
''Mari Saya periksa dulu Nona,'' ajak sang dokter mempersilahkan ku untuk naik ke atas bangsal, aku mengikuti ucapan dokter dengan di bantu suster yang ada di dalam. Setelah melakukan pemeriksaan ternyata aku harus melakukan serangkaian pemeriksaan lainnya, tak terasa sudah satu jam lebih aku menunggu hasil pemeriksaan di ruang tunggu, aku dengan sedikit khawatir dengan keadaan ku sekarang, karena tak biasanya aku melakukan beberapa kali pemeriksaan disaat datang ke rumah sakit.
Sampai akhirnya suster kembali memanggilku untuk masuk ke dalam ruangan dokter yang tadi memeriksa ku, aku menguatkan hatiku untuk mendengarkan hasil dari pemeriksaan tersebut.
''Nona, lebih baik ajak keluarga nya kemari,'' Ujar sang dokter ketika aku sudah mendudukkan diri didepan dokter yang bertag name Ferin itu.
''Dokter? a...ada a...apa sebenarnya, aku si...siap kok Dok mendengar kan penjelasan dokter tanpa harus memanggil orang tuaku,'' jawab ku gugup, tanganku mulai meremas ujung kemeja yang kini aku pakai.
''Saya takut Nona tidak sanggup mendengar nya, dan ini mengenai kesehatan Nona juga,'' lanjut nya memberi tahu agar aku lebih baik memanggil orang tuaku dulu.
''Nggak apa apa kok Dokter, saya siap mendengar nya,'' balas ku mencoba untuk tetap tenang.
Dengan sedikit bujukan akhirnya sangat dokter memberi tahu hasil nya, aku mulai berdo'a meminta pada yang mahal kuasa. 'Segitu parah kah penyakit ku sehingga dokter ini menyuruh keluarga ku untuk datang ke rumah sakit ini,' ucapku dalam hati.
''Maaf Nona, dengan berat hati saya menyampaikan berita ini pada anda. Sebenarnya anda menderita Leukimia, dan saya harap anda memberitahukan ini semua pada keluarga anda'' jawab nya menjelaskan isi lembaran yang biasa pegang saat ini.
'Separah ini penyakit ku, bagaimana aku mengatakan pada Ibu dan juga keluarga ku yang lain, aku tak mau membuat mereka sedih dan menanggung kesedihan ini, sedangkan besok adalah hari pernikahan kakak ku,' batinku, aku menahan air mataku agar tidak terjatuh di hadapan sangat dokter, aku mencoba tersenyum dan berkata, ''Dokter, apa penyakit ku bisa disembuhkan, dan saya harap dokter tidak memberitahu hal ini pada keluarga ku atau dokter yang lain di rumah sakit ini, saya tak mau berita ini sampai terdengar kepada keluarga ku dokter, karena besok adalah hari bahagia kakak ku yang akan melangsungkan pernikahan nya,'' pesanku dokter Ferin, karena rumah sakit yang ia datangin adalah rumah sakit keluarga Sanjaya.
''Baiklah, namun saya tak yakin akan selamanya menyimpan rahasia ini dari keluarga anda Nona, bagaimanapun juga keluarga anda berhak tau tentang penyakit yang anda derita saat ini.''
''Baiklah dokter? kalau begitu saya pamit,'' aku beranjak dari duduk ku setelah dokter Ferin memberikan resep obat yang harus aku tebus di apotik rumah sakit ini.
Air mata yang sedari tadi aku tahan kini sudah luruh begitu saja, mengalir di kedua pipi putih ku, ''Tak apa? kalau seandainya aku tiada takkan ada orang yang merasa kehilangan, biarlah aku rasakan sakit ini sendiri, aku tak mau Ibu dan kak Karan sedih hanya dengan aku menceritakan nasib hidupku. Toh tak ada seorang yang bakal menangis jikalau aku meninggal sekalipun. Kak Arlan sudah pergi entah kemana? dia tak pernah memberi kabar padaku sejak waktu itu,'' ucapku lirih.
''Sania?'' panggil seseorang yang kini tengah menepuk pundakku pelan.
Aku menoleh dan menatap siapa yang berani mengagetkan ku itu, aku terbelalak di saat mataku menatap seorang laki-laki yang tadi aku pikirkan. Buru buru aku mengusap air mataku dengan lengan bajuku. ''Kak Arlan? ngapain di sini,'' tanyaku kemudian.
''Aku menjenguk teman yang sedang di rawat di rumah sakit ini, kamu sendiri sedang apa di sini,'' tanya kak Arlan penuh selidik.
''Sania tadi menjenguk teman, dan ini mau ke apotik menebua obat nya,'' jawab ku berbohong seraya menunjukkan resep obat yang masih aku pegang.
''Kalau begitu aku duluan ya, atau kamu mau bareng aku sekalian,''
__ADS_1
''Nggak usah kak? terima kasih, Sania bersama supir kok,'' jawab ku bohong.
''Ya sudah kalau gitu aku pergi,'' lanjut nya melangkah pergi.
Aku menarik nafas panjang dan menghembuskan nafas dengan perlahan, 'Sekarang saja kak Arlan sudah berubah dingin sama aku, apa salahku sebenarnya?' pikir ku. Lalu aku menuju apotik menyerahkan resep obat yang dokter berikan padaku tadi.
''Tunggu sebentar ya Mbak?'' ujar suster yang bertugas di sana.
Aku mengangguk pelan, dan memilih duduk di kursi tunggu.
Drrrtttt handphone ku bergetar di dalam tas selempang yang aku kenakan.
''Ibu,'' ucap ku ketika aku melihat nama pemanggil yang tertera di layar handphone.
-''Assalamu'alaikum Bu,'' ucapku ketika sudah menggeser layar handphone ku.
-'' Kamu di mana sekarang, kakak kamu nyariin?'' tanya Ibu khawatir sampai dia lupa tak menjawab salamku.
-''Iya, sebentar lagi Sania pulang kok? ini sudah ada di jalan,'' jawab ku bohong.
...****************...
Tepat jam empat subuh aku sudah terbangun dari tidurku, karena merasakan sakit yang tiada tara saat ini. Aku beranjak dari tempat tidur ku membuka laci untuk mengambil obat ku di sana dan segera meminum nya.
''Sania sedang apa kamu, apa yang kamu minum itu,'' tanya kak Riana yang sudah masuk ke dalam kamarku.
''Ach ka..kak Riana? sudah lama kakak masuknya,'' tanyaku gugup, aku sengaja mengalihkan pembicaraan dan segera menutup laci itu kembali.
''Sania, tak usah kamu mengalihkan pertanyaan ku, aku tanya obat apa itu yang kamu minum?'' tanya kak Riana lagi mencoba mendesak ku agar aku membuka mulut.
''Och, ini obat Sania yang belum habis kemarin kak?'' jawab ku asal dan sedikit berbohong.
''Kamu nggak bohong kan?'' desak nya. Aku menggeleng pelan dan mencoba tersenyum walau rasa sakit masih terasa di kepala.
__ADS_1
''Ya sudah, kamu segera mandi saja sanah, sebentar lagi Mua akan datang akan merias kita semua,''
''Baiklah kak, Sania mandi dulu ya kak?'' aku melangkah ke kamar mandi dengan langkah lesu, namun aku masih mencoba untuk tetap menyembunyikan penyakit ku yang bahkan akan mengambil nyawaku lamban laun.
Tepat jam 7 pagi aku sudah selesai dirias, aku memilih duduk saja tanpa menghirau lalu lalang para tamu undangan yang hadir di acara sakral pernikahan kak Karan dengan kak Pinky, kak Riana menghampiri ku dan mengajak mengobrol namun aku nggak mood sama sekali pagi ini, kepalaku masih terasa nyut nyut, di tambah lagi dengan sanggul yang aku pakai di kepalaku pagi ini.
''Sania, lihat kak Pinky sangat cantik kan?'' tanya nya membuat aku menoleh ke arah kak Pinky yang berjalan berdampingan dengan Ibu, karena aku tak sanggup untuk menemani kak Pinky.
''Iya kak, kak Pinky memang sangat cantik, dan kak Karan juga begitu tampan hari ini, kalau kamu pilih yang seperti apa Sania,'' tanya kak Riana.
''Sania masih kecil kak? dan masih belum memikirkan hal itu juga, Sania juga masih ingin berkarir dulu.'' jawab ku. 'Aku tak akan bisa memilih calon suami seperti apapun kak, aku tak ingin membuat orang merasa kasian padaku dengan penyakit ku yang sekarang ini,' ucap ku dalam hati, aku mendongak agar air mataku yang sudah menggenang tidak jatuh.
Kak Pinky dan kak Karan kini sudah duduk berdampingan, sedangkan bapak penghulu sudah siap dengan tugas nya.
''Bagaimana tuan muda, anda sudah siap?'' tanya pak penghulu pada kak Karan.
''InsyaAllah siap,'' jawab kak Karan.
Pak penghulu mulai mengucapkan ijab kabul nya terlebih dulu dan setelah itu di lanjut kan oleh kak Karan.
...''Saya terima nikah dan kawin nya, Pinky Larasati binti pak Kusnandar dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan 100gram dibayar TUNAI.'' kak Karan dengan lantang mengucapkan ijab kabul nya dengan satu tarikan nafas saja. ...
''Bagaimana saksi? Sah...'' tanya pak penghulu kepada para saksi.
''Saaaahhh...'' jawab nya hampir bersamaan.
''Alhamdulillah,'' sambung pak penghulu dan di lanjut dengan berdo'a untuk kebahagiaan kak Karan dan juga kak Pinky, aku meneteskan air mataku rasa sakit dan rasa bahagia bergabung menjadi satu.
''Kenapa kamu malah menangis gitu sich dek?'' tanya kak Rian yang kini sudah duduk di sampingku.
''Sania hanya merasa terharu saja kak, ini air mata bahagia kok,'' jawab ku. 'Maaf kak, Sania selalu berbohong pada kalian semua, Sania tak mau kalian khawatir dan kuliah kalian berdua menjadi berantakan karena memikirkan keadaan ku saat ini,' aku tersenyum manis ke arah mereka berdua.
''Ayo kita ke sana,'' ajak kak Andrian dan juga kak Andriana.
__ADS_1
''Entar saja kak, kepala Sania pusing? mungkin gara-gara sanggul ini juga kali ya,'' balas ku menyalahkan sanggul yang aku pakai.
Kak Andrian dan kak Andriana beranjak menuju ke arah kak Karan dan juga kak Pinky, sedangkan aku memejamkan mataku sejenak tak menghiraukan orang orang yang kini duduk di sampingku, dengan membawa berbagai makanan.