Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 162 Kenyataan pahit


__ADS_3

Di rumah Karan tengah melakukan pengajian, menyambut kehadiran si jabang bayi yang tengah di kandung Pinky saat ini, Bu Wati sangat bersyukur sekali mengetahui menantunya sudah hamil, dan tanpa sepengetahuan Pinky dan juga Karan, Bu Wati mengundang majlis di dekat rumah nya agar mereka semua mendo'akan keselamatan cucu dan juga menantu nya.


Pinky menuruni anak tangga dengan gamis yang melekat di tubuh nya, dengan hijab yang di ikat di sela sela lehernya, para Ibu Ibu yang tergabung di dalam majlis mengelus lembut perut rata Sania seraya membaca sholawat dan juga ayat ayat suci lain nya, Pinky juga berjalan mengitari Ibu Ibu majlis agar mereka semua bisa mengusap perut rata nya dan juga mendo'akan anak nya menjadi anak yang sholeh solehah.


Sania yang telat datang hanya menautkan tangan nya kepada semua Ibu Ibu yang sudah berkumpul di dalam rumah nya. Sania juga mengulurkan tangan nya dan sesekali mencium punggung tangan salah satu Ibu Ibu majlis yang memang di kira lebih tua dari nya, namun bukan cuma Ibu Ibu yang bergabung di sana, ada juga yang masih berusia di bawah umur Sania, dan ada juga seumuran dengan Sania.


Sania mencium punggung tangan Bunda nya, dan beralih ke kakak ipar nya, Sania memori kakak ipar nya dengan lembut dan juga ikutan bahagia melihat kebahagiaan kakak ipar nya malam ini.


Sedangkan di teras rumah nya, Karan duduk bersama dengan Kyai dan juga Bapak Bapak yang kebetulan ikut serta bersama istri nya, Karan menghampiri Arlan yang sudah selesai bersalaman dengan semua orang yang ada di ruang tamu.


''Kenapa kamu sangat lama?'' bisik Karan kepada adik ipar sekaligus sahabat nya itu.


''Maaf,tadi waktu kamu kirim pesan kami sedang makan di Mall,setelah nya kami langsung ke sini? tapi di pertengahan jalan terkena macet,'' jawab Arlan kembali berbisik kepada kakak ipar nya. ''Selamat ya, sekarang kamu akan menjadi seorang Ayah,'' tambah Arlan mengulas senyum nya.


''Iya, terima kasih,'' balas nya, tak berapa lama setelah selesai acara nya Arlan dan juga Sania ikut memberikan sebuah bingkisan kepada Ibu Ibu majlis dan juga kepada Bapak yang juga ikutan memberi do'a kepada Pinky dan juga calon bayi nya.


Sania merasa sangat bahagia malam ini, melihat Pinky sang kakak ipar selalu mengembangkan senyuman nya kepada semua Ibu Ibu majlis yang hadir.


''Bunda?'' panggil Sania ketika Bunda nya sudah mengantar semua tamu nya keluar rumah.


''Kenapa sayang?'' tanya sang Bunda sembari menyambut pelukan hangat dari puteri kecil nya. ''Kamu nggak menyusahkan suami mu kan? selama berada di apartemen?'' tambah nya lagi mengusap bahu puteri nya.


''Bunda, Sania ingin ikut serta dengan Ibu Ibu majlis itu? apa boleh,'' Sania mendongakkan kepalanya menatap wajah sang Bunda.

__ADS_1


''Kenapa harus nggak boleh, malah Bunda senang dengar nya kalau kamu bisa bergabung dengan Ibu Ibu majlis tadi, ya biar tidak merasa bosan selalu ada di rumah,'' jelas sang Bunda menatap wajah cantik puteri kecil nya. ''Asal kamu harus meminta ijin kepada suami kamu dulu, Bunda takut suami kamu salah paham dan di kita kamu malah kelayapan yang nggak benar sama suami kamu?'' tambah sang Bunda, namun semua ucapan Bu Wati di dengar oleh Arlan menantu nya.


''Arlan sudah mendengar nya kok Bunda,?'' kata Arlan berjalan menghampiri Bunda nya dan juga istri kecil nya itu.


Nggak apa apa kalau sayang mau ikut Bunda berkumpul dengan Ibu Ibu barusan itu, Mas senang kalau kamu ada kegiatan seperti itu, dari pada kamu diam di apartemen terus di saat Mas sedang bekerja, iya kan?'' Ucap Arly yang sudah duduk di samping istri kecil nya.


''Terima kasih Mas?'' sahut nya mencium punggung tangan suami nya.


''Bunda jadi senang melihat kalian berdua, semoga kalian segera di kasih keturunan juga, agar di keluarga kecil kalian lebih berwarna lagi,'' sambung Bu Wati di tengah tengah senyuman Sania yang menghiasi bibir tipis nya.


''Aminn, terima kasih Bunda do'a nya? semoga Sania bisa cepat hamil, iya kan Mas?'' jawab Sania dan meminta persetujuan dari suami nya. Arlan yang di tanya pun hanya mebgulas senyuman nya, sedangkan di dalam hatinya begitu sakit mendengar nya.


''Iya Bunda, do'a kan yang terbaik saja untuk kami berdua, semoga Allah memberikan apa yang di do'akan oleh Bunda barusan,'' sahut Arlan memaksakan senyuman nya.


Karan yang melihat wajah Arlan yang nampak tetsenyum di paksakan oleh nya mengernyit kan dahinya.


'Ada masalah apa Karan di kantor nya, sehingga merubah wajah nya menjadi datar seperti itu,' gumam Arlan seraya terus mengikuti langkah kaki kakak ipar nya.


''Masuklah Arlan?'' ujar Karan ketika melihat Arlan sudah berada di ambang pintu, sedangkan Karan audah duduk di kursi kebesaran nya.


''Ada masalah apa Karan, apa ada hal yang bermasalah di kantor kamu sekarang?'' tanya nya masih belum mengerti arti tatapan Karan kepada nya.


''Apa sekarang kamu menyesal sudah menikahi Sania adikku!'' tanya karaoke datar dan sedikit sinis kepada adik ipar nya itu.

__ADS_1


''Apa maksud mu, harus berapa kali aku mengatakan kalau aku tidak pernah menyesal menikahi Sania, aku sangat sayang dan jga mencintai Sania, dan sampai kapan pun aku aku akan menyayangi dia Karan!'' jawab Arlan dengan nada tinggi, dia nggak suka dengan pertanya'an yang di ajukan oleh Karan, yang tak lain adalah kakak ipar nya sendiri.


''Aku tau kamu sangat terpaksa menikahi Sania, buktinya kamu tak senang ketika Ibu menyinggung kata anak kepada kalian berdua, kamu terlihat memaksakan senyuman kamu Arlan, aku lihat semua nya tadi,'' ungkap Karan yang juga geram karena Arlan sudah berkata dengan nada tinggi kepada nya.


''Kamu salah paham Karan, namun aku harus mementingkan kesehatan Sania ketimbang harus memiliki anak dari nya, kesehatan Sania lebih segalanya dari pada harus memikirkan anak?'' gumam Arlan dengan lirih. Air mata nya sudah mengembun di kelopak mata nya, dan sudah siap untuk jatuh, tapi Arlan mendongak kan kepalanya agar air matanya tidak jatuh begitu saja di hadapan Karan sang kakak ipar.


''Apa maksud kamu Arlan?'' tanya Karan yang sudah di liputi dengan rasa penasaran nya.


''Sania tidak bisa mengandung dalam jangka waktu yang belum pasti kapan dia bisa mengandung dan memiliki anak, karena dia harus mengonsumsi obat obatan setiap hari nya, karena itu akan berdampak kepada janin yang ia kandung? sedangkan kalau untuk hamil dia harus melupakan obat obatan yang di minum setiap hari, dan itu akan berdampak terhadap kesehatan nya, jadi aku lebih memilih menjaga kesehatan Sania, dari pada memikirkan untuk mempunyai anak Karan,'' kata Arlan panjang lebar.


Karan meraup wajah nya dengan kasar, mengingat dia sudah salah faham dengan adik ipar nya, Karan mengira Arlan terpaksa menikahi adik nya, karena dia nampak memaksakan senyuman nya di depan sang Ibu tadi.


''Maaf kan aku Arlan, tak seharusnya aku berkata seperti itu tanpa menyelidiki terlebih dulu, aku kira kamu terpaksa menikahi adikku, karena dia tidak seperti wanita lain nya, dia penyakitan dan dia juga akan selalu merepotkan orang yang berada di sisi nya, makanya kemarin saat aku tau Sania sudah pergi dari rumah? dan lebih memilih tinggal di apartemen kamu aku sangat marah kepada Ibu, kenapa harus di ijinkan untuk pergi sedangkan di sana dia hanya berdua dengan mu saja, maaf kan aku Arlan? sungguh aku tak tau kalau yang ada di pikiran kamu seperti itu. Dan aku juga berterima kasih karena sudah menjaga adikku dengan baik,'' jawab Karan masih dengan rasa bersalah nya kepada adik ipar nya yang tak lain adalah sahabat nya sendiri.


''Sudahlah Karan, aku harap kamu tidak memberi tahu masalah ini kepada Bunda ataupun kepada Sania, aku takut dia down?'' Arlan mengingat kan Karan.


Karan mengangguk pelan, ''Ya sudah aku boleh pergi sekarang kan, Sania harus banyak istirahat agar kesehatan nya cepat pulih,'' pamit Arlan yang langsung di angguki Karan.


Arlan berjalan keluar dari ruangan Karan, dan menapaki satu persatu anak tangga, dia menuju sang istri yang tengah berbaring di paha Bunda nya sebagai bantal.


''Bunda?'' sapa Arlan ketika melihat istri kecilnya tidur di sofa dengan ber bantal kan paha mertuanya.


''Jangan berisik, lebih baik kalian menginap di sini malam ini, kasihan istri kamu kalau di bawa pulang ke apartemen,'' Ucap Bu Wati kepada menantu nya.

__ADS_1


''Baiklah Bunda, mungkin dia sangat kelelahan jadi dia tidur di sofa seperti ini,'' sahut nya dan mengangkat tubuh kurus istri nya.


Bu Wati tersenyum melihat menantu nya yang begitu sayang kepada puteri kecil nya.


__ADS_2