
Pinky mengelus pelan perut datanya sebelum sampai ke poli kandungan. Karan yang melihat sang istri mengelus perut nya, memilih untuk berhenti melangkah dan membawa Pinky ke kursi yang berada tak jauh dari nya.
''Ada apa sayang?'' tanya Karan setelah melihat istri nya tenang.
''A-aku nggak apa apa Mas, hanya saja ? apa benar yang dokter tadi itu bilang, kalau aku tengah hamil, dan apa Mas Karan senang mendengar nya,'' tanya Pinky secara beruntun kepada suami nya.
''Jangan di pikirin lagi ya, kalau memang kamu hamil? pastinya Mas senang lah sayang, dan kenapa kamu nanya seperti itu, atau mungkin kamu tidak senang kalau benar kamu hamil,'' kini giliran Karan yang bertanya kepada sang istri.
''Bukan seperti itu Mas, Pinky hanya takut kecewa setelah sampai di poli kandungan, dan ternyata Pinky tudak hamil?'' tambah nya lagi. Katanya menggenggam tangan istri nya untuk memberi semangat.
''Sudah, kamu jangan berfikir yang aneh aneh dulu, sebelum kita tau kebenaran nya kalau nggak boleh bicara seperti itu ya, kalaupun kamu belum hamil Mas tidak akan marah atau kecewa sama kamu sayang, namun Mas percaya Allah akan memberi kejutan di lain hari dan itu akan membahagiakan keluarga kita,'' pungkas nya dan membantu Pinky berdiri dari tempat duduk nya. Mereka berdua sudah siap dengan hal apa yang di akan di terima di poli kandungan sebentar lagi.
Karan mendaftarkan nama istri nya sebelum dia di panggil masuk ke dalam ruangan dan bertemu dengan dokter di dalam.
''Mas, Pinky sangat takut?'' lirih nya seraya menatap wajah suami tampan nya.
''Sudah, jangan khawatir? Mas akan menemani kamu didalam kok?'' sela Karan menenangkan sang istri, sampai akhirnya tibalah giliran Pinky yang di panggil oleh suster yang bertugas di sana.
''Nona Pinky?'' panggil nya.
Pinky dan Karan melangkah menuju ruangan dokter, dan duduk di depan meja dokter kandungan. ''Nona Pinky,'' sapa sang dokter ramah.
''I-iya dokter,'' jawab nya gugup.
''Nggak usah gugup seperti itu Nona?'' kata dokter wanita di depan nya.
__ADS_1
''Keluhan nya apa,'' tanya dokter itu membuat Pinky semakin gugup untuk menjawab, padahal dia juga nggak ada keluhan sama sekali, bahkan pusing atau mual mual yang menjuju kehamikan itu belum Pinky alami sama sekali, namun dokter tadi malah menyarankan untuk mendatangi dokter ini, batin dan pikiran Pinky berkecamuk menjadi satu.
''Sebenarnya kami datang ke sini untuk menemui dokter atas rekomendasi dokter yang ada di poli umum. Dokter itu mengatakan kalau istri saya tengah mengandung sekarang, namun sang dokter meminta kami untuk mengecek langsung ke poli kandungan agar lebih jelas nya,'' Ucap Karan menjelaskan maksud kedatangan mereka ke poli kandungan.
''Nona Pinky, apa yang di rasakan sekarang?'' tanya dokter lagi.
''Saya nggak merasakan tanda tanda kehamilan di diri saya dokter, tapi yang saya alami sekarang hanyalah cepat lelah dan juga gampang ngantuk,'' akhirnya Pinky mau membuka suara nya dan menjelaskan apa yang ia rasakan saat ini.
''Mari ikut saya?'' ajak sang dokter kepada Pinky, ''Tuan juga boleh ikut menemani istri nya di dalam,'' papar nya yang masuk ke ruangan yang hanya di tutupi dengan tirai saja.
Pinky berbaring di ranjang di bantu dengan suster, suster tersebut menyibak baju Pinky sebelum mengoleskan jel yang terasa dingin di perut.
Maaf Nona?'' Ucap nya meminta maaf sebelum benar-benar menarik baju yang Pinky pakai ke atas sedikit, sehingga memperlihatkan perut rata dan juga putih.
''Dokter, itu apa?'' tanya Karan ketika melihat titik hitam di dalam nya. Dokter wanita itu pun tersenyum ke arah Karan dan juga Pinky.
''Nona Pinky memang tengah mengandung, yang di tanyakan tuan? ini adalah janin yang ada di dalam perut Nona Pinky saat ini, dia masih baru satu minggu di dalam perut nona Pinky,'' papar sang Dokter membuat Karan membesarkan matanya untuk menatap kembali ke arah layar tersebut.
''Maksud Dokter? istri saya beneran hami,'' tanya Karan sekali lagi, dia hanya ingin memastikan apa yang ia dengar adalah kebenaran, bukan halusinasi semata.
''Iya Tuan, istri anda tengah mengandung?'' Ucap Dokter lagi meyakinkan Karan, sedangkan Pinky sudah mengeluarkan air mata bahagia nya, mengingat dia sudah akan menjadi Ibu.
''Sayang, kenapa kamu menangis?'' tanya Karan membantu sang istri bangun dari ranjang tempat ia periksa.
''Pinky hanya tak menyangka saja Mas, ternyata di dalam sini sudah ada calon anak kita,'' Ucap nya lirih.
__ADS_1
''Sudah kamu jangan sedih lagi ya, nanti yang ada janin nya juga ikutan sedih,'' jawab Karan memeluk Pinky, sedangkan Dokter yang memeriksa Pinky sudah ada di luar, meninggalkan sepasang suami istri yang tengah terharu setelah mendengar berita kehamilan pasang nya.
Karan menuntun Pinky untuk di bawa ke dokter wanita yang tadi memeriksa nya. ''Ini resep obat berisi vitamin,'' kata dokter di depan nya. Karan mengangguk pelan seraya mengambil resep yang dokter berikan.
''Nona Pinky harus menjaga kandungan nya dengan baik, karena di trimester awal kehamilan sangat rentan sekali, karena janin nya juga belum begitu kuat di tahun sangat Ibu,'' kata dokter wanita itu mengingat kan Pinky.
''Baik Dokter, dan terima kasih,'' sahut Pinky dan sedikit mengukas senyum di bibir manis nya, sedangkan jemari nya sudah menari di perut nya, dia mengusap perut rata nya bebey kali sebely mereka benar-benar pergi dari ruangan Dokter kandungan tersebut.
''Kalau begitu kita pamit sekarang?'' ujar Karan beranjak dari tempat duduk nya, sembari membantu istri nya bangun.
Karan dan Pinky menjabat tangan dokter di depan nya, dan segera pergi dari ruangan itu, kini mereka menuju apotik yang masih ada di sekitaran rumah sakit.
''Sayang? ternyata kamu hamil,'' Gumam Karan dengan raut wajah yang begitu bahagia.
''Iya Mas, kita akan menjadi orang tua?'' balas nya dengan mengembangkan senyum manis nya. Pinky masih menatap gambar janin nya yang masih berbentuk bintik hitam di sana, karena janin nya masih berusia satu minggu.
''Mas?'' panggil Pinky dengan suara pelan nya.
''Kamu mau anak kita cowok atau c-cewek?'' tanya Pinky ragu ketika mengatakan cewek.
''Apapun yang Allah kasih, akan Mas terima dengan dua tangan Mas sayang, cewek sama cowok sama saja, mereka adalah titipan yang Allah kasih kepada kita berdua, jadi kamu jangan bersedih di saat anak kita wanita,'' jawab Karan panjang lebar.
Pinky tersenyum menatap suami nya. Dan merekapun pulang ke rumah karena sudah tak sabar untuk memberi tahu kepada orang rumah atas berita kehamilan nya.
atau sudah h
__ADS_1