Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 161 Kebahagia'an Sania


__ADS_3

Kini Sania da juga Arkan tengah berada di sebuah Mall terbesar di kota nya.


Sania nampak semangat sekali membeli perlengkapan masak nya, dan ada juga beberapa lauk pauk dan juga sayur yang ia beli, tak lupa juga Sania mengambil beberapa kebutuhan lain nya selama tinggal di apartemen bersama suami nya, Arlan nampak bahagia melihat keceria'an di wajah istri nya, keceria'an yang kemarin sempat hilang karena penyakit nya, namun sekarang Sania selalu berceloteh dan lebih sering tertawa dan juga tersenyum ketika mengobrol dengan suami tercinta nya.


Arlan hanya mengawasi Sania, tanpa mau ikut mengambil barang yang akan ia ambil, sampai akhir nya mereka sudah lebih dari 3 jam berkeliling di dalam Mall tersebut.


''Mas kamu capek nggak?'' tanya tiba-tiba kepada suami nya.


''Lumayan,'' jawab nya singkat.


Sania duduk di kursi yang ada di dalam restoran, dimana saat ini mereka ada di sana hanya untuk sekedar makan dan melepas lelah setelah merupakan cukup lama berkeliling untuk berbelanja, masih di dalam Mall akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menuju restoran yang berada di sana. Sedangkan barang barang yang ia beli sudah sampai di apartemen nya, karena Arlan menyuruh orang untuk mengantarkan semua barang barang nya ke apartemen nya.


''Kamu sendiri capek?'' tanya Arlan lembut sembari mengambil tangan istri kecil nya. Sania mengangguk dan menarik nafas panjang karena dia sedang asik memilih barang barang tadi sampai sampai dia tidak ingat sudah berapa lama dia dan suami nya berada di Mall.


''Kok Mas Arlan nggak bilang kalau sudah capek?'' tanya Sania dengan nada sedih, karena dia tak enak hati karena sudah merepotkan suami nya seharian ini.


''Sudahlah, jangan di pikirin lagi. Mas senang kok ketika melihat keceria'an kamu tadi, sampai sampai rasa lelah Mas tak hiraukan karena terlalu fokus melihat wajah cantik istri kecil Mas?'' jawab Arlan panjang lebar, Sania yang mendengar gimbalan dari suami nya hanya terkekeh geli.


''Gombal banget sich Mas?'' sahut nya masih dengan kekehan nya, sampai makanan yang ia pesan datang Sania baru menghentikan kekehan nya sebentar.


''Permisi Nona, tuan,'' kata pelayan restoran dengan ramah, Arlan mengangguk dan pelayan pun mulai menata pesanan Arlan dan juga Sania di atas meja.

__ADS_1


''Silahkan di nikmati Nona dan Tuan?'' pungkas nya lalu beranjak pergi setelah Sania mengucapkan kerima kasih kepada pelayan tersebut.


''Ayo di makan sayang? setelah itu baru minum obat nya, tadi siang kamu melupakan obat nya,'' Arlan mengingat kan sang istri, Sania hanya menampakkan deretan gigi putih nya karena sudah melupakan obat nya.


''Kok Mas Arlan jeli banget sich? kalau soal obat, Sania saja sudah lupa. Lagian ini sudah sore Mas?'' balas Sania yang di jawab dengan pelototan oleh Arlan suami nya. ''Iya iya maaf, Sania makan dulu dech baru setelah itu minum obat nya,'' tambah Sania tak ingin mengecewakan suami nya, Sania sendiri hanya bercanda kepada suami nya kalau dia tak mau minum obat nya karena sudah sore hari, namun yang di dapati Sania hanyalah pelototan dari suami tercinta nya.


'Sebegitu besarkah cintanya kepada ku ya Allah, Sania harap cinta Mas Arlan akan tetap ada sampul kelak Sania menghembuskan nafasku,' gumam Sania dalam hati, dia masih terus menatap wajah tampan suami nya, serasa tak bosan bosan nya Sania menatap wajah itu, wajah yang membuat Sania berkeinginan untuk sembuh dari penyakit nya.


''Akk-'' kata Arlan menyodorkan makanan kepada istri kecil nya yang tengah melamun.


''Jangan ngelamun terus, suami mu ada di depan mu sekarang, tapi kamu malah ngelamun terus?'' Ujar Arlan membuyatkan lamunan Sania.


''Sudah, lebih baik Mas Arlan makan sendiri saja, Sania tak mau merepotkan Mas lagi. Tadi pagi saja Mas Arlan sudah menyiapi Sania seperti anak kecil yang belum bisa makan saja,'' sahut nya mengembangkan senyum kepada suami nya.


Sania yang sudah merasa malu karena di tatap oleh sebagian pengunjung pun menepuk pelan punggung tangan suami nya, seraya berkata. ''Mas pelan insya'allah suara nya, pengunjung yang lain merasa terganggu dengan kekehan Mas Arlan?'' bisik nya setelah menepuk pelan punggung suami tampan nya.


''Sudah, jangan di hiraukan, di sini kita juga bayar kok? bukan ngutang!'' sahut Arlan menghentikan kekejaman nya, dan Sania mengambil tisu yang ada di depan nya, karena melihat ada sisa saos di bibir suami nya. Arlan tersenyum sembari mengambil tangan istri cantik nya, dia mencium tangan Sania yang masih memegang tisu di tangan nya.


''Sudah Mas?'' Sania menarik tangan nya dengan lembut, karena dia malu masih ada yang memerhatikan nya.


''Di mana obat nya?'' tanya Arlan meraih tas selempang Sania yang ada di depan nya, lalu Arlan mengambil kan beberapa obat di dalam tas istri nya.

__ADS_1


''Sayang? apa ini nggak kebanyakan?'' tanya Arlan ketika melihat ada 7 macam obat yang harus Sania minum.


''Nggak kok Mas, ini sudah ada di dalam resep nya, lagian ini kan ada vitamin juga jadi ya itu benar,'' jawab nya meraih obat di tangan suami nya.


''Biasanya kan cuma ada 5 macam obat sayang??'' lagi lagi Arlan bertanya kepada istri nya. Arlan takut salah ambil tadi, tapi setelah istri nya mengeluarkan semua obat nya dan Arlan pun menghitung ternyata benar, ada 7 macam obat di sana, namun yang 3 hanya satu kali sehari di minum nya.


''Percaya kan?'' sela nya setelah Sania yakin kalau suami nya sudah menghitung ada beberapa macam obat di dalam sana.


''Sudah selesai di minum obat nya?'' tanya Arlan yang di angguki Sania pelan.


''Kalau gitu kita pulang sekarang? kamu harus banyak banyak istirahat sayang, agar kamu lekas sehat dan seperti dulu lagi,'' harapan Arlan adalah satu, yakni istri kecilnya sembuh dari penyakit yang ia derita selama ini, walau dirinya tidak memiliki anak sekalipun asal istri nya kembali sehat itu sudah lebih dari cukup bagi Arlan saat ini, anak bisa di adopsi dari panti asuhan atau juga bisa mengangkat ponakan nya sebagai anak nya sendiri, Arlan sudah tau karena Sania tak mungkin bisa hamil, karena dia harus selalu mengonsumsi obat obatan agar penyakit nya tidak kembali kambuh. Tapi itu kembali lagi kepada sang Pencipta, kalau dokter tidak mengijinkan Sania untuk tidak bisa hamil, kalau sang Pencipta menghendaki Sania hamil makan bisa di bilang apa, itu sudah kehendak yang maha Kuasa, manusia hanya bisa pasrah dan memohon kesembuhan kepada sang Khalik, karena semua itu sudah tercatat rapi di buku nya masing-masing.


Sania beranjak dari tempat duduk nya, tiba-tiba ada notif pesan masuk di ponsel nya. Sania merogoh tas selempang nya untuk mengambil ponsel yang nada di dalam tas nya.


📩-''Adik, segera ke rumah? sekarang kita akan makan makan untuk menyambut ponakan mu,'' isi pesan dari Karan.


Sania tetaenyim seraya loncat loncat karena saking senangnya, mendengar kakak ipar nya kan segera punya anak.


''Kenapa sayang?'' tanya Arlan yang memegangi punggung istri nya, agar dia tidak meloncat lagi.


''Mas? kita ke rumah sekarang, kak Pinky hamil dan sekarang di sana sedang melakukan makan makan menyambut kehadiran makhluk kecil ditengah tengah keluarga kita?'' jawab nya antusias, Sania menarik tangan suami nya menuju ke parkiran di mana mobil nya berada. Arlan hanya ikutan tersenyum melihat kebahagia'an istri nya hari ini.

__ADS_1


'Apa mungkin aku bisa merasakan hamil juga besok?' gumam Sania dalam hati, namun tangan nya tak sengaja mengusap perut ratanya, usapan itu tak sengaja di lihat oleh Arlan suami nya. Arlan langsung menatap ke depan lagi, dia sungguh tak tega, melihat sikap Sania yang mengelus perut nya.


__ADS_2