
“Kamu sangat cocok dengan setelan itu.”
Tanganku yang sedang mengancing jas terhenti sejenak. Mengapa pengawalku tidak mengatakan apa pun tentang orang yang berniat menemui aku? Apa mereka tidak berjaga di luar? Aku lanjut mengancing jas itu dan membalikkan badan.
Acara akan dimulai. Aku tidak punya waktu meladeni wanita yang tidak aku kenal dengan baik. Aku tahu dia sering datang ke restoran kami di Amerika, tepat pada jam biasanya aku selesai bekerja. Hanya itu. Aku juga baru tahu ternyata dia putri rekan bisnis Papa.
“Theo,” dia menahan tanganku saat kami dekat, “apa yang ada padanya yang tidak ada padaku? Aku bisa memberi kamu kekuasaan yang jauh lebih besar daripada yang akan ayahmu berikan. Apa kamu tidak tertarik untuk memiliki perusahaan keluargaku? Jika kamu menjadi suamiku—”
“Aku sudah jawab tidak. Apa kamu tidak bisa mengerti bahasa manusia? Harus berapa kali kita terus membahas hal yang sama? Jawabanku akan selalu tidak.” Aku menarik tanganku darinya.
Beberapa hari terakhir datang ke restoran kami di Amerika, beberapa kali juga dia menyatakan ingin menikah denganku. Kami tidak pernah mengobrol panjang lebar dan aku tidak pernah memberi dia harapan, jadi ajakannya itu berada di luar nalarku.
“Jangan munafik. Kamu bertunangan dengan wanita itu, tetapi kamu memamerkan fotomu dengan gadis lain di media sosialmu. Kalau kamu butuh simpanan, silakan. Aku tidak keberatan. Asal aku yang menjadi istri sahmu.” Dia mengikuti aku. “Ayo, kita menikah di Las Vegas, lalu—”
“Kamu sudah gila.” Aku berjalan menuju pintu dan bergegas membukanya. Salah satu pengawalku datang mendekat. Bukan dia yang tadi berjaga di pintu. “Mana rekanmu?” Dia melihat ke kanan dan kirinya. “Pecat dia dan minta bosmu mengirim gantinya malam ini juga.”
Partnernya itu tahu jelas perintah dariku. Kecuali keluargaku atau tim pengurus acara, tidak boleh ada yang masuk ke ruang ganti. Bagaimana bisa Hillary masuk tanpa ada yang menghalanginya? Apa lagi kalau bukan dia mau menerima suap dari wanita itu? Aku tidak butuh pengkhianat di sisiku.
“Baik, Pak,” ucapnya patuh.
“Theo! Kamu akan menyesal sudah menolak aku. Kamu tidak akan bahagia dengannya!” seru Hillary.
Acara pertunangan itu berjalan dengan lancar diikuti dengan perayaan semegah resepsi pernikahan. Aku dan Venny duduk di pelaminan bersama kedua orang tua kami di sisi kanan dan kiri. Aku tidak mengerti mengapa Mama melakukan ini.
Matt yang seharusnya menjadi bintang utama pada minggu ini harus mengalah. Dia baru saja wisuda, tetapi acara yang paling dipersiapkan justru pertunanganku. Kelima orang di dekatku tersenyum bahagia sepanjang acara, hanya aku yang tidak senang sama sekali.
Yang ada dalam pikiranku hanya Amarilis dan pertemuan terakhir kami di bandara. Aku tidak bisa menghubungi dia, karena Papa mengancam aku akan membuat studinya gagal jika aku ketahuan masih berhubungan dengannya. Aku sedang jauh darinya, jadi aku tidak bisa melindungi dia. Maka cara satu-satunya adalah menuruti perintah ayahku.
__ADS_1
Venny merengek minta diantar pulang ketika acara berakhir. Padahal mobil orang tuanya masih muat menampung dia. Matt pun mengalah dengan pulang bersama Papa dan Mama. Pengawalku tidak ikut di dalam mobil, hanya seorang sopir. Wanita ini tidak tahu aku punya penjaga pribadi.
Sampai di depan rumahnya, aku membiarkan sopir yang membantu dia turun dari mobil. Aku sudah cukup menghadapi sikap manjanya selama mengikuti acara tadi. Untuk menghemat waktu, aku tetap berdua di dalam mobil dengan sopirku, sedangkan para pengawal mengikuti kami.
Segalanya lancar dan aku sudah siap untuk kembali kepada Amarilis. Baik Papa maupun Mama, tidak bisa menahan aku lebih lama di kota ini. Kat, aku datang. Bunyi kaca pecah dari arah kanan depan menarik perhatianku, lalu mobil yang sedang melaju itu hilang kendali.
“Pak, hati-hati! Injak remnya!” seruku, memberi instruksi.
Namun pria itu tidak bergerak lagi. Oh, Tuhan. Siapa yang sudah mênèmbak kami? Aku tidak punya waktu berpindah tempat duduk, hanya bisa pasrah ketika kami menabrak tembok pagar di pinggir jalan. Kat, aku mau bertemu denganmu lagi.
Aku menarik napas terkejut dan membuka mata. Aku memperhatikan sekitarku dan menyadari aku sedang berbaring di lantai kamar mandi. Ya, ampun. Sudah berapa lama aku ada di sini? Aku duduk dan bersyukur kepalaku sudah tidak sakit lagi.
Mengingat hal lain yang lebih penting, aku bergegas keluar dan melihat Amarilis masih ada di atas tempat tidur. Matanya menatap aku dengan tajam dan mukanya memerah. Apa dia berteriak lama saat aku tidak sadarkan diri? Matt pasti tidak mendengar karena peredam suara di kamar ini.
Aku menahan senyum agar dia tidak semakin marah. Dia terlihat sangat lucu dibungkus selimut tebal sehingga hanya wajah dan ujung kakinya yang terlihat. Aku melepas simpul syal yang mengikat selimut itu supaya tidak bisa terbuka tanpa bantuan orang lain.
“Kamu benar-benar keterlaluan!” Dia langsung mencekik leherku ketika aku bebaskan. Cekikan itu tidak menyakitkan karena dia tidak mengerahkan seluruh tenaganya.
“Lepaskan aku! Kamu jangan coba-coba melakukannya. Aku tidak mau kamu menyentuh aku! Cepat, lepaskan aku!” Dia memberontak sekuat tenaga, walau aku jelas lebih kuat darinya.
Sebentar saja dia sudah pulas dengan tangan dan kakinya memeluk erat tubuhku. Siapa yang bilang menundukkan wanita itu hal yang sulit? Asal tahu apa yang buat dia bahagia, maka dia akan takluk secepat menjentikkan jari.
Aku membopongnya ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh kami, lalu membaringkan dia lagi di tempat tidur. Setelah menyelimuti tubuhnya dan mengatur suhu kamar, aku keluar. Matt sedang sibuk dengan laptopnya, maka aku membuat dua cangkir kopi. Satu untuknya, satu lagi untukku.
“Terima kasih,” ucapnya sebelum menyeruput kopi bagiannya.
“Pekerjaan?” tanyaku.
__ADS_1
Dia mengangguk. “Papa meminta kita bertemu mereka untuk makan siang di restoran. Hanya kita, tidak ada orang lain.” Dia segera menambahkan sebelum aku merespons.
Aku ingin sekali bertanya tentang perempuan bernama Kat kepadanya, tetapi aku mengurung niatku itu. Biasanya aku tidak ragu menanyakan segalanya kepadanya. Untuk hal yang satu ini, anehnya, nuraniku melarang. Siapa Kat yang aku sebut dalam tidurku?
Satu memoriku kembali, tetapi mengapa kejadian sebelum kecelakaan? Mungkinkah karena itu hal terakhir yang aku alami, maka peristiwa itu yang pertama muncul? Ternyata Hillary bukan satu, tetapi sudah berulang kali mengajak aku untuk kawin lari di Las Vegas. Ingatan ini akan membantu saat aku bersaksi di pengadilan nanti.
Kami pergi ke restoran, memenuhi permintaan orang tua kami. Tempat itu penuh dengan pelanggan yang juga berniat untuk mengisi perut mereka. Seorang pelayan mengantar kami ke sebuah ruangan. Wanita keturunan Amerika Selatan itu tersenyum aneh. Apa dia mengenal aku?
“Mereka semua merindukan kamu,” bisik Amarilis. “Kamu yang ada di sini sejak restoran buka. Matt yang mengurus tempat ini dari Indonesia, karena kamu sedang pemulihan.”
Ah, ini restoran kami yang sering mereka bicarakan. Bagaimana aku bisa melupakan namanya? Tentu saja para karyawan mengenal aku. Ini adalah restoran yang katanya aku pimpin selama kuliah di kota ini. Pantas saja kami mendapat ruangan khusus. Kami adalah pemiliknya.
Papa dan Mama sudah menunggu dan mereka mempersilakan kami duduk. Makanan pun diantar. Aromanya menerbitkan air liur kami. Aku terkejut melihat rendang daging sapi juga menjadi menu makanan kami. Pasti mahal mendatangkan bumbu masakan yang tidak tersedia di negara ini.
“VISA Amarilis sudah kami urus, jadi kalian berdua bisa tetap tinggal di sini selama satu tahun ke depan,” kata Papa. Usai menyantap makanan utama, berbagai kue disajikan di depan kami. “VISA Theo masih berlaku untuk dua tahun lagi, jadi kami tidak perlu memperpanjangnya.”
“Apa maksud Papa?” tanyaku tidak mengerti. “Bukankah untuk satu tahun ke depan, gue masih fokus memulihkan diri di Indonesia? Matt yang mengambil alih semua tugas gue.”
“Itu sebelum aku tahu Matt dibantu Amarilis mengurus restoran kita ini.” Pria itu tersenyum puas kepada istriku. “Dia bisa membantu kamu. Karyawan juga nyaman bekerja di bawah pimpinannya. Aku akan meminta rekomendasi nama spesialis dari doktermu di Indonesia agar bisa melanjutkan pengobatanmu di sini.”
“Tetapi, Pa, Theo belum pulih sepenuhnya. Berbahaya menyerahkan tanggung jawab sebesar itu kepadanya sekarang,” timpal Matt. “Apalagi kota ini tidak aman untuknya atau Kak amarilis. Walau Hillary sudah ditahan, Clara masih berkeliaran bebas.
“Kita juga tidak tahu apa ada masalah baru lain yang akan mereka hadapi. Jika mereka ada di dekat kita, setidaknya, kita bisa menolong mereka. Bila mereka jauh, maka mereka harus menghadapi semua tantangan itu tanpa bantuan keluarga.” Matt menatap kami dengan khawatir.
“Aku tidak meninggalkan putraku seorang diri, Matt. Masalah antara aku dengan rekan bisnisku sudah kami selesaikan semalam saat kami semua bertemu. Mereka berjanji akan menjaga Theo dan Amarilis sekuat tenaga mereka,” kata Papa dengan santai.
Mama terlihat sangat tenang dan menikmati kue yang ada di piringnya. Setelah beberapa hari ini dia tidak menyembunyikan rasa tidak sukanya kepada Amarilis, sikapnya itu sangat aneh. Papa tiba-tiba mengizinkan aku bekerja sama dengan Amarilis lebih tidak wajar lagi.
__ADS_1
“Pa, gue amnesia, tidak îdîöt.” Aku menatapnya dengan serius. “Gue tahu mengapa Papa melakukan ini kepada gue dan Amarilis.”