
''Kamu ngomong nya githu, calon istri ku hanya kamu seorang?'' Ucap Pak Candra menahan emosi nya.
''Sudah lah, kamu pulang saja, kita nggak selevel, kamu kaya kaya dan punya semua nya, sedangkan aku hanya mempunyai gubuk reot ini untuk sekedar berteduh dari panas dan juga hujan,'' jawab Bu Wati masih dengan nada tinggi dan judes.
''Kamu nggak pantas bersanding dengan gadis kampung seperti ku, yang hanya akan buat malu orang tua beserta sanak saudara kamu yang super duper kaya itu,'' oceh nya lagi.
''Aku masih nggak ngerti apa yang kamu ucapkan dari tadi, bukan nya kemarin waktu aku datang ke sini kamu masih baik baik saja, tapi kenapa sekarang kamu malah benci banget sama aku Wati, ada apa sebenarnya?!'' tanya Pak Candra.
''Aku sengaja dari luar kota langsung datang ke sini untuk menemui calon istri ku, tapi ini yang aku dapat kan dari kamu, katakan padaku? ada apa sebenar nya,'' tanya Pak Candra memegang pundak Bu Wati.
''Kamu tanya saja sama Papa mu, aku nggak bermaksud untuk memanfaatkan kamu karena kamu yang kaya raya, tapi kamu lah yang selalu ngejar ngejar aku, dan kamu harus ingat aku juga punya harga diri, jangan mentang mentang kamu dan juga keluarga kamu orang kaya, yang kelas atas bisa mengancam orang rendah seperti ku, aku memang miskin tapi aku bukan gadis murahan yang seperti Papa mu katakan,'' kata Bu Wati panjang lebar, menumpahkan segala rasa sedih nya yang 3 hari ini selalu menggangu fikiran nya.
Pak Candra tak menjawab sepatah katapun, dia hanya mengepalkan kedua tangan nya dengan begitu erat.
''Ternyata ini semua ulah Papa, dia mengirim aku ke luar kota hanya untuk mendatangi calon istri dan calon ibu dari anak anakku kelak,'' batin Pak Candra.
''Ya sudah aku pulang dulu. Assalamu'alaikum,'' pamit nya pada Bu Wati, Pak Candra pulang menuju ke rumah nya dengan membawa emosi dan rasa benci yang ditujukan pada Papa nya.
''Waalaikum salam,'' jawab Bu Wati menutup pintu rumah nya, dia menangis sejadi-jadinya di dalam rumah, karena secara tak langsung dia sudah marah marah pada Pak Candra yang sudah baik padanya selama ini.
Sebelum Pak Candra benar-benar pergi, dia melihat rumah Bu Wati sejenak, dan melajukan mobil nya dengan kecepatan di atas rata rata. Dan tak butuh waktu yang lama untuk sampai ke rumah nya, hanya cukup waktu satu jam kini Pak Candra sudah sampai di rumah nya yang bak seperti Istana. Namun tak ada kebahagiaan di dalam nya.
Dengan emosi yang sudah membuncah dan mungkin sudah ada di ubun ubun.
Pak Candra keluar dari mobil nya dan menutup pintu mobil nya dengan kasar.
Braakk....
__ADS_1
Pak Candra melangkah lebar memasuki rumah besarnya, yang ternyata di dalam sana sudah ada Pak Handoko beserta sang puteri yang mungkin dia lah yang akan menjadi istri Pak Candra.
''Kebetulan sekali kamu sudah pulang, sini sapa Chintya dulu,'' kata Pak Sanjaya pada Pak Candra sang Putera.
Chintya adalah puteri Pak Handoko partner kerjanya di perusahaan Sanjaya Grub.
''Maaf Pa, Candra capek mau istirahat di kamar,'' jawab Pak Candra melewati Pak Handoko beserta Chintya di ruang tamu.
''Candra...! kamu nggak sopan banget sich,'' teriak Pak Sanjaya, tapi Pak Candra tak merespon perkataan dari Papa nya. Pak Candra terus saja menaiki tangga guna ke kamar nya yang berada di lantai 2 rumah nya.
''Sudah biarin saja Sanjaya, mungkin Candra capek pulang dari luar kotanya,'' Ucap Pak Handoko pelan, namun tersirat rasa kecewa di wajahnya.
Chintya memandang Papa nya, mengisyaratkan agar segera kembali ke rumah nya, Pak Handoko yang di tatap pun mengerti akan tatapan sang puteri.
''Ya sudah kalau githu kami pamit, sudah larut juga,'' kata Pak Handoko beranjak dari tempat duduk nya.
Di dalam kamar, Pak Candra sedang mengamuk, dia melemparkan semua barang barang yang ada di dalam kamar nya.
Sampai sang Mama menghampiri nya ke kamar Pak Candra.
''Ada apa?'' tanya sang Mama pada Putera sulungnya.
''Kenapa sich Ma, Papa harus ikut campur dengan kehidupan Candra. Candra sudah mengikuti kemauan Papa untuk mengelola perusaha'an, tapi kenapa Papa harus mengancam orang yang Candra sayangi,'' sahut nya, Pak Candra memilih duduk di sofa yang ada di dalam kamar nya.
''Itu semua di lakuin, karena Papa mu sangat sayang sama kamu, agar kamu punya masa depan yang cerah dan juga bagus,'' Ucap sang Mama lagi yang menghampiri Pak Candra yang sedang duduk di sofa panjangnya.
Sang Mama mengelus punggung putera sulung nya agar tak emosi lagi.
__ADS_1
''Sudahlah, lebih baik Mama kembali ke kamar nya, Candra mau istirahat capek,'' beranjak dari tempat duduk nya dan melangkah menuju tempat tidur yang berada tak jauh dari sofa yang ia duduki.
''Jangan lupa tutup pintu nya,'' tambah nya ketika sang Mama mulai beranjak dari tempat duduk nya yang ingin keluar dari kamar Pak Candra.
Sang Mama hanya menuruti perminta'an dari putera nya, sebut saja Bu Heny, beliau menuruni tangga guna menemui suaminya di ruangan keluarga.
''Pa, Mama ingin bicara,'' kata Bu Heny dingin.
''Bicara saja Ma?'' sahut Pak Sanjaya dan menepuk sofa di samping nya, agar sang istri duduk di sebelah nya.
''Apa benar Papa menemui keluarga Wati di kampung, dan Papa juga mengancam keluarga nya,''
''Mama tau dari mana,'' jawab Pak Sanjaya datar.
''Papa tinggal jawab saja pertanya'an Mama,'' Ucap Bu Heny kesal karena Pak Sanjaya tidak menjawab pertanya'an nya.
''Mama tak perlu tau tentang ini, biar saja Papa yang akan mengurus keluarga gadis miskin itu'' jawab Pak Sanjaya.
''Pa!!''
''Jangan bikin putera kita benci sama Papa, kalau Papa mau dia pergi dari rumah ini silahkan saja, Papa lanjutin rencana Papa sebelum, asal Papa jangan pernah menyesal?!'' Ujar Bu Heny pergi meninggalkan suaminya di ruang tamu.
''Harusnya Mama mendukung Papa, maksud Papa baik Ma!!'' teriak Pak Sanjaya namun Bu Heny tak menggubris perkataan suaminya.
Bu Heny terus melangkahkan kakinya menuju ke kamar puteri bungsu nya, yang masih belajar di kamar nya.
''Mama tumben ke kamar Adik,'' tanya Citra lembut. Bu Heny mengangguk tanpa menjawab pertanya'an sang putri.
__ADS_1
BERSAMBUNG