Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Selamat Pagi


__ADS_3

"Pagi kak..." sapa Eca sambil menuruni tangga menentenng sepatu dan tasnya.


"hemm" jawab Indra yang masih sibuk dengan makanannya.


"Bi, tolong dong susunya dikasih madu ya..." pinta Eca kepada bi Tuti si asisten rumah tangga. Bi Tuti yang sedari tadi di dapur langsung mendekati meja makan untuk mengambil segelas susu yang sudah ada di meja makan.


"Lah, kamu kan belum minum Ca. Emangnya tau bibi udah ngasih madu atau belum"


"Eh iya ya." kata Eca sambil tertawa kecil.


Eca meminum susu dan merasainya. Kemudian dia tersenyum. "udah bi, gak usah. udah dikasih madu ternyata."


Kemudian mereka sarapan bersama. Eca baru makan 3 sendok sarapannya, tapi Indra sudah berdiri untuk mengajaknya berangkat.


"yuk ah ! nanti kesiangan."


Eca cuma melotot melihat kakaknya yang sudah menenteng tas dan sepatunya.


"Kak.... aku kan baru makan..." Rengek Eca.


"salah sendiri. Kenapa gak makan dari tadi."


Eca buru-buru menghabiskan segelas susunya. Lalu segera mengikuti langkah kakaknya yang sudah masuk ke garasi.


Indra memanaskan sekuternya. Sekuter kesayangannya yang dibelikan ayah saat ulangtahun setahun lalu. Sedangkan Eca buru-buru memakai sepatunya. Setelah itu, ia membuka pintu garasi dan pintu gerbang pagar rumahnya. Kemudian mereka berangkat sekolah.


Macetnya kota Jakarta mengiringi keberangkatan mereka. Asap knalpot bercampur debu membuat Eca agak risih. Ya, dia tidak terbiasa naik motor. Biasanya dia naik mobil dan diantar supir. Sedangkan Indra memilih naik motor karena dia merasa bebas mau kemana saja.


Indra melihat kaca spion. Dilihatnya adik kesayangannya itu masih manyun gara-gara tidak sarapan banyak. Indra hanya tersenyum kecil.


30 menit berlalu, mereka sampai di sekolah Eca. Ia masih saja cemberut.


"Kenapa sih dek ?" tanya Indra sambil melepaskan helm Eca.


"Masih lapar tau kak..."


"Lah, kan semalem juga makan banyak Ca" kata Indra.

__ADS_1


"Bodo ah." Eca ngambek.


Indra langsung mencubit pipi Eca dengan gemasnya membuat Eca semakin marah padanya.


"iya iya sayang.... ini uang saku buat beli sarapan yah." kata Indra sambill memberikan uang kepada Eca.


Eca langsung tersenyum kegirangan. "Nah... gitu dong. Kan Eca jadi sayang sama kakak kalo kayak gini." Sambil memeluk Indra.


Beberapa orang melihat aneh adegan itu. Sadar itu, Eca langsung melepaskan pelukannya kepada Indra. Ia langsung memasuki gerbang sekolah setelah melambaikan tangan kepada kakaknya.


Di kelas, dia sudah disambut riuhnya kawan-kawannya yang sedang mengerjakan tugas. Eca langsung mmenuju tempat duduknya disamping Mutia. Dilihatnya Mutia sahabatnya masih sibuk dengan laptopnya. Lalu ia duduk disamping Mutia.


"Belum selesai ?" Tanya Eca.


"tinggal dikit lagi" Kata mutia tanpa memalingkan pandangannya. Mutia mengetik beberapa kata dan "Selesai.." kata Mutia. Dia tersenyum sumringah kepada Eca.


Bel masuk sekolah berbunyi. Para murid langsung menempati tempat duduk masing-masing. Pelajaran dimulai. Pelajaran IPS membuat semua murid mematung. Ya, karena yang mengajar wali kelas mereka sendiri yang killer luar biasa.


Setalah satu satengah jam berlalu, akhirnya selesailah jam pelajaran yang mendebarkan itu. Jam selanjutnya adalah IPA dimana guru yang mengajar berbanding terbalik dengan guru IPS. Gurunya sangat frendly sekali. Membuat kelas menjadi nyaman untuk belajar.


Andai semua mata pelajaran diajarkan oleh bu Tiwi. Pasti menyenangkan sekali. ~Eca~


"Ca, udah lihat papan pengumuman ?" tanya Mutia setelah menelan somay yang begitu alot.


"Belum. Ada apa ?" tanya Eca.


"Pendaftaran anggota baru PMR. Gak pengen ikut ? diklatnya lusa pas weekend"


"Pengen... tapi nanti tanya kak Indra dulu. Boleh gak nya. Tau sendiri kak Indra bawelnya kayak apa." kata Eca sambil minum sekotak susu.


Mutia cuma mengangguk.


"kapan pendaftaran terakhirnya ?" tanya Eca


"hari ini..." jawab mutia


"What ? kenapa gak bilang ? kamu udah daftar ?" Tanya Eca terkaget,

__ADS_1


"Udah dari kemaren"


"Kenapa gak bilang sih ? yuk ah habis ini nganter aku ke ruang PMR ya." Kata Eca buru-buru menghabiskan makanannya.


"Lah katanya mau nanya kak Indra dulu" kata Mutia sambil mengunyah somay terakhirnya.


"masalah kak Indra gampanglah. Nanti bisa diatur dirumah. Cepetan napa makannya mut." kata Eca.


Eca kemudian menarik tangan Mutia yang belum selesai minum. Mereka segera ke ruang PMR untuk mendaftar diklat. Tepatnya Eca yang mendaftar.


Sampai di depan ruang PMR, ternyata ramai sekali penuh dengan anak yang mendaftar juga sepertinya.


"Ca, rame banget Ca. Penuh tuh ruangannya." tarik Mutia menjauh dari kerumunan ruang PMR.


"ya terus ? kalo aku gak mendaftar sekarang, trus kapan lagi ? keburu ditutup Mut." Kata Eca


"Kamu minta formulir aja dulu. Dikumpulkan nanti pas pulang sekolah. Ingat, habis ini kita ada presentasi Bahasa Inggris.". Mutia mengingatkan Eca yang masih kekeh untuk mendaftar saat itu juga.


"Emang boleh ?" tanya Eca.


"Entah" Jawab Mutia sambil nyengir. Eca langsung gondok mendengar jawaban Mutia.


"Tuh ada kak Beni. Yuk tanya aja yuk !" Mutia menarik Eca mendekati kakak kelasnya yang sedang duduk di depan kelas. Eca hanya menurut saja.


"hai kak Ben..." Kata Mutia sambil nyengir ke kak Beni.


"Ada apa mut ?" tanya kak Beni antusias.


"Ini kak, temen aku mau daftar diklat PMR. Cuma diruangan penuh banget. Kita habis ini juga ada presentasi. Kalau minta formulir dulu dikumpulkan nanti pas pulang sekolah boleh kak ?" tanya Mutia.


"Boleh kok...wait ya. Kakak ambil dulu formulirnya."


"Siap kak." jawab Mutia dan Eca berbarengan


Sesat kemudian kak Beni kembali dengan selembar formulir lalu menyerahkan pada Mutia.


"Makasih ya kak.." kata Mutia dibalas anggukan kak Beni.

__ADS_1


Mutia dan Eca segera kembali ke kelas karena jam selanjutnya kurang 5 menut lagi. Mereka harus bersiap-siap untuk presentasi di pelajaran selanjutnya.


__ADS_2