Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
171|Demi Kami


__ADS_3

“Sayang, gue laki-laki. Keberhasilan kita memiliki anak tergantung dari gue. Walau dokter bilang obat itu aman, gue enggak percaya begitu saja. Karena dia tidak bisa menjamin efek itu tidak gue alami. Gue mau gue punya benih yang sehat dan kuat selama kita mencoba,” jawabku dengan jujur.


“Maksudmu, obat bisa membuat kualitas benihmu tidak baik?” tanyanya. Aku mengangguk. Dia melirik perutnya. “Semoga saja dia sehat, tetapi apa pun keadaannya, aku akan sayang kepadanya.”


“Kita akan sayang kepadanya,” ralatku. “Tetapi maksud gue bukan itu. Maksud gue, kita berhasil pada usaha pertama, karena gue tidak meminum obat itu.”


Dia meletakkan kepalanya di lenganku. “Yang penting, kamu tidak akan melewatkan obatmu lagi. Kamu harus sembuh, demi kami berdua.”


Kami tidak menunda kepulangan kami, meski orang tuanya meminta kami untuk tinggal bersama mereka lebih lama. Kami sudah menikah, maka kami juga perlu membina rumah tangga sendiri tanpa campur tangan orang tua. Amarilis juga berjanji akan memperhatikan kesehatannya sampai hari melahirkan nanti.


Perpisahan itu penuh air mata. Aku memahami rasa sedih mereka. Amarilis baru kembali dari luar negeri, tetapi tidak sempat melepas rindu lebih lama di rumah orang tuanya. Aku membiarkan dia bersama kedua ibunya selama kami menunggu penerbangan.


Aku merasa bersalah membeli tiket ekonomi. Dia memang terlihat tidak keberatan, tetapi aku iya. Namun untuk menghindari kecurigaan atas sumber keuanganku, aku harus menahan diri sampai saatnya tiba. Aku juga harus siap andai Amarilis marah, karena aku menyimpan rahasia darinya.


“Senangnya bisa pulang ke rumah.” Dia berjalan dengan riang sambil menyeret koper kecilnya.


“Kita masih di bandara.” Aku menahan tangannya agar dia tidak berjalan terlalu cepat.


“Kamu ini merusak suasana saja,” keluhnya, lalu bergelayut manja. “Sayang, aku lapar.”


“Kita makan dahulu? Matt baru masuk tempat parkir.” Aku memeriksa pesan di ponselku.


“Tidak. Makanan di sini mahal,” tolaknya. Dia mengangguk saat aku menunjuk ke swalayan mini untuk membeli roti.


Matt belum kelihatan di luar terminal kedatangan, jadi aku mengajaknya ke teras. Anak ini sudah tahu keadaan kakak iparnya malah berlama-lama di kantor. Bukannya berangkat lebih cepat supaya tiba tepat waktu. Apa dia lupa Jakarta macet menjelang jam makan siang?


“Aku tak percaya ini,” kata seseorang dari arah kiri kami. “Apa kalian mengikuti kami?”


Amarilis tertawa terkejut. “Mengikuti kalian? Kami yang berdiri di sini dahulu, kamu baru datang. Jadi, siapa yang mengikuti siapa?” balasnya.


Ya, ampun. Ke mana Amarilis yang dua minggu lalu menghadapi wanita ini dengan tenang? Apa kehamilannya membuat dia lebih emosional? Aku melihat ke sekeliling kami, tidak mau ada yang merekam atau memotret kejadian tersebut. Belakangan ini, istriku sangat terkenal.


“Mentang-mentang kamu menikah dengan Theo, jangan pikir kamu telah berhasil mengalahkan aku. Norman jauh lebih baik darinya dalam segala hal,” ujar Chika dengan ketus.


“Wah, Chika. Hati-hati. Kamu terdengar seperti sedang cemburu. Apa kamu masih sayang kepada suamiku?” Amarilis sengaja memberi tekanan pada kata suamiku. Perempuan ini. Apa tidak bisa satu kali saja bertemu dan tidak bertengkar?

__ADS_1


Aku mendesah lega melihat mobil Matt datang. Richo juga ada di dalam mobi. Pantas saja mereka lama. Pria pedandan ini pasti harus ke salon dahulu. Merepotkan saja. Aku menarik Amarilis agar memasuki mobil dan membantu sopir memasukkan koper kami ke bagian belakang mobil.


“Aku belum selesai bicara dengannya, Theo,” protes Amarilis saat aku masuk ke mobil.


“Serius? Biar gue tinggalkan lo di sini sampai puas bertengkar dengan dia di depan umum.” Aku bersiap untuk membuka pintu mobil.


Matanya berkaca-kaca, lalu dia membuang mukanya ke arah jendela mobil. “Kamu jahat!”


“Kalian ini ada apa? Baru sampai sudah bertengkar.” Richo meletakkan sekotak makanan di atas pangkuan adiknya. “Makan. Kamu pasti lapar.”


“Terima kasih, Kak!” Wajahnya berubah bahagia. “Memang hanya Kakak yang mengerti aku.” Dia melirik aku dengan tajam, lalu mulai menikmati ayam goreng yang ada dalam kotak itu. Aromanya membuat perutku lapar.


Kami makan siang di restoran terdekat di luar pintu gerbang tol. Matt dan Richo heran melihat Amarilis masih sanggup memesan makanan lagi setelah memakan sekotak ayam tadi sendirian. Yang mereka lihat itu belum seberapa.


Richo menemani adiknya mengobrol, sedangkan aku dan Matt mendiskusikan beberapa pekerjaan. Apalagi laporan akhir pekan restoran di Amerika sudah masuk ke surelnya. Dia menawarkan untuk memberikan kembali tanggung jawab terhadap restoran itu kepadaku, tetapi aku menolak. Kami perlu menunggu instruksi dari Papa. Biar bagaimana pun juga, rumah makan itu miliknya.


Amarilis tertidur di mobil baru beberapa menit berlalu dari restoran. Matt yang duduk di belakang memberikan bantal untuk sandarannya. Kami sama-sama mendesah pelan. Wanita hamil memang mengerikan. Suasana hatinya tidak bisa ditebak. Satu detik dia tertawa, detik lainnya dia marah.


“Hebat juga lo. Coba sekali langsung jadi,” goda Matt. “Gue jadi enggak sabar mau lihat anak hasil perpaduan kalian berdua.”


“Lo jangan coba-coba menghina dia nanti. Bagaimana pun keadaannya, gue sayang anak gue.” Aku menatapnya dengan serius.


“Kalian sama-sama anak kedua, santai saja. Tidak perlu buru-buru menikah. Walau dengan orang yang kita sayang pun, lelahnya tetap sama.” Aku menyeka anak rambut yang menutupi pipi istriku.


“Nah, kamu mengapa buru-buru menikah kalau belum siap?” tanya Richo heran.


“Kalau gue enggak segera menikah, ortu gue yang akan terlebih dahulu menikahkan gue.” Aku menggeleng pelan. “Harusnya, lo tahu itu.”


“Ah, iya.” Dia tertawa kecil. “Orang tua kalian aneh. Papa atau mamaku tidak sengebet itu meminta kami menikah terlalu cepat. Aku dan kakakku baru sama-sama memulai karier kami.”


“Karier?” ejek Matt. “Nolan sudah pasti akan menjadi pengganti papa lo, itu namanya bukan karier.”


“Apa lo juga sedang mengejek gue?” tanyaku.


“Benar, ‘kan?” tantangnya. “Gue akan tunjukkan nanti apa itu yang namanya karier. Makanya, lo cepat balik. Gue sudah gatal mau kerjakan bisnis gue sendiri.”

__ADS_1


Itu yang aku lakukan pada keesokan harinya. Aku datang ke kantor untuk bekerja. Aku tidak punya kantor karena Matt yang menggunakan ruangan yang biasa aku pakai. Jadi, aku langsung menemui Papa. Sekretarisnya mengantar aku ke ruangannya.


Dia berdiri dari kursi kerjanya, lalu mempersilakan aku untuk duduk di salah satu sofa. Aku menurut. Sekretarisnya masuk membawa baki. Minuman dan camilan diletakkan di atas meja di depan kami. Wanita itu kemudian pergi tanpa mengatakan apa pun.


“Aku senang mendengar keadaanmu sudah pulih. Apa kata dokter mengenai perawatan berikutnya?” Papa memberikan secangkir kopi kepadaku.


Aku menerimanya. “Gue diminta datang bulan depan. Hasil MRI kepala gue di Medan sudah kedua dokter diskusikan lewat telepon. Gue baik-baik saja.”


“Bagus. Berarti kamu bisa mulai mencari pekerjaan. Pasti ada banyak perusahaan yang siap untuk menerima kamu jadi karyawan mereka.” Dia menyeruput kopinya.


“Gue sudah melakukan kewajiban gue, Pa. Jangan lupa. Gue ingat segalanya.” Aku meletakkan cangkir kopiku ke atas meja. “Gue bertanggung jawab atas restoran langsung dari lokasi selama tiga tahun, lalu gue mendapatkan posisi gue kembali di sini.”


“Kamu tidak melakukan tanggung jawabmu secara penuh,” ralatnya.


“Karena putri teman bisnis Papa mencelakai aku. Siapa tahu Papa lupa.” Enak saja dia menggunakan cara itu untuk menyingkirkan aku.


“Kamu melanggar kesepakatan kita dengan menikahi perempuan itu. Siapa tahu kamu lupa.” Tidak ada alasan lain, akhirnya dia memakai wanitaku sebagai tamengnya.


“Kita tidak punya kesepakatan hitam di atas putih yang ada hubungannya dengan Amarilis. Wanita itu bernama Amarilis, Pa. Gue tahu Papa belum lupa. Jadi, gue tidak melanggar kesepakatan apa pun,” kataku dengan tegas.


Dia tertawa kecil. “Apa kamu pikir aku bodoh? Bocah ingusan seperti kamu mau menantang aku?”


“Bukankah Papa sendiri yang mengajari gue untuk bisa bernegosiasi dengan baik? Kesepakatan yang ditandatangani di atas kertas yang bisa dituntut. Di luar itu, semuanya fleksibel, termasuk istri yang gue pilih. Apa Papa lupa? Papa sendiri yang bilang, Venny adalah yang terakhir,” tantangku. Sama sekali tidak takut dengan perbedaan jauh pengalaman kami berdua dalam bisnis.


“Kamu boleh menikahi perempuan mana pun asal sederajat dengan kita, Theo.”


“Tunggu beberapa bulan lagi, maka kami akan sederajat, Pa,” kataku dengan percaya diri. “Usaha roti orang tuanya sangat berkembang. Itu pun kalau Papa atau Mama tidak pakai cara kotor lagi. Bisa jadi mereka akan sangat sukses dan masuk dalam kalangan kita.”


“Orang miskin seperti mereka tidak akan naik hanya karena mendadak punya uang,” ejeknya.


“Gue sudah katakan, silakan hina gue, tetapi jangan Amarilis. Mereka jauh lebih mulia daripada kita yang memandang rendah orang miskin.” Aku berdiri. “Gue akan ke ruangan. Kalau Papa butuh gue, Papa tahu nomor interkom gue. Selamat pagi, Pa.”


“Theo,” panggil Papa. Aku terpaksa menghentikan langkahku. “Kamu belum jadi dirut di sini, jadi kamu tidak punya kuasa lebih dariku. Kalau kamu tidak bisa menuruti aku, cari kerja di tempat lain.”


Aku sebenarnya tidak mau menggunakan cara ini, tetapi dia memaksa. Aku harus tetap bekerja di sini, demi Amarilis dan calon anak kami. “Aku tahu kelemahan usaha Papa di Amerika. Silakan pilih. Posisiku kembali kepadaku atau aku hancurkan restoran itu.”

__ADS_1



[Terima kasih sudah membaca, teman-teman. Aku baru sadar kita sudah melewati bab 170. Hahaha .... Belum bosan, 'kan, menjalani hari dengan Altheo dan Amarilis? Kita lanjut hari Selasa, ya.]


__ADS_2