikan aku dari kepala hingga kaki. Dia pasti akan menghina penampilanku lagi.


“Lap air lirmu. Setelah upacara kamu bisa melakukan apa pun yang kamu mau kepadanya, tidak sekarang.” Matt menyikut lengan kakaknya.


“Ayo, kita harus berangkat,” desak Antonio, tidak mengizinkan Theo membalas adiknya.


Kami menuju gereja dan menunjukkan nomor antrian kepada penerima tamu. Dia meminta kami untuk menunggu sejenak, masih ada pasangan yang sedang dilayani. Luar biasa. Banyak juga yang menikah dengan cara ini.


Theo tidak suka basa-basi, jadi kami tidak menggunakan prosesi apa pun dan langsung menghadap pendeta yang sudah menunggu di altar. Aku sampai mengelus dada, menyabarkan diri. Pernikahan sederhana kami itu hanya dihadiri sahabat dan para pengawal kami. Ah, juga Buddy.

__ADS_1


“Aku, Altheo Gunawan Husada, mengambil kamu, Amarilis Josepha, untuk menjadi istriku, untuk saling memiliki dan menjaga sekarang dan selamanya, pada waktu susah, senang, kaya, miskin, dalam keadaan sakit, maupun sehat, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita ….” Dia mengucapkan sumpahnya sambil memasang cincin di jariku.


Setelah aku mengucapkan kalimat yang sama, pria itu mendoakan ikrar kami dan menyatakan kami resmi sebagai suami istri. Aku percaya tak percaya akhirnya menikah dengan pria yang aku sayangi. Dia mengêcúp bibirku saat pendeta mempersilakan, tidak romantis sama sekali.


Kami membubuhkan tanda tangan pada dokumen pernikahan yang sudah mereka siapkan. Matt dan Antonio menjadi saksi kami. Barulah kami keluar dari ruangan itu agar pasangan yang berikutnya akan menikah bisa memulai prosesi mereka.


“Lima tahun putus sambung, akhirnya mereka menikah juga.” Matt melirik Antonio. “Apa kamu percaya itu? Mereka lebih banyak bertengkar daripada mesranya.”


“Itu resep hubungan yang bahagia. Kalau kamu setuju terus dengan pasanganmu, ada yang salah dengan kalian. Bisa jadi ada satu orang yang sering mengalah atau ada yang tidak jujur. Lebih baik banyak bertengkar saat pacaran daripada setelah menikah.” Antonio mengerling kepadaku.


“Makanan akan diantar ke kamar, ‘kan?” tanya Theo dengan nada bosan.


“Semuanya sudah tersedia di kamar,” jawab Antonio. “Kalian cukup menikmati satu sama lain dan jangan lupa, hanya dua malam. Lusa kita harus kembali. Kalian perlu istirahat sebelum pulang.”


“Baik. Sampai lusa nanti.” Theo meraih tanganku, lalu menggandeng aku memasuki lobi hotel.


Aku kesulitan mengikuti langkahnya yang panjang, tetapi dia terlihat tidak peduli. Baik hati apanya? Dia masih saja egois, tidak memperhatikan orang di sampingnya sedang susah. Kami hanya diam di dalam elevator. Jantungku berdebar begitu keras sampai aku khawatir dia bisa mendengarnya.


Tiba di lantai tujuan, dia memeriksa nomor setiap pintu yang kami lewati. Begitu dia berhenti, aku tahu kami sudah sampai di depan kamar. Dia memindai kartu di tempat yang tersedia, lalu kunci pun terbuka. Dia meletakkan kartu itu pada tempatnya di dinding dalam kamar dan lampu menyala.


“Dengar, gue melakukan ini semata-mata karena kewajiban. Sebagai anak pertama, gue harus memberi penerus untuk keluarga gue.” Dia mendudukkan aku di tempat tidur. “Lo jangan khawatir. Gue sudah konsultasi dengan dokter, jadi gue enggak akan menyakiti lo.”


Aku menelan ludah dengan berat melihat dia mulai membuka jasnya. “Apa lo pernah melakukan ini dengan Theo?” tanyanya, masih menganggap Theo sebagai orang yang bukan dirinya. Aku hanya menggeleng pelan. “Kalian kuno sekali, tetapi keputusan yang masuk akal. Gue juga akan memilih untuk menunggu.”


“Apa lo butuh bantuan?” tanyanya melihat ke arah gaunku.


“Tolong, bukakan ritsleting di bagian belakang.” Aku hanya punya dia yang bisa membantu aku.


Aku memejamkan mata, berusaha untuk menenangkan debaran jantungku. Dia tidak membuka gaunku saja, tetapi mulai mênciúm pundakku. Dia menyeka rambutku agar bisa melanjutkan ke leherku. Dia perlahan berpindah duduk di depanku untuk mênciúm bibirku.


Kami sama sekali tidak bicara saat melakukan hubungan pertama kami sebagai suami istri. Ketika dia menyatukan tubuh kami pun, aku menahan suara agar tidak keluar. Dia menepati janjinya dengan tidak menyakiti aku. Pengalaman pertama ternyata tidak semenakutkan yang aku bayangkan.


Bangun pada pagi harinya, aku tidak menemukan dia berbaring di sisiku. Aku melihat ke sekelilingku dan menemukan dia sedang berada di balkon. Jarak kami tidak terlalu jauh, tetapi dia terlihat tidak terjangkau oleh tanganku dengan tatapan kosongnya itu.

__ADS_1


Mungkin dia menyadari aku sedang menatapnya, karena dia menoleh. Aku cepat-cepat menyembunyikan diri di balik selimut dan mendapati aku tidak mengenakan apa pun. Mendengar bunyi pintu dibuka, aku panik. Aku menarik selimut itu bersamaku ke kamar mandi.


Aku segera menutup dan mengunci pintunya. Sayup-sayup, aku mendengar suara tawa Theo. Dia tertawa. Dia tertawa, tetapi malah air mataku yang menetes jatuh di pipiku. Bukan begini yang aku pikirkan cara kami berinteraksi. Kami seperti dua orang asing yang baru bertemu sehari yang lalu.


Walau aku tidak mengeluhkan malam pertama kami, tetapi aku tidak merasakan jiwa kami bersatu. Kami benar-benar melakukan semua ini semata-mata kewajiban, tidak ada emosi atau cinta. Aku ingin menikah dengan Theo, bukan orang asing di balik pintu ini.


“Oh!” Aku menabrak tubuhnya yang ternyata berdiri menghalangi pintu. “Maafkan aku.”


“Apa yang lo lakukan di dalam? Kenapa lama sekali?” Dia melingkarkan tangannya di pinggangku.


“Te-tentu saja mandi.” Aku merasa risi berada sedekat ini dengannya karena aku tidak mengenakan apa pun di balik mantel mandiku.


“Kenapa lo gugup?” Dia mênciúm bibirku. “Hm. Lo pasti pakai pelet.” Bibirnya mengeksplorasi wajah dan leherku, sedangkan tangannya membuka mantelku.


“Theo, aku lapar. Kita bisa melakukan ini nanti.” Aku berusaha untuk tawar-menawar.


“Kita selesaikan ini, baru sarapan.” Dia membopong tubuhku dengan mudah dan membaringkan aku di tempat tidur.


Kami pulang pada keesokan harinya dengan pesawat yang sama. Ternyata Antonio menyewanya. Itu bukan jet pribadi miliknya. Istrinya lebih suka menggunakan uang mereka untuk mengembangkan usaha atau menolong orang yang membutuhkan. Antonio hanya diizinkan memiliki rumah dan mobil.


Theo bersikap sangat sopan ketika ada orang lain di sekitar kami. Dia tidak mencoba untuk mênciúm atau memperlakukan aku dengan mesra. Aku sempat berpikir dia akan seagresif saat kami berdua saja di kamar. Dua malam itu kami bagaikan kelinci di musim kawin.


Kami berpisah di bandara. Antonio dan Buddy pulang ke rumah mereka, sedangkan kami bersama para pengawal kembali ke apartemen. Kami dan Matt menggunakan mobil yang berbeda. Theo masih bersikap dingin dengan sibuk memeriksa ponselnya selama dalam perjalanan.


Aku sedang melihat pemandangan di luar jendela ketika dia memegang tanganku. Aku menoleh dan dia mengecup bibirku. Aneh. Apa dia membaca pikiranku? Dia mengusap-usap puncak kepalaku sebelum kembali fokus pada gadgetnya.


Tiba di apartemen, Theo keluar dahulu, lalu mengulurkan tangannya kepadaku. Aku menerimanya dan berdiri di trotoar dengan bantuannya. Dia tidak melepaskan tanganku saat menutup pintu. Aku berterima kasih, dia hanya mengangguk.


“Theo!!” teriak seseorang dari arah kanan kami. Aku menoleh dan mengerutkan kening melihat dia ada di sini. “Aku tidak percaya kamu tega melakukan ini! Kamu menolak kawin lari denganku, lalu mengapa kamu malah menikah dengan perempuan jelek itu!?”


Theo segera menarik aku agar berdiri di belakangnya. Kami menarik napas terkejut ketika wanita itu menodongkan sebuah sênjàta api ke arah Theo. “Siapa kamu? Apa yang sedang kamu bicarakan?” tanya Theo bingung.


“Aku gagal sebelumnya, tetapi aku tidak akan luput lagi kali ini. Kalau aku tidak bisa memiliki kamu, maka tidak ada perempuan lain yang bisa!” Bunyi têmbàkan dilepaskan memenuhi lingkungan itu.

__ADS_1



__ADS_2