Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 137 Adakah Cinta untuk Sania


__ADS_3

Malam semakin larut namun Sania masih saja memejamkan matanya tanpa mau membukanya walau hanya sebentar, sang Bunda kini di landa kekhawatiran karena puteri nya tak kunjung membuka matanya.


Dengan sangat terpaksa Bu Wati menggoyang pelan tubuh puteri nya, agar sang puteri terbangun hanya untuk sekedar makan malam dan setelah itu tidur lagi juga nggak apa apa pikir sang Bunda yang mondar mandir nggak jelas.


Bu Wati mencoba sekali lagi untuk membangunkan sang puteri dengan mengelus pipi putih nya agar tidur nya terganggu. Sania yang mendapatkan perlakuan seperti itu pun merasa geli dan tidur nya pun terusik dengan tingkah sang Bunda.


''Bunda,'' sapa Sania ketika sudah membuka matanya sedikit, dia mengucek matanya perlahan agar lebih jelas lagi memandang sang Bunda yang sudah beberapa hari tidak ia temui karena Sania yang menyelesaikan masalah nya di kantor cabang milik nya.


''Bunda...? kenapa Bunda ganggu tidur Sania sich?'' rengek Sania lalu membenarkan posisi nya menjadi duduk.


''Habis nya kamu nakut nakutin Bunda seperti itu,'' balas Bu Wati mendudukkan di samping puteri kecil nya.


Sania mengernyit kan dahinya karena belum mengerti apa yang di maksud Bunda nya. ''Maksud Bunda apa?'' tanya nya bingung, padahal dia baru bangun tidur dan Bunda nya mengatakan kalau dirinya menakuti nya.


''Kamu tidur nya dari tadi sore, dan sampai jam delapan malam kamu juga belum bangun? masak kamu nggak menyadari kesalahannya kamu sich sayang?'' keluh Bu Wati membuat Sania terkekeh geli dengan penuturan Bunda nya.


''Mana ada orang yang tengah tidur menyadari kesalahannya nya sich Bunda? Bunda ini aneh aneh saja dech,'' sahut Sania membuka hijab nya di depan sang Bunda.

__ADS_1


Bu Wati menatap rambut puteri nya yang acak acakan, karena Sania sengaja tak menyisir nya. ''Rambut kamu kenapa berantakan githu sich sayang? jangan bilang kamu malas sisiran,'' tanya Bu Wati meraba puncak kepala Sania, dan berapa terkejut nya ketika Bu Wati memegang rambut puteri, ''Sayang rambut kamu kenapa rontok begini,'' tanya Bu Wati dengan nada khawatir nya.


''Bunda jangan khawatir ya, ini efek dari kemoterapi kemarin?'' terang Sania membuat hati Bu Wati mencelos dengan penuturan puteri nya. ''Makanya kemarin kemarin nya Sania tidak mau melakukan kemoterapi, karena bakalan seperti ini,'' tambah Sania menunjukkan rambut nya yang ikut di jari tangan nya, ketika jari jari lentik nya di sisipkan pada kepala nya.


Bu Wati sudah nggak kuat lagi melihat puteri nya seperti ini di depan nya, di rengkuh nya tubuh kurus nya. Dan berharap agar puteri kecilnya bisa menemukan obat untuk penyakit nya. ''Maafkan Bunda sayang? Bunda tak bermaksud membuat kamu seperti ini sekarang, tapi yang Bunda waktu itu hanya kesembuhan kamu semata, nggak lebih,'' tutur nya dengan deraian air mata.


''Bunda, jangan menyalah diri Bunda ya, ini semua bukan salah Bunda kok?'' sahut Sania menghapus air mata bundanya dengan jempol tangan nya.


''Sudah ach Sania mau makan! lapar??'' kata Sania berharap sang Bunda tak lagi sedih.


Bu Wati langsung terkekeh mendengar ucapan puteri nya yang bilang lapar, lantas Bu Wati membawa puteri nya ke meja makan yang sudah sedari tadi siap dinatas meja makan, namun yang akan makan malam masih asik dengan mimpi nya, ''Bunda panasin dulu lauknya?'' ujar Bu Wati yang langsung di cegah oleh Sania.


Bu Wati pun menuruti perkata'an puteri nya dan memilih duduk di samping Sania, Bu Wati melayani Sania layak nya anak kecil yang mau makan. Dalam hati Bu Wati menangisi puteri nya yang pura-pura tegar di hadapan nya, padahal ketika di belakang Bunda nya Sania tak jarang menitikkan air mata sedih nya.


''Bunda?'' sapa Sania ditengah kunyahan pertama nya.


''Kenapa sayang?'' balas Bu Wati dengan lembut.

__ADS_1


''Bunda? apa Sania berhak bahagia dengan keada'an Sania yang sekarang?'' tanya Sania membuat Bu Wati terbelalak dengan pertanya'an puteri nya.


''Kenapa kamu bertanya seperti itu nak? apa ada yang membuat kamu nggak bahagia selama ini,'' tanya balik Bu Wati, bunda Sania.


''Bukan nya begitu Bunda? dengan penyakit yang Sania idap sekarang, apakah masih ada cinta untuk Sania di masa yang akan datang? mengingat umur Sania yang hanya sebentar saja,'' terang Sania membuat nafas Bunda serasa berhenti sejenak mendengar penuturan sang puteri.


Bu Wati menghambur ke pelukan puteri nya yang tengah makan, lagi lagi Bu Wati meneteskan air mata nya melihat kesedihan yang dialami puteri nya saat ini. ''Kamu akan sembuh sayang, Bunda dan kakak kamu akan mencarikan obat untuk kesembuhan kamu, kamu tidak boleh pesimis dengan penyakit kamu sekarang, masih banyak orang yang sayang sama kamu nak?'' ucapan nya tercekat beberapa detik. ''Kamu juga harus ingat? masih ada Allah SWT yang akan setia mengabulkan perminta'an hambanya, jadi jangan sampai kamu berputus asa dengan penyakit kamu sekarang,'' lanjut Bu Wati menatap Sania dengan lekat. Tak ada kesedihan di mata nya, hanya rasa kekecewa'an yang kini tersisa di mata cantik nya.


''Iya Bunda?'' jawab Sania dengan nada lirih nya.


'Aku harus kuat menjalani semua coba'an ini, toh masih banyak yang tak seberuntung aku, banyak disana yang mengidap penyakit seperti ku? namun mereka tak pernah mengeluh sama sekali, sedangkan aku? aku selalu mengeluh dan merengek hanya karena tak mendapatkan cinta dari seseorang,' batin Sania yang terus menyuapkan sisa nasinya ke dalam mulut nya.


''Ya sudah kalau gitu Sania kembali ke kamar Bunda, mau istirahat juga,'' gumam Sania yang sudah menyelesaikan makanan nya.


''Baiklah, jangan lupa dinkinum obat nya ya sayang?'' pesan Bu Wati yang di angguki Sania.


'Sebenarnya aku sudah lelah dengan semua ini, setiap hari harus meminum obat yang tiada habis nya,' keluh Sania dalam hatinya, dan dia pun melangkah pergi menuju ke kamar nya hanya untuk sekedar menghindari Bunda nya, karena dia sudah tidak tega melihat kesedihan sang Bunda yang sering meneteskan air mata nya.

__ADS_1


''Maafkan Sania Bunda,'' Ucap Sania lirih membaringkan tubuh nya di tempat tidur nya. ''Nyaman sekali di sini,'' Gumamnya menenggelamkan kepalanya ke bantal yang sudah di tinggal sangat lama di kamar nya.


Sania meraih laptop dan mengerjakan pekerja'an kantor nya yang belum selesai. Sania tengah sibuk dengan keyboard laptop nya sampai tak menghiraukan ponsel nya yang berdering? bahkan ini sudah kesekian kali nya berdering, namun tak nada tanda tanda Sania ingin meraih ponsel nya dibatas nakas, dian masih sibuk dengan pekerja'an nya saat ini.


__ADS_2