Rumah Untuk Jiwaku

Rumah Untuk Jiwaku
198|Dengan Elegan


__ADS_3

Aku menelan ludah dengan berat. Percakapan mereka bagaikan déjà vu saat Bunda beberapa kali bertemu aku di masa dukanya karena kehilangan Katelia. Dia begitu marah kepadaku dan menyebut aku sebagai pèmbúnuh. Namun rasa sakit yang Rahma alami pasti tidak sama denganku. Bunda hanya orang lain baginya, tetapi ibu kandung untukku.


“Kamu dan Chika sudah delapan belas tahun pada saat kejadian perkara. Hanya Nisa yang masih tujuh belas tahun.” Rahma terduduk mendengar kalimat Bunda itu. “Apa kamu pikir aku tidak tahu usia kalian dan semua peraturan hukum tentang pèmbúnuhan?


“Aku memperjuangkan keadilan atas kêmàtian putriku selama bertahun-tahun. Aku menemui kuasa hukum, polisi, guru besar, siapa saja untuk bisa menuntut Amarilis dan membuat dia membusuk di penjara. Semuanya karena aku gelap mata terprovokasi omongan kalian.


“Aku sampai tidak punya waktu untuk berduka dengan benar sampai hatiku terluka parah. Namun aku berterima kasih atas usaha kalian itu, karena aku kini tahu bagaimana menghadapi penjahat cilik seperti kamu. Kenyataan Katelia hidup di tubuh Amarilis adalah alasan aku memaafkan kalian.


“Jadi, berterima kasihlah dengan hidup menjauh dariku dan keluargaku. Jangan tantang aku dengan mengancam putra atau putriku lagi. Kamu tidak akan mau berhadapan dengan amarah seorang ibu.” Bunda mundur selangkah. “Pergi dari sini, sebelum aku berubah pikiran.”


Rahma tidak menunggu Bunda mengatakannya dua kali. Dia berdiri, tetapi baru satu langkah, dia terjatuh karena tersandung kakinya sendiri. Dia melirik Kak Jericho sesaat sebelum terisak dan berlari memasuki restoran. Kakak mendesah lega, kemudian berjalan mendekati kursinya.


Ayah, Kak Nolan, Kak Jericho, dan aku takut kepada Bunda bukan tanpa alasan. Inilah yang terjadi jika ada yang sudah membuat Bunda marah. Karena itu, kami akan melakukan semua perintahnya bila intonasi suaranya sudah naik, sedikit saja.


“Terima kasih, Ma,” ucap Kakak begitu dia berdiri di dekat Bunda. Mereka kemudian bersorak senang, membuat kami heran. “Lihat, Ris? Begitu caranya membalas dengan elegan.”


Aku menatapnya tidak percaya. “Kalian bukannya bertengkar di dalam tadi?” tanyaku terkejut.


Mereka serentak menggeleng. “Kata cinta itu membuat aku curiga. Jericho punya tipe perempuan kesukaan dan itu jelas tidak ada padanya. Jadi, aku tahu ada yang tidak beres. Ternyata dia berani mengancam putraku agar mau jadi pacarnya. Perempuan tidak tahu malu.”


Kami semua pun ikut bersorak senang. Mama memuji kecepatan berpikir Bunda dan Kak Jericho. Dia dari tadi sudah tidak tahan ingin mengomeli wanita itu karena selain sudah bersikap merendahkan aku, dia mengatakan hal yang membuat Mama marah. Dia paling kesal aku dituduh mêmbúnuh.


Edrick dan Sonata kembali bergabung, maka perayaan ulang tahunku pun dilanjutkan. Walau aku yang bertambah usia, aku sama sekali tidak boleh menyentuh kue tar yang penuh gula itu. Theo tidak mengizinkan, tetapi aku boleh makan yang lainnya sebanyak yang aku mau.


Bunda yang pertama memberikan kado untukku, disusul Bunda dan para saudara laki-lakiku. Aku memutuskan untuk membuka semua pemberian itu di rumah nanti. Edrick dan Sonata juga sudah menyiapkan hadiah mereka masing-masing. Meghan bahkan menitip kadonya kepada Sonata.

__ADS_1


Kami beriringan saat pulang ke rumah. Bunda dan Mama terperangah melihat betapa besarnya tempat tinggal kami. Mereka tidak bisa melihat-lihat karena sudah malam, jadi aku mempersilakan mereka menuju kamar. Pelayan ternyata sudah menyiapkan segalanya atas perintah Theo. Dia memang pintar sekali menyimpan rahasia itu.


“Apa yang lo lakukan?” tanyanya ketika aku membuka satu per satu kancing piyamanya.


“Tentu saja membuka kado utamaku,” jawabku, meniru kalimat yang dia gunakan pada malam ulang tahunnya. “Aku mencintai kamu, Theo. Terima kasih untuk semua kejutan hari ini.”


“Lo bahagia?” Dia membelai pipiku.


“Sangat bahagia!” seruku.


Bunda dan Mama tidak mengganggu aku bekerja di rumah pada pagi harinya. Para pria sudah pergi melakukan entah apa di luar sana. Barulah pada jam makan siang, aku bergabung lagi dengan kedua ibuku dan mendengarkan mereka bercerita bagian dari tempat ini yang mereka sukai.


Aku kembali bekerja sampai pukul enam sore, lalu berkumpul dengan mereka lagi. Namun aku kaget melihat mereka sudah rapi dengan baju resmi mereka, bahkan sedikit berdandan. Mereka meminta aku untuk berganti pakaian dan merias wajahku untuk makan malam di luar.


Hanya Matt yang menyambut kami dengan ramah, sedangkan Om Azarya dan Tante Ruth terlihat tegang. Theo berdiri dan dia membantu aku untuk duduk di sisinya. Papa dan Ayah melakukan hal yang sama kepada Bunda dan Mama.


“Terima kasih banyak mau menemui kami di sela-sela jadwalmu yang pasti padat, Azarya,” kata Ayah dengan ramah. “Ruth, kita sudah lama tidak bertemu.”


Pasangan itu tersenyum sambil mengangguk pelan. “Kamu seharusnya bilang kalau Amarilis dan orang tuanya juga ikut makan bersama kita, Nathan.” Om Azarya melirik papaku.


Ayah tertawa kecil. “Kalau aku melakukan itu, maka kamu tidak akan mau menemui kami. Sebaiknya kita bicara sambil makan. Semua orang pasti sudah lapar.”


Om Azarya menyetujui saran Ayah. Pelayan pun datang menyajikan makanan untuk kami. Pria itu mempersilakan ayahku untuk memimpin doa makan. Kami pun hening sejenak. Hanya Ayah dan Om Azarya yang sesekali membahas pekerjaan selama kami makan. Kak Nolan dan Matt sesekali bicara setiap kali mereka dilibatkan.


Theo menambah sesendok ikan kukus ke atas piringku. “Makan yang banyak,” bisiknya.

__ADS_1


Aku memang kesulitan makan, karena suasana yang menegangkan. Seharusnya dia memberi tahu aku, jadi aku sempat menyiapkan diriku dari rumah. Ini terlalu mendadak. Namun aku menurutinya. Ada anak yang perlu aku pikirkan pertumbuhannya.


Begitu kami selesai makan, semua peralatan dan perlengkapan makan yang kosong dibawa oleh pelayan, lalu mereka menyajikan minuman hangat dan kudapan. Aku bisa merasakan tatapan Tante Ruth ke arahku. Selama makan, aku sama sekali tidak mengangkat kepalaku.


“Aku tidak mengerti. Bukankah kamu sangat membenci dia? Mengapa kamu bisa duduk di sisinya tanpa amarah sedikit pun?” tanyanya kepada Bunda.


“Sebelum aku menjawab itu, aku mau tahu. Apa yang membuat kamu sangat menentang pernikahan mereka? Amarilis tidak berasal dari kalangan kita, aku mengerti. Tetapi dia gadis yang baik dan terhormat. Apa yang membuat kamu tidak mau memberi dia kesempatan?” tanya Bunda heran.


“Memangnya kamu tidak keberatan andai salah satu putramu menikah dengan orang biasa?” Tante Ruth balik bertanya.


“Daripada mereka menikahi wanita terpandang, tetapi kelakuannya kurang ajar, lebih baik mereka menikah dengan gadis biasa yang bisa jaga kehormatannya,” jawab Bunda dengan jujur. “Aku baru saja menolak perempuan begitu semalam.”


Ayah memegang tangan Bunda yang ada di atas meja. “Maksud istriku adalah kami mau menjadi penengah di antara kalian dengan keluarga Amarilis. Karena itu, kami datang bersama mereka. Bila ada yang bisa kami bantu, maka kami akan menolong kalian.


“Kedua anak sudah menikah dengan sah. Sebagai orang tua, kita seharusnya mendukung keputusan baik mereka. Kalian sangat bertekad memisahkan mereka pasti ada alasan yang kuat. Apa ada yang kalian ketahui tentang Amarilis yang membuat kalian berat menerimanya?” tanya Ayah.


“Tidak ada alasan lain. Kami sangat keberatan dengan statusnya. Kalian tidak tahu rasanya menjadi bahan gunjingan orang karena putra sulungmu menikah dengan anak orang miskin,” jawab Tante Ruth. “Aku lebih baik melihat dia bercerai, lalu menikah dengan wanita yang sederajat.”


Theo berniat mengatakan sesuatu, tetapi aku mempererat peganganku pada tangannya. Ini bukan saatnya baginya untuk membela aku. Dia menoleh menyatakan protesnya, aku tetap menggeleng. Kedua ibu kami sedang bicara dengan serius. Dia harus percaya kepada kemampuan mamaku.


Bunda tertawa kecil. “Kalian menjadi bahan gunjingan orang karena putra sulungmu atau karena statusmu sendiri, Ruth?”



[Go, go, go, Bunda!]

__ADS_1


__ADS_2