Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
152|Pecahnya Perang


__ADS_3

Aku bagaikan menonton film laga dalam adegan lambat. Mataku mendadak bisa melihat gerakan pêlúru itu tepat ke arah Theo. Aku hanya bisa diam menatap wanita tak berhati yang melepaskan têmbàkan itu. Dia ingin kawin lari dengannya, mengapa dia juga yang menginginkan kematiannya?


Tubuhku didorong dengan kuat sehingga jatuh ke sisi kiri. Adegan lambat itu berakhir diganti dengan gerakan normal yang menakutkan. Orang-orang yang berada di sekitar trotoar berteriak ketakutan saat bunyi têmbàkan masih berlangsung.


Ini bukan peristiwa yang aku bayangkan akan aku hadapi sehingga belajar bela diri. Aku jelas kalah cepat dari pêlúru dan tidak memegang sênjàta. Tubuhku gemetar dengan hebat, membayangkan kêmàtianku sudah dekat. Kami baru saja menikah, tetapi hidup kami harus tamat di sini.


“Hentikan!!” teriak seseorang, mengalahkan kebisingan perang pêlúru itu. “Hentikan atau aku hancurkan kepalanya sekarang juga!!”


“Cukup! Hentikan têmbàkan kalian!” perintah wanita gila itu.


Suasana sekitar kami pun akhirnya tenang. Mendadak tidak ada suara atau bunyi apa pun sehingga telingaku berdenging. Padahal aku sudah menutupnya rapat-rapat dengan kedua tanganku agar bunyi têmbàkan itu tidak memekakkan pendengaranku.


Aku mengangkat kepalaku dan melihat Daisy sedang menodongkan pîstölnya ke pelipis Hillary. Ada banyak orang berpakaian serba hitam yang berdiri dengan sênjàta teracung atau meringkuk di jalan. Gila. Apa wanita itu membawa banyak orang untuk mêmbúnuh kami?


Terdengar bunyi sirene dari kejauhan, para pengawal kami serentak menarik pêlàtuk agar orang yang datang bersama wanita gila itu tidak melarikan diri. Para pejalan kaki juga tidak berani bergerak dari tempat mereka berdiri.


Polisi mengendalikan keadaan dengan menahan para penjahat itu dan tidak melakukan apa pun kepada para pengawal kami. Mereka jelas memakai seragam yang berbeda. Semua orang bayaran perempuan itu memakai setelan hitam, sedangkan orang kami memakai kaus dan celana jins.


Seorang petugas medis menyelimuti aku dengan kain tebal dan mengajak aku untuk ikut dengannya. Dia memeriksa keadaanku dan hanya menemukan lecet pada siku kiriku. Theo yang paling parah. Daun telinga kanannya terserempet pêlúru sehingga dàräh membasahi bagian kanan leher dan bahunya. Walau jumlahnya banyak, medik menjamin dia baik-baik saja.


“Kalian tidak apa-apa?” tanya Matt yang datang entah dari mana. “Jangan lihat gue begitu. Kami baru sampai waktu perang itu terjadi. Pengawal kalian tidak mengizinkan aku keluar dari mobil.”


“Syukurlah,” ucapku lega.


“Gue sudah beri keterangan kepada polisi, giliran kalian. Gila. Perempuan itu kerasukan setan apa? Ternyata dia juga yang sudah menyerang Theo di Jakarta.” Matt mendesah kesal.


“Gue enggak ingat siapa dia, tetapi Theo bego juga menolak wanita secantik itu,” kata Theo dengan santai. Dia memandang kami secara bergantian. “Hei, gue hanya jujur.”


“Cantik-cantik psikopat. Lo hanya akan menderita menikah dengan dia.” Matt meletakkan kedua tangannya di pinggangnya.


“Jangan lupa. Dia juga kaya raya,” timpal Theo.


“Aku tidak mau mendengar ini.” Aku berdiri setelah medik mempersilakan aku pergi.

__ADS_1


Seorang petugas polisi mendekat dan mulai menginterogasi. Ini bukan pengalaman pertamaku memberi laporan, jadi aku menjawab sesingkat dan selugas mungkin. Aku tidak mau bertemu mereka lagi bila ada keteranganku yang kurang jelas.


Daisy mendekati aku dan tidak menjauh lagi dari sisiku. Melihat mobil di mana Hillary berada, aku mendekat. Polisi yang berjaga menghalangi aku dengan sinyal tangannya. Aku meminta bicara satu detik saja dengan penjahat itu. Wanita itu terlihat ragu, tetapi dia akhirnya mengangguk.


Begitu dia membuka pintu, aku memanfaatkan satu detik pemberiannya dengan meninju pipi Hillary sekuat tenaga. Para polisi itu menarik napas terkejut. Aku memberikan kedua tanganku kepada polisi yang memberi aku izin itu. Dia bisa menahan aku jika aku telah melanggar hukum.


Namun dia hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. “Kamu boleh pergi.”


“Terima kasih banyak.” Aku sedikit menundukkan kepalaku.


Dia tersenyum dan membalas tundukanku. “Dengan senang hati.”


Aku membalikkan badan dan melihat Matt serta Theo memucat melihat ke arahku. Mereka serentak berdehem, kemudian menunggu sampai aku melewati mereka. Kami memasuki gedung apartemen tanpa mengatakan apa pun.


Kami memasuki unit kami, sedangkan para pengawal tetap berjaga di luar. Aku terus berjalan ke kamarku, membuka mantelku, dan duduk di tepi tempat tidur. Aku menarik dan mengembus napas secara perlahan. Aku menoleh, lalu memegang tanganku yang masih gemetar.


Air mata jatuh dari pelupuk mataku tanpa terbendung. Dadaku sesak sekali. Aku baru menjalani pernikahan dan hubungan suami istri yang aneh, lalu disambut dengan màút yang sudah mengintip dari gerbang kêmàtian. Aku pikir riwayatku tamat pada saat itu juga.


Syukurlah, aku masih hidup. Daisy dan semua rekannya berhasil menyelamatkan kami dari màút pada hari ini. Namun sampai kapan? Ancaman apa lagi yang akan aku hadapi nanti? Hidupku sebagai Katelia tidak pernah serumit ini. Mengapa menjadi Amarilis membuat hari-hariku penuh tantangan?


Aku menarik tanganku dan memeluknya. “Aku mau hidup normal, tidak seperti ini. Aku tidak mau ketakutan setiap hari, Theo.” Aku menangis tersedu-sedu.


“Maaf, gue enggak tahu apa-apa. Gue juga enggak bisa membaca pikiran orang, siapa yang baik dan yang jahat kepada kita.” Dia mencium sisi kepalaku. “Bahkan sampai saat ini, gue enggak tahu siapa yang bisa gue percaya. Tetapi lo istri gue, lo harus kuat. Gue yang dahulu percaya sama lo, jadi gue juga mau belajar bergantung sama lo.”


“Kamu sama sekali tidak mengingat apa pun?” tanyaku ragu.


“Nama gue saja gue enggak ingat,” akunya.


Aku melepaskan pelukanku dan menjauh darinya. Aku menatap kedua matanya, mencari tahu apa dia sedang berkata jujur atau bersandiwara. Rasanya aku sulit percaya dia melupakan segalanya. Namun kedua matanya jujur, tidak terlihat sedang berbohong.


“Apa gue boleh melakukannya lagi?” Dia menatap bibirku.


“Lagi?” tanyaku tidak percaya.

__ADS_1


“Junior gue membuat gue enggak nyaman. Lo tahu sendiri hanya lo yang bisa menenangkannya.”


“Kamu harus belajar untuk mengendalikannya, Theo. Kamu tidak bisa terus begini—”


“Ini alasan gue malas minta izin. Lo terlalu banyak pertimbangan.” Dia mencium bibirku dan tidak berhenti sampai dia berhasil mendapatkan yang dia mau.


Semakin sering kami melakukannya, semakin dia mengetahui apa yang membuat aku tidak kuasa menolaknya terlalu lama. Bila intensitas kami melakukannya setinggi ini, aku tidak akan heran jika aku hamil. Oh, Tuhan. Kami masih terlalu muda dan dia sedang pemulihan. Aku tidak yakin kami siap untuk memiliki anak dengan segala kerepotannya.


“Theo, Matt ada di luar. Dia bisa mendengar ini,” kataku, ketika dia menginginkannya lagi.


“Apa lo enggak tahu? Kamar ini sudah dipasang peredam suara. Lo mau berteriak atau bergerak seberisik apa pun, tidak akan terdengar sampai keluar.” Dia tersenyum licik. “Apa lo pikir gue akan tidur saja sampai hari kepulangan kita? Tidak, istriku. Kita melanjutkan bulan madu di sini.”


Oh, Tuhan. Dia serius dengan ucapannya. Dia ingin memenuhi kewajibannya kepada keluarganya. Aku tidak berpengalaman dalam hal ini. Kalau saja aku tahu, aku sudah membeli obat pencegah kehamilan untuk menunda niatnya memiliki anak.


Aku tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu, tetapi saat aku membuka mata, Theo masih pulas di sisiku. Melihat ada kesempatan untuk kabur sejenak darinya, aku membersihkan diri sesenyap dan secepat mungkin, lalu keluar dari kamar.


Matt sedang asyik dengan tabletnya, mengangkat kepala, lalu tersenyum penuh arti. Aku mengambil buku yang ada di atas bufet di dekatku, lalu melemparkan ke arahnya. Dia menangkapnya dengan mulus dan tertawa mengejek. Menjengkelkan sekali.


“Kakak mau ke mana?” tanyanya saat aku mendekati pintu.


“Aku mau makan burito. Kalau mau ikut, ayo, tetapi jangan larang aku pergi.” Aku mengenakan mantelku, lalu membuka pintu.


“Gue bukan suami Kakak, untuk apa gue melarang?” Dia segera menyusul aku.


Daisy dan rekannya mengikuti kami. Restoran itu sedang ramai karena bertepatan dengan jam makan siang. Namun dengan kartu ajaib pemberian Antonio, aku bisa mendapat layanan eksklusif. Mereka menyiapkan pesanan kami terlebih dahulu.


“Akhirnya, kalian datang juga ke sini,” kata Antonio yang bergabung bersama kami.


“Antonio!” Aku bergeser agar dia bisa duduk di sebelahku. “Kamu makan siang di sini juga?”


“Iya. Ada yang rewel di rumah minta datang ke sini.” Dia melirik Buddy. Anjing itu menyalak ketika namanya disebut. “Aku senang melihat kalian baik-baik saja. Peristiwa itu mendominasi berita dalam negeri selama tiga hari terakhir.”


Aku menggeleng tidak mengerti. “Bagaimana Hillary bisa datang juga ke acara pertunangan Theo? Apa keluarganya adalah kolega kalian?”

__ADS_1


“Papa mengenal ayahnya, Pak Gordon. Aku tidak tahu mengapa Mama harus mengundang begitu banyak orang ke acara pertunangan itu. Padahal biasanya orang tua mengadakan pesta besar pada resepsi pernikahan. Akibatnya malah fatal begini.” Matt mengusap keningnya.


“Gordon?” tanya Antonio terkejut. “Ayah kalian mengenal keluarga paling berbahaya di kota ini!?”


__ADS_2