
Di kantor Karan tengah memarahi beberapa karyawan nya, karena pekerja'an nya tak sesuai dengan apa yang di harapkan oleh Karan, Pagi itu Karan memang sudah kesal dengan tingkah istri nya di rumah, di tambah lagi di kantor nya yang membuat Karan semakin tinggi darah nya, dengan kerja'an tak becus dari salah satu karyawan di Divisi pemasaran nya.
''Kalian bisa kerja nggak sich! hanya bikin laporan seperti ini saja bisa salah semua, sebenarnya kerja'an kalian apa sich, ongkang ongkang kaki dan memakan gaji buta githu,'' Ucap Karan dengan lantang dan juga tegas, membuat para karyawan yang ikut meeting takut dengan kemarahan CEO nya.
''Kalau kalian masih ingin bekerja di sini, selesaikan pekerja'an kalian semua, dan aku minta laporan yang baru sebelum makan siang, kalau kalian tidak setuju dengan semua yang aku ucapkan, kalian bisa bikin surat pengunduran diri dari sekarang!!'' sarkas nya dan beranjak dari duduk nya, Karan melangkah pergi meninggalkan ruangan meeting dengan beberapa para karyawan yang masih ada di dalam.
Karan berjalan ke arah ruangan nya, dia tengah kesal hari ini, Karan menjambak kasar rambut nya mengingat sifat istri nya tadi pagi seperti anak kecil. Karan pun mengambil ponsel nya di atas meja di depan nya, dia segera mencari nomor sang istri hanya untuk sekedar meminta maaf pada istri cantik nya.
Tak berapa lama sambungan telfon pun sudah tersambung, dan Pinky yang tengah uring-uringan segera mengangkat panggilan dari suami nya, ya walau masih sangat kesal kepada suami nya, tapi Pinky juga sangat bersalah karena sudah bikin suami nya marah di saat mau berangkat ke kantor nya.
-''Assalamu'alaikum,'' Ucap Pinky setelah menggeser icon warna hijau nya.
-''Wa'alaikum salam, sayang-'' jawab Karan dan menghentikan ucapan nya.
-''Ada apa menelfon ku, aku sedang sibuk hari ini dan nggak mau di ganggu juga,'' balas Pinky dan ingin memutuskan panggilan nya.
-''Jangan ditutup dulu sayang? aku kan ke sana sekarang,'' Ucap nya, namun Pinky yang masih marah tak menjawab ucapan dari suami nya, melainkan dia langsung mematikan sambungan telfon nya tanpa persetujuan dari sang suami.
''Ach!!'' teriak Karan seraya menjambak rambut nya kembali.
Tok tok tok
Suara pintu di ketuk dari luar, ''Masuk?'' seru Karan memperbolehkan orang yang mengetuk untuk segera masuk.
''Maaf tuan, sebentar lagi ada meeting di restoran dekat kantor?'' kata sang asisten pribadi nya menunduk.
__ADS_1
''Batalkan semua meeting hati ini, aku nggak ingin bertemu dengan siapa siapa. Oiya aku akan menemui Pinky di butik nya sekarang, dan jangan pernah ganggu aku dengan telfon murahan mu itu,'' Ucap Karan datar dan juga dingin. ''Satu lagi, kamu Handel semua kerja'an ku selama aku pergi, paham!'' tambah Karan lalu pergi melangkah keluar ruangan, sedangkan sang asisten jangan di tanya lagi, dia mengucapkan sumpah serapah nya di dalam hati.
...****************...
Di rumah sakit Sania tengah melakukan cek up rutin, dengan di temani sang suami Sania nampak lebih semangat melakukan cek up kesehatan nya, karena mulai hari dia berkeinginan untuk segera sembuh, agar dia juga bisa membahagiakan suami nya, Sania tau kalau hal itu tak mungkin terjadi, namun dia terus saja berdo'a kepada Allah SWT agar penyakit yang ia derita selama segera di angkat, dan di ganti dengan kebahagia'an yang Sania selalu impi impikan di saat ia tengah bersama suami nya.
Arlan memang selalu sabar menghadapi sifat Sania kepada nya, namun sifat sabar nya pasti ada batas nya juga, apalagi saudara sepupu nya sendiri mencintai suami tampan nya, dan apa mungkin dia akan berpaling kepada wanita itu jika dirinya tengah terbaring sakit, lemah dan tak berdaya di tempat tidur. Sania yang tengah memikirkan hal yang bukan bukan menggelengkan kepalanya, agar rasa curiga kepada suami nya hilang bersama rontok nya ketombe. ☺☺
Sania menatap wajah tampan suami nya yang juga tengah menatap ke arah juga, ''Ada apa Mas?'' tanya Sania lembut.
''Nggak apa apa kok hanya ingin melihat wajah istri cantikku saja,'' balas nya dan juga ikut tersenyum.
''Bagaimana dokter keada'an istri saya saat ini?'' tanya Arlan yang sudah kembali fokus kepada Dokter yang ada di depan nya.
''Alhamdulillah, saya sangat berterima kasih kepada dokter,'' Ucap Arlan mengucapkan terima kasih.
''Jangan berterima kasih kepada ku, mungkin saat ini keinginan Sania untuk sembuh lebih besar dari pada kemarin kemarin nya, sehingga dia selalu rutin meminum obat nya,'' jelas nya membuat Sania menjadi malu, sang Dokter hanya tersenyum mengingat Sania pernah bilang kepada Dokter yang menangani sakit nya, kalau dia sudah pasrah sama yang kuasa, dia juga sudah capek dengan segala ujian yang Allah selalu beri kepada nya. Sania juga pernah bilang tidak ingin hidup lama lagi sehingga dia jarang minum obat nya, dan akibat nya penyakit nya malah tambah parah setelah beberapa kali dia mangkir dari jadwal kemoterapi nya kemarin, namun hari ini dia lega melihat ada kemajuan pada diri Sania.
''Jangan lupa di minum yang teratur obat nya, agar penyakit kamu semakin membaik lebih dari ini,'' pesan sangat Dokter yang langsung di angguki Sania.
Kini Arlan dan juga Sania beranjak dari duduk nya, setelah menerima resep obat yang harus di minum Sania nanti di rumah nya.
''Terima kasih Dokter?'' kata Sania lembut dan mengulas senyum manis nya di bibir tipis dan juga cantik.
Sang Dokter yang melihat kebahagia'an Sania juga sangat bersyukur karena Sania sudah menemukan tambatan hati yang akan selalu menjaga kesehatan nya. Dokter yang menangani Sania tak lain dan tak bukan adalah Michael, orang yang tengah memadu kasih dengan saudara sepupu nya, Sania juga turut bahagia kalau sang kakak juga mendapatkan jodoh yang juga perhatian dan pengertian kepada nya.
__ADS_1
Kini Arlan dan sania tengah menunggu obat dan juga tengan menunggu giliran di panggil juga.
''Lama banget ya sayang? mas mulai ngantuk nich,'' bisik Arlan tepat di telingan istri nya.
''Ya emang lama lah Mas? kan masih di cari obat apa saja yang ada di resep tersebut sehingga membuat mereka semua lama mengumpulkan semua obat obatan yang di butuhkan pasien yang tengah sakit, sang apoteker juga harus extra hati hati dalam menyiapkan obat obat yang sudah tertera di catatan yang ditulis dokter di dalam.
Setelah membuat Arlan kesal karena dia sampai bosen nunggu nya namun belum juga di panggil, sedangkan pasien yang lain naruh resep tunggu seneni saja setelah itu selesai. Sania menepuk pelan bahu Arlan ketika melihat apoteker yang biasa mengambilkan obat untuk Sania.
''Itu obat nya sudah siap, mbak nya sudah selesai mengambil obat Sania,'' tunjuk Sania kepada seorang wanita yang tengah mengecek ulang obat obat yang ia ambil barusan. Dan tak lama setelah Sania menunjuk nama Sania pun di panggil oleh sang penjaga apoteker.
''Nona Sania?'' panggil nya dan menyunggingkan senyuman nya, ketika Sania dan juga Arlan menghampiri nya.
''Selamat ya Nona, atas pernikahan nya? namun tidak di undang?'' ucap nya yang sudah tau kalau Sania sudah menikah, dan wanita di depan nya juga selalu bersenda gurau ketika Sania mengambil obat nya.
''Mungkin lain kali mbak saya undang, kemarin hanya keluarga besar saja yang hadir,'' jawab Sania ramah dan membalas senyuman mbak mbak di depan nya.
''iya Nona, saya cuma bercanda kok, jangan anggap serius ucapan saya,'' ucap nya lagi merasa tak enak ketika di tatap oleh Arlan suami Sania.
''Obat nya seperti biasa nya Nona, namun Dokter menambahkan vitamin untuk Nona minum dengan rutin,'' kata sang apoteker menjelaskan kepada Sania.
''Terima kasih ya Mbak? kalau gitu aku permisi dulu, assalamu'alaikum,'' pamit Sania tak lupa menganggukkan kepalanya pelan, mereka berdua pun segera melangkah pergi menuju mobil nya yang di parkir di halaman rumah sakit.
''Kayak nya kamu sangat akrab dengan apoteker tadi?'' tanya Arlan yang emang sudah di landa penasaran sejak tadi.
''Kami memang akrab Mas, kan Sania selalu mengambil obat di sana sendirian, dan baru sekarang Sania di temani laki-laki untuk mengambil obat di apotik rumah sakit itu,'' sahut Sania memasuki mobil setelah pintu mobil di buka oleh suami tercinta nya. Arlan memutari mobil nya dan duduk di belakang kemudian setelah membuka pintu mobil nya. Arlan menatap Sania sekilas sebelum melajukan mibil nya untuk menuju Mall guna berbelanja kebutuhan mereka setiap hari nya.
__ADS_1