
“Ah, selamat sore, Pak.” Wanita yang satu ruangan denganku itu terdengar terkejut. “Apa ada yang bisa saya bantu?”
Mas Norman yang masuk ke ruangan kami menoleh ke arahku sebelum melihat sekretarisnya lagi. “Tidak. Kamu sudah boleh pulang.”
“Baik, Pak. Sampai jumpa hari Senin,” kata wanita itu dengan sopan.
Dia sangat beruntung, bisa pulang tepat waktu. Aku malah diberikan tumpukan pekerjaan yang tidak pernah selesai. Hal yang dilakukan Mas Norman karena aku menolak perasaannya. Namun aku tidak protes dan pura-pura tidak tahu ini adalah hasil perbuatannya.
“Kamu sudah bisa berhenti. Ini hari terakhirmu, aku tidak akan membiarkan kamu lembur,” ucapnya.
Hal yang tentu saja aku turuti dengan senang hati. Aku segera menutup semua jendela aplikasi, lalu mematikan komputer. Setelah merapikan meja dan mengumpulkan sisa barang pribadi ke dalam kotak kecil, aku berdiri.
“Sini, aku bantu.” Dia mengulurkan tangannya, berniat mengambil kotak itu dariku.
“Tidak.” Aku menjauhkan benda itu darinya. “Saya bisa membawanya sendiri.”
“Pacarmu melarang kamu dekat dengan laki-laki lain, ya?” tebaknya.
“Apa ada orang yang suka melihat orang yang dia cintai dekat dengan lawan jenisnya?”
“Baik, kamu benar.” Dia tertawa kecil sambil berjalan di sisiku.
Aku menghentikan langkahku. “Mas, saya mohon. Saya ingin menjalani hari terakhir saya dengan damai. Kalau Mas berjalan bersama saya sampai ke lobi, orang-orang akan semakin membenci saya.” Aku menatapnya dengan serius.
“Kamu tidak akan bisa mengatur bagaimana orang lain bersikap dan menilai kamu, Amarilis. Walau kamu menghindari gosip dengan menjaga sikap, selalu akan ada kekuranganmu yang mereka bahas.”
“Saya mohon,” tukasku.
__ADS_1
“Kamu menghindari aku, bukan khawatir dengan orang-orang itu,” katanya curiga. “Kalau kamu pikir aku akan menyerah hanya karena kamu sudah menyukai orang lain, kamu salah. Aku tidak akan mengalah sebelum berjuang.”
“Itu hak Mas.” Aku menundukkan kepalaku, lalu berjalan dahulu ke elevator.
Divisi HRD sudah memberikan surat kepadaku, jadi aku tidak perlu berurusan lagi dengannya. Aku sangat tenang tidak perlu kembali ke hotel ini. Aku juga bebas dari tatapan sinis para karyawan yang tidak berhenti membicarakan aku saat aku ada di dekat mereka.
Akhir pekan aku gunakan untuk bersiap-siap memasuki perkuliahan. Aku menyusun pakaian resmi dan buku yang akan aku perlukan selama bimbingan dengan dosen. Aku baru selesai mengolah data, jadi aku perlu menemui pria itu sebelum lanjut ke bab berikutnya.
Ponselku tidak berhenti bergetar karena ulah Matt dan Kak Jericho, tetapi aku mengabaikan mereka. Apa tidak ada orang lain yang bisa mereka ajak jalan-jalan? Matt juga tidak sensitif sama sekali. Aku dan Theo sudah putus, mengapa dia masih berteman denganku?
Namun satu panggilan masuk terpaksa aku terima. Ajakannya untuk bertemu, mengejutkan aku. Dia tidak mengatakan apa alasannya, tetapi aku bersikap sopan dengan memenuhi permintaannya itu. Mungkin ini ada hubungannya dengan aku dan Theo.
“Ini.” Dia menggeser sebuah amplop putih ke arahku. “Jumlahnya cukup untuk kamu belikan rumah atau apa saja yang kamu mau.”
Aku mengerutkan kening melihatnya. Apa dia memberi aku sebuah cek? “Maaf, Tante. Saya tidak mengerti.” Untuk apa dia memberikan aku uang?
“Theo terancam tidak bisa menggantikan posisi papanya karena skandal denganmu. Para pemegang saham protes karena reputasinya hancur akibat ulahmu. Tolong, jauhi Theo. Jika tidak, apa yang terjadi kepada keluargamu akan lebih buruk dari itu,” ancamnya.
“Itu peringatan pertama. Kamu tinggal pilih, keluargamu atau Theo.” Dia memasang wajah serius. “Aku tidak pernah memberi ancaman kosong. Jadi, jangan paksa aku berbuat nekat, Amarilis.”
“Aku pikir Tante adalah orang yang terhormat. Aku tidak pernah menduga Tante akan menggunakan cara serendah ini untuk menyingkirkan orang lain. Tante marah kepadaku, cukup aku yang Tante sakiti. Jangan keluargaku yang tidak ada sangkut pautnya dengan semua ini.”
“Aku akan lakukan apa pun demi melindungi anak-anakku, tidak peduli bila aku harus melanggar hukum. Lagi pula, hukum mana yang bisa menyentuh aku? Apa kamu punya bukti akulah pelakunya?” tantangnya. “Putuskan Theo, maka keluargamu akan aku lepaskan.”
Aneh. Apa dia tidak tahu aku dan putranya sudah putus? Theo bahkan tidak pernah menemui atau menelepon aku lagi. Lalu mengapa dia masih meminta aku untuk menjauhinya? Pantas saja dia sampai melibatkan keluarga Amarilis. Dia pikir kami masih bersama.
“Kamu tidak perlu menemui putraku lagi. Cukup berikan cincin itu kepadaku. Kamu bisa putuskan dia lewat pesan atau telepon, aku tidak peduli. Sudah saatnya benda wasiat itu diberikan kepada wanita yang lebih berhak.” Dia mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Oh. Ini alasan dia belum tahu kami sudah putus. Aku berniat mengembalikannya kepada Theo, tetapi dia tidak membaca atau membalas pesanku. Karena dia yang memberikannya kepadaku, maka akan lebih etis jika aku memulangkannya kepada si pemberi.
“Maaf, Tante. Saya tidak bisa menerima uang ini.” Aku menggeser amplop itu kembali kepadanya.
“Kamu serius mencintai Theo? Kalau iya, apa kamu tega melihat dia hancur? Dia nyaris kehilangan hak warisnya karena ulahmu. Jika dia terus diberitakan buruk, maka tinggal menunggu waktu saja para pemegang saham menunjuk orang lain untuk menggantikan suamiku kelak,” katanya frustrasi.
“Aku tidak percaya kamu tidak hanya mendekati Theo, tetapi juga Norman. Nancy kelihatannya suka kepadamu, mengapa tidak fokus dengan mereka dan lepaskan putraku? Kami tidak seperti keluarga mereka yang tidak peduli dengan status calon istri Norman. Jadi, pilih mereka saja.
“Karena aku serius dengan ucapanku kepadamu. Aku tidak akan membiarkan kamu dan Theo menikah. Bahkan aku mati sekalipun, aku akan menghalangi niatmu itu dari alam kematian.” Dia bicara dengan mata berapi-api.
Aku memperhatikan tatapan mata, gerakan mulut, bahkan urat di lehernya saat dia bicara. Aneh sekali. Tante Ruth terlihat sangat membenci aku. Apa kesalahanku kepadanya sampai dia jadi begini? Mungkinkah Chika memprovokasi dia seperti yang dia lakukan kepada mama Katelia?
“Theo bilang, cincin warisan neneknya diberikan secara turun-temurun kepada menantu dari ahli waris utama. Mengapa cincin yang sangat berharga ini ada pada Theo, bukan Tante?” Aku akhirnya punya kesempatan menanyakan kejanggalan itu.
“Urusanku dengan mertuaku bukan urusanmu. Aku mengajak kamu bicara agar kamu menjauhi Theo dan membiarkan dia hidup tenang. Cepat, kembalikan cincin itu,” desaknya.
“Maaf, Tante. Hanya Theo yang bisa menarik cincinnya dari saya.”
Apa yang sedang Theo pikirkan? Apa mungkin dia hanya emosi sehingga mengucapkan kata putus? Mengapa cincin ini tidak dia minta dariku? Pesanku mengenai pemberiannya ini pun tidak digubris. Orang tuanya sendiri juga tidak tahu kami sudah berakhir.
Namun aku tidak mau berharap dia masih menginginkan kami bersama. Sikap diamnya sudah cukup menjadi pertanda bagiku. Dia tipe pria yang memperhatikan orang yang dia sayang. Walau dia sibuk, dia akan menyempatkan membalas pesanku. Kali ini, tidak.
Demi menghindari pertengkaran yang tidak perlu, aku menghabiskan makanan dan minumanku agar bisa pamit dari Tante Ruth. Dia tidak berhenti meminta cincin yang ada padaku. Walau aku dan Theo tidak bersama lagi, aku tidak sudi melihat cincin ini ada pada Chika tanpa izin pria itu.
Baru saja memikirkan mantan teman yang licik itu, aku melihat dia berjalan cepat di depanku ketika aku berbelok. Mungkin dia dan Tante Ruth janjian di mal ini. Itu yang aku pikirkan awalnya sebelum dia bertingkah aneh dengan melihat ke kanan kiri dengan sikap yang mencurigakan.
Rasa ingin tahuku tergelitik, jadi aku mengikutinya dengan hati-hati. Dia memasuki sebuah kafe, maka aku mengikuti dia dengan mataku. Pelayan yang berjaga menyambut aku dengan ramah, tetapi aku hanya tersenyum kepadanya.
__ADS_1
“Maaf, meja untuk berapa orang?” tanya wanita muda itu lagi.
Aku terpaksa menoleh ke arahnya dan menjawab satu orang. Lalu aku kembali melihat Chika yang sudah duduk di sudut ruangan khusus. Namun aku bisa melihat dia dari kaca dinding pemisah. Sudah ada orang yang menunggu dia di sana. Orang itu bukan Tante Ruth.