
Hal pertama yang aku pikirkan adalah bayiku. Karena kakiku tidak bisa menjadi tempat tumpuan, aku mempererat peganganku pada susuran tangga. Jantungku berdebar dengan cepat, khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi pada kandunganku.
Lalu aku teringat dengan instruksi Daisy bagaimana jatuh dengan aman, tanpa melukai diri sendiri. Namun aku dalam kondisi yang akan sama bahayanya bagi bayi ini. Oh, Tuhan. Maafkan aku yang teledor ini. Seharusnya aku tidak mengalihkan pandangan dari langkahku.
Aku pasrah akan merasakan sakit pada bokong, pinggang dan punggungku, tetapi aku tidak jatuh. Aku membuka mata begitu menyadari aku dalam pelukan seseorang. Wangi kolonyenya membuat jantungku berdebar semakin cepat. Benar saja. Ketika kami bertemu pandang, aku melihat api di matanya. Aku menelan ludah dengan berat.
“Lo enggak mau diikat di kamar, tetapi menuruni tangga dengan benar saja tidak bisa?” katanya dengan suara tertahan, menahan amarah. “Semua gadget lo akan gue sita kalau ini terjadi lagi.”
“Ma-maaf,” ucapku pelan. Aku bersalah, jadi aku tidak melawan ucapannya itu.
Dia berdiri dahulu, kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu aku bangun. “Ada apa? Gue hanya menjawab telepon penting sebentar. Apa lo selapar itu sampai enggak bisa menunggu?”
“Kamu sudah pergi hampir satu jam, kamu bilang hanya sebentar?” balasku.
Dia menggeleng pelan, lalu menggandeng aku ke ruang keluarga. Pelayan datang membawa baki berisi kudapan untuk kami. Melihat itu, aku menolak dan mengajak untuk duduk di teras samping. Theo mendesah keras, tetapi dia menuruti permintaanku.
Aku bergelayut manja di lengannya saat kami berjalan ke teras. Dia marah karena aku, jadi aku tidak boleh membangkang untuk beberapa waktu ke depan. Begitu kami duduk, aku memutar otak apa yang sebaiknya aku foto. Melihat cangkir dan tekonya bagus, maka aku dapat ide yang bagus.
Aku memegang tangan kanannya dan memastikan cincinnya terlihat, lalu tangan kiriku di mana cincin warisan neneknya berada. Aku mencari sudut dengan pencahayaan yang paling baik, lalu menjepretnya beberapa kali. Aku memastikan teko dan cangkir juga terpotret.
“Lo sedang apa?” tanyanya tidak sabar.
“Nanti juga kamu tahu.” Aku melepaskan tangannya, lalu memeriksa setiap foto tadi.
Aku mengunggah foto yang terbaik, lalu memberi pesan singkat, tea time with my hubby. Beres. Aku meletakkan ponselku di atas meja, mengambil cangkir bagianku dan meminumnya dengan senang hati. Ahh. Pembalasan dendam itu bisa manis juga, ya?
“Cepat terima,” kata Theo saat ponselku bergetar.
Aku menatapnya dengan bingung, tetapi aku menurutinya. Ternyata dia mengirim permintaan jadi teman. Aku terpaksa menerimanya agar kami tidak bertengkar. Dia melihat layar ponselnya, lalu melakukan entah apa. Aku melihat ada notifikasi baru pada media sosialku.
__ADS_1
Dia mengubah foto profilnya dengan foto pernikahan kami di Las Vegas, dan menandai akunku. Aku tersenyum melihatnya. Dia meletakkan ponselnya di atas meja dan lanjut meminum tehnya tanpa mengatakan apa pun lagi. Karena dia yang memulai, aku pun melakukan hal yang sama, mengganti foto profilku dengan foto bersama kami yang lain.
Bila foto tangan kami mendapatkan banyak sekali respons, maka foto profilku dapat lebih banyak reaksi dari postinganku itu. Theo benar. Aku masih terkenal di media sosial, jadi harus berhati-hati agar tidak ada yang memanfaatkan situasi untuk menjatuhkan Theo lewat aku.
“Kalau boleh tahu, mengapa Venny mendekati kamu lagi?” Kami belum sempat membicarakan kejadian pada hari Jumat itu, maka ini adalah saat yang tepat.
“Tanya saja langsung ke orangnya,” jawabnya. Aku mencibir. “Jangan dipikirkan. Gue enggak akan selingkuh. Terlalu banyak pekerjaan yang menyita perhatian gue, ditambah lagi kêhàmilan lo.”
“Bagaimana aku tidak kepikiran? Dia cantik sekali. Badannya juga bagus.”
“Kalau gue tertarik dengan wanita cantik, mana mungkin gue jatuh cinta sama lo. Jika dia memang orang yang gue suka, untuk apa gue bertengkar dengan ortu gue? Lo jaga emosi dan keselamatan lo saja dengan baik. Enggak usah memikirkan hal yang enggak akan pernah terjadi.”
“Iya, iya.” Aku mencibir.
Wajar saja aku khawatir. Papanya bekerja sama dengan papa Venny. Mereka akan sering bertemu karena kedekatan orang tua mereka. Bukan hal yang aneh jika mereka memaafkan keluarga itu dan menerima putri mereka kembali. Dia tetaplah pilihan yang lebih baik daripada aku.
Sedari kecil, aku tahu apa itu status dan reputasi. Karena itu, aku menjaga agar keluargaku tidak tahu aku merundung teman-teman sekolah. Jika mereka tahu, aku pasti màti detik itu juga. Walau Bunda sayang kepadaku, dia lebih berpihak kepada nama baik keluarga besarnya.
Itu juga yang Om Azarya dan Tante Ruth lakukan. Teman-temanku bangga kepadaku yang menikah dengan Theo, tetapi orang yang dekat dengan keluarga Husada tidak terlalu peduli. Bagi mereka, aku bukanlah istri sah sampai ada pengakuan dari mulut Om Azarya.
Putusnya pertunangan Theo dengan Venny juga masih mereka rahasiakan. Jadi, di mata orang lain, merekalah pasangan yang sebenarnya, bukan aku dan Theo. Walau aku yang di sini bersamanya, aku hanya dianggap simpanan. Venny justru dinilai mulia karena masih mau menerima Theo yang telah mengkhianati dia. Dunia memang tidak adil kepada orang miskin.
Theo berdiri di depanku, membuyarkan lamunanku. Dia mengajak aku untuk masuk ke rumah, karena matahari sudah terbenam. Aku menurut dengan menerima uluran tangannya. Ketika aku sudah berdiri, dia malah membelai pipiku dan menunduk untuk mênciúm bibirku.
“Gue sudah bilang, jangan dipikirkan.” Dia mênciúm aku lagi. “Enggak akan ada wanita lain, Kat.”
Mataku memanas mendengarnya. “Saat gue melupakan segalanya, gue enggak pernah lupa dengan perasaan gue buat lo. Apa lo enggak percaya setelah gue ingat semuanya, hati gue hanya untuk lo? Hanya ada satu gadis yang membuat gue tertarik. Gadis itu sudah jadi istri gue. Percaya sama gue, Kat. Wanita secantik dan semenarik apa pun tidak akan membuat gue berpaling.”
Aku mengangguk pelan. Hanya bisa melingkarkan tanganku di pinggangnya tanpa mengatakan apa pun. Tidak salah lagi. Dia pasti bisa membaca pikiran. Bagaimana dia bisa tahu aku masih memikirkan masalah tadi? Aku merasakan kecupannya di puncak kepalaku.
__ADS_1
“Satu lagi. Jangan lupa lo sedang hàmîl. Nyawa gue berkurang satu hari ini karena ulah lo. Lihat langkah lo dengan baik supaya tidak jatuh atau tersandung. Gue benaran ikat lo sampai trimester pertama lewat kalau begini terus.”
Mengapa dia harus selalu merusak suasana dengan ancaman? Aku baru saja terharu dengan kalimat manisnya, dia tidak menunggu satu jam untuk membuat aku jengkel lagi. Namun aku tidak perlu marah terlalu lama, karena dia mênciúm aku lagi.
Tiga hari berturut-turut bekerja dari rumah, aku bertemu Kak Jericho pada hari Kamis untuk bicara mengenai beberapa tawaran pekerjaan dan undangan. Dia sedang berada di sebuah restoran hotel untuk mengikuti rapat dengan salah satu kliennya.
Dengan santai dia memilih dan menolak beberapa pekerjaan. Aku mencatat semuanya, lengkap dengan alasan penolakannya. Sebagian besar karena jadwalnya bertabrakan dengan pekerjaan lain atau dia sudah menjadi model dari produk sejenis dengan merek lain.
“Aku akan menghadiri sebuah acara besok malam. Datanglah. Ajak Theo jika dia sedang luang. Bawa ini agar kalian diizinkan masuk.” Kakak menyodorkan sebuah undangan. “Perhatikan kode bajunya. Jangan sampai salah kostum. Akan ada banyak klien yang datang, aku akan memperkenalkan kamu kepada mereka. Jadi, mereka tidak akan segan lagi bicara denganmu mengenai pekerjaan.”
Theo memilih untuk bekerja di kantornya daripada ikut pesta yang dihadiri banyak orang, tetapi dia mengizinkan aku untuk menghadirinya. Malangnya, aku mual parah pada pagi hari yang membuat dia berubah pikiran. Kami pun bertengkar. Aku hanya perlu menangis untuk memenangkannya.
Walau dia setengah hati menemani aku, dia memesan penata rias untuk membantu aku bersiap-siap. Aku bisa memilih pakaian berwarna hitam dari koleksi bajuku. Dia sudah merogoh kocek dengan riasanku, maka aku tidak mau membeli pakaian baru.
Acara itu diadakan di sebuah aula besar. Yang mengejutkan aku, ada banyak sekali orang terkenal yang datang. Aku sampai merasa tidak layak berada di antara mereka. Theo bersikap biasa seolah sering bertemu dengan mereka.
“Theo, aku pinjam istrimu sebentar,” kata Kak Jericho yang datang mendekati kami. Theo hanya mengangguk, lalu membiarkan Kakak membawa aku. “Tersenyum dan bicara secukupnya, karena aku akan memperkenalkan kamu kepada teman-temanku dengan cepat.”
Aku menuruti sarannya tersebut. Setelah berinteraksi dengan beberapa dari mereka, aku mengerti mengapa kami bicara seadanya. Ternyata mereka berpikir seperti yang aku duga. Mereka menilai aku adalah simpanan Theo, bukan istrinya. Setiap kali mereka bertanya, Kakak membawa aku pergi.
“Kalau Kakak tahu reaksi mereka begitu, mengapa meminta aku datang juga?” tanyaku heran.
“Aku baru tahu tadi saat mereka melihat kalian masuk. Aku tidak tahu kalau mereka menganggap kamu hanya selingkuhan Theo. Keterlaluan. Kalau bukan karena aku menjaga nama baik, aku sudah memarahi mereka semua,” ucapnya dengan suara tertahan.
“Biarkan saja. Anjing menggonggong kafilah berlalu.”
“Kembalilah kepada Theo. Kita sudah selesai.” Dia melirik di mana suamiku berada.
“Aku ambil minuman sebentar.” Aku menunjuk ke arah meja saji tidak jauh dari kerumunan yang mengelilingi suamiku. Kakak mengangguk, lalu membalas sapaan temannya.
__ADS_1
Melihat ada kursi kosong di barisan depan, aku berniat mengajak Theo untuk duduk. Lelah juga berdiri sedari tadi. Aku hampir dekat meja ketika ada yang menarik rambutku dari belakang. Tidak berhenti sampai di situ, aku ditarik sampai memasuki sebuah pintu yang tertutup tirai.