
Citra yang sedang emosi pun langsung mendobrak pintu tersebut, ''Papa sudah sangat keterlaluan sama keluarga Wita, sebenarnya mereka punya salah apa sich Pa, sampai sampai Papa segitu membenci Wita dan juga keluarga nya,'' bentak Citra karena dia tak menyangka Papa nya bisa melakukan hal serendah itu.
''Salah dia, karena tidak mau menjauh dari Candra, Papa sudah memperingatkan mereka sebelumnya, namun ancaman Papa tidak mereka gubris,'' jawabnya santai.
''Papa keterlaluan, kalau sampai Kak Candra mengetahui hal ini, Kak Candra akan membenci Papa dalam jangka waktu yang lama, bahkan mungkin seumur hidup nya,'' lagi lagi Citra melawan Papa nya, yang mungkin sudah tak memiliki rasa kemanusiaan lagi.
Tiba-tiba pintu di tendang dengan sangat kuat, sehingga menimbulkan bunyi yang nyaring.
Braaakkk...
Citra yang terkejut segera menoleh ke asal suara, yang ternyata di sana sudah ada Candra sang Kakak, yang baru saja di bicarakan olehnya.
''Selamat!!'' Ucap Candra bertepuk tangan setelah keduanya menoleh ke arah nya.
''Papa sangat hebat, sudah membuat calon istriku beserta keluarga nya membenci Candra,'' Ucapnya dingin sambil terus bertepuk tangan.
''Kak Candra...?'' Ucap Citra yang menghentikan ucapan nya, karena sang kakak sudah melarang dia untuk ikutan berbicara lagi.
''Kembalilah ke kamarmu sekarang?'' sahut Candra pada adik keduanya.
''Tapi kak...'' lagi lagi Candra menghentikan ucapan adiknya. Candra menggeleng pelan, akhirnya Citra hanya bisa mendengus kesal dan berlalu pergi.
kini di ruang kerja Pak Sanjaya, hanya ada dirinya dan juga Candra, Candra bersikap dingin dan acuh tak acuh pada Papa nya, yang sudah membesarkan dan juga mendidik nya.
''Aku berterima kasih pada Papa, karena selama ini sudah membesarkan aku, mendidik aku dan juga membiayai sekolah ku sampai menjadi seperti sekarang ini, tapi aku sudah memutuskan untuk mengejar cintaku?!'' Pak Sanjaya melotot kan matanya mendengar ucapan Candra anak sulung nya.
''Hech...! benarkah kamu akan meninggalkan keluarga mu demi wanita kampung itu!!'' Ucapnya dengan acuh.
''Aku rasa kamu akan menyesal telah meninggalkan keluarga mu, Papa tau selama ini kamu tak pernah hidup susah, bagaimana kamu bisa menghidupi gadis miskin itu Candra?'' ejek Pak Sanjaya pda Candra anak sulung nya.
__ADS_1
''Papa memang benar, kalau selama ini Candra memang selalu hidup dengan bergelimang harta, namun Candra pastikan akan memberi kebahagiaan pada calon istri dan juga anak anak Candra kelak Pa, ini semua Candra kembalikan pada Papa,'' Jawab nya yang mengumbar senyum di hadapan Pak Sanjaya Papa nya.
Pak Candra mengeluarkan kunci mobil, dompet beserta isinya dan juga barang berharga lainnya, ia taruh di atas meja kerja Papa nya.
''Kamu akan menyesal Candra!!'' teriak Pak Sanjaya ketika anaknya sudah di ambang pintu.
''Candra tak akan pernah menyesal Pa, dengan keputusan yang hari ini Candra ambil, aku harap Papa tak lagi mengganggu Candra,'' sahutnya tanpa menoleh ke belakang.
''Selangkah kamu keluar dari rumah ini, kamu tidak akan bisa masuk lagi dan ingat, aku tidak segan segan mencoret nama kamu dari ahli waris,''
''Candra tak butuh itu semua Pa, kalau Papa ingin mencoret namaku silahkan saja, Candra pergi Pa. Assalamu'alaikum,'' kata Pak Candra melangkah pergi dari rumah besarnya, namun tak ada kebahagiaan di dalam nya, yang ada hanya membahas uang dan uang saja.
''Candra, kamu nggak boleh ninggalin Mama sendirian di sini,'' ucap sang Mama yang menghambur ke pelukan putera satu satunya.
''Mama tidak sendirian, di sini masih ada Cinta dan juga Citra Ma?'' jawab Candra menepuk-nepuk punggung Mama nya.
Candra melepaskan pelukan sang Mama dan pergi keluar rumah hanya membawa baju yang melekat di tubuhnya saat ini.
Pak Candra bertekad meninggalkan rumah besarnya dan tak peduli meski dia di coret dari ahli waris dari keluarga Sanjaya.
Hanya dengan tekad, Pak Candra menemui Bu Wati di kampung dengan menumpang mobil bak terbuka yang akan pergi ke kampung halaman Wati.
Rasa dingin yang begitu menusuk tulang tak ia hiraukan, di dalam pikiran nya sekarang hanyalah ingin secepat nya bertemu dengan pujaan hatinya.
''Wati, aku harap kamu bisa nerima aku yang sudah tak memiliki apapun lagi, namun aku akan berusaha untuk bisa membahagiakan mu dan kedua orang tuamu,'' Gumam nya, menatap jalanan malam yang sudah semakin sepi, karena waktu juga telah menunjukkan tengah malam.
*-*-*-*-*-*-*-*
Sinar matahari sudah menampakkan sinarnya, tepat matahari terbit mobil bak yang di tumpangi Pak Candra tiba di perkampungan, tepatnya di pasar 'Rasa madu' yang terletak di tengah perkampungan Bu Wati.
__ADS_1
Pak Candra turun dari mobil bak, tak lupa juga dia berterima kasih karena sudah di beri tumpangan menuju ke kampung pujaan hatinya itu.
''Terima kasih Pak, sudah memberiku tumpangan sampai di sini,'' kata Pak Candra sopan dan juga ramah.
''Iya sama-sama Pak,'' jawab sang pengemudi.
''Ya sudah kalau gitu saya permisi dulu Pak,'' pamit Pak Candra seraya melangkahkan kakinya.
''Tunggu sebentar Pak,'' cegah sangat pengemudi karena bosnya sudah membelikan nya makanan, tak lupa juga dengan minuman nya.
''Kenapa Pak,'' tanya Pak Candra ketika kepergiannya di cegah oleh sang pengemudi.
''Tunggu lah sebentar lagi Pak, bos saya sekarang masih keluar dan sebentar lagi bakalan kembali ke sini,'' jawabnya pelan.
...Ya karena sang bos, yakni pemilik mobil bak yang di tumpangi Pak Candra pergi ke warung sebelum Pak Candra bangun dari tidurnya, dia sengaja membelikan makanan untuk Candra terlebih dulu, tanpa mengajaknya ke warung langsung, alasan nya takut Pak Candra menolak ajakan pemilik mobil tersebut. ...
...''Itu dia bos sudah menuju ke sini'' tuturnya menunjuk orang yang menenteng kantong plastik hitam. ...
''Sudah bangun?'' tanya pemilik mobil dan memberikan kantong plastik yang ia bawa.
''Makanlah dulu, sebelum kamu pergi ke tempat yang kamu tuju, Bapak perhatikan kamu bukan orang sini, tapi kenapa malah minta ikut ke kampung.''
''Dan juga, yang Bapak lihat kamu seperti orang yang bekerja di kantoran, ada masalah apa sehingga membuat kamu memutuskan untuk pergi dari rumah.
''Saya ke sini ingin mengejar calon istri ku yang berada tak jauh dari pasar ini Pak, namun Papa saya tidak merestui karena wanita yang saya cintai hanyalah gadis kampung yang tak sederajat dengan kami,'' jawabnya menundukkan kepalanya.
''Jadi aku memutuskan untuk pergi dari rumah tanpa membawa uang sepeserpun dari sana, semua barang barang yang pernah aku pakai, aku kembalikan dengan senang hati,'' lirihnya.
BERSAMBUNG
__ADS_1