
Rombongan dari keluarga Arlan kini sudah sampai di pelataran rumah kakek Sanjaya. Semua keluarga besar Sanjaya menyambut nya dengan ramah.
Arlan berjalan menuju ke arah sang Bunda yang tengah berdiri tak jauh dari kakek Sanjaya yang duduk di kursi roda nya, Arlan terlihat mencium punggung tangan kakek Sanjaya begitu hikmat, lalu beralih ke sang Bunda nya yang tak lain adalah mertuanya, lebih tepat nya calon Ibu mertuanya.
Bu Wati mengelus punggung Arlan dengan lembut, setelah utu Arlan pun di bawa menghadap ke pak penghulu yang sudah menunggu nya di depan tak jauh dari tempat dia berdiri.
Dengan gugup Arlan duduk di kursi tepat nya di depan penghulu, dan hari ini Karan sendiri yang akan menjadi wali nikah buat adik nya.
''Tuan Arlan? anda sudah siap,'' tanya pak penghulu kepada mempelai pengantin yang terlihat sangat tegang.
''Insya Allah siap Pak?'' jawab Arlan yakin.
Karan menjabat tangan Arlan dan mulai acara ijab kabul nya.
''Saya nikahkan dan saya kawinkan anda dengan adinda Sania Putri Chandra binti Bapak Chandra Putra Sanjaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan 100 gram di bayar tu--nai,'' Ucap Karan dengan lantang dan menghentakkan tangan nya.
''Saya terima nikah dan kawin nya adinda Sania Putri Chandra binti Bapak Chandra Putra Sanjaya dengan mas kawin tersebut di bayar tunai?!'' Ucap Arlan dengan lantang nya, dengan satu tarikan nafas saja kini Sania sudah sah menjadi istri nya.
''Bagaimana para saksi, sah?'' tanya Pak Penghulu kepada para saksi yang ada di sampingnya.
''Sah---?'' jawab nya hampir bersama'an.
''Alhamdulillah,'' Ucap Pak penghulu dan di lanjut membaca do'a.
Di dalam kamar Sania bernafas lega, karena Sania tak menyangka kalau ternyata Arlan sudah begitu fasih menyebutkan namanya dan juga nama almarhum ayah nya.
Riana dan juga Mikaela yang di tugaskan untuk membawa Sania ke tempat acara terlihat sudah memegang lengan Sania dengan lembut. Mereka berdua membawa Sania untuk menemui suami nya di depan, Arlan seketika menatap kedatangan istri nya dengan tatapan kagum karena Sania hati ini sangat cantik dari biasa nya, Riana mendudukkan Sania di samping Arlan, nampak Arlan sangat kikuk ketika memakaikan cincin pernikahan nya ke jari Sania yang sudah menjadi istri nya saat ini.
Arlan mencium punggung tangan Arlan, sedangkan Arlan mencium kening Sania istri kecilnya.
Arlan nampak begitu bahagia dengan pernikahan nya dengan orang yang ia sayangi dan ia kasihi, Sania tersenyum menatap suami dan semua keluarga nya.
__ADS_1
Keluarga besar Sanjaya dan juga keluarga Pak Hadi berkumpul menjadi satu, semua tamu penting sudah mulai berdatangan, mereka semua memberi ucapan selamat kepada Sania dan juga Arlan.
''Pak Arlan dan Nona Sania selamat ya, semoga menjadi keluarga Sakinah Mawaddah warohmah,'' do'a seorang wanita yang bekerja di kantor cabang nya, kebetulan ada sebagian dari karyawan di kantor cabang sengaja Sania undang, demi menghormati nya saja sebagai teman.
''Terima kasih do'a nya ya semua nya?'' jawab Sania mengembangkan senyuman nya, semua karyawan yang di anggap teman itupun hanya bisa membalas senyuman Sania.
Sampai akhirnya Sania berpegangan dengan kuat pada jas baju suaminya. ''Kamu kenapa?'' bisik Arlan sambil tetua menyalami kolega kolega dari kakak ipar nya dan juga dari kakek Sanjaya.
''Sania nggak apa apa kok Mas? cuma pegal saja,'' Sania membalas bisikan Arlan.
''Kalau sudah capek, istirahat saja ya,'' pinta Arlan, namun Sania menggeleng pelan dan mengembangkan senyuman nya.
''Kapan lagi Sania bisa seperti ini Mas? nikah itu hanya sekali dalam seumur hidup, jadi ini adalah momen di mana aku nggak bisa melupakan nya dan juga meninggalkan nya begitu saja,'' gumam Sania pelan, bibir manis nya terus saja mengembangkan senyuman nya kepada para tamu undangan yang datang di acara pernikahan nya.
''Ya sudah, kalau kamu capek lebih baik duduk saja, jangan di paksakan berdiri,'' balas Arlan mengusap pelan pipi Sania yang sudah memerah.
Sania mengangguk dan berkata pelan, ''Iya Mas?'' jawab nya lembut.
Adzan maghrib berkumandang, sejenak pestanya berhenti sejenak dan kini Sania sudah berada di dalam kamar nya, karena dia juga sempat pusing. Untung Arlan tanggap dan membawa saniy ke dalam kamar nya, sedangkan di luar semua keluarga nya sudah mengambil alih untuk menemui semua para tamu yang belum kelar mengucapkan selamat kepada Sania dan juga Arlan.
Sania hanya melihat bibir suami nya yang bergerak ke atas ke bawah karena tengah mengomeli diri nya. ''Kenapa malah menatap ku seperti itu?'' ketus Arlan ketika tatapan nya bertemu dengan sang istri yang tengah menatap nya dengan intens.
''Sania baru tau, kalau mas Arlan ternyata bisa cerewet juga ya?'' Ucap Sania dengan mengangkat sebelah alis nya ke atas.
''Sudah kamu nggak usah menatap suami kamu seperti itu, risih tau nggak? kayak nggak pernah melihat wajah tampan ku saja,'' sela Arlan membuat Sania mengernyit kan dahinya, karena melihat kenarsisan suami nya.
''Ya sudah, Sania harus mengganti baju?'' kata Sania yang ingin beranjak dari tempat tidur nya saat ini.
''Sudah, biar aku saja yang membantu kamu ganti baju,'' sambung Arlan yang kini sudah memegang baju Sania.
''Nggak usah kak? Sania bisa sendiri kok?'' kata Sania malu.
__ADS_1
''Nggak usah malu seperti itu, entar saja aku juga akan tau semua tentang kamu,'' celetuk Arlan yang tak terima dirinya di tolak oleh istri kecil nya.
Arlan dengan yelaten membantu membuka hijab yang Sania kenakan saat ini. ''Tapi Mas Arlan jangan terkejut melihat kepalaku ya,'' Ucap Sania lirih.
Arlan yang sudah tau dan mengerti apa yang di maksud oleh istri nya pun tidak terkejut sama sekali, karena Arlan sudah mencari tau banyak hal tentang penyakit yang sekarang di derita istri nya saat ini.
''Sudah lah, aku menerima kamu apa ada nya sayang, jadi kamu nggak boleh berpikir yang aneh aneh tentang suami mu mulai sekarang, karena hanya suami ku lah yang akan menemani kamu sampai mau yang memisahkan,'' tukas Arlan mendongak kan kepalanya.
Terima kasih Mas?'' Sania menghambur kepelukan Arlan yang sudah sahabat menjadi suami nya. Arlan mengelus puncak kepala Sania dengan sangat hati hati, sampai akhirnya Arlan menyadari karena ada beberapa helai rambut yang sudah ada di tangan istri saat ini. Betapa sedih nya Arlan saat ini, hatinya hancur berkeping-keping melihat rambut istri nya berada di genggaman nya.
''Ya Allah, seperti inikah berada di dekat Sania, rasa sedih yang tidak mungkin aku terus terusan di tutupi. Bunda? Arlan janji akan selalu menjaga Sania sampai nafas terakhir Arlan,' gumam Arlan dalam hati nya, dia menghapus sisa air mata nya dengan jari kanan nya.
''Sini Mas suapin sekarang, dan setelah itu minum obat ya sayang?'' kata Arlan melonggarkan pelukan nya.
''Boleh nggak? Sania nggak minum obat malam ini,'' jawab Sania pelan, Arlan sudah merasa kesal dengan jawab dari istri nya yang mengatakan tak mau minum obat. Tapi Arlan mencoba sabar menghadapi istri bandel nya yang ada di samping nya.
''Nggak boleh bandel ya, kalau kamu masih bandel, aku aduin semua kepada tuan Arzan?'' ancam Arlan membuat Sania mencebikkan bibir nya kesal.
Sania memang lebih takut kepada Om nya yang satu itu, bukan nya takut sich? tapi menuju kepada rasa malu, karena sejak dia masih sekolah menengah pertama tuan Arzan lah yang selalu menjaga Sania, layak nya seorang ayah dan juga anak nya, walaupun banyak orang yang tau kalau tuan Arzan adalah adik ipar dari Chandra Putra Sanjaya.
Sania menerima suapan suapan dari suami nya yang baru menikahinya beberapa jam yang lalu, ''Apa Mas Arlan akan terus sebaik ini kepada ku,'' dalam hati Sania bertanya-tanya, karena menurut nya Arlan terlalu baik. Dia juga rela menikahinya begitu saja, sedangkan dia sudah tau kalau dirinya ber penyakitan.
''Sudah Mas, Sania sudah kenyang?'' Ucap Sania menghentikan suapan yang akan di berikan Arlan.
''Sekarang minum obat, di mana obat kamu simpan sayang?'' tanya Arlan mencari obat Sania di atas nakas di samping tempat tidur nya.
''Obat nya ada di dalam tas Mas,'' jawab Sania seraya menunjuk tas selempang nya yang ada di atas meja rias nya. Arlan merogoh mencari obat Sania di dalam tas nya, dan berapa dia kagetnya melihat obat obat Sania yang terlalu banyak.
''Sayang? obat nya sebanyak ini,'' tanya Arlan memastikan seraya mengangkat tempat obat yang sudah ia ambil tadi.
''Iya Mas?'' jawab Sania menoleh kearah suami nya yang masih terkejut dengan obat obatan Sania. ''Mas Arlan terkejut dengan semua obat itu,'' tambah Sania yang sudah di landa ras penasaran.
__ADS_1
''Nggak, bukan nya begitu? tapi Mas masih nggak percaya saja kalau kamu harus minum obat sebanyak ini,'' balas Arlan dengan nada sedih nya.
''Nggak apa apa kok Mas, Sania sudah biasa kok dengan obat obat itu semua nya,'' tukas Sania mengambil alih obat yang kini di pegang suami nya, Arlan mengambilkan segelas air untuk sang istri guna meminum obatnya.