
Restoran buka pada pukul sepuluh, jadi belum ada pelanggan di ruang makan. Namun keributan di dapur bisa menarik perhatian orang kalau tidak segera ditangani. Begitu sekuriti membuka pintu dapur, suara melengking perempuan itu memekakkan telingaku.
“Imigran gelap sepertimu tidak sepantasnya bekerja di sini! Aku sudah melakukan hal yang benar dengan memecat kamu, karena kamu berani membantah perintah atasan!” teriaknya.
“Pak Husada,” ucap seorang koki, menarik perhatian semua orang.
Semua orang yang berada di ruangan itu menoleh dan memberi hormat kepadaku. Kecuali satu orang yang segera mendekati aku dengan wajah serius. Aku tahu perempuan ini adalah bencana begitu dia menjadi asisten manajer tanpa melewati seleksi.
“Theo, kamu harus melaporkan orang itu kepada polisi. Dia sudah melanggar kontrak kerja! Aku memecatnya kemarin karena dia seorang penjahat!” lapor Clara.
“Pak Husada,” ralatku.
“Apa?”
“Ketika kamu bicara dalam kapasitas kerja, kamu harus menghormati aku sebagai atasan di sini. Atau kamu mau membantah perintah atasan?” tantangku.
Menyadari kesalahan yang dia lakukan, dia merapatkan bibirnya. Dia baru saja memarahi karyawan dengan alasan telah membantahnya, maka dia harus menjadi contoh dengan tidak menentang aku di depan mereka. “Pak Husada.”
“Ada apa ribut-ribut?” tanyaku acuh tak acuh.
Dia menunjuk ke arah koki yang tadi dia marahi. “Aku sudah memecat dia, tetapi dia berani datang lagi dan menantang aku.”
“Mengapa kamu memecat dia?”
“Apa kamu tidak tahu? Dia imigran gelap. Restoran ini bisa mendapat masalah besar jika ketahuan mempekerjakan orang yang melanggar hukum.”
“Carlos bukan imigran gelap. Dia lahir dan tumbuh besar di sini.” Aku melirik pria yang sedang menjadi bahan pembicaraan tersebut.
“Itu tidak membuat dia otomatis menjadi orang Amerika, Theo.” Aku menatapnya mendengar kata terakhir itu. “Ah, maksudku, Pak Husada. Dia punya catatan kriminal. Dia pernah mencuri dan aku yakin dia akan melakukannya lagi di sini. Bisa jadi dia sudah mencuri alat masak yang mahal dan menjualnya. Sekuritimu perlu diganti siapa tahu mereka bekerja sama.”
“Dia mencuri karena ibunya sakit. Anak usia sepuluh tahun belum boleh bekerja. Jadi, bertahan hidup bukanlah kejahatan.” Terima kasih kepada Daisy yang sudah mendapat semua info itu.
__ADS_1
“Pencuri adalah pencuri. Dia pasti akan melakukannya lagi. Aku memecat dia demi kamu. Restoran ini butuh pekerja yang bebas dari catatan kriminal.”
“Hati-hati, Nona Willis. Aku tidak menerima karyawan yang rasis di sini. Mereka sudah melewati proses seleksi yang panjang dan ketat, siapa tahu kamu tidak tahu.” Aku sengaja menyinggung cara dia mendapatkan posisinya dengan halus.
“Carlos dan kedua rekannya yang kamu pecat itu sudah bekerja di sini selama satu tahun lebih. Mereka tidak pernah membuat masalah. Kamu baru beberapa bulan berada di sini, bagaimana bisa kamu lebih tahu tentang cara kerja mereka dibandingkan aku?
“Satu hal lagi,” kataku dengan cepat, melihat dia berusaha untuk menyela. “Aku juga bukan orang asli Amerika. Apa kamu akan menuduh aku imigran gelap atau label itu hanya kamu tempelkan ke kepala orang yang levelnya di bawahmu?
“Kalau kamu tidak bisa bekerja sama dengan semua orang yang ada di sini, kamu bisa keluar kapan saja kamu mau.” Aku menyapukan pandanganku kepada semua orang. “Kalian dibayar per jam, jadi ini terakhir kalinya aku melihat kalian hanya diam, tidak bekerja.”
Mereka tertegun sejenak, lalu buru-buru ke posnya masing-masing. Aku melirik manajer yang berdiri di sisiku yang dari tadi hanya diam. Masalah sekecil ini saja tidak bisa dia tangani. Dia yang menerima semua karyawan ini, mengapa dia juga yang mudah digoncang oleh orang baru?
Kembali ke ruangan, Papa menelepon dan memberi tahu tanggal kedatangan mereka juga nama hotel tempat kami menginap. Aku memberi tanda pada kalender di ponsel agar tidak melupakan hari penting itu. Aku perlu mengabari hal ini kepada Amarilis.
Melihat dia terlihat serius berpikir pada malam itu, aku terkejut mengetahui alasannya. Yang tidak mudah untuk dipercaya adalah temannya sendiri yang melakukan kecerobohan fatal itu. Aku bisa memahami kegundahannya. Bila nilainya lebih buruk dari semester sebelumnya, maka beasiswa pada semester berikutnya terancam dibatalkan.
Bagaimana bisa sahabat baiknya itu melakukan ini terhadapnya? Tiga hari adalah waktu yang cukup untuk memeriksa kesalahan dan memperbaikinya. Mengapa sampai satu minggu berlalu, dia diam saja mengenai tugas itu? Kasihan Amarilis. Dia belajar keras setiap hari. Aku adalah saksinya.
Aku berjanji nilainya akan baik-baik saja, maka aku menepatinya. Aku meminta pengawalku untuk memeriksa setiap CCTV yang merekam aktivitas mereka selama melakukan diskusi. Hal yang mudah saja mereka dapatkan. Aku menontonnya sendiri dan mengamati gerak-gerik mereka.
“Selamat pagi, Profesor Bateman. Revisi tesis saya sudah lama saya serahkan.”
“Aku bercanda. Kamu selalu saja serius.” Dia menunjuk kursi di depannya. “Jadi, apa yang bisa aku bantu?”
“Saya ingin menunjukkan sesuatu.” Aku mengeluarkan tabletku.
Dia menonton video yang sudah aku potong, jadi dia bisa fokus melihat pada bagian penting saja. Dia bisa melihat lambang kampus pada layar, jadi dia memeriksanya langsung ke bagian keamanan jika dia tidak percaya dengan video editan itu.
Amarilis berbincang bersama kelima orang satu grup diskusinya. Ada tanggal dan waktu kejadian itu berlangsung. Solusi yang mudah. Daripada bersitegang, begini lebih baik. Melihat dia mengangguk, lalu tersenyum, aku menunggu responsnya dengan sabar.
“Gadis ini adalah kekasihmu?” Dia tersenyum penuh arti. Aku tidak menjawab. “Ah, iya. Tidak boleh ada pembahasan masalah pribadi. Oke. Aku akan mencantumkan nilai yang menjadi haknya.”
__ADS_1
“Profesor tidak akan bertanya dahulu kepada teman grupnya?”
“Aku tidak suka dibohongi, jadi aku tidak mau dia membohongi aku dua kali,” jawabnya santai.
“Terima kasih, Profesor.”
“Tidak, aku yang berterima kasih. Gadis ini beruntung punya pacar yang baik.” Dia menyodorkan tabletku kepadaku.
“Tidak, saya yang beruntung,” ralatku. Dia tertawa.
Aku tidak langsung pergi dari kampus, tetapi melihat keadaan di sekitar. Membiayai hidup tiga orang tambahan di negeri asing tidak ringan, maka aku hanya mempekerjakan Daisy dan satu rekan pria untuk menjaga Amarilis.
Sepertinya sudah saatnya mereka menggunakan alat canggih untuk mengawal calon istriku. Keadaan sedang tenang, tetapi bisa saja sentimen ras akan mencuat lagi tahun ini. Sikap Clara terhadap koki di restoran kami hanya contoh kecil. Perbuatan Nora adalah hal yang besar.
Dia tahu Amarilis tidak membiayai kuliahnya sendiri, tetapi tega mengerjainya. Dosen biasanya cukup kritis mengatasi persoalan seperti ini. Entah mengapa dia tidak terlalu peduli dengan Amarilis. Apa karena dia bukan orang berada?
Melihat wanitaku berkumpul bersama teman-temannya di teras kampus, aku memperhatikan cara mereka berinteraksi. Pria bêrengsek itu masih saja menatapnya. Bagaimana Amarilis bisa tidak tahu ada teman kelompoknya yang menyukai dia?
Baru bicara sebentar, Amarilis berdiri dari tempat duduknya. Hanya Nora yang mengejarnya. Aku melirik ke arah Daisy. Dia mengangguk dan mengikuti calon istriku. Sudah cukup melihat apa yang terjadi, aku kembali ke restoran.
Keadaan sedang damai, tetapi aku tetap waspada. Selama Clara masih berada di sini, aku belum bisa tenang. Sebelumnya, dia main pecat karyawan hanya karena ras mereka. Aku tidak tahu apa lagi tingkahnya selanjutnya.
Demi menjaga hubungan yang tetap baik antara Pak Willis dengan papaku, aku menerima undangan makan siangnya. Aku pergi ke hotel tujuan dengan taksi dan beruntung jaraknya dekat dari restoran. Jadi, aku tidak perlu bergelut lama dalam kemacetan.
Pelayan mengantar aku, tetapi temannya memanggil. Aku tahu letak ruangannya, jadi aku tidak keberatan pergi sendiri. Aku memperhatikan nomor ruang makan yang aku lewati, lalu tiba pada nomor yang dimaksud.
“Aku akan berhati-hati. Papa jangan khawatir begitu.” Terdengar suara Clara dari dalam.
Mengapa dia juga ada di sini? Ayah dan anak memang sama saja. Aku pikir undangan ini hanya antara aku dan Pak Willis. Tidak aku duga, putrinya juga ikut makan bersama kami. Apa Papa tidak memberi tahu dia mengenai statusku?
“Berhati-hati? Theo mengetahui perbuatanmu dan dia curiga kamu rasis. Aku tidak peduli kamu dipecat, tetapi jangan sampai hubunganku dan Azarya rusak. Dia kolega yang sangat penting bagiku,” ucap Pak Willis dengan serius.
__ADS_1
“Ini juga penting bagiku, Pa. Kalau dia dan aku menikah, bukankah kamu juga akan diuntungkan?” kata wanita itu dengan nada membujuk. “Aku berjanji tidak akan terjadi hal yang buruk dengan rumah makan itu. Aku hanya mau Theo mengalami kesulitan dan meminta pertolonganku. Hanya dengan cara itu dia akan menyadari bahwa dia membutuhkan aku.”
Aneh. Pria itu mengakui sendiri bahwa hubungannya dan Papa baik, tetapi mengapa dia tidak tahu situasiku sekarang? Apa mungkin Papa yang merahasiakan hal itu darinya?