
Kami pulang dengan tenang, tidak ada satu orang pun yang bicara. Aku memang pendiam. Amarilis yang biasanya banyak bicara, menutup mulutnya rapat-rapat. Dia tidak berhenti melihat ke arah luar jendela mobil. Walau tangannya membalas genggamanku, dia tetap sibuk dengan pikirannya sendiri.
Sampai di rumah, kami langsung ke kamar. Untuk menghemat waktu, kami membersihkan diri dan berganti pakaian bersama. Dia tidak berbaring di tempat tidur, tetapi duduk dan bersandar di kepala ranjang. Padahal jam menunjukkan sudah lewat waktu tidurnya.
“Belum terlambat kalau lo mau batalkan rencana ini,” kataku, memberi saran.
“Tidak.” Dia menggeleng pelan. “Edrick berhak untuk tahu dan melihat sendiri seperti apa Nisa. Dia tidak pantas dipermainkan seperti itu oleh orang yang sangat dia sayang.”
“Gue akui, gue terkejut Nisa akan terjerumus sedalam ini. Kenapa dia tidak segera keluar dari dunia itu juga gue enggak paham.” Aku duduk di sisinya.
“Kita tinggal menunggu jadwal pesta berikutnya dari Bastian.” Dia meletakkan kepalanya di lenganku. “Kemungkinan besar minggu depan, karena dia tidak melakukannya setiap minggu.”
Dugaannya itu benar. Karena Edrick menjamu koleganya di luar kota, tetapi Nisa tidak mengadakan atau menghadiri pesta apa pun. Dia justru datang bersama sepupunya itu pada acara ulang tahun sebuah hotel besar. Bukan hal yang mengherankan kami punya kenalan yang sama.
Rahma dan Richo juga hadir, tetapi mereka menjaga jarak. Hal yang aku syukuri, karena aku tidak suka drama. Aku belum tahu apa rencana pria itu sehingga mau saja menjalin hubungan dengan musuh adiknya. Namun melihat Amarilis bersikap tenang, mereka pasti sudah membahasnya.
Menikmati malam minggu di tengah keramaian tidak buruk juga. Kami bisa makan malam bersama. Yang paling penting, makanannya enak dan gratis. Aku juga tidak khawatir dengan kebersihan dari setiap sajian mereka sehingga aman untuk istriku. Dengan begini, staf di rumah juga bisa istirahat.
Matt datang ke rumah pada hari Minggu. Dia dan pacar rahasianya sedang bertengkar. Hal yang lumrah, jadi aku tidak mendengarkan keluh kesahnya. Hanya Amarilis yang serius menyimaknya. Padahal dia tidak mengenal perempuan yang sedang diceritakan.
Aku memilih untuk memeriksa laporan mingguan restoran. Ada beberapa masalah biasa yang terjadi. Sebagian butuh penanganan segera, selebihnya bisa dikesampingkan. Muncul notifikasi ada pesan baru masuk, maka aku memeriksanya. Surel dari Antonio.
Pria tua itu tidak berhenti merepotkan aku. Dia yang mau datang berkunjung, malah aku yang harus mengurus segala akomodasinya. Padahal dia punya asisten juga sekretaris di sana. Aku merasa aku harus membayar pertolongannya dalam pernikahan kami sampai seumur hidupku. Curang.
“Kamu sedang apa, sayang?” Amarilis mendekat dan melirik layar tablet. “Oh! Antonio! Jadi, kapan dia akan tiba di sini?”
__ADS_1
“Kenapa lo tanya gue. Tanya saja sendiri sama pengganggu itu. Gue sibuk.” Aku menutup layar surel itu untuk lanjut memeriksa laporan.
Dia mencibir. “Pelit.” Ketika dia mendengus keras sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, aku mengusap kepalanya.
Aku tidak mau dia berlama-lama dalam keadaan kesal. Anak yang ada dalam kandungannya akan ikut merasakan. Dia pun tersenyum, menoleh kepadaku, lalu meletakkan kepalanya di lenganku. Begini lebih baik. Jadi, aku bisa melanjutkan pekerjaanku dengan tenang.
“Gue senang lihat kalian bertengkar. Jadi, gue tahu kalau semua pasangan mengalaminya.” Matt mendesah lega, lalu tertawa kecil.
“Memangnya lo enggak pernah lihat Ortu bertengkar?” sindirku. “Lagi pula, belum terlambat untuk mengakhiri hubungan kalian. Sebelum lo telanjur cinta mati, sebaiknya tinggalkan dia.”
“Apa maksud lo? Kalau ada yang bilang ceraikan Kak Amarilis, lo mau?” balasnya.
“Perempuan itu tidak juga bicara dengan orang tuanya mengenai perasaannya. Itu pertanda buruk, Matt. Gue enggak peduli dia patah hati, yang gue pikirkan itu lo. Untuk apa kalian backstreet, tetapi tidak ada masa depan?” tantangku. “Pernikahan mereka akhir tahun ini, tinggal enam bulan lagi.”
“Kami pasti akan menemukan solusinya. Enam bulan waktu yang cukup untuk meyakinkan orang tuanya mengenai hubungan kami,” katanya, keras kepala.
“Maksud lo?” tanyanya curiga.
“Akhiri hubungan kalian dan lihat apa yang dia lakukan,” kataku, memberi saran. “Kalau dia serius dengan lo, dia akan bicara dengan ortunya. Jika tidak, ada wanita lain di luar sana yang mau sama lo. Sebaiknya, mulailah dekati yang masih lajang, belum ada status. Cukup gue yang jalani hubungan tanpa restu.”
Matt akhirnya diam dan terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri. Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar. Aku tidak mau dia menghabiskan lebih banyak waktu lagi untuk perempuan yang tidak mau berjuang bersamanya. Jelas sekali dia hanya butuh teman kencan, bukan pacar.
Aku tidak percaya tunangannya atau keluarganya tidak tahu mengenai perbuatannya yang berani itu. Mereka pasti tahu, tetapi memilih diam. Aku lebih suka jika ada keributan. Sebaliknya, sikap tenang mereka justru lebih berbahaya. Karena kami tidak tahu apa yang mereka rencanakan.
Berita yang kami tunggu akhirnya datang. Nisa berpikir tunangannya akan keluar kota sehingga mengadakan pesta pada hari Jumat itu. Aku memberi tahu Edrick mengenai rencana itu dan dia hanya membalas oke. Bukan jenis jawaban yang biasanya dia kirim, tetapi aku mengerti.
__ADS_1
Amarilis meremas kuat tangannya yang ada di pangkuannya. Aku memegang tangannya itu untuk membantu menenangkannya. Dia menoleh kepadaku dan tersenyum tipis. Kami harus melakukan ini sekarang atau pria itu akan menderita selamanya ketika tahu hal itu setelah mereka menikah. Dia tidak pantas disakiti oleh wanita jahat itu.
Bastian menyambut kami dan wajahnya memucat melihat Edrick juga datang. Seperti sebelumnya, dia masuk ke rumah dahulu. Begitu volume musik cukup nyaman untuk didengar, dia keluar lagi untuk menemui kami. Dia tersenyum gugup.
“Edrick, aku tidak tahu kamu akan datang juga,” sapanya. “Aku pikir kamu sedang keluar kota.”
“Di mana Nisa?” tanyanya, tanpa basa-basi.
“Ah,” Bastian melihat ke arah dalam rumah, “aku tidak tahu pasti. Dia tadi masih ada di belakang.” Dia menoleh ke arah Edrick. “Mari, aku antar.”
Orang-orang di sekitar kami tidak memedulikan kedatangan kami. Mereka asyik berbincang sambil bercumbu dengan orang di dekatnya. Melihat dua orang melakukan hal itu bukan masalah bagiku, tetapi yang bermesraan berkelompok membuat perutku bergolak. Kami harus cepat pergi dari sini.
Tangan Amarilis tidak aku lepaskan sedikit pun. Ini bukan tempat yang aman untuknya. Namun dia tidak mau ditinggal di rumah. Dia mau ikut menemani Edrick melihat aktivitas tunangannya saat dia tidak ada di dekatnya. Rahasia yang dia simpan baik-baik selama ini.
Kami tiba di bagian belakang, Nisa tidak ada di sana. Hanya orang-orang yang sedang asyik makan dan memesan minuman beràlkôhol di bar. Karena kami tidak berada di rumah kerabat mereka, aku mengerti Bastian sedikit bingung di mana sepupunya itu berada.
Dia memeriksa satu per satu ruangan yang ada di lantai bawah. Keadaan di setiap ruangan berbeda, tetapi mereka mulai berada di bawah pengaruh àlkôhol. Beberapa sudah mulai melepaskan pakaian mereka, tidak malu dengan kehadiran orang lain di ruangan yang sama.
Aku melihat keadaan Amarilis. Dia terlihat pucat, tetapi menggeleng pelan. Dia masih berani bilang dia tidak apa-apa dengan muka nyaris tidak dialiri darah itu. Namun kami belum menemukan Nisa, jadi aku tidak bisa memaksa dia untuk menunggu di mobil.
Bastian mengajak kami ke lantai atas. Koridor di sana lebih sepi daripada di lantai dasar. Aku hampir muntah melihat kamar pertama berisi kumpulan orang yang sedang melakukan hubungan terlarang secara berkelompok. Edrick melarang aku dan istriku untuk mengintip isi kamar kedua.
“Tunggu.” Aku meletakkan tanganku di depan dada Edrick. “Sebaiknya kamu tidak melakukan ini. Aku tidak kuat, apalagi kamu jika kamu melihat orang yang kamu sayang—”
“Terima kasih, Theo. Tetapi aku harus melihatnya sendiri atau aku tidak akan pernah percaya dia sanggup berbuat sekejam ini kepadaku.” Dia menepuk bahuku. “Lanjutkan,” katanya kepada Bastian.
__ADS_1
Dia tidak menemukan Nisa pada kamar yang ketiga. Barulah di kamar keempat dia tertegun lama di ambang pintu. Aku melarang Amarilis, tetapi menyembulkan kepalaku ke arah kamar. Aku hanya bisa membulatkan mata melihat pemandangan di depanku.